แชร์

Bab 3. Napas yang Tidak Beraturan

ผู้เขียน: Senja Berpena
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-31 11:36:22

“Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan.  

Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.

Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.

Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.

Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.

“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”

Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.

Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.

Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru semakin mengunci pinggang ramping Laura, menahannya tetap menempel erat di poros tubuh tegapnya.

Laura tidak meronta, tidak pula menunjukkan gestur menolak.

Sikapnya yang terbiasa akomodatif dan penurut membuatnya pasrah bersandar pada pria yang menampungnya, tak menyadari bahwa kepatuhan polos itu adalah percikan api yang menyulut insting terlarang Jonas.

“Berikan tanganmu padaku,” bisik Jonas rendah, nadanya mengandung otoritas dingin yang tak terbantahkan.

“Aku akan menuntunmu kembali menuju koridor lantai atas.”

Laura mengulurkan jemarinya yang dingin dan gemetar.

Jonas menyambutnya, melingkupi telapak tangan mungil itu ke dalam genggamannya yang besar, kasar, dan hangat.

Genggaman tangan Jonas begitu kuat, bukan sekadar menuntun, melainkan merengkuh kendali penuh atas setiap pergerakan Laura dalam kegelapan.

“Ikuti langkah kakiku perlahan,” titah Jonas seraya mulai melangkah mundur memandu gadis itu keluar dari area dapur.

Laura melangkah patuh, membiarkan telapak kakinya yang telanjang meraba permukaan marmer yang dingin membeku.

Namun, ketika mereka tiba di dekat pijakan anak tangga pertama, tetesan air sisa payung di pelataran yang terbawa angin membuat marmer menjadi teramat licin.

Ujung jari kaki Laura terpeleset.

“Aaah!”

Pekikan tertahan lolos dari bibir Laura saat gravitasi menarik tubuhnya limbung ke belakang. Keseimbangannya hilang total di tengah gulita.

Sebelum punggung Laura sempat menghantam anak tangga kayu yang keras, sepasang lengan kekar Jonas bergerak secepat kilat.

Dengan gerakan refleks yang terlatih dan berkuasa, pria itu menyambar pinggang Laura dari arah belakang.

Bruk!

Hentakan kuat itu menarik tubuh Laura bersandar sepenuhnya pada tubuh tegap Jonas yang berdiri kokoh di anak tangga kedua.

Punggung mulus Laura membentur dada bidang berbalut kemeja tipis Jonas, sementara pinggulnya terkunci rapat tanpa celah di depan pria itu.

“Apa kamu terluka, Laura?” bisik Jonas.

Suara baritonnya mengalun sangat dekat, tepat di daun telinga Laura, menyebarkan desah napas panas yang langsung meremangkan bulu kuduk di sepanjang leher jenjangnya.

Jantung Laura berdentam kencang bukan kepalang, bagai genderang perang yang bertalu-talu liar di balik rusuknya.

Posisinya teramat intim dan berbahaya. Jonas mendekapnya dari belakang, melingkarkan satu lengannya yang berurat di sekeliling pinggang Laura dengan sangat posesif.

Kain satin tipis yang dikenakan Laura sama sekali tidak mampu menjadi pelindung dari suhu panas tubuh Jonas yang merambat menembus kulitnya.

“Aku... aku tidak apa-apa, Jonas,” sahut Laura lirih, tenggorokannya mendadak tercekat kering. “Terima kasih sudah menahanku tepat waktu.”

Alih-alih melonggarkan kunciannya, Jonas justru membiarkan tangannya tetap melingkar erat di sana.

Ibu jari pria itu bergerak sangat samar, menekan lekuk pinggang Laura yang lembut di balik kain tipis.

Di tengah gulita, Jonas menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laura yang menyerupai wangi melati segar bercampur sabun mandi yang menenangkan. Indra Jonas terbakar oleh aroma manis itu.

“Pegang pegangan tangga ini,” instruksi Jonas serak, mengarahkan tangan kiri Laura ke kayu mahoni di sisi tangga.

“Kita akan menaiki tangga perlahan. Jangan melepaskan peganganmu.”

Jonas tetap berada satu anak tangga di belakang Laura, menempel rapat bagai bayang-bayang pelindung sekaligus pemangsa yang mengawal pergerakannya.

Tangannya yang lain sama sekali tak beranjak dari pinggang gadis itu, merengkuh dengan ketegasan yang seolah menegaskan hak milik.

Setiap kali kaki Laura menaiki anak tangga berikutnya, gesekan kain gaun satinnya di tubuh Jonas menghantarkan getaran sensasi yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Laura bisa merasakan otot paha dan dada tegap Jonas yang terus menempel di punggungnya, mengikuti irama langkahnya yang pelan dan kaku.

Laura memilih bungkam, menuruti ke mana pun sentuhan pria itu membimbingnya tanpa perlawanan.

Kepatuhan mutlak dari keponakan angkatnya ini justru membuat udara di sekitar mereka terasa makin pengap, sarat akan ketegangan liar yang mengikis akal sehat Jonas lapis demi lapis.

Mereka melintasi koridor lantai dua yang sunyi dalam hening yang teramat pekat, hanya ditemani deru hujan deras yang membentur kaca luar.

Sepatu Jonas mengetuk lantai dengan ritme lambat dan mantap, hingga akhirnya mereka tiba persis di depan daun pintu kamar Laura.

“Kita sudah sampai di depan kamarmu,” ujar Jonas memecah keheningan.

Laura mengembuskan napas lega dan berniat memutar badannya untuk mengucap terima kasih.

Namun, sebelum bibirnya terbuka, suara bising mesin genset di lantai dasar mendadak meraung halus.

Cklik!

Lampu dinding koridor menyala serentak, menumpahkan cahaya temaram keemasan yang menyilaukan mata.

Laura mengerjap-ngerjapkan matanya yang perih, beradaptasi dengan pendar lampu yang mendadak benderang.

Dan begitu pandangannya kembali jernih sepenuhnya, napas Laura terhenti di tenggorokan.

Jonas belum melepaskannya.

Tangan kekar pria itu masih melingkar protektif sekaligus posesif di pinggang ramping Laura.

Kemeja Jonas yang terbuka di bagian dada menempel begitu dekat, memperlihatkan kulit kecokelatan yang berkeringat tipis akibat hawa lembap.

Mata cokelat kelam Jonas terpaku lurus menatap wajah Laura dari jarak hanya beberapa jengkal saja, tajam, lapar, dan menguliti tanpa ampun di bawah terang benderang lampu koridor.

Laura bisa melihat bagaimana rahang tegas Jonas mengeras kaku, dan bagaimana tatapan pria itu bergulir mengamati dadanya yang naik-turun cepat di balik balutan satin tipis.

“Napasmu sangat tidak beraturan sekali, Laura,” bisik Jonas dengan suara bas yang berat dan mengintimidasi, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga bibirnya nyaris menyapu kening gadis itu.

“Ada apa, hm?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Pake di tanya ada apa lagi Jonas, ya jelas karena kedekatan intim mu itu lah hahahaha
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 83. Mau Lihat Kebringasan Jonas?

    Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 82. Digantung

    Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 81. Pengakuan yang Menyebalkan

    Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 80. Kebalik

    Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 79. Meracau tak Jelas

    Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 78. Melacak Keberadaan Laura

    Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status