Share

Bab 200

Author: Millanova
last update Last Updated: 2026-02-01 21:14:26

Pukul 20.00 WIB. Kediaman Adhiguna.

Arka pulang dengan langkah berat. Jas kerjanya tersampir di lengan, dasinya sudah longgar tak berbentuk. Seharian ini energinya terkuras bukan karena pekerjaan, melainkan karena teka-teki amplop hitam itu.

Saat dia masuk ke kamar tidur utama, suasana tenang langsung menyambutnya. Lampu kamar dinyalakan redup. Amara sudah tidur di crib-nya.

Nia sedang duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama katun bermotif bunga kecil yang sopan. Dia sedang mengoleskan lotion
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 258

    "Tiga transaksi mencurigakan dalam sepuluh hari terakhir, Pak. Totalnya seratus dua puluh sembilan miliar."Suara Anton terdengar jelas dari speakerphone di tengah meja. Arka menghela napas, mengulang angka itu dalam hati sebelum tawanya meledak tawa pendek, tajam, seperti orang yang baru memastikan tebakannya benar."Seratus dua puluh sembilan?" Arka menatap Dimas di seberang meja. "Sepuluh hari menjabat, langsung ambil segitu. Tikus ini ... mungkin cuma kurang sabar."Dimas tidak tertawa. Ia menekan puntung rokoknya ke asbak, terlalu keras."Lacak alirannya, Ton?" suaranya parau."Ke perusahaan cangkang di luar," Anton melanjutkan. "Kata sistem, buat bayar vendor sparepart. Tapi setelah kami gali, direkturnya terhubung ke pengacara yang sama yang sering jenguk Clara di tahanan."Arka menyandarkan kepala, memandang langit-langit. "Clara butuh dana segar. Mungkin buat suap lebih tinggi, atau rencana kabur. Dan bonekamu bekerja sangat rajin, Dimas.""Uangnya?" potong Dimas."Masih utuh

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 257

    "SK pengangkatannya sudah aku tanda tangani tadi pagi, Kak. Sesuai rencana kita, Bella sekarang resmi menjabat sebagai Direktur Keuangan Barata Logistik."Suara Dimas terdengar tenang, namun ada ketegasan baru yang belum pernah terdengar sebelumnya. Ia meletakkan salinan dokumen berstempel resmi perusahaan ke atas meja kaca.Malam itu, hujan turun cukup deras mengguyur Jakarta. Mereka bertiga Arka, Nia, dan Dimas tengah berkumpul di ruang kerja pribadi di dalam rumah Arka. Lampu ruangan sengaja diredupkan, hanya menyisakan pendar lampu meja berwarna kuning hangat yang menyoroti wajah-wajah serius mereka. Aroma teh chamomile yang baru diseduh Nia menguar di udara, sedikit menetralisir ketegangan yang menggantung pekat.Arka mengambil dokumen itu, membaca sekilas deretan kalimat formal yang memberikan kuasa finansial kepada wanita yang diam-diam mereka buru."Kau yakin sudah mengunci semua celahnya?" tanya Arka tanpa mengalihkan pandangan dari kertas tersebut.Dimas tersenyum miring, se

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 256

    "Bagaimana jika kita hancurkan dia persis seperti Kakak menghancurkan Clara? Penjara, penyitaan aset, dan rasa malu di depan publik."Suara Dimas memecah keheningan, nadanya rendah namun sarat akan bisa. Matanya yang merah kini menatap Arka dengan ketajaman yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.Arka menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya, menyeringai tipis penuh kebanggaan. "Bagus."Sore perlahan merayap turun di langit Jakarta. Semburat jingga matahari terbenam dari balik kaca jendela raksasa di lantai 40 Menara Adhiguna itu menyinari separuh wajah Dimas, menyembunyikan separuh lainnya dalam bayangan. Suasana ruang kerja itu tak lagi terasa mencekam karena kepanikan, melainkan beralih menjadi ruang strategi perang yang dingin.Arka melipat tangannya di dada. "Lalu? Apa rencanamu? Kita tidak bisa memenjarakannya hanya karena dia berbohong soal identitas dan menjadi kurir Clara. Itu bukan tindak pidana berat."Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas meja

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 255

    "Target utamanya sebenarnya bukan kamu, Dimas. Tapi aku."Kata-kata Arka meluncur pelan namun menancap tajam, menghentikan napas Dimas yang masih terguncang menatap foto-foto di tangannya.Cahaya matahari sore mulai condong menembus kaca patri ruang kerja Arka di lantai teratas Menara Adhiguna. Debu-debu halus tampak menari dalam sorotan cahaya keemasan itu. Suasana ruangan yang hening membuat detak jarum jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur sebuah bom.Dimas mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya merah, campuran antara pengkhianatan dan kebingungan."Maksud Kakak apa? Kalau targetnya Kakak, kenapa dia repot-repot memacariku? Kenapa dia mau menikah denganku?"Arka berjalan perlahan menuju jendela besar, menatap hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta di bawah sana. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celananya, menyusun kepingan deduksi yang sudah mengganggu pikirannya sejak Bella mulai berani menggodanya di kantor pagi tadi."Clara membenciku sampai ke ubun-ubun, Dimas. Aku yang

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 254

    "Duduk dan lihat baik-baik foto ini, Dimas. Tolong, gunakan akal sehatmu dan jangan bicara sebelum kau benar-benar memahaminya."Suara Arka terdengar berat, dingin, dan memotong udara seperti bilah pedang. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja kerjanya, tepat di hadapan Dimas yang baru saja masuk dengan wajah bingung.Siang itu, tepat pukul dua. Terik matahari Jakarta menembus kaca jendela ruang kerja Arka di lantai teratas Menara Adhiguna, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas karpet tebal. Suasana ruangan yang biasanya tenang kini terasa sangat menyesakkan. Udara dingin dari pendingin sentral seolah membeku di sekitar meja mahoni tempat kedua pewaris keluarga itu berhadapan.Dimas, yang masih mengenakan jas rapinya sehabis meeting dengan divisi logistik, menarik kursi dan duduk. Keningnya berkerut melihat ketegangan di wajah kakak sepupunya.Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto hasil cetakan resolusi tinggi dari tangkapan layar CCTV."Ini

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 253

    Layar tablet itu akhirnya meredup dan mati, menyisakan pantulan wajah Arka dan Nia yang menegang di atas permukaan kacanya yang gelap.Arka menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyembunyikan tablet itu kembali ke dalam tas kerjanya, mengunci rapat-rapat bukti kejahatan yang baru saja mereka saksikan."Kita urus ular itu nanti siang," kata Arka, suaranya kembali melembut saat menatap istrinya. "Pagi ini, kita punya janji yang jauh lebih penting dari Bella maupun Dimas."Nia tersenyum tipis, ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia mengangguk. "Preschool Amara.""Ya. Kita harus pastikan putri kita mendapatkan tempat terbaik." Arka melirik jam di pergelangannya. "Aku akan bersiap-siap. Kau urus sarapan jagoan kecil kita."Nia segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju kitchen island di dapur bersih mereka yang bernuansa monokrom. Ia mengambil celemek dan mulai menyiapkan sarapan khusus untuk putri mereka yang kini menginjak usia tiga tahun.Menu pagi ini kaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status