홈 / Romansa / Sentuhan Semalam Paman Angkatku / Bab 7. Rumah yang Mendadak Kosong

공유

Bab 7. Rumah yang Mendadak Kosong

작가: Senja Berpena
last update 게시일: 2026-08-31 12:05:09

Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.

“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.

“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”

Laura menggeleng dengan lembut.

“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”

Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.

Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.

Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang luas itu.

“Mobil dan sopir pribadi sudah siap di pelataran depan, Eleanor,” ucap Jonas dengan suara datarnya.

“Perjalanan menuju stasiun memakan waktu setengah jam. Kau tidak perlu merisaukan urusan di rumah selama berada di luar kota.”

Eleanor menghela napas lega, menatap adik angkatnya itu dengan binar haru yang tulus.

“Terima kasih banyak, Jonas. Tolong awasi Laura. Anak ini terkadang terlalu sungkan untuk meminta bantuan atau sekadar menyalakan pemanas ruangan jika ia kedinginan.”

Sepasang mata cokelat kelam Jonas perlahan bergulir, jatuh menatap Laura.

Tatapan pria itu tidak berkedip, menyapu wajah bersih gadis itu, ceruk lehernya yang mulus, hingga gestur jemarinya yang saling bertaut di depan rok rajutnya.

“Aku akan memastikan dia terurus dengan sangat baik di bawah pengawasanku,” sahut Jonas lambat-lambat.

Begitu pintu depan berdebam menutup dan gerendel besinya terkunci rapat di belakang punggung Eleanor, suasana di dalam rumah megah itu mendadak berubah drastis.

Sunyi yang turun bukan sekadar sepi biasa, melainkan keheningan yang teramat pekat, padat, dan menekan.

Tanpa kehadiran sang ibu, pembatas etis dan rasa canggung yang selama ini tertahan di balik formalitas mendadak merenggang tanpa peringatan.

Rumah megah itu kini sepenuhnya terisolasi dari dunia luar, menyisakan Laura dan pria yang menampungnya.

Laura menelan salivanya perlahan, berusaha menepis debar aneh yang mulai merayapi rongga dadanya.

Sebagai pihak yang selalu ingin bersikap berguna, ia buru-buru memecah kekakuan itu.

“Apa kamu ingin aku menyeduhkan teh hangat sebelum kamu beristirahat, Jonas?” tawar Laura halus, menatap rahang tegas Jonas yang terpahat beku.

Jonas tidak langsung menyahut. Manik matanya menatap lekat bibir merah muda Laura, lalu turun mengamati gaun rumah berbahan katun lembut yang membungkus siluet tubuh ramping itu.

“Seduhkan teh chamomile, lalu bawa ke ruang tengah. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan mengenai keberadaan kalian di sini,” titah Jonas singkat sebelum memutar tumitnya menuju deretan sofa kulit.

“Baik, Jonas.”

Laura bergegas ke dapur. Di balik sikap patuhnya, jantungnya berdegup tak beraturan.

Tangannya yang lentik bergerak hati-hati menuangkan air mendidih ke dalam dua cangkir porselen putih, menata cangkir-cangkir itu di atas nampan kayu berpernis gelap.

Aroma harum bunga menguar menenangkan, namun tak sanggup mendinginkan darahnya yang berdesir kencang.

Beberapa menit berselang, Laura melangkah perlahan ke ruang tengah.

Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja kaca dengan gerakan teratur, lalu memilih duduk di sofa tunggal yang posisinya agak menyamping dari tempat Jonas duduk.

Jonas menyesap cangkirnya perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari setiap gerak Laura. Udara di antara mereka berdua terasa begitu tipis.

“Proses hukum ibumu akan selesai dalam hitungan hari, dan dokumen sita aset dari mantan suaminya akan resmi dibekukan,” buka Jonas dengan nada berat yang berwibawa.

“Kalian tidak perlu memikirkan tempat tinggal lain. Rumah ini memiliki lebih dari cukup ruang untuk kalian tinggali secara permanen.”

Laura mengadahkan kepalanya menatap pria itu dengan tatapan lembutnya.

“Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu, Jonas. Kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk kami yang bukan siapa-siapa ini.”

Jonas menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kulit, tatapannya menajam menguliti kepolosan yang terpancar dari wajah gadis di hadapannya.

“Aku tidak pernah melakukan hal sebesar ini hanya atas dasar belas kasihan atau formalitas keluarga angkat, Laura,” ujar Jonas datar.

“Ada alasan mengapa aku membiarkan kalian melangkah masuk ke rumah ini.”

Laura mendongak. Manik matanya yang jernih dan polos beradu langsung dengan iris cokelat kelam milik Jonas yang menatapnya tanpa tedeng aling-aling.

Terbawa oleh rasa penasaran dan kepatuhan yang tulus, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibirnya.

“Lalu apa sebenarnya yang kamu harapkan dariku sebagai balasan atas semua bantuan ini, Jonas?”

Udara seketika membeku.

Pertanyaan polos yang terlontar tanpa prasangka itu menghantam akal sehat Jonas telak.

Pegangan tangan Jonas pada cangkir porselennya mengetat kaku. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja kaca dengan dentang halus yang tegas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

Menopang kedua sikunya di atas lutut, Jonas memangkas jarak di antara mereka hingga Laura bisa merasakan panas tubuh dan wangi kayu cendana yang pekat dari kemeja hitam pria itu.

“Kamu sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja kamu tanyakan, Laura,” bisik Jonas dengan suara bas yang bergetar rendah dan berbahaya.

“Kepolosan dan kepatuhanmu itu bisa menjadi jerat yang sangat mematikan di bawah atap rumah ini.”

Laura tidak beringsut mundur. Matanya tetap terpaku menatap bibir tegas Jonas yang bergerak dalam jarak sedekat itu.

Sikap pasrah tanpa gentar dari gadis muda itu justru memantik api terlarang yang selama berhari-hari terkunci di balik dada Jonas.

Jonas menegakkan tubuhnya, berdiri menjulang dan menatap Laura dari ketinggian posturnya.

“Bawa cangkir teh milikku ke kamar tidur utama di lantai atas,” titah Jonas serak, nada bicaranya tidak lagi menerima penolakan dalam bentuk apa pun.

Laura mengangguk patuh tanpa keraguan sedikit pun. “Baik, Jonas.”

Ia meraih cangkir teh porselen itu, melangkah mengekor di belakang punggung lebar Jonas yang menaiki anak tangga mahoni satu demi satu.

Jonas mendorong pintu kamar tidur pribadinya yang megah. Pendar lampu tidur temaram berwarna keemasan menyambut mereka, menyorot ranjang berseprai abu-abu gelap yang luas.

Laura melangkah masuk ke dalam teritori paling intim milik pria itu, meletakkan cangkir di atas nakas kayu di samping tempat tidur.

“Tehmu sudah ada di sini, Jonas. Jika tidak ada lagi yang kamu butuhkan, aku akan kembali ke kamarku—”

Laura membalikkan badannya hendak melangkah keluar, namun gerakan kakinya terkunci kaku.

Jonas sudah berada tepat di belakangnya, mendorong daun pintu kayu jati itu hingga menutup rapat.

Cklik!

Suara gerendel kunci yang berputar nyaring memotong seluruh jalan keluar.

Laura menahan napasnya, mendongak menatap Jonas yang berdiri membeku membelakangi pintu dengan manik mata yang menggelap total.

“Jonas...? Kenapa pintunya dikunci?” bisik Laura tercekat.

Jonas melangkah maju satu langkah panjang, menyambar pergelangan tangan Laura dan menarik tubuh ramping itu tanpa ampun ke dalam pelukannya yang kokoh dan keras.

Dada mereka bertabrakan rapat tanpa menyisakan celah udara. Napas panas Jonas memburu di perpotongan leher Laura, meruntuhkan seluruh topeng paman angkat yang selama ini ia pasang.

“Karena malam ini, kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Laura,” bisik Jonas serak tepat di depan bibirnya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Wah kesempatan ini Eleanor pergi
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 83. Mau Lihat Kebringasan Jonas?

    Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 82. Digantung

    Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 81. Pengakuan yang Menyebalkan

    Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 80. Kebalik

    Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 79. Meracau tak Jelas

    Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 78. Melacak Keberadaan Laura

    Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status