홈 / Romansa / Sentuhan Semalam Paman Angkatku / Bab 4. Tugas Pertama dari Jonas

공유

Bab 4. Tugas Pertama dari Jonas

작가: Senja Berpena
last update 게시일: 2026-08-31 11:40:28

“Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.

“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.

Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.

Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.

Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.

Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.

Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.

Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika licin tanpa cela, lengkap dengan dasi hitam pekat yang terikat rapi di leher kokohnya.

Penampilannya tampak sangat berwibawa, bersih, dan dingin, seolah insiden ketegangan di tangga semalam, saat tangannya mencengkeram pinggang Laura dalam gelap, sama sekali tidak pernah terjadi.

“Selamat pagi, Jonas,” sapa Laura lembut, lalu melangkah perlahan seraya menarik kursi makan yang berjarak dua meter dari posisi pria itu.

Sikapnya tetap mempertahankan batasan sopan dan akomodatif seorang tamu yang menumpang hidup.

Jonas tidak langsung mendongak. Matanya masih terpaku pada lembar koran bisnis di tangannya, membiarkan keheningan mengendap beberapa detik sebelum membuka suara.

“Selamat pagi. Duduklah dan segera sarapan,” balas Jonas datar dan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari tajuk berita ekonomi.

Laura tersenyum tipis, sama sekali tidak merasa tersinggung oleh sikap dingin paman angkatnya.

Sikap penurut dan kepolosannya membuat Laura justru merasa ingin berguna di rumah megah ini.

Melihat teko kopi panas di atas baki perak yang belum tersentuh, Laura bangkit perlahan dari kursinya.

“Biar aku buatkan kopimu, Jonas,” tawar Laura halus.

Tanpa menunggu penolakan, jemari lentik Laura bergerak rapi meraih cangkir porselen putih.

Ia menuangkan cairan hitam pekat itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada tetesan yang mengotori meja makan granit.

Saat tubuhnya membungkuk sedikit di samping meja untuk meletakkan cangkir tersebut, gerakan leher jenjangnya menyajikan pemandangan kulit putih bersih yang kontras dengan kerah rajutnya.

Tatapan Jonas mendadak beralih dari koran. Netra cokelat kelam pria itu mengunci ceruk leher Laura lamat-lamat.

Bayangan aroma melati dan kehangatan tubuh Laura yang menempel kaku di dadanya di kegelapan koridor semalam mendadak berputar jelas di kepalanya.

Kerongkongan Jonas terasa kering seketika.

“Ini kopimu, Jonas. Hati-hati, airnya masih sangat panas,” ucap Laura sambil menyodorkan cangkir itu tepat di samping jemari Jonas.

Jonas tersentak sangat halus dari lamunannya, lalu cepat-cepat mengalihkan tatapannya kembali ke lembaran koran untuk menguasai diri. Rahangnya mengeras kaku.

“Terima kasih. Beritahu ibumu agar tidak ragu meminta pelayan menyiapkan makanan apa pun yang dia inginkan hari ini,” ujar Jonas dengan intonasi formal yang dipaksakan.

Laura kembali melangkah mundur dan duduk di kursinya, lalu mengambil sepotong roti panggang dengan gerakan tenang.

“Aku pasti akan menyampaikan pesanmu pada Ibu. Kebaikanmu menampung kami sungguh sangat berarti, Jonas.”

Jonas mengangkat cangkirnya, menyesap cairan hitam pahit itu perlahan sambil mengawasi Laura dari balik tepian porselen.

Cara Laura bersikap begitu santai dan patuh, seolah sentuhan intim di tangga semalam adalah hal yang wajar, justru menyulut rasa teritorial di dada Jonas.

Kepolosan gadis itu terasa begitu provokatif bagi pria yang terbiasa memegang kendali penuh atas segalanya.

Jonas menghabiskan kopinya, lalu menyeka bibir dengan serbet kain sebelum bangkit berdiri.

Tubuh tegapnya menjulang tinggi di ujung meja makan, memancarkan dominasi yang seketika membuat ruang makan terasa lebih sempit.

Pria itu meraih tas kerja kulitnya, lalu melangkah mantap mendekati kursi tempat Laura duduk.

Alih-alih langsung beranjak pergi, Jonas meletakkan sebuah map berkas tebal bersampul kulit tepat di samping piring Laura.

Suara debaman pelan dokumen itu di atas meja granit membuat Laura mendongak menatapnya penuh tanda tanya.

“Aku akan berangkat ke kantor sekarang dan mungkin baru kembali menjelang sore hari,” ujar Jonas dengan suara bariton yang berat dan menekan.

Matanya menatap lurus ke dalam iris cokelat Laura. “Jika kamu merasa bosan di rumah, rapikan berkas-berkas laporan keuangan tahun lalu ini.”

Laura menyentuh tepi map tebal itu dengan ujung jemarinya, lalu menatap Jonas dengan kepatuhan yang manis dan tanpa prasangka apa pun.

“Apa ada petunjuk khusus untuk mengurutkan dokumen-dokumen ini, Jonas?”

Jonas sedikit memiringkan tubuhnya, mencondongkan postur tegapnya lebih dekat ke arah Laura hingga aroma kayu cendana dan sabun maskulin dari kemejanya mengepung indra gadis itu.

Kilat gelap yang berbahaya berkelebat cepat di sepasang manik matanya.

“Bawa seluruh berkas itu ke ruang kerjaku nanti siang, dan rapikan berdasarkan urutan tanggalnya di meja utamaku,” titah Jonas dengan nada datar namun sarat akan manipulasi tersembunyi.

Pria itu sengaja membuka akses ke wilayah pribadinya yang paling terlarang bagi orang luar, menarik Laura lebih dalam ke teritori kekuasaannya sendiri.

Laura mengangguk tanpa ragu sedikit pun. “Baik, aku akan memastikan semuanya tertata rapi di dalam ruang kerjamu sebelum kamu pulang nanti sore.”

Sudut bibir Jonas berkedut tipis, membentuk senyuman samar yang dingin dan penuh arti kemenangan.

Ia menatap bibir merah muda Laura sekali lagi, menikmati kepasrahan mutlak dari keponakan angkatnya yang begitu mudah diarahkan.

“Bagus,” bisik Jonas rendah seraya menegakkan kembali tubuhnya. “Ingat untuk mengunci pintunya jika kamu sudah selesai bekerja di sana.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Jadikan Laura sekertaris mu saja Jonas.
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 83. Mau Lihat Kebringasan Jonas?

    Gemericik air di kamar mandi perlahan meredam amarah yang sempat membakar dada Laura.Usai membilas tubuhnya dan mengeringkan rambut yang agak basah, Laura mengenakan kembali kaus putih polos kebesaran milik Jonas yang panjangnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya.Rasa gantung yang menyebalkan itu memang belum sepenuhnya hilang dari perut bawahnya, namun rasa penasaran dan keinginan untuk membalas sikap dingin sang CEO membuat kakinya melangkah keluar dari kamar tidur utama.Suasana penthouse itu begitu sunyi dan privat.Di sudut ruang keluarga yang megah dengan dinding kaca tebal menembus pemandangan pencakar langit Jakarta, Jonas tampak duduk tegap di belakang meja kerja minimalisnya.Pria tegap itu benar-benar sedang memfokuskan pandangannya pada layar laptop, sesekali jemari mewahnya menari kencang di atas papan ketik seraya meneliti lembaran dokumen finansial.Tatapan matanya yang pekat terlihat begitu tajam, serius, dan tak tersentuh.Laura menyandarkan bahunya di ambang pint

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 82. Digantung

    Bisikan lembut Jonas yang menegaskan bahwa hanya ada nama Laura di hatinya seolah meluruhkan seluruh sisa jengkel yang membakar dada gadis itu.Belum sempat Laura merespons atau menyusun kata-kata balasan, Jonas sudah memajukan tubuhnya lebih dalam.Tangan tegapnya bergerak cepat menyambar tengkuk Laura, menariknya mendekat, dan langsung melumat bibir manis gadis itu dalam sebuah ciuman yang memabukkan.Ciuman itu tidak lagi dingin atau menuntut penjelasan, melainkan meledak penuh gairah yang teramat beringas dan memabukkan.Jonas melahap bibir atas dan bawah Laura secara bergantian dengan ritme yang dalam, memiringkan kepalanya demi mempererat tautan mereka.Lidahnya menyusup masuk tanpa hambatan, menginvasi rongga mulut Laura, melilit dan mengajak lidah gadis itu bertaut dalam alunan dominasi yang begitu panas."Ummh... Jonas..." desah Laura lirih di sela-sela pagutan mereka.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 81. Pengakuan yang Menyebalkan

    Laura meletakkan gelas porselen berisi susu hangat yang baru saja ia tandaskan ke atas nakas dengan denting pelan.Ia kemudian melirik Jonas yang masih berdiri tegap mengawasinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Sarapannya sudah aku habiskan," ujar Laura dengan suara sedikit serak, berusaha terdengar acuh tak acuh."Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau Ibu mencari bagaimana? Kamu mau bilang apa padanya?"Jonas tidak bergeming sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat amat tipis sewaktu ia menjawab dengan nada santai namun penuh wibawa."Aku sudah memberitahu Kak Eleanor tadi pagi kalau kita ada dinas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Kita baru pulang hari Selasa nanti."Deg.Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya mengedip cepat, menyadari sesuatu. Ini adalah hari Sabtu.

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 80. Kebalik

    Pagi harinya, Laura sudah tersadar dari mabuknya semalam.Begitu ia mencoba menggerakkan kepalanya, rasa pening luar biasa langsung menghantam tempurung kepalanya. Lengkap dengan sensasi melayang dan kleyengan yang membuat perutnya mual bukan main.Laura meringis pelan, memegang pelipisnya seraya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.Namun, saat matanya berhasil terbuka sempurna dan menyapu pandangan ke sekeliling, tubuhnya seketika membeku kaku.Nuansa kamar ini terasa teramat asing. Interior minimalis modern berkelas, dinding bernuansa abu-abu maskulin, serta kasur king size berseprai abu-abu gelap yang teramat luas."I-ini di mana?!" cicit Laura panik setengah mati.Matanya membola lebar, memutar pandangan ke kanan dan ke kiri dengan jantung yang berdegup liar bagaikan dihantam palu godam.Satu pikiran buruk seketika melintas di benaknya: Apakah semalam aku dibungkus oleh pria asing di club?!"Astaga... kalau Jonas sampai tahu, bagaimana?!" gumamnya panik dengan napas teren

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 79. Meracau tak Jelas

    Setibanya di dalam area VIP Dragonfly Club yang dipenuhi dentuman musik pekat dan pendar lampu neon remang, Hardy hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.Pria itu menghela napas kasar berulang kali, menyapu pandangan pada dua wanita yang sudah lunglai di sofa dengan beberapa gelas alkohol kosong di meja.Hardy berkacak pinggang, langsung memarahi Novia dengan nada panik yang ditahan. "Novia! Kamu gila, ya?! Kenapa malah membawa Laura ke tempat seperti ini, sih?! Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?!"Novia yang kepalanya sudah terkulai hanya terkekeh pelan, memegang gelasnya yang tinggal sisa es batu.Sementara itu, Laura yang kesadarannya sudah setengah membayang akibat pengaruh alkohol perlahan menoleh.Di hadapannya, sosok Jonas berdiri tegap berbalut jas gelap dengan satu tangan tertancap kokoh di pinggang.Pria itu menatapnya lurus dengan raut wajah amat dingin, mata pekatnya memancarkan kemurkaan dan dominasi posesif yang pekat.Bukannya takut, Laura justru

  • Sentuhan Semalam Paman Angkatku   Bab 78. Melacak Keberadaan Laura

    Hardy berdiri tegak di dalam ruang kontrol CCTV gedung Gideon Corp yang remang, dikelilingi oleh puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan.Di sampingnya, seorang staf operator yang sedang bertugas shift malam tampak mengetik dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.Suasana di dalam ruangan itu begitu menegangkan, terasa semakin menghimpit seiring berjalannya waktu yang terus bergulir menembus dini hari."Coba perbesar bagian lobi utama pukul lima sore tadi," perintah Hardy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk salah satu sudut layar monitor dengan raut wajah cemas.Staf operator itu mengklik beberapa kali, memperbesar rekaman video resolusi tinggi tersebut.Di sana, terlihat jelas sosok Laura yang mengenakan gaun kerjanya melangkah keluar lobi bersama Novia.Keduanya tampak mengobrol singkat di pinggir jalan sebelum akhirnya menyetop sebuah armada taksi berwarna biru yang melintas, lalu masuk bersama-sama ke dalamnya."Nah, itu dia!" seru Hardy seraya me

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status