LOGIN“Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan.
Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.
Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.
Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.
Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.
“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”
Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.
Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.
Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru semakin mengunci pinggang ramping Laura, menahannya tetap menempel erat di poros tubuh tegapnya.
Laura tidak meronta, tidak pula menunjukkan gestur menolak.
Sikapnya yang terbiasa akomodatif dan penurut membuatnya pasrah bersandar pada pria yang menampungnya, tak menyadari bahwa kepatuhan polos itu adalah percikan api yang menyulut insting terlarang Jonas.
“Berikan tanganmu padaku,” bisik Jonas rendah, nadanya mengandung otoritas dingin yang tak terbantahkan.
“Aku akan menuntunmu kembali menuju koridor lantai atas.”
Laura mengulurkan jemarinya yang dingin dan gemetar.
Jonas menyambutnya, melingkupi telapak tangan mungil itu ke dalam genggamannya yang besar, kasar, dan hangat.
Genggaman tangan Jonas begitu kuat, bukan sekadar menuntun, melainkan merengkuh kendali penuh atas setiap pergerakan Laura dalam kegelapan.
“Ikuti langkah kakiku perlahan,” titah Jonas seraya mulai melangkah mundur memandu gadis itu keluar dari area dapur.
Laura melangkah patuh, membiarkan telapak kakinya yang telanjang meraba permukaan marmer yang dingin membeku.
Namun, ketika mereka tiba di dekat pijakan anak tangga pertama, tetesan air sisa payung di pelataran yang terbawa angin membuat marmer menjadi teramat licin.
Ujung jari kaki Laura terpeleset.
“Aaah!”
Pekikan tertahan lolos dari bibir Laura saat gravitasi menarik tubuhnya limbung ke belakang. Keseimbangannya hilang total di tengah gulita.
Sebelum punggung Laura sempat menghantam anak tangga kayu yang keras, sepasang lengan kekar Jonas bergerak secepat kilat.
Dengan gerakan refleks yang terlatih dan berkuasa, pria itu menyambar pinggang Laura dari arah belakang.
Bruk!
Hentakan kuat itu menarik tubuh Laura bersandar sepenuhnya pada tubuh tegap Jonas yang berdiri kokoh di anak tangga kedua.
Punggung mulus Laura membentur dada bidang berbalut kemeja tipis Jonas, sementara pinggulnya terkunci rapat tanpa celah di depan pria itu.
“Apa kamu terluka, Laura?” bisik Jonas.
Suara baritonnya mengalun sangat dekat, tepat di daun telinga Laura, menyebarkan desah napas panas yang langsung meremangkan bulu kuduk di sepanjang leher jenjangnya.
Jantung Laura berdentam kencang bukan kepalang, bagai genderang perang yang bertalu-talu liar di balik rusuknya.
Posisinya teramat intim dan berbahaya. Jonas mendekapnya dari belakang, melingkarkan satu lengannya yang berurat di sekeliling pinggang Laura dengan sangat posesif.
Kain satin tipis yang dikenakan Laura sama sekali tidak mampu menjadi pelindung dari suhu panas tubuh Jonas yang merambat menembus kulitnya.
“Aku... aku tidak apa-apa, Jonas,” sahut Laura lirih, tenggorokannya mendadak tercekat kering. “Terima kasih sudah menahanku tepat waktu.”
Alih-alih melonggarkan kunciannya, Jonas justru membiarkan tangannya tetap melingkar erat di sana.
Ibu jari pria itu bergerak sangat samar, menekan lekuk pinggang Laura yang lembut di balik kain tipis.
Di tengah gulita, Jonas menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laura yang menyerupai wangi melati segar bercampur sabun mandi yang menenangkan. Indra Jonas terbakar oleh aroma manis itu.
“Pegang pegangan tangga ini,” instruksi Jonas serak, mengarahkan tangan kiri Laura ke kayu mahoni di sisi tangga.
“Kita akan menaiki tangga perlahan. Jangan melepaskan peganganmu.”
Jonas tetap berada satu anak tangga di belakang Laura, menempel rapat bagai bayang-bayang pelindung sekaligus pemangsa yang mengawal pergerakannya.
Tangannya yang lain sama sekali tak beranjak dari pinggang gadis itu, merengkuh dengan ketegasan yang seolah menegaskan hak milik.
Setiap kali kaki Laura menaiki anak tangga berikutnya, gesekan kain gaun satinnya di tubuh Jonas menghantarkan getaran sensasi yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Laura bisa merasakan otot paha dan dada tegap Jonas yang terus menempel di punggungnya, mengikuti irama langkahnya yang pelan dan kaku.
Laura memilih bungkam, menuruti ke mana pun sentuhan pria itu membimbingnya tanpa perlawanan.
Kepatuhan mutlak dari keponakan angkatnya ini justru membuat udara di sekitar mereka terasa makin pengap, sarat akan ketegangan liar yang mengikis akal sehat Jonas lapis demi lapis.
Mereka melintasi koridor lantai dua yang sunyi dalam hening yang teramat pekat, hanya ditemani deru hujan deras yang membentur kaca luar.
Sepatu Jonas mengetuk lantai dengan ritme lambat dan mantap, hingga akhirnya mereka tiba persis di depan daun pintu kamar Laura.
“Kita sudah sampai di depan kamarmu,” ujar Jonas memecah keheningan.
Laura mengembuskan napas lega dan berniat memutar badannya untuk mengucap terima kasih.
Namun, sebelum bibirnya terbuka, suara bising mesin genset di lantai dasar mendadak meraung halus.
Cklik!
Lampu dinding koridor menyala serentak, menumpahkan cahaya temaram keemasan yang menyilaukan mata.
Laura mengerjap-ngerjapkan matanya yang perih, beradaptasi dengan pendar lampu yang mendadak benderang.
Dan begitu pandangannya kembali jernih sepenuhnya, napas Laura terhenti di tenggorokan.
Jonas belum melepaskannya.
Tangan kekar pria itu masih melingkar protektif sekaligus posesif di pinggang ramping Laura.
Kemeja Jonas yang terbuka di bagian dada menempel begitu dekat, memperlihatkan kulit kecokelatan yang berkeringat tipis akibat hawa lembap.
Mata cokelat kelam Jonas terpaku lurus menatap wajah Laura dari jarak hanya beberapa jengkal saja, tajam, lapar, dan menguliti tanpa ampun di bawah terang benderang lampu koridor.
Laura bisa melihat bagaimana rahang tegas Jonas mengeras kaku, dan bagaimana tatapan pria itu bergulir mengamati dadanya yang naik-turun cepat di balik balutan satin tipis.
“Napasmu sangat tidak beraturan sekali, Laura,” bisik Jonas dengan suara bas yang berat dan mengintimidasi, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga bibirnya nyaris menyapu kening gadis itu.
“Ada apa, hm?”
Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”Laura menggeleng dengan lembut.“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang lu
Ting tong!Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang seda
“Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.Laura menekan ujungnya lebih kuat.Srak!Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat
“Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika l
“Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan. Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru
“Tidak ada,” jawab Jonas singkat.Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.Laura merebah







