LOGINDi malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.
“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.
“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”
Laura menggeleng dengan lembut.
“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”
Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.
Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.
Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang luas itu.
“Mobil dan sopir pribadi sudah siap di pelataran depan, Eleanor,” ucap Jonas dengan suara datarnya.
“Perjalanan menuju stasiun memakan waktu setengah jam. Kau tidak perlu merisaukan urusan di rumah selama berada di luar kota.”
Eleanor menghela napas lega, menatap adik angkatnya itu dengan binar haru yang tulus.
“Terima kasih banyak, Jonas. Tolong awasi Laura. Anak ini terkadang terlalu sungkan untuk meminta bantuan atau sekadar menyalakan pemanas ruangan jika ia kedinginan.”
Sepasang mata cokelat kelam Jonas perlahan bergulir, jatuh menatap Laura.
Tatapan pria itu tidak berkedip, menyapu wajah bersih gadis itu, ceruk lehernya yang mulus, hingga gestur jemarinya yang saling bertaut di depan rok rajutnya.
“Aku akan memastikan dia terurus dengan sangat baik di bawah pengawasanku,” sahut Jonas lambat-lambat.
Begitu pintu depan berdebam menutup dan gerendel besinya terkunci rapat di belakang punggung Eleanor, suasana di dalam rumah megah itu mendadak berubah drastis.
Sunyi yang turun bukan sekadar sepi biasa, melainkan keheningan yang teramat pekat, padat, dan menekan.
Tanpa kehadiran sang ibu, pembatas etis dan rasa canggung yang selama ini tertahan di balik formalitas mendadak merenggang tanpa peringatan.
Rumah megah itu kini sepenuhnya terisolasi dari dunia luar, menyisakan Laura dan pria yang menampungnya.
Laura menelan salivanya perlahan, berusaha menepis debar aneh yang mulai merayapi rongga dadanya.
Sebagai pihak yang selalu ingin bersikap berguna, ia buru-buru memecah kekakuan itu.
“Apa kamu ingin aku menyeduhkan teh hangat sebelum kamu beristirahat, Jonas?” tawar Laura halus, menatap rahang tegas Jonas yang terpahat beku.
Jonas tidak langsung menyahut. Manik matanya menatap lekat bibir merah muda Laura, lalu turun mengamati gaun rumah berbahan katun lembut yang membungkus siluet tubuh ramping itu.
“Seduhkan teh chamomile, lalu bawa ke ruang tengah. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan mengenai keberadaan kalian di sini,” titah Jonas singkat sebelum memutar tumitnya menuju deretan sofa kulit.
“Baik, Jonas.”
Laura bergegas ke dapur. Di balik sikap patuhnya, jantungnya berdegup tak beraturan.
Tangannya yang lentik bergerak hati-hati menuangkan air mendidih ke dalam dua cangkir porselen putih, menata cangkir-cangkir itu di atas nampan kayu berpernis gelap.
Aroma harum bunga menguar menenangkan, namun tak sanggup mendinginkan darahnya yang berdesir kencang.
Beberapa menit berselang, Laura melangkah perlahan ke ruang tengah.
Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja kaca dengan gerakan teratur, lalu memilih duduk di sofa tunggal yang posisinya agak menyamping dari tempat Jonas duduk.
Jonas menyesap cangkirnya perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari setiap gerak Laura. Udara di antara mereka berdua terasa begitu tipis.
“Proses hukum ibumu akan selesai dalam hitungan hari, dan dokumen sita aset dari mantan suaminya akan resmi dibekukan,” buka Jonas dengan nada berat yang berwibawa.
“Kalian tidak perlu memikirkan tempat tinggal lain. Rumah ini memiliki lebih dari cukup ruang untuk kalian tinggali secara permanen.”
Laura mengadahkan kepalanya menatap pria itu dengan tatapan lembutnya.
“Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu, Jonas. Kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk kami yang bukan siapa-siapa ini.”
Jonas menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kulit, tatapannya menajam menguliti kepolosan yang terpancar dari wajah gadis di hadapannya.
“Aku tidak pernah melakukan hal sebesar ini hanya atas dasar belas kasihan atau formalitas keluarga angkat, Laura,” ujar Jonas datar.
“Ada alasan mengapa aku membiarkan kalian melangkah masuk ke rumah ini.”
Laura mendongak. Manik matanya yang jernih dan polos beradu langsung dengan iris cokelat kelam milik Jonas yang menatapnya tanpa tedeng aling-aling.
Terbawa oleh rasa penasaran dan kepatuhan yang tulus, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibirnya.
“Lalu apa sebenarnya yang kamu harapkan dariku sebagai balasan atas semua bantuan ini, Jonas?”
Udara seketika membeku.
Pertanyaan polos yang terlontar tanpa prasangka itu menghantam akal sehat Jonas telak.
Pegangan tangan Jonas pada cangkir porselennya mengetat kaku. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja kaca dengan dentang halus yang tegas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
Menopang kedua sikunya di atas lutut, Jonas memangkas jarak di antara mereka hingga Laura bisa merasakan panas tubuh dan wangi kayu cendana yang pekat dari kemeja hitam pria itu.
“Kamu sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja kamu tanyakan, Laura,” bisik Jonas dengan suara bas yang bergetar rendah dan berbahaya.
“Kepolosan dan kepatuhanmu itu bisa menjadi jerat yang sangat mematikan di bawah atap rumah ini.”
Laura tidak beringsut mundur. Matanya tetap terpaku menatap bibir tegas Jonas yang bergerak dalam jarak sedekat itu.
Sikap pasrah tanpa gentar dari gadis muda itu justru memantik api terlarang yang selama berhari-hari terkunci di balik dada Jonas.
Jonas menegakkan tubuhnya, berdiri menjulang dan menatap Laura dari ketinggian posturnya.
“Bawa cangkir teh milikku ke kamar tidur utama di lantai atas,” titah Jonas serak, nada bicaranya tidak lagi menerima penolakan dalam bentuk apa pun.
Laura mengangguk patuh tanpa keraguan sedikit pun. “Baik, Jonas.”
Ia meraih cangkir teh porselen itu, melangkah mengekor di belakang punggung lebar Jonas yang menaiki anak tangga mahoni satu demi satu.
Jonas mendorong pintu kamar tidur pribadinya yang megah. Pendar lampu tidur temaram berwarna keemasan menyambut mereka, menyorot ranjang berseprai abu-abu gelap yang luas.
Laura melangkah masuk ke dalam teritori paling intim milik pria itu, meletakkan cangkir di atas nakas kayu di samping tempat tidur.
“Tehmu sudah ada di sini, Jonas. Jika tidak ada lagi yang kamu butuhkan, aku akan kembali ke kamarku—”
Laura membalikkan badannya hendak melangkah keluar, namun gerakan kakinya terkunci kaku.
Jonas sudah berada tepat di belakangnya, mendorong daun pintu kayu jati itu hingga menutup rapat.
Cklik!
Suara gerendel kunci yang berputar nyaring memotong seluruh jalan keluar.
Laura menahan napasnya, mendongak menatap Jonas yang berdiri membeku membelakangi pintu dengan manik mata yang menggelap total.
“Jonas...? Kenapa pintunya dikunci?” bisik Laura tercekat.
Jonas melangkah maju satu langkah panjang, menyambar pergelangan tangan Laura dan menarik tubuh ramping itu tanpa ampun ke dalam pelukannya yang kokoh dan keras.
Dada mereka bertabrakan rapat tanpa menyisakan celah udara. Napas panas Jonas memburu di perpotongan leher Laura, meruntuhkan seluruh topeng paman angkat yang selama ini ia pasang.
“Karena malam ini, kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Laura,” bisik Jonas serak tepat di depan bibirnya.
Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”Laura menggeleng dengan lembut.“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang lu
Ting tong!Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang seda
“Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.Laura menekan ujungnya lebih kuat.Srak!Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat
“Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika l
“Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan. Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru
“Tidak ada,” jawab Jonas singkat.Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.Laura merebah







