LOGINPagi itu datang dengan cara yang sama seperti hari-hari biasannya matahari yang menyelinap lewat celah tirai, udara yang masih menyisakan dingin semalam, dan suara langkah kecil yang biasanya akan berlari ke arah tempat tidur sambil memanggil, “Ibuu!”Namun hari ini berbeda.Narine membuka matanya perlahan. Ada sesuatu yang ia tunggu. Sesuatu yang bahkan tanpa ia sadari, ia harapkan sejak semalam.Hari ini adalah ulang tahunnya.Ia diam sejenak, menatap langit-langit kamar. Menunggu.Mungkin pintu akan terbuka tiba-tiba. Mungkin Arsya akan lompat ke atas kasur. Mungkin Arkana akan menyelinap mendekat, berbisik di telinganya seperti biasa.Tapi tidak ada apa-apa.Hanya sunyi.Narine menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri. “Yaudah…” batinnya. “Mungkin mereka gak inget.”Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke luar kamar.Di ruang makan, Arkana sudah duduk dengan laptopnya, secangkir kopi di tangan. Wajahnya tenang seperti biasa.“Pagi,” ucap Arkana singkat, bahk
Pagi itu rumah terasa lebih ribut dari biasanya. Karena apa?Narine sudah bangun sejak subuh, sibuk mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah sambil membawa berbagai perlengkapan. Di sofa, tergeletak sebuah kostum berbulu putih lengkap dengan telinga panjang dan buntut kecil bulat.“Kostumnya jangan sampai ketinggalan…” gumam Narine sambil mengecek lagi isi tas.Di sisi lain, Arsya masih duduk di lantai, memeluk botol minumnya, wajahnya masih setengah mengantuk. Rambutnya acak-acakan, matanya belum sepenuhnya terbuka.“Arsya, sini. Kita pakai kostumnya dulu ya,” panggil Narine lembut.Arsya menoleh pelan. Begitu matanya menangkap kostum kelinci itu, ekspresinya langsung berubah.“Ini?” tanyanya.“Iya, kamu kan jadi kelinci hari ini.”Arsya berdiri, lalu mendekat. Tangannya menyentuh telinga panjang itu.“Lucu…” gumamnya.Beberapa menit kemudian, Arsya sudah berubah jadi kelinci kecil yang super gemas. Kostum itu sedikit kebesaran, telinganya agak miring ke samping, dan buntut kecil di
Sore itu suasana komplek terasa hangat. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi sinarnya sudah mulai lembut. Angin kecil berhembus, membawa aroma tanah dan suara anak-anak yang riuh bermain di lapangan kecil depan rumah.Arsya berlari kecil bersama Ken dan beberapa anak lain. Tawa mereka pecah setiap kali bola plastik yang mereka tendang melenceng entah ke mana. Wajah Arsya merah, napasnya sedikit terengah, tapi matanya berbinar penuh semangat.Sampai tiba-tiba “Cilok mantul cilok mantul!”Suara khas itu langsung memecah fokus semua anak.“CILOK!” teriak Ken paling kencang.Anak-anak langsung bubar, berhamburan ke arah gerobak cilok yang berhenti di pinggir jalan. Arsya yang tadi masih pegang bola ikut terpaku. Matanya membesar, memperhatikan satu per satu temannya yang mulai mengantre.Dia melangkah pelan mendekat, berdiri di samping Ken.Ken dengan santainya merogoh saku, mengeluarkan uang receh, lalu berkata dengan percaya diri, “Bang, dua ribu, yang banyak sambalnya.”Arsya mel
Pagi itu suasana di sebuah TK kecil yang penuh warna terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian dengan tas kecil di punggung mereka, beberapa masih digandeng orang tua, beberapa sudah berani masuk sendiri.Di antara keramaian itu, satu sosok kecil berjalan santai, hampir tanpa beban.Arsya.Langkahnya ringan, wajahnya tenang, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Sementara di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memperhatikan anaknya dengan ekspresi antara bangga dan sedikit tidak percaya.“Ini anak gak ada drama sama sekali,” gumamnya.Biasanya, yang Arkana lihat anak-anak seusia Arsya masih ada yang nangis, ada yang tarik-tarik orang tuanya, bahkan ada yang mogok di depan gerbang. Tapi Arsya?Masuk aja.Tanpa pamit.Tanpa noleh.Tanpa rasa bersalah.“Sya” Arkana sempat mau manggil.Tapi Arsya sudah keburu masuk ke dalam kelas, langsung menuju rak mainan seolah dunia luar sudah tidak penting lagi.Arkana menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Oke baik.
Hujan tipis masih menyisakan jejak di jalanan saat mobil Arkana meluncur pelan memasuki kompleks rumah orang tuanya. Udara sore itu terasa adem, khas setelah hujan, dengan aroma tanah basah yang menenangkan. Tapi suasana tenang itu jelas tidak berlaku di dalam mobil.“Papaaah, cepetan dong nanti Oppa sama Oma kebulu tidul!” suara kecil Arsya terdengar tak sabaran dari kursi belakang.Arkana melirik lewat kaca spion, sudut bibirnya naik tipis. “Ini juga udah cepet, Bos. Rumah Oppa Oma gak pindah, santai aja.”“Enggaaa! Alsya mau tunjukin mobil Alsyaaa!” Arsya menggoyang-goyangkan kakinya, suaranya penuh semangat.Narine yang duduk di samping Arkana cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dari tadi di jalan gak berhenti ngomong itu.”“Biarin,” sahut Arkana santai. “Lagi bangga dia.”“Bangga banget malah,” balas Narine, lalu menoleh ke belakang. “Nanti ngomongnya yang bener ya, Sayang.”“Iyaa!” jawab Arsya cepat. Tapi dari nadanya, jelas tidak ada jaminan apapun.Mobil akhirnya
Malam itu, suasana rumah Arkana dan Narine masih dipenuhi sisa-sisa tawa dari kejadian siang tadi. Arsya belum juga berhenti muter-muter dengan mobil listrik barunya di ruang tengah, sesekali nabrak kaki meja, lalu mundur lagi dengan ekspresi serius seolah dia benar-benar sedang nyetir mobil sungguhan.“Tit tit!” bunyi klakson kecil itu berulang kali.“Papah awass minggil” kata Arsya sambil mengernyit fokus.Arkana yang duduk di sofa hanya bisa geser sedikit sambil menatap kosong ke depan. Mukanya masih menunjukkan sisa-sisa trauma.Narine yang duduk di sebelahnya melirik, lalu nyengir. “Masih kepikiran ya?”Arkana menghela napas panjang lalu tersenyum. “Anakku darimana ya tau kata kata itu, tapi lucu banget sial sayang banget sama hasil karyaku itu.”Narine langsung ngakak lagi. “Salah sendiri, ngide beli yang dua ratus juta.”“Aku gak nyangka dia bakal jawab kayak gitu!” Arkana menoleh, setengah kesal setengah tidak percaya. “Dengan pede lagi bilang papah alsya kaya onty. Itu orang-
Hujan tipis turun membasahi kaca jendela mobil Revan, memecah lampu-lampu jalan menjadi garis-garis cahaya yang memanjang. Malam itu sunyi, hanya suara wiper yang bergerak pelan mengiringi perjalanan pulang mereka. Udara di dalam mobil terasa hangat, namun suasana di antara keduanya justru canggung
Parkiran basement gedung kantor masih dipenuhi suara mesin mobil yang baru padam, beberapa karyawan lewat sambil menenteng tas. Udara lembap bercampur bau aspal membuat Narine menelan gugup. Rajan benar-benar hanya diam saja saat mengantar nya ke kantor, tidak ada candaan seperti biasanya.“Na.”Ra
Suara printer berulang-ulang terdengar, seperti jantung kantor yang memaksa tetap hidup di jam yang seharusnya sudah menjadi milik malam. Lampu-lampu ruangan lantai dua belas sebagian telah dimatikan, hanya menyisakan cahaya putih pucat yang jatuh di area kerja tim konsultan. Di antara meja-meja ya
Liburan ke pantai seharusnya membuat kita rileks dan tenang, namun ini malah membuat Arkana tak tenang. Tapi untuk Narine ini memang betul liburan perasaan nya sangat fresh seolah hilang terbawa oleh ombak. Mereka masih disini tapi tubuh dan perasaan yang tak bisa ditafsirkan.Pagi ini Narine baru







