Beranda / Romansa / Sentuhan Terlarang Sang Terapis / BAB 7: PROPOSAL INDEKS PRESTASI

Share

BAB 7: PROPOSAL INDEKS PRESTASI

Penulis: Lara Luka
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 08:34:27

Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.

Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal.

"Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."

Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"

Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya.

"Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga tahun saya menyeret Kirana ke Singapura, Jerman, Amerika. Puluhan suntikan hormon, prosedur pengambilan sel telur yang menyakitkan, transfer embrio yang gagal... semuanya sia-sia."

Dimas menoleh, menatap Arga tajam.

"Masalahnya bukan pada rahim Kirana. Masalahnya pada benih saya. Azoospermia total. Pabrik saya tutup, Dokter. Kosong. Tidak ada satu pun sel sperma yang hidup."

Arga terdiam. Sebagai medis, ia tahu betapa hancurnya ego seorang pria—terutama pria berkuasa seperti Dimas—saat mengetahui fakta ini.

"Lalu kenapa saya?" tanya Arga. "Anda bisa menggunakan bank sperma anonim. Kualitas terjamin, donor tidak terlacak."

"Bank sperma itu berisiko," sanggah Dimas cepat. "Data bisa bocor. Bayangkan skandalnya jika pewaris Atmadja Group ternyata anak dari donor anonim nomor sekian. Dewan direksi akan memakan saya hidup-hidup. Warisan Kakek akan jatuh ke tangan sepupu saya."

Dimas meletakkan gelasnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan. Aura predatornya menguar kuat.

"Saya butuh donor yang saya kenal. Donor yang bisa saya kendalikan. Dan yang paling penting... donor dengan spesifikasi High-Yield Asset."

Dimas menyentuh layar tablet di konsol tengah, memunculkan sebuah dokumen digital. Itu bukan rekam medis. Itu transkrip akademik dan profil kehidupan Arga.

"Arga Dananjaya," baca Dimas. "Lulusan Kedokteran Universitas Indonesia, Cum Laude. IPK 3.98. Mantan atlet Judo tingkat provinsi dengan medali emas. Tinggi 178 cm. Tidak ada riwayat kanker, diabetes, atau gangguan mental dalam tiga generasi keluarga."

Arga merasa telanjang. Dimas tidak sedang memuji prestasinya. Dimas sedang membacakan spesifikasi bibit unggul, seolah Arga adalah sapi pejantan kualitas premium di pelelangan ternak.

"Otakmu cerdas, fisikmu tangguh. Itu genetika yang saya inginkan untuk anak saya," lanjut Dimas. "Dan situasi ekonomimu yang... putus asa... adalah jaminan keamanan bagi saya. Kamu tidak akan berani macam-macam karena nyawa ibumu ada di tangan saya."

"Jadi..." Arga menelan ludah yang terasa pahit. "Anda ingin saya mendonorkan sperma saya untuk prosedur IVF Kirana?"

Dimas menggeleng pelan. Senyum miring yang mengerikan terukir di bibirnya.

"Tidak ada tabung. Tidak ada jarum suntik. Dokter kandungan bilang rahim Kirana 'menolak' benda asing. Trauma medisnya sudah terlalu parah. Setiap kali melihat jarum, dia stres, kortisol naik, dan implantasi gagal."

Jantung Arga berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya. Ia mulai mengerti arah pembicaraan ini, dan itu membuatnya mual.

"Maksud Anda..."

"Cara lama, Arga," potong Dimas dingin. "Cara natural. Cara yang sudah dilakukan manusia selama ribuan tahun sebelum sains ikut campur."

"Itu gila!" Arga setengah berteriak, melupakan siapa lawannya. "Anda menyuruh saya meniduri istri Anda? Itu perzinahan! Itu..."

"Itu terapi," sela Dimas dengan nada final. "Namanya Natural Insemination Therapy. Kamu tidak akan melakukannya sebagai kekasih. Kamu melakukannya sebagai profesional yang sedang menjalankan tugas. Anggap tubuhmu adalah alat medis. Anggap penis-mu adalah jarum suntik biologis. Masukkan, keluarkan, selesai."

"Dia bukan benda, Pak! Dia manusia!" Arga mengepalkan tangannya hingga gemetar. "Bagaimana jika dia menolak? Apa saya harus memerkosanya?"

"Dia tidak akan menolak," jawab Dimas santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Kirana adalah istri yang penurut. Dia tahu tugasnya. Dia tahu konsekuensinya jika dia gagal memberiku anak. Dia akan... kooperatif."

Mobil mulai melambat, berbelok memasuki gerbang kediaman Atmadja yang megah.

"Dengarkan aturannya baik-baik, karena saya tidak akan mengulanginya," suara Dimas merendah, berubah menjadi geraman.

"Satu: Tidak ada ciuman bibir. Itu terlalu intim.

Dua: Tidak ada pembicaraan di luar instruksi posisi.

Tiga: Jangan pernah berpikir kamu memiliki dia. Kamu hanya penyewa yang numpang lewat."

Mobil berhenti di depan lobi utama. Pintu mobil sisi Arga dibuka oleh penjaga dari luar. Angin malam yang dingin menusuk masuk, tapi tidak sedingin tatapan Dimas.

"Tugasmu dimulai besok malam saat masa ovulasinya puncak. Saya akan mengawasi dari monitor untuk memastikan kamu tidak melanggar aturan nomor satu."

Dimas menepuk lutut Arga, sebuah gestur kepemilikan yang merendahkan.

"Tidurilah istriku sampai dia hamil, Dokter. Tanam benih cerdasmu di rahimnya. Setelah tes kehamilan positif... ambil sisa bayaranmu, pergi dari kota ini, dan jangan pernah menoleh ke belakang."

Arga turun dari mobil dengan kaki lemas. Ia berdiri di bawah pilar raksasa rumah itu, merasa sekecil semut. Ia datang untuk menyelamatkan nyawa ibunya, tapi ia sadar, malam ini ia baru saja menjual kemanusiaannya dengan harga tiga miliar rupiah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 7: PROPOSAL INDEKS PRESTASI

    Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 6: TAGIHAN NYAWA

    Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 5: SENTUHAN PERTAMA

    Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 4: DIAGNOSIS PALSU

    Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 3: BONEKA YANG RETAK

    Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 2: SANGKAR EMAS

    Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status