FAZER LOGINHujan turun sejak subuh. Rintik-rintik air memukul kaca jendela rumah Arkana dan Narine dengan ritme yang pelan tapi terus-menerus. Langit terlihat kelabu, membuat pagi terasa lebih dingin dari biasanya.Biasanya di jam seperti ini Arkana sudah bersiap berangkat kerja. Suara langkahnya yang terburu-buru, bunyi kunci mobil, atau aroma kopi yang cepat diminum sebelum keluar rumah hampir selalu menjadi rutinitas.Tapi hari ini berbeda.Arkana justru duduk santai di sofa ruang tamu dengan kaos rumah dan celana training. Sebuah selimut tipis menutupi kakinya, sementara di tangannya ada secangkir kopi hangat.Ia memandang keluar jendela sambil menikmati suara hujan. Dari dapur, Narine keluar sambil membawa satu cangkir lagi.Ia berhenti sebentar melihat suaminya yang tampak terlalu santai untuk ukuran hari kerja.“Mas,” katanya sambil menyerahkan cangkir itu.Arkana menerimanya.“Hmm?”“Mas jarang banget ya ada di rumah pagi-pagi begini.”Arkana tersenyum kecil.“Kangen ya kamu sama suaminy
Pagi itu rumah Arkana dan Narine terasa lebih tenang dibanding dua hari sebelumnya. Arsya sudah tidak lagi canggung dengan rutinitas sekolahnya. Anak kecil itu justru terlihat sangat bersemangat sejak bangun tidur.Dengan tas dinosaurus kecilnya yang tergantung di pundak, Arsya berlari-lari kecil di ruang tamu.“Papaaah! Cepet!” serunya dengan suara cadel khasnya.Arkana yang sedang duduk di sofa sambil membuka laptop hanya melirik sekilas.“Iya, iya sabar bujang papah juga kerja, bukan cuma kamu yang sekolah,” jawabnya santai.Arsya mendekat, menepuk paha Arkana.“Papah jangan lamaa.”Narine keluar dari dapur sambil membawa botol minum Arsya. Melihat pemandangan itu ia tersenyum kecil.“Mas, hari ini jangan lupa jemput Arsya ya,” kata Narine mengingatkan.Arkana masih mengetik sesuatu di laptopnya.“Iya.”Narine menatapnya dengan mata menyipit.“Mas denger gak?”Arkana mengangguk tanpa benar-benar menoleh.“Iya, denger sayangku cintakuuu.”Arsya ikut menimpali sambil menunjuk Arkana.
Pagi ini rumah terasa lebih sibuk dari biasanya. Narine sudah berada di dapur sejak subuh, menyiapkan bekal khusus untuk hari pertama Arsya masuk TK. Di meja dapur ada kotak bekal warna biru bergambar dinosaurus yang baru dibeli Arkana semalam dengan penuh semangat.Narine membuat nasi kepal kecil berbentuk beruang, telur dadar gulung, potongan apel, dan sedikit sosis yang dipotong seperti bunga.Sementara itu di ruang tengah, Arkana justru menjadi orang paling heboh.Ia sudah memegang ponsel sejak Arsya selesai mandi.Arsya keluar dari kamar memakai seragam TK kecilnya kemeja putih, celana pendek biru, dan sepatu kecil yang masih terlihat kaku karena baru.Arkana langsung berjongkok di depannya.“Ya ampun bujang papah udah sekolah,” katanya dramatis.Arsya mengernyit sedikit.“Papah jangan foto muluu…”Arkana tetap memotret.Cekrek“Ini dokumentasi yang sangat penting,” kata Arkana serius.Narine keluar dari dapur sambil membawa kotak bekal.“Mas, itu anak mau sekolah atau mau ikut p
Pagi itu halaman rumah Arkana dan Narine terasa hangat oleh sinar matahari. Rumput yang masih sedikit basah karena embun pagi terlihat mengilap. Di tengah halaman, seorang bocah kecil berlari-lari dengan sepeda roda tiga berwarna merah.“Papaaah liat! Cepedanya cepet!” seru Arsya dengan suara cadelnya.Arkana yang duduk di kursi teras sambil memegang laptop hanya mengangkat kepala sebentar. Wajahnya terlihat setengah fokus, setengah pasrah.“Iya Papah lihat, hati hati bujang” jawabnya.Arsya sekarang sudah berusia tiga tahun. Tubuhnya kecil tapi energinya seperti baterai yang tidak pernah habis. Rambutnya sedikit berantakan karena tadi pagi Narine belum sempat merapikannya.Narine sendiri sedang berdiri di dekat pagar sambil menyiram tanaman.“Tuh, hati-hati larinya,” kata Narine.“Amaaaan aja!” jawab Arsya dengan gaya percaya diri yang sebenarnya tidak terlalu meyakinkan.Sepeda kecil itu meluncur beberapa meter lalu berhenti karena Arsya menabrak pot bunga.“Ups.”Arkana menghela na
Pagi itu rumah Arkana dan Narine sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Jam dinding di ruang makan baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tapi Narine sudah mondar-mandir dari kamar ke dapur, dari dapur ke ruang tamu, membawa berbagai barang kecil yang menurutnya penting.Di atas meja makan ada sebuah tas kecil berwarna biru muda dengan gambar dinosaurus. Tas itu terbuka, dan Narine sedang memasukkan berbagai benda ke dalamnya dengan penuh perhatian. Botol minum kecil.Kotak camilan.Tisu basah.Baju ganti.Arkana berdiri di dekat meja sambil menggendong Arsya yang masih terlihat agak mengantuk. Rambut kecil anak itu sedikit berantakan, pipinya masih tembam, dan matanya setengah terbuka.Arkana menatap tas kecil itu dengan ekspresi seperti sedang melihat sesuatu yang terlalu serius.“Ini beneran perlu?” tanyanya.Narine bahkan tidak menoleh.“Perlu.”Arkana mengerutkan dahi.“Dia masih bayi.”Narine akhirnya berhenti memasukkan barang lalu menoleh ke suaminya
Pagi itu rumah Arkana terasa lebih tenang dari biasanya, tapi bukan dalam arti yang menyenangkan. Biasanya, sejak subuh Narine sudah bangun, menyiapkan sarapan ringan atau sekadar duduk di meja makan sambil minum teh hangat. Namun hari ini, kamar mereka masih gelap dan sunyi.Arkana berdiri di sisi tempat tidur sambil menatap istrinya yang masih terbaring di bawah selimut. Wajah Narine terlihat sedikit pucat, dan rambutnya terurai berantakan di atas bantal.Arkana mengulurkan tangan dan menyentuh dahi istrinya.“Masih hangat,” gumamnya pelan.Narine membuka mata perlahan. Suaranya serak saat berbicara.“Cuma demam sedikit kok.”Arkana menghela napas.“Sedikit tapi tetap sakit namanya.”Narine tersenyum tipis.“Kamu kerja aja. Aku istirahat.”Arkana masih terlihat ragu. Ia tidak suka meninggalkan Narine saat kondisinya seperti ini.Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah pintu kamar.“Bu...”Keduanya menoleh bersamaan.Di sana berdiri Arsya dengan rambut aca







