Home / Romansa / Sentuhan Semalam Paman Angkatku / Bab 5. Jarak yang Terkikis

Share

Bab 5. Jarak yang Terkikis

Author: Senja Berpena
last update publish date: 2026-08-31 11:50:41

“Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.

Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.

Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.

Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.

Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.

Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.

Laura menekan ujungnya lebih kuat.

Srak!

Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat sisi dalam jari telunjuk kanannya.

“Aww...” rintih Laura tertahan, menarik tangannya ke dada.

Rasa perih langsung menyengat ujung jarinya.

Detik berikutnya, cairan merah pekat merembes keluar, berkumpul menjadi bulir darah segar yang kemudian menetes jatuh ke atas meja kerja granit hitam.

Noda merah itu tampak sangat kontras di atas permukaan meja yang bersih berkilat tanpa cela.

Panik bahwa darahnya akan merusak dokumen penting Jonas, Laura cepat-cepat mencari lap atau tisu di sekeliling meja.

Namun sebelum ia sempat beranjak dari kursinya, derap langkah kaki yang tergesa dan berat bergema nyaring dari arah koridor luar.

Brak!

Daun pintu ruang kerja terdorong terbuka lebar.

Jonas berdiri menjulang di ambang pintu, napasnya memburu halus dengan dasi yang sudah sedikit dilonggarkan dan jas hitam tersampir di lengan kirinya.

Pria itu sengaja pulang lebih cepat untuk mengambil dokumen tender yang tertinggal, namun gerak tubuhnya membeku seketika saat pandangannya menangkap ceceran darah di atas meja.

“Laura? Apa yang sedang kamu lakukan sampai membuat kekacauan kecil begitu?” tegur Jonas dengan nada suara bas yang mendadak menegang.

Laura menundukkan kepalanya, buru-buru menyembunyikan jarinya yang terluka di balik lipatan rok rajutnya.

“Maafkan aku, Jonas... aku kurang berhati-hati saat melepas klip kertas besi ini. Aku akan segera membersihkan meja kerjamu agar tidak kotor.”

Mata kelam Jonas menatap noda darah itu, lalu beralih menatap wajah pucat Laura yang ketakutan.

Rahang tegasnya mengeras seketika. Rasa cemas yang asing dan pekat mendadak melibas topeng dinginnya.

Pria itu melemparkan jas mewahnya begitu saja ke atas sofa kulit terdekat tanpa memedulikan kerapiannya lagi.

“Kenapa kamu malah mengusapnya ke pakaianmu? Jangan bertindak ceroboh begitu,” hardik Jonas rendah, suaranya sarat getaran emosi yang tak bisa ia bendung.

Langkah panjang Jonas mengikis habis jarak di antara mereka.

Tanpa membuang waktu, ia menarik laci bawah meja granit, menyambar kotak pertolongan pertama, lalu menarik satu kursi lain tepat di depan Laura.

Jonas duduk begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan kaku.

Gesekan kain celana bahan mahalnya pada rajut rok Laura terasa begitu nyata, mengurung ruang gerak gadis itu sepenuhnya.

“Beri aku tanganmu sekarang, biarkan aku membersihkan lukanya terlebih dahulu,” titah Jonas dengan nada bariton yang mutlak tak terbantahkan.

Laura yang polos dan penurut hanya mampu mengangguk kecil. Ia menyerahkan pergelangan tangannya yang dingin ke udara.

Jonas menyambarnya dengan cepat. Telapak tangan pria itu yang luas, kasar, dan hangat seketika melingkupi pergelangan tangan Laura yang mungil.

Cengkeramannya tidak kasar, tetapi sangat erat dan protektif, menahan tangan Laura seolah gadis itu adalah sebuah porselen retak yang nyaris hancur.

Sentuhan kulit yang membara itu kembali mengirimkan sengatan panas yang merambat cepat ke tengkuk Laura, memicu debar jantung yang mendadak berantakan.

Jonas membuka botol antiseptik dengan satu tangan, menuangkannya ke kapas putih dengan gerakan yang amat teliti.

“Ini akan terasa sedikit perih, tahan sebentar saja,” bisik Jonas pelan.

Hembusan napas hangat pria itu menyapu langsung permukaan punggung tangan Laura saat ia menunduk untuk membersihkan luka sayat tersebut.

Laura meringis halus ketika cairan antiseptik menyentuh lukanya. Namun, rasa perih itu segera terkikis oleh sensasi lain yang jauh lebih menyesakkan dada.

Dari jarak sedekat ini, aroma maskulin kayu cendana dan parfum mint Jonas mengepung kesadarannya.

Laura menatap lekat garis rahang Jonas yang terpahat kokoh, alis tebalnya yang bertaut cemas, serta helai rambut gelap pria itu yang jatuh berantakan di dahinya.

Paman angkatnya tampak begitu perkasa sekaligus teramat mengintimidasi.

“Apa rasanya masih sangat sakit?” tanya Jonas dengan nada teramat rendah tanpa mengangkat pandangannya dari jari Laura yang sedang ia balut plester kain.

“Tidak... rasa sakitnya sudah hilang karena kamu mengobatinya dengan sangat pelan,” jawab Laura jujur, suaranya nyaris menyerupai bisikan pasrah di tengah keheningan ruang kerja.

Jonas selesai merekatkan plester itu, namun ia sama sekali tidak melepaskan tangannya.

Alih-alih menarik diri, ibu jari Jonas yang kapalan justru mulai bergerak perlahan, mengusap permukaan kulit halus di pergelangan tangan bagian dalam Laura.

Sentuhan berulang itu menyusuri urat nadi Laura yang berdenyut cepat dan liar di bawah cengkeraman jarinya.

Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi teramat pekat, panas, dan sesak oleh tegangan terlarang.

Perlahan, Jonas mengangkat kepalanya. Manik mata cokelat kelamnya yang tajam langsung mengunci tatapan mata cokelat Laura dalam jarak yang tak sampai sejengkal.

Laura membeku, terperangkap sepenuhnya di bawah tatapan pria dewasa yang menguliti kepolosannya lapis demi lapis.

“Lain kali, jika kamu butuh bantuan atau terluka, langsung katakan padaku tanpa perlu kamu sembunyikan,” bisik Jonas serak.

Laura tidak menarik tangannya mundur barang satu senti pun. Sikapnya yang terbiasa akomodatif dan penurut membuatnya tetap terpaku menatap bibir tegas Jonas yang begitu dekat dari wajahnya.

“Maafkan aku, Jonas. Dan terima kasih... karena selalu ada untuk membantuku,” tutur Laura manis, getaran kepasrahan dalam suaranya terdengar begitu menggoda tanpa ia sadari.

Mendengar kepatuhan tanpa syarat itu, mata Jonas menggelap total, menatap bibir merah muda Laura dengan rasa lapar yang kian sulit ia kendalikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 7. Rumah yang Mendadak Kosong

    Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”Laura menggeleng dengan lembut.“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang lu

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 6. Sentuhan Dadakan

    Ting tong!Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang seda

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 5. Jarak yang Terkikis

    “Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.Laura menekan ujungnya lebih kuat.Srak!Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 4. Tugas Pertama dari Jonas

    “Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika l

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 3. Napas yang Tidak Beraturan

    “Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan. Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 2. Teguran Halus

    “Tidak ada,” jawab Jonas singkat.Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.Laura merebah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status