Share

Bab 2. Teguran Halus

Author: Senja Berpena
last update publish date: 2026-08-31 11:26:21

“Tidak ada,” jawab Jonas singkat.

Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.

Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.

Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.

“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.

Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.

Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.

Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.

Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.

Laura merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk berseprai abu-abu. Kelelahan mental dan fisik akibat perceraian orang tuanya seharusnya membuat ia tertidur pulas dalam sekejap.

Namun, hingga jarum jam dinding berdetik mendekati pukul dua dini hari, matanya masih terjaga. Kerongkongannya mendadak terasa begitu kering, terbakar oleh rasa cemas yang tak kunjung surut.

“Haus sekali... sebaiknya aku turun mengambil air minum,” bisik Laura pada dirinya sendiri.

Ia bangkit dari tempat tidur. Karena mengira seisi rumah sudah terlelap di jam selarut ini, Laura tidak repot-repot mengenakan mantelnya lagi.

Ia hanya membiarkan gaun tidur satin tipis warna krem membungkus tubuhnya.

Tanpa alas kaki, Laura melangkah seringan kapas, membiarkan telapak kakinya yang dingin menyusuri lantai marmer lorong lantai dua yang hening.

Ia menuruni setiap anak tangga mahoni dengan gerakan teramat hati-hati.

Tangannya berpegangan pada susuran tangga, memastikan kain tipis gaunnya tidak tersingkap atau menimbulkan bunyi gesekan.

Ketika kakinya menapaki lantai dasar, pantulan cahaya lembut dari arah dapur monokrom menarik perhatiannya.

Laura mendekat tanpa suara. Namun, langkahnya seketika terhenti kaku di ambang pintu dapur.

Di sana, di depan meja marmer hitam, Jonas berdiri tegap membelakanginya.

Pria itu telah menanggalkan dasi dan jas resminya.

Kemeja abu-abu yang ia kenakan kini dibiarkan terbuka tiga kancing teratasnya, memperlihatkan dada berotot yang bidang dan pangkal leher yang kokoh.

Jonas sedang menyesap air dingin langsung dari gelas kaca bening di tangannya.

Cahaya lampu gantung dapur menyorot lekuk punggungnya yang perkasa, menampakkan siluet pria dewasa yang matang dan tak tersentuh.

Laura terperanjat, berusaha menarik langkahnya mundur untuk menghindar. Namun, belum sempat kakinya bergeser, suara bariton Jonas membelah kesunyian malam.

“Sedang apa kau berkeliaran di area dapur pada jam dua pagi seperti ini, Laura?” tegur Jonas datar tanpa menoleh sedikit pun.

Laura menelan ludah dengan susah payah. “Aku... aku merasa haus, Jonas. Ingin mengambil air minum.”

Jonas meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentang halus yang tegas, lalu memutar tubuhnya perlahan.

Pria itu menyandarkan pinggulnya pada tepian meja granit. Pandangan matanya yang pekat seketika jatuh menyapu penampilan Laura dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Di bawah penerangan dapur, kain satin krem yang tipis itu mencetak jelas lekuk pinggang, garis paha, dan kontur dada Laura tanpa ada penghalang tebal.

Jonas menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Tatapannya mendadak mengeras, dipenuhi arus panas yang kelam.

“Apa kau selalu terbiasa keluar dari kamar dengan pakaian setipis itu di rumah pria lain?” tanya Jonas dengan nada rendah yang menusuk.

Laura refleks merapatkan kedua lengannya di depan dada, wajahnya seketika memanas terbakar rasa malu yang menyengat.

“Maafkan aku... aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku pikir kau dan Ibu sudah tertidur pulas.”

Jonas mendorong tubuhnya menjauh dari meja dapur, melangkah maju dua langkah panjang.

Jarak di antara mereka terkikis habis hingga aroma wangi kayu cendana dan hembusan napas hangat pria itu mengepung indra Laura.

“Rasa percaya dirimu yang polos itu bisa sangat membahayakan dirimu sendiri, Laura,” bisik Jonas tajam, seraya menatap lurus ke dalam bola mata Laura dari jarak yang begitu dekat.

“Terutama jika kau berada di sekitar pria dewasa.”

Laura mendongak kaku, menatap garis rahang tegas Jonas yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.

“Aku hanya merasa aman... karena aku tahu ini rumahmu, dan kau adalah paman angkatku.”

Mendengar kata-kata itu, sudut bibir Jonas berkedut sinis. Sebuah senyuman dingin dan sarat ancaman terbit di wajahnya.

“Status keluarga angkat tidak pernah menjadi jaminan bahwa seorang pria akan selalu bersikap suci padamu, Laura,” ucap Jonas dengan nada suara yang begitu dalam dan bergetar.

Atmosfer di antara mereka seketika berubah pekat, menyesakkan, dan dilingkupi tegangan fisik yang tak tertahankan. Laura membeku di bawah tatapan gelap Jonas yang mengunci ceruk lehernya.

Sebelum Laura sempat membalas, sebuah kilatan cahaya putih yang menyilaukan membelah kaca jendela dapur.

BLAR!

Gemuruh petir menggelegar dahsyat, mengguncang dinding mansion hingga kaca-kaca jendela bergetar hebat. Di detik yang sama persis, seluruh aliran listrik di rumah itu padam seketika.

Kegelapan total menelan mereka berdua.

“Aaaah!” Laura memekik panik saat pandangannya mendadak buta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Dunia seolah mendukung kalian untuk berbuat lebih ya Jonas Laura wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 83. Mau Lihat Kebringasan Jonas?

    Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 82. Digantung

    Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 81. Pengakuan yang Menyebalkan

    Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 80. Kebalik

    Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 79. Meracau tak Jelas

    Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 78. Melacak Keberadaan Laura

    Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status