LOGIN“Tidak ada,” jawab Jonas singkat.
Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.
Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.
Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.
“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.
Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.
Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.
Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.
Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.
Laura merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk berseprai abu-abu. Kelelahan mental dan fisik akibat perceraian orang tuanya seharusnya membuat ia tertidur pulas dalam sekejap.
Namun, hingga jarum jam dinding berdetik mendekati pukul dua dini hari, matanya masih terjaga. Kerongkongannya mendadak terasa begitu kering, terbakar oleh rasa cemas yang tak kunjung surut.
“Haus sekali... sebaiknya aku turun mengambil air minum,” bisik Laura pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari tempat tidur. Karena mengira seisi rumah sudah terlelap di jam selarut ini, Laura tidak repot-repot mengenakan mantelnya lagi.
Ia hanya membiarkan gaun tidur satin tipis warna krem membungkus tubuhnya.
Tanpa alas kaki, Laura melangkah seringan kapas, membiarkan telapak kakinya yang dingin menyusuri lantai marmer lorong lantai dua yang hening.
Ia menuruni setiap anak tangga mahoni dengan gerakan teramat hati-hati.
Tangannya berpegangan pada susuran tangga, memastikan kain tipis gaunnya tidak tersingkap atau menimbulkan bunyi gesekan.
Ketika kakinya menapaki lantai dasar, pantulan cahaya lembut dari arah dapur monokrom menarik perhatiannya.
Laura mendekat tanpa suara. Namun, langkahnya seketika terhenti kaku di ambang pintu dapur.
Di sana, di depan meja marmer hitam, Jonas berdiri tegap membelakanginya.
Pria itu telah menanggalkan dasi dan jas resminya.
Kemeja abu-abu yang ia kenakan kini dibiarkan terbuka tiga kancing teratasnya, memperlihatkan dada berotot yang bidang dan pangkal leher yang kokoh.
Jonas sedang menyesap air dingin langsung dari gelas kaca bening di tangannya.
Cahaya lampu gantung dapur menyorot lekuk punggungnya yang perkasa, menampakkan siluet pria dewasa yang matang dan tak tersentuh.
Laura terperanjat, berusaha menarik langkahnya mundur untuk menghindar. Namun, belum sempat kakinya bergeser, suara bariton Jonas membelah kesunyian malam.
“Sedang apa kau berkeliaran di area dapur pada jam dua pagi seperti ini, Laura?” tegur Jonas datar tanpa menoleh sedikit pun.
Laura menelan ludah dengan susah payah. “Aku... aku merasa haus, Jonas. Ingin mengambil air minum.”
Jonas meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentang halus yang tegas, lalu memutar tubuhnya perlahan.
Pria itu menyandarkan pinggulnya pada tepian meja granit. Pandangan matanya yang pekat seketika jatuh menyapu penampilan Laura dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Di bawah penerangan dapur, kain satin krem yang tipis itu mencetak jelas lekuk pinggang, garis paha, dan kontur dada Laura tanpa ada penghalang tebal.
Jonas menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Tatapannya mendadak mengeras, dipenuhi arus panas yang kelam.
“Apa kau selalu terbiasa keluar dari kamar dengan pakaian setipis itu di rumah pria lain?” tanya Jonas dengan nada rendah yang menusuk.
Laura refleks merapatkan kedua lengannya di depan dada, wajahnya seketika memanas terbakar rasa malu yang menyengat.
“Maafkan aku... aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku pikir kau dan Ibu sudah tertidur pulas.”
Jonas mendorong tubuhnya menjauh dari meja dapur, melangkah maju dua langkah panjang.
Jarak di antara mereka terkikis habis hingga aroma wangi kayu cendana dan hembusan napas hangat pria itu mengepung indra Laura.
“Rasa percaya dirimu yang polos itu bisa sangat membahayakan dirimu sendiri, Laura,” bisik Jonas tajam, seraya menatap lurus ke dalam bola mata Laura dari jarak yang begitu dekat.
“Terutama jika kau berada di sekitar pria dewasa.”
Laura mendongak kaku, menatap garis rahang tegas Jonas yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.
“Aku hanya merasa aman... karena aku tahu ini rumahmu, dan kau adalah paman angkatku.”
Mendengar kata-kata itu, sudut bibir Jonas berkedut sinis. Sebuah senyuman dingin dan sarat ancaman terbit di wajahnya.
“Status keluarga angkat tidak pernah menjadi jaminan bahwa seorang pria akan selalu bersikap suci padamu, Laura,” ucap Jonas dengan nada suara yang begitu dalam dan bergetar.
Atmosfer di antara mereka seketika berubah pekat, menyesakkan, dan dilingkupi tegangan fisik yang tak tertahankan. Laura membeku di bawah tatapan gelap Jonas yang mengunci ceruk lehernya.
Sebelum Laura sempat membalas, sebuah kilatan cahaya putih yang menyilaukan membelah kaca jendela dapur.
BLAR!
Gemuruh petir menggelegar dahsyat, mengguncang dinding mansion hingga kaca-kaca jendela bergetar hebat. Di detik yang sama persis, seluruh aliran listrik di rumah itu padam seketika.
Kegelapan total menelan mereka berdua.
“Aaaah!” Laura memekik panik saat pandangannya mendadak buta.
Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”Laura menggeleng dengan lembut.“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang lu
Ting tong!Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang seda
“Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.Laura menekan ujungnya lebih kuat.Srak!Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat
“Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika l
“Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan. Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru
“Tidak ada,” jawab Jonas singkat.Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.Laura merebah







