LOGIN
Happy reading dan jangan lupa kritik juga saran nya ya
Tidak ada yang pernah benar-benar siap menghadapi hari pertama kerja apalagi kalau pekerjaan itu menempatkanmu tepat di samping pria yang reputasinya lebih tajam dari pisau bedah: Arkana Rivard.
Gedung Aude’C Group menjulang tinggi di kawasan bisnis Sudirman. Dinding kacanya memantulkan langit Jakarta yang muram pagi ini. Orang-orang bersetelan formal bergerak cepat keluar-masuk lobi, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan atau keterlambatan.
Dan di sanalah Narine Aldira berdiri, menggenggam map biru tua berisi dokumen onboarding dan kontrak kerjanya pekerjaan baru yang ia dapat hanya tiga hari setelah keluar dari perusahaan lamanya karena fitnah yang menjatuhkan namanya dalam semalam.
Brakk
"De cepetan dong katanya mau mandiri masa jam 7 belum siap-siap juga, kan ini hari pertama lo kerja" Pagi ku disambut dengan omelan 'Rajan' ya dia kakak ku satu satunya.
Dengan berjalan didepan ku dia masih terus mengomel tanpa henti "Lagian kenapa gak di perusahaan gue sih de, kan lebih praktis tu tinggal masuk terus ngintilin gue kemana pun"
"Justru itu yang gue gak mau, ogah banget ngintilin lu" jawabku ketus
“Nama?” tanya resepsionis formal di front desk tanpa senyum.
“Narine Aldira. Hari ini mulai bekerja,” jawabnya.
Resepsionis itu mengetik cepat, lalu mengangguk. “Divisi Sekretariat Eksekutif. Lantai 39. Pakai lift kanan.”
Ucapan ‘selamat datang’ tampaknya tidak tersedia di gedung ini. Bagus, pikir Narine. Profesional. Tanpa basa-basi. Cocok.
Begitu lift terbuka, suasana berubah drastis. Interior lantai 39 didominasi kayu walnut dan kaca gelap, dengan suasana sunyi tegang seperti ruang pengadilan. Karyawan berjalan cepat sambil menenteng iPad atau dokumen, nyaris tidak ada yang bicara.
Di dekat pintu masuk lantai, seorang wanita berponi pendek menyapanya cepat. “Kamu Narine? Saya Helena, sekretaris senior. Ikut saya.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutar badan dan melangkah cepat. Narine mengikutinya.
“Saya akan kasih kamu briefing singkat,” kata Helena dengan nada efisien, seperti seseorang yang tidak punya waktu untuk berbasa-basi. “Kamu sekretaris pribadi Pak Arkana. Harus selalu siap dipanggil kapan pun. Termasuk kalau dia butuh kamu di luar jam kantor.”
Narine mengangguk. “Baik.”
“Nomor ponselmu harus aktif 24 jam.”
“Baik.”
“Jangan tanya dua kali kalau dia sudah menjawab sekali. Jangan ulangi kesalahan. Jangan pernah buat asumsi.”
Narine kembali mengangguk, tapi dalam hati bertanya apakah dia melamar sebagai sekretaris atau robot personal?
'Gue jadi sekretaris apa jadi babysitter nih masa 24 jam anjir'
Helena melanjutkan dengan suara lebih pelan, seakan kalimat berikutnya rahasia kantor yang tidak boleh terdengar oleh dinding. “Satu lagi. Ada tiga aturan utama bekerja dengan Mr. Arkana Rivard.”
Narine menatapnya.
“Pertama, jangan pernah telat kamu harus tepat waktu. Kedua, jangan pernah menunda instruksi. Ketiga-” Helena menatap langsung, “usahakan jangan pernah salah.”
Nada itu membuat Narine sedikit mengeraskan rahangnya. “Saya bisa mengikuti standar kerja tinggi. Itu bukan masalah, kak.”
Helena tersenyum tipis. “Bukan standar kerja yang jadi masalah. Orangnya.”
Maksudnya apa?
Tapi sebelum Narine sempat bertanya, pintu ruang eksekutif terbuka. Seorang pria keluar dengan wajah memucat, memegang dokumen yang tampaknya baru saja dikoreksi. Kemeja birunya basah oleh keringat meski lantai ini ber-AC dingin.
Dia membisik pada Helena sebelum pergi, “Dia kenapa kayak bukan manusia.”
Helena hanya menepuk bahunya. “Dia masih hidup, ada-ada aja kamu”
Narine hampir tertawa sampai seseorang lewat di hadapannya.
Langkah panjang, jas hitam slim fit, aura tenang yang berbahaya. Sorot mata tajam. Rahang keras. Rambut hitam rapi sedikit berantakan seolah disentuh angin pagi. Arkana Rivard. Bahkan tanpa diperkenalkan pun semua orang akan tahu: dialah pusat gravitasi lantai ini.
Udaranya berubah saat pria itu lewat. Beberapa staf langsung menunduk. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang menahan napas. Sementara Narine berdiri diam.
Arkana nyaris melewatinya, tapi kemudian berhenti. Menoleh. Menatap Narine sebentar dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Bukan tatapan menggoda. Bukan juga tatapan ramah. Lebih mirip evaluasi instan dan dingin.
“Orang baru,” katanya datar pada Helena.
“Ya, ini Narine Aldira, sekretaris-”
“Follow me,” potong Arkana.
Begitu saja. Tanpa kata perkenalan, tanpa salam. Ia berbalik dan berjalan. Narine refleks mengikuti. Helena memberi isyarat halus, cepet ikutin.
Ruang kerja Arkana berada di sisi paling ujung. Pintu kacanya tertutup, dan saat terbuka otomatis, Narine langsung merasa masuk ke tempat dengan tekanan oksigen lebih rendah.
Tidak ada foto pribadi. Tidak ada dekorasi. Hanya kesempurnaan dingin rak buku hitam, meja kerja walnut besar, dan pemandangan Jakarta dari dinding kaca.
“Sit,” katanya pendek, tanpa melihat ke arah Narine yang masih berdiri. Ia membuka iPad dan file digital.
Narine duduk. Diam. Menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada suara selain suara notifikasi e-mail yang sesekali terdengar dari perangkat Arkana. Narine ingin bicara tapi tak punya alasan.
Akhirnya, pria itu angkat wajah.
“Saya tidak akan bicara dua kali,” ucapnya tiba-tiba.
Narine menatapnya heran. “Maaf?”
“Saya tidak ulangi instruksi,” ulangnya, datar.
“Sa-saya belum menerima—”
“Kamu sekretaris. Artinya kamu harus cepat tanggap. Mengerti?”
Narine menahan napas. Wow. Ini baru tiga menit bertemu, dan pria ini sudah membuatnya ingin melempar binder.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Bagus.” Arkana menggeser iPad-nya. “Jadwal saya hari ini.”
Agenda itu muncul di layar yang diarahkan padanya penuh rapat, penuh negosiasi, penuh panggilan bisnis.
“Tugas pertama,” kata Arkana. “Siapkan dokumen kontrak dan proyeksi final untuk meeting jam sepuluh. Pastikan setiap lembar rapi, highlight poin negosiasi, dan tanda tangan direktur legal sudah ada sebelum pukul sembilan empat puluh.”
Narine mengecek jam tangannya. 08.52.
Sisa 48 menit?
“Dokumennya ada di server. Cari folder ‘Confidential’, subfolder ‘Aurum Merger’,” lanjut Arkana.
Narine mencatat cepat. “Passwordnya?”
Arkana menatapnya lama lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak ramah. Lebih mirip tantangan.
“Cari tau. Kalau kamu pantas duduk di ruangan ini, kamu harus bisa menemukan semuanya.”
Mendengar itu Narine hanya bisa tersenyum lebar dan bergumam dalam hati
'Akhhhhhh! gila ni orang yang punya password kan dia, gitu aja suruh gue yang mikir'
Malam itu turun dengan tenang di rumah mereka. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada langkah kecil berlarian di ruang tamu, tidak juga suara cerewet Arsya yang biasanya masih minta satu cerita lagi sebelum tidur. Semuanya terasa lebih sunyi dari biasanya.Arsya sudah tertidur sejak satu jam yang lalu, setelah seharian penuh bermain di luar rumah bersama Ken. Bahkan tadi sempat protes karena dipaksa mandi, lalu berakhir tertidur di pangkuan Narine dengan rambut masih setengah basah.Kini, kamar utama hanya menyisakan dua orang.Narine duduk di tepi tempat tidur, melepas jepit rambutnya perlahan. Rambut panjangnya terurai jatuh ke bahu, sedikit berantakan, tapi justru membuatnya terlihat lebih… lembut.Arkana bersandar di headboard, memperhatikan tanpa banyak bicara.Ada sesuatu yang berbeda malam ini.Bukan suasananya. Bukan juga rutinitasnya.Tapi cara Narine diam.“Capek?” tanya Arkana akhirnya, suaranya pelan.Narine mengangguk kecil. “Lumayan.”Hening lagi.Namun bukan h
Pagi itu datang dengan cara yang sama seperti hari-hari biasannya matahari yang menyelinap lewat celah tirai, udara yang masih menyisakan dingin semalam, dan suara langkah kecil yang biasanya akan berlari ke arah tempat tidur sambil memanggil, “Ibuu!”Namun hari ini berbeda.Narine membuka matanya perlahan. Ada sesuatu yang ia tunggu. Sesuatu yang bahkan tanpa ia sadari, ia harapkan sejak semalam.Hari ini adalah ulang tahunnya.Ia diam sejenak, menatap langit-langit kamar. Menunggu.Mungkin pintu akan terbuka tiba-tiba. Mungkin Arsya akan lompat ke atas kasur. Mungkin Arkana akan menyelinap mendekat, berbisik di telinganya seperti biasa.Tapi tidak ada apa-apa.Hanya sunyi.Narine menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri. “Yaudah…” batinnya. “Mungkin mereka gak inget.”Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke luar kamar.Di ruang makan, Arkana sudah duduk dengan laptopnya, secangkir kopi di tangan. Wajahnya tenang seperti biasa.“Pagi,” ucap Arkana singkat, bahk
Pagi itu rumah terasa lebih ribut dari biasanya. Karena apa?Narine sudah bangun sejak subuh, sibuk mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah sambil membawa berbagai perlengkapan. Di sofa, tergeletak sebuah kostum berbulu putih lengkap dengan telinga panjang dan buntut kecil bulat.“Kostumnya jangan sampai ketinggalan…” gumam Narine sambil mengecek lagi isi tas.Di sisi lain, Arsya masih duduk di lantai, memeluk botol minumnya, wajahnya masih setengah mengantuk. Rambutnya acak-acakan, matanya belum sepenuhnya terbuka.“Arsya, sini. Kita pakai kostumnya dulu ya,” panggil Narine lembut.Arsya menoleh pelan. Begitu matanya menangkap kostum kelinci itu, ekspresinya langsung berubah.“Ini?” tanyanya.“Iya, kamu kan jadi kelinci hari ini.”Arsya berdiri, lalu mendekat. Tangannya menyentuh telinga panjang itu.“Lucu…” gumamnya.Beberapa menit kemudian, Arsya sudah berubah jadi kelinci kecil yang super gemas. Kostum itu sedikit kebesaran, telinganya agak miring ke samping, dan buntut kecil di
Sore itu suasana komplek terasa hangat. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi sinarnya sudah mulai lembut. Angin kecil berhembus, membawa aroma tanah dan suara anak-anak yang riuh bermain di lapangan kecil depan rumah.Arsya berlari kecil bersama Ken dan beberapa anak lain. Tawa mereka pecah setiap kali bola plastik yang mereka tendang melenceng entah ke mana. Wajah Arsya merah, napasnya sedikit terengah, tapi matanya berbinar penuh semangat.Sampai tiba-tiba “Cilok mantul cilok mantul!”Suara khas itu langsung memecah fokus semua anak.“CILOK!” teriak Ken paling kencang.Anak-anak langsung bubar, berhamburan ke arah gerobak cilok yang berhenti di pinggir jalan. Arsya yang tadi masih pegang bola ikut terpaku. Matanya membesar, memperhatikan satu per satu temannya yang mulai mengantre.Dia melangkah pelan mendekat, berdiri di samping Ken.Ken dengan santainya merogoh saku, mengeluarkan uang receh, lalu berkata dengan percaya diri, “Bang, dua ribu, yang banyak sambalnya.”Arsya mel
Pagi itu suasana di sebuah TK kecil yang penuh warna terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian dengan tas kecil di punggung mereka, beberapa masih digandeng orang tua, beberapa sudah berani masuk sendiri.Di antara keramaian itu, satu sosok kecil berjalan santai, hampir tanpa beban.Arsya.Langkahnya ringan, wajahnya tenang, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Sementara di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memperhatikan anaknya dengan ekspresi antara bangga dan sedikit tidak percaya.“Ini anak gak ada drama sama sekali,” gumamnya.Biasanya, yang Arkana lihat anak-anak seusia Arsya masih ada yang nangis, ada yang tarik-tarik orang tuanya, bahkan ada yang mogok di depan gerbang. Tapi Arsya?Masuk aja.Tanpa pamit.Tanpa noleh.Tanpa rasa bersalah.“Sya” Arkana sempat mau manggil.Tapi Arsya sudah keburu masuk ke dalam kelas, langsung menuju rak mainan seolah dunia luar sudah tidak penting lagi.Arkana menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Oke baik.
Hujan tipis masih menyisakan jejak di jalanan saat mobil Arkana meluncur pelan memasuki kompleks rumah orang tuanya. Udara sore itu terasa adem, khas setelah hujan, dengan aroma tanah basah yang menenangkan. Tapi suasana tenang itu jelas tidak berlaku di dalam mobil.“Papaaah, cepetan dong nanti Oppa sama Oma kebulu tidul!” suara kecil Arsya terdengar tak sabaran dari kursi belakang.Arkana melirik lewat kaca spion, sudut bibirnya naik tipis. “Ini juga udah cepet, Bos. Rumah Oppa Oma gak pindah, santai aja.”“Enggaaa! Alsya mau tunjukin mobil Alsyaaa!” Arsya menggoyang-goyangkan kakinya, suaranya penuh semangat.Narine yang duduk di samping Arkana cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dari tadi di jalan gak berhenti ngomong itu.”“Biarin,” sahut Arkana santai. “Lagi bangga dia.”“Bangga banget malah,” balas Narine, lalu menoleh ke belakang. “Nanti ngomongnya yang bener ya, Sayang.”“Iyaa!” jawab Arsya cepat. Tapi dari nadanya, jelas tidak ada jaminan apapun.Mobil akhirnya







