LOGINTing tong!
Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.
“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.
Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.
“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.
Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.
Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.
Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.
Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.
Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang sedang berdiri di dekat sofa, menyerahkan sebuah map berkas tebal pada Jonas.
“Terima kasih sudah mengantarkan dokumen pelengkap ini secara langsung, Julian,” ucap Jonas dengan nada suara formal yang berjarak.
Julian, rekan bisnisnya, menepuk bahu Jonas dengan santai sebelum matanya mendadak tertuju pada Laura yang melangkah mendekat.
Seketika, senyum di bibir pria itu melebar.
“Aku tidak tahu kalau kamu menyembunyikan seorang gadis secantik ini di dalam rumahmu, Jonas,” puji Julian tanpa menyaring tatapannya.
Laura menunduk sopan, meletakkan cangkir teh porselen di atas meja kaca seraya mengulas senyuman ramah. “Silakan diminum tehnya, Tuan,” tuturnya lembut.
Laura tidak menyadari bagaimana tatapan Julian mulai menyusuri tubuhnya secara kurang ajar, dari ceruk lehernya yang mulus hingga ke lekuk tubuhnya di balik pakaian rajut sederhana.
Julian mencondongkan tubuhnya ke depan, tampak sangat menikmati pemandangan itu.
“Siapa nama gadis manis ini, Jonas? Apa dia salah satu staf barumu yang beruntung?” tanya Julian dengan nada menakar yang menyebalkan.
Laura yang polos hendak membuka bibirnya untuk menjawab secara sopan, namun sebuah suara bariton yang dingin dan mematikan memotongnya lebih dulu.
“Dia adalah keponakan angkatku, dan dia tidak bertugas untuk melayani tamu di rumah ini,” tegas Jonas.
Udara di ruang tamu mendadak membeku. Jonas menatap Julian dengan manik mata cokelat kelam yang menghunus tajam.
Rahang Jonas mengeras kaku, dan kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuh memancarkan amarah teritorial yang begitu pekat.
Melihat pria lain memandang Laura dengan nafsu murahan membuat darahnya mendidih seketika.
Julian tertawa hambar, mencoba mencairkan intimidasi yang terasa mencekik lehernya.
“Tenanglah, Jonas. Aku hanya mengagumi kecantikannya yang sangat alami itu,” kilahnya enteng.
Jonas tidak sedikit pun mengendurkan tatapan dinginnya pada Julian, sebelum akhirnya berpaling menatap Laura yang berdiri terpaku di sisi meja.
“Masuklah ke dalam sekarang, Laura,” titah Jonas dengan suara rendah yang mutlak tak terbantahkan. “Biarkan pelayan yang membersihkan sisa cangkir di sini nanti.”
Laura menelan ludah, sedikit gentar oleh nada tajam yang belum pernah ia dengar sebelumnya dari Jonas. Sebagai pihak yang patuh dan tak ingin memicu keributan, ia mengangguk kaku.
“Baik, Jonas. Permisi, Tuan,” pamit Laura seraya menundukkan kepala dan bergegas melangkah pergi menuju area dapur belakang.
Jonas mengawasi setiap derap langkah Laura hingga gadis itu menghilang di balik dinding sekat.
Begitu pandangannya kembali pada Julian, matanya seolah siap mencabik siapa pun yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.
“Urusan berkas kita sudah selesai di sini, Julian. Kau bisa pergi sekarang,” ujar Jonas tanpa menyembunyikan nada pengusirannya.
Julian yang menangkap jelas gelagat permusuhan itu hanya bisa menghela napas, mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu melangkah keluar tanpa berani membantah lagi.
Begitu pintu depan tertutup rapat dan gerendelnya terkunci nyaring, topeng kesabaran Jonas runtuh total. Langkah kakinya yang panjang dan berderap berat memburu lorong menuju dapur.
Di dekat lemari pendingin, Laura sedang menuangkan air dingin ke dalam gelas, berniat meredakan debar jantungnya yang masih gusar.
Namun sebelum gelas itu menyentuh bibirnya, bayangan tubuh jangkung Jonas mendadak mengepungnya dari belakang.
Srett!
Sebuah cengkeraman tangan yang kasar dan kokoh menyambar kedua bahu Laura.
Dengan satu sentakan kuat yang mendominasi, Jonas memutar tubuh ramping itu dan menghimpitnya ke dinding marmer yang dingin.
Gelas di tangan Laura nyaris terlepas. “Jonas...? Ada apa denganmu?” pekik Laura terbata, terkejut mendapati napas panas pria itu menyapu keningnya.
Jonas mengurung tubuh Laura sepenuhnya.
Kedua telapak tangannya menumpu kokoh pada dinding marmer di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu, mengikis seluruh ruang gerak hingga dada mereka nyaris bersentuhan tanpa jarak.
Manik matanya yang pekat berkilat liar, sarat akan kecemburuan gelap yang tak lagi mampu ditutup-tutupi.
“Apa kamu selalu bersikap semanis dan seramah itu pada setiap pria asing yang melangkah masuk ke rumah ini, Laura?” bisik Jonas dengan suara bas yang berat dan bergetar hebat.
Laura mendongak, matanya yang jernih dan polos menatap rahang Jonas yang menegang kaku. Ia bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh tegap pria itu.
“Aku... aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang sopan, Jonas,” jawab Laura dengan bibir yang gemetar menahan takut. “Aku tidak bermaksud apa-apa...”
Jonas mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga bibirnya yang kering menyapu daun telinga Laura yang memerah. Hembusan napasnya yang berat membuat seluruh bulu kuduk Laura meremang seketika.
“Sikap ramahmu yang polos itu terlihat sangat memancing bagi pria brengsek seperti Julian, dan aku membencinya,” bisik Jonas tajam, sarat akan ancaman yang teramat nyata.
Laura membeku di bawah kungkungan pria yang menampungnya ini. Tubuhnya kian pasrah menempel pada dinding, tak mampu dan tak berani mendorong dada bidang yang menjulang di depannya.
“Maafkan aku, Jonas... aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi,” cicit Laura pelan, menyerahkan seluruh kepatuhannya tanpa syarat.
Jonas menatap lekat bibir ranum Laura yang baru saja mengucap janji tersebut.
Dorongan liar untuk mencium dan melumat bibir itu begitu kuat merasuki kepalanya, namun ia menahan diri dengan mencengkeram dinding marmer lebih kuat.
“Pegang janjimu, Laura,” bisik Jonas serak tepat di depan bibir gadis itu. “Karena jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan segan memberimu hukuman yang sangat nyata.”
Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint
Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.
Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.
Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren
Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru
Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me







