Share

Bab 129

Author: Millanova
last update Last Updated: 2026-01-01 20:43:08

Arka melirik Herman yang bersembunyi di belakang bahu Radit dengan senyum licik. Arka paham permainannya.

"Saya hanya membersihkan sampah dari perusahaan saya, Tuan Radit," jawab Arka tenang. "Dan soal keluarga Anda... saya tidak pernah bicara apa-apa. Sepertinya anjing peliharaan Anda ini..." Arka menunjuk Herman, "...terlalu banyak menggonggong hal yang tidak nyata."

Wajah Herman memucat, tapi dia buru-buru membela diri. "Bohong, Bos! Dia emang sombong! Liat aja gayanya!"

Radit tertawa sinis. Matanya beralih menatap Nia yang berdiri anggun di samping Arka. Nafsu dan keinginan untuk mendominasi muncul di matanya.

"Kau punya nyali juga bicara begitu di pestaku," ucap Radit. Dia mengabaikan Arka dan beralih ke Nia. "Dan siapa wanita cantik ini? Sayang sekali permata seindah ini jatuh ke tangan pebisnis kaku yang tidak tahu cara menghormati hierarki Jakarta."

Radit mengulurkan tangan pada Nia. "Nyonya, tinggalkan pria sombong ini. Bagaimana jika berdansa dengan saya? Saya bisa ajarkan p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 129

    Arka melirik Herman yang bersembunyi di belakang bahu Radit dengan senyum licik. Arka paham permainannya."Saya hanya membersihkan sampah dari perusahaan saya, Tuan Radit," jawab Arka tenang. "Dan soal keluarga Anda... saya tidak pernah bicara apa-apa. Sepertinya anjing peliharaan Anda ini..." Arka menunjuk Herman, "...terlalu banyak menggonggong hal yang tidak nyata."Wajah Herman memucat, tapi dia buru-buru membela diri. "Bohong, Bos! Dia emang sombong! Liat aja gayanya!"Radit tertawa sinis. Matanya beralih menatap Nia yang berdiri anggun di samping Arka. Nafsu dan keinginan untuk mendominasi muncul di matanya."Kau punya nyali juga bicara begitu di pestaku," ucap Radit. Dia mengabaikan Arka dan beralih ke Nia. "Dan siapa wanita cantik ini? Sayang sekali permata seindah ini jatuh ke tangan pebisnis kaku yang tidak tahu cara menghormati hierarki Jakarta."Radit mengulurkan tangan pada Nia. "Nyonya, tinggalkan pria sombong ini. Bagaimana jika berdansa dengan saya? Saya bisa ajarkan p

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 128

    Lobi Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan malam itu dipenuhi aroma parfum mahal yang bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Lampu gantung kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan ke lantai marmer, menciptakan panggung megah bagi kaum elit Jakarta yang sedang berkumpul.Arka melangkah keluar dari Rolls-Royce Phantom hitamnya. Petugas valet yang membukakan pintu membungkuk hormat, mengenali lambang Spirit of Ecstasy di kap mobil sebagai tanda kekuasaan mutlak.Arka mengenakan setelan tuxedo hitam velvet dengan potongan slim-fit yang membalut tubuh atletisnya. Di wajahnya, terpasang sebuah topeng setengah wajah (venetian mask) berwarna hitam polos tanpa ornamen. Sederhana, namun misterius.Dia berbalik, mengulurkan tangan ke dalam mobil."Siap, Ratu?" bisik Arka.Sebuah tangan halus dengan kulit seputih pualam menyambut uluran tangannya. Nia turun dengan anggun. Gaun merah marun backless yang dipilihkan Arka membalut tubuhnya dengan sempurna, menjuntai hingga menyapu lanta

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 127

    Kantor Yayasan Arka Foundation, Lantai 15.Nia sedang sibuk memeriksa proposal beasiswa ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Hanya satu orang di dunia ini yang berani masuk ke ruangan Ketua Yayasan tanpa mengetuk."Mas?" Nia mendongak, tersenyum melihat suaminya masuk. "Tumben ke lantai 15? Biasanya Direktur Utama sibuk di lantai 40."Arka tidak menjawab. Dia menutup pintu, menguncinya, lalu menurunkan tirai kaca ruangan itu dengan remote.Nia mengangkat alis. "Arka? Ini masih jam kerja."Arka berjalan mendekat, memutar kursi kerja Nia agar menghadapnya. Dia menumpukan kedua tangannya di sandaran lengan kursi, mengurung Nia dalam dominasinya."Aku merindukanmu," bisik Arka, lalu menunduk untuk mencuri ciuman singkat di bibir Nia. "Dua jam tidak melihatmu rasanya seperti dua tahun."Nia tertawa renyah, pipinya merona. "Gombal. Padahal kita baru makan siang bareng tadi.""Itu beda. Tadi banyak staf. Aku harus jaga wibawa," Arka berlutut dengan satu kaki di hadapan Nia, menatap

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 126

    Malam telah larut di kediaman keluarga Arka. Kirana sang Tuan Putri kecil sudah terlelap di kamar tidurnya yang bernuansa pastel, lelah setelah seharian bermain dan belajar.Di kamar utama yang luas, suasana terasa tenang dan hangat. Lampu tidur temaram menyinari ruangan, menciptakan bayang-bayang lembut di dinding. Arka baru saja selesai mandi, rambutnya yang masih sedikit basah dia biarkan acak-acakan. Dia mengenakan piyama sutra berwarna biru tua, duduk bersandar di headboard ranjang sambil memegang sebuah buku tebal yang tidak benar-benar dia baca.Pintu kamar mandi terbuka. Nia keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, aroma lulur mandi mawar menguar darinya. Dia naik ke atas ranjang, menyusup ke dalam selimut di samping Arka, dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kokoh."Jadi..." Nia memulai percakapan, jarinya menelusuri kancing piyama Arka. "Bagaimana 'pertunjukan' tadi siang? Aku dengar dari sekretaris Pak Darmawan, ada yang sampai menangis d

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 125

    Tiga puluh menit kemudian. Ruang Rapat Utama Blackmining Corp.Ruangan itu dingin dan tegang. Meja oval panjang dari kayu mahoni dikelilingi oleh dua puluh orang penting. Ada direktur operasional, manajer proyek, dan lima kontraktor yang lolos seleksi tahap akhir termasuk Herman.Herman duduk dengan gelisah namun tetap berusaha terlihat arogan. Dia sudah menyuap salah satu manajer proyek, jadi dia yakin akan menang."Selamat pagi, Bapak-bapak sekalian," ucap CEO Blackmining, Pak Darmawan, membuka rapat. "Hari ini kita akan memfinalisasi pemenang tender. Namun sebelum itu, kita harus menunggu kedatangan pemegang saham mayoritas kita. Beliau ingin meninjau langsung kredibilitas kalian."Herman berbisik pada asistennya, "Siapa sih investornya? Bule ya?""Saya dengar orang lokal, Pak. Tapi sangat misterius. Dia yang memegang 50% saham holding ini," bisik asistennya.Tiba-tiba, pintu ganda di ujung ruangan terbuka."Silakan masuk, Pak Arka," ucap sekretaris dengan hormat.Semua orang di ru

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 124

    "Papa... kenapa Om itu panggil Papa sopir? Papa kan Bos?" bisik Kirana, suaranya terdengar takut.Arka tersenyum lembut. Dia tidak membalas bentakan Pak Herman. Dia justru berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan putrinya, mengabaikan Pak Herman yang masih menggerutu di belakangnya."Sstt... Lulu dengar Papa," ucap Arka lembut namun tegas. "Itu rahasia kita. Biarkan Om itu berpikir apa yang dia mau. Singa tidak perlu meladeni anjing yang menggonggong, Nak. Yang penting Lulu tahu Papa siapa, kan?"Kirana mengangguk pelan, meski matanya masih berkaca-kaca karena kaget dibentak orang asing. "Papa Super Hero-nya Lulu.""Pintar. Sekarang masuk kelas. Belajar yang rajin. Jangan dengarkan omongan orang yang tidak kenal kita."Arka mengecup kening putrinya, lalu berdiri tegak. Dia menatap Pak Herman sekilas. Tatapan itu bukan tatapan takut seorang sopir, melainkan tatapan tajam seorang predator puncak yang sedang mengamati mangsanya yang berisik.Hanya sedetik, Arka menatapnya. Cukup membuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status