Home / Romansa / Sentuhan Semalam Paman Angkatku / Bab 6. Sentuhan Dadakan

Share

Bab 6. Sentuhan Dadakan

Author: Senja Berpena
last update publish date: 2026-08-31 11:56:49

Ting tong!

Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.

“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.

Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.

“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.

Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.

Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.

Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.

Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.

Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang sedang berdiri di dekat sofa, menyerahkan sebuah map berkas tebal pada Jonas.

“Terima kasih sudah mengantarkan dokumen pelengkap ini secara langsung, Julian,” ucap Jonas dengan nada suara formal yang berjarak.

Julian, rekan bisnisnya, menepuk bahu Jonas dengan santai sebelum matanya mendadak tertuju pada Laura yang melangkah mendekat.

Seketika, senyum di bibir pria itu melebar.

“Aku tidak tahu kalau kamu menyembunyikan seorang gadis secantik ini di dalam rumahmu, Jonas,” puji Julian tanpa menyaring tatapannya.

Laura menunduk sopan, meletakkan cangkir teh porselen di atas meja kaca seraya mengulas senyuman ramah. “Silakan diminum tehnya, Tuan,” tuturnya lembut.

Laura tidak menyadari bagaimana tatapan Julian mulai menyusuri tubuhnya secara kurang ajar, dari ceruk lehernya yang mulus hingga ke lekuk tubuhnya di balik pakaian rajut sederhana.

Julian mencondongkan tubuhnya ke depan, tampak sangat menikmati pemandangan itu.

“Siapa nama gadis manis ini, Jonas? Apa dia salah satu staf barumu yang beruntung?” tanya Julian dengan nada menakar yang menyebalkan.

Laura yang polos hendak membuka bibirnya untuk menjawab secara sopan, namun sebuah suara bariton yang dingin dan mematikan memotongnya lebih dulu.

“Dia adalah keponakan angkatku, dan dia tidak bertugas untuk melayani tamu di rumah ini,” tegas Jonas.

Udara di ruang tamu mendadak membeku. Jonas menatap Julian dengan manik mata cokelat kelam yang menghunus tajam.

Rahang Jonas mengeras kaku, dan kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuh memancarkan amarah teritorial yang begitu pekat.

Melihat pria lain memandang Laura dengan nafsu murahan membuat darahnya mendidih seketika.

Julian tertawa hambar, mencoba mencairkan intimidasi yang terasa mencekik lehernya.

“Tenanglah, Jonas. Aku hanya mengagumi kecantikannya yang sangat alami itu,” kilahnya enteng.

Jonas tidak sedikit pun mengendurkan tatapan dinginnya pada Julian, sebelum akhirnya berpaling menatap Laura yang berdiri terpaku di sisi meja.

“Masuklah ke dalam sekarang, Laura,” titah Jonas dengan suara rendah yang mutlak tak terbantahkan. “Biarkan pelayan yang membersihkan sisa cangkir di sini nanti.”

Laura menelan ludah, sedikit gentar oleh nada tajam yang belum pernah ia dengar sebelumnya dari Jonas. Sebagai pihak yang patuh dan tak ingin memicu keributan, ia mengangguk kaku.

“Baik, Jonas. Permisi, Tuan,” pamit Laura seraya menundukkan kepala dan bergegas melangkah pergi menuju area dapur belakang.

Jonas mengawasi setiap derap langkah Laura hingga gadis itu menghilang di balik dinding sekat.

Begitu pandangannya kembali pada Julian, matanya seolah siap mencabik siapa pun yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.

“Urusan berkas kita sudah selesai di sini, Julian. Kau bisa pergi sekarang,” ujar Jonas tanpa menyembunyikan nada pengusirannya.

Julian yang menangkap jelas gelagat permusuhan itu hanya bisa menghela napas, mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu melangkah keluar tanpa berani membantah lagi.

Begitu pintu depan tertutup rapat dan gerendelnya terkunci nyaring, topeng kesabaran Jonas runtuh total. Langkah kakinya yang panjang dan berderap berat memburu lorong menuju dapur.

Di dekat lemari pendingin, Laura sedang menuangkan air dingin ke dalam gelas, berniat meredakan debar jantungnya yang masih gusar.

Namun sebelum gelas itu menyentuh bibirnya, bayangan tubuh jangkung Jonas mendadak mengepungnya dari belakang.

Srett!

Sebuah cengkeraman tangan yang kasar dan kokoh menyambar kedua bahu Laura.

Dengan satu sentakan kuat yang mendominasi, Jonas memutar tubuh ramping itu dan menghimpitnya ke dinding marmer yang dingin.

Gelas di tangan Laura nyaris terlepas. “Jonas...? Ada apa denganmu?” pekik Laura terbata, terkejut mendapati napas panas pria itu menyapu keningnya.

Jonas mengurung tubuh Laura sepenuhnya.

Kedua telapak tangannya menumpu kokoh pada dinding marmer di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu, mengikis seluruh ruang gerak hingga dada mereka nyaris bersentuhan tanpa jarak.

Manik matanya yang pekat berkilat liar, sarat akan kecemburuan gelap yang tak lagi mampu ditutup-tutupi.

“Apa kamu selalu bersikap semanis dan seramah itu pada setiap pria asing yang melangkah masuk ke rumah ini, Laura?” bisik Jonas dengan suara bas yang berat dan bergetar hebat.

Laura mendongak, matanya yang jernih dan polos menatap rahang Jonas yang menegang kaku. Ia bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh tegap pria itu.

“Aku... aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang sopan, Jonas,” jawab Laura dengan bibir yang gemetar menahan takut. “Aku tidak bermaksud apa-apa...”

Jonas mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga bibirnya yang kering menyapu daun telinga Laura yang memerah. Hembusan napasnya yang berat membuat seluruh bulu kuduk Laura meremang seketika.

“Sikap ramahmu yang polos itu terlihat sangat memancing bagi pria brengsek seperti Julian, dan aku membencinya,” bisik Jonas tajam, sarat akan ancaman yang teramat nyata.

Laura membeku di bawah kungkungan pria yang menampungnya ini. Tubuhnya kian pasrah menempel pada dinding, tak mampu dan tak berani mendorong dada bidang yang menjulang di depannya.

“Maafkan aku, Jonas... aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi,” cicit Laura pelan, menyerahkan seluruh kepatuhannya tanpa syarat.

Jonas menatap lekat bibir ranum Laura yang baru saja mengucap janji tersebut.

Dorongan liar untuk mencium dan melumat bibir itu begitu kuat merasuki kepalanya, namun ia menahan diri dengan mencengkeram dinding marmer lebih kuat.

“Pegang janjimu, Laura,” bisik Jonas serak tepat di depan bibir gadis itu. “Karena jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan segan memberimu hukuman yang sangat nyata.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 7. Rumah yang Mendadak Kosong

    Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”Laura menggeleng dengan lembut.“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang lu

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 6. Sentuhan Dadakan

    Ting tong!Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang seda

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 5. Jarak yang Terkikis

    “Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.Laura menekan ujungnya lebih kuat.Srak!Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 4. Tugas Pertama dari Jonas

    “Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika l

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 3. Napas yang Tidak Beraturan

    “Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan. Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 2. Teguran Halus

    “Tidak ada,” jawab Jonas singkat.Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.Laura merebah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status