로그인“Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.
Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.
Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.
Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.
Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.
Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.
Laura menekan ujungnya lebih kuat.
Srak!
Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat sisi dalam jari telunjuk kanannya.
“Aww...” rintih Laura tertahan, menarik tangannya ke dada.
Rasa perih langsung menyengat ujung jarinya.
Detik berikutnya, cairan merah pekat merembes keluar, berkumpul menjadi bulir darah segar yang kemudian menetes jatuh ke atas meja kerja granit hitam.
Noda merah itu tampak sangat kontras di atas permukaan meja yang bersih berkilat tanpa cela.
Panik bahwa darahnya akan merusak dokumen penting Jonas, Laura cepat-cepat mencari lap atau tisu di sekeliling meja.
Namun sebelum ia sempat beranjak dari kursinya, derap langkah kaki yang tergesa dan berat bergema nyaring dari arah koridor luar.
Brak!
Daun pintu ruang kerja terdorong terbuka lebar.
Jonas berdiri menjulang di ambang pintu, napasnya memburu halus dengan dasi yang sudah sedikit dilonggarkan dan jas hitam tersampir di lengan kirinya.
Pria itu sengaja pulang lebih cepat untuk mengambil dokumen tender yang tertinggal, namun gerak tubuhnya membeku seketika saat pandangannya menangkap ceceran darah di atas meja.
“Laura? Apa yang sedang kamu lakukan sampai membuat kekacauan kecil begitu?” tegur Jonas dengan nada suara bas yang mendadak menegang.
Laura menundukkan kepalanya, buru-buru menyembunyikan jarinya yang terluka di balik lipatan rok rajutnya.
“Maafkan aku, Jonas... aku kurang berhati-hati saat melepas klip kertas besi ini. Aku akan segera membersihkan meja kerjamu agar tidak kotor.”
Mata kelam Jonas menatap noda darah itu, lalu beralih menatap wajah pucat Laura yang ketakutan.
Rahang tegasnya mengeras seketika. Rasa cemas yang asing dan pekat mendadak melibas topeng dinginnya.
Pria itu melemparkan jas mewahnya begitu saja ke atas sofa kulit terdekat tanpa memedulikan kerapiannya lagi.
“Kenapa kamu malah mengusapnya ke pakaianmu? Jangan bertindak ceroboh begitu,” hardik Jonas rendah, suaranya sarat getaran emosi yang tak bisa ia bendung.
Langkah panjang Jonas mengikis habis jarak di antara mereka.
Tanpa membuang waktu, ia menarik laci bawah meja granit, menyambar kotak pertolongan pertama, lalu menarik satu kursi lain tepat di depan Laura.
Jonas duduk begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan kaku.
Gesekan kain celana bahan mahalnya pada rajut rok Laura terasa begitu nyata, mengurung ruang gerak gadis itu sepenuhnya.
“Beri aku tanganmu sekarang, biarkan aku membersihkan lukanya terlebih dahulu,” titah Jonas dengan nada bariton yang mutlak tak terbantahkan.
Laura yang polos dan penurut hanya mampu mengangguk kecil. Ia menyerahkan pergelangan tangannya yang dingin ke udara.
Jonas menyambarnya dengan cepat. Telapak tangan pria itu yang luas, kasar, dan hangat seketika melingkupi pergelangan tangan Laura yang mungil.
Cengkeramannya tidak kasar, tetapi sangat erat dan protektif, menahan tangan Laura seolah gadis itu adalah sebuah porselen retak yang nyaris hancur.
Sentuhan kulit yang membara itu kembali mengirimkan sengatan panas yang merambat cepat ke tengkuk Laura, memicu debar jantung yang mendadak berantakan.
Jonas membuka botol antiseptik dengan satu tangan, menuangkannya ke kapas putih dengan gerakan yang amat teliti.
“Ini akan terasa sedikit perih, tahan sebentar saja,” bisik Jonas pelan.
Hembusan napas hangat pria itu menyapu langsung permukaan punggung tangan Laura saat ia menunduk untuk membersihkan luka sayat tersebut.
Laura meringis halus ketika cairan antiseptik menyentuh lukanya. Namun, rasa perih itu segera terkikis oleh sensasi lain yang jauh lebih menyesakkan dada.
Dari jarak sedekat ini, aroma maskulin kayu cendana dan parfum mint Jonas mengepung kesadarannya.
Laura menatap lekat garis rahang Jonas yang terpahat kokoh, alis tebalnya yang bertaut cemas, serta helai rambut gelap pria itu yang jatuh berantakan di dahinya.
Paman angkatnya tampak begitu perkasa sekaligus teramat mengintimidasi.
“Apa rasanya masih sangat sakit?” tanya Jonas dengan nada teramat rendah tanpa mengangkat pandangannya dari jari Laura yang sedang ia balut plester kain.
“Tidak... rasa sakitnya sudah hilang karena kamu mengobatinya dengan sangat pelan,” jawab Laura jujur, suaranya nyaris menyerupai bisikan pasrah di tengah keheningan ruang kerja.
Jonas selesai merekatkan plester itu, namun ia sama sekali tidak melepaskan tangannya.
Alih-alih menarik diri, ibu jari Jonas yang kapalan justru mulai bergerak perlahan, mengusap permukaan kulit halus di pergelangan tangan bagian dalam Laura.
Sentuhan berulang itu menyusuri urat nadi Laura yang berdenyut cepat dan liar di bawah cengkeraman jarinya.
Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi teramat pekat, panas, dan sesak oleh tegangan terlarang.
Perlahan, Jonas mengangkat kepalanya. Manik mata cokelat kelamnya yang tajam langsung mengunci tatapan mata cokelat Laura dalam jarak yang tak sampai sejengkal.
Laura membeku, terperangkap sepenuhnya di bawah tatapan pria dewasa yang menguliti kepolosannya lapis demi lapis.
“Lain kali, jika kamu butuh bantuan atau terluka, langsung katakan padaku tanpa perlu kamu sembunyikan,” bisik Jonas serak.
Laura tidak menarik tangannya mundur barang satu senti pun. Sikapnya yang terbiasa akomodatif dan penurut membuatnya tetap terpaku menatap bibir tegas Jonas yang begitu dekat dari wajahnya.
“Maafkan aku, Jonas. Dan terima kasih... karena selalu ada untuk membantuku,” tutur Laura manis, getaran kepasrahan dalam suaranya terdengar begitu menggoda tanpa ia sadari.
Mendengar kepatuhan tanpa syarat itu, mata Jonas menggelap total, menatap bibir merah muda Laura dengan rasa lapar yang kian sulit ia kendalikan.
Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint
Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.
Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.
Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren
Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru
Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me







