共有

BAB 2: SANGKAR EMAS

作者: Lara Luka
last update 最終更新日: 2026-01-27 09:25:12

Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.

Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.

Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.

Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang langit kelabu. Tidak ada pohon rindang, tidak ada bunga berwarna-warni. Hanya hamparan rumput yang dipangkas presisi milimeter dan patung-patung abstrak yang menatap kosong.

"Turun," perintah Pak Ujang singkat saat mobil berhenti di lobi utama.

Arga melangkah keluar. Kakinya menapak di lantai marmer yang begitu mengilap hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya yang lelah di sana. Rumah itu sunyi. Kesunyian yang tidak wajar. Bukan tenang, tapi mati.

"Tuan Besar menunggu di ruang perpustakaan," kata Ujang, menggiring Arga melewati pintu ganda dari kayu jati ukir.

Interior rumah itu lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada tempat tinggal manusia. Lampu kristal menggantung dari langit-langit setinggi delapan meter. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan asli yang harganya mungkin bisa membeli seluruh desa tempat kelahiran Arga. Namun, mata Arga terpaku pada satu objek yang mendominasi dinding ruang tengah.

Sebuah foto pernikahan berukuran raksasa.

Di dalam bingkai emas itu, Dimas Atmadja berdiri gagah dengan tuksedo hitam, satu tangannya mencengkeram pinggang pengantin wanitanya dengan—apa yang terlihat sekilas sebagai—kemesraan. Tapi mata Arga, yang terlatih membaca bahasa tubuh pasien, melihat sesuatu yang lain. Cengkeraman itu terlalu kuat. Jari-jari Dimas menekan gaun putih itu hingga kainnya berkerut.

Dan sang pengantin wanita... Kirana.

Arga pernah melihat wajah wanita itu di majalah bisnis, selalu tersenyum anggun di samping suaminya. Tapi di foto resolusi tinggi ini, Arga melihat kebenaran yang tidak bisa disembunyikan photoshop. Senyum Kirana tidak mencapai matanya. Mata itu redup, seperti hewan buruan yang kakinya terjerat perangkap dan sudah lelah meronta.

"Jangan menatap barang milik Tuan sembarangan," tegur Ujang tajam.

Arga tersentak, mengalihkan pandangan. "Maaf."

Mereka tiba di sebuah ruangan luas yang dindingnya dilapisi buku-buku tebal. Di tengah ruangan, duduk di kursi kulit dengan punggung membelakangi mereka, seorang pria sedang menyesap cairan berwarna amber dari gelas kristal.

"Dokter Arga Dananjaya," suara itu bariton, halus, namun memiliki daya tekan yang membuat udara di ruangan itu terasa berat. Kursi itu berputar perlahan.

Dimas Atmadja terlihat persis seperti di televisi: tampan, rapi tanpa cela, dengan tatapan yang menilai orang lain seolah mereka adalah angka di laporan saham.

"Selamat sore, Pak Dimas," Arga mencoba bersikap profesional, meski ia sadar posisinya di sini bukan sebagai dokter, tapi sebagai pengemis yang baru saja ditolong. "Terima kasih atas bantuan Bapak untuk ibu saya. Saya berjanji akan menggantinya dengan dedikasi penuh merawat istri—"

"Berdiri di sana," potong Dimas, menunjuk titik kosong di tengah ruangan dengan dagunya. "Buka jasmu. Buka kemejamu."

Arga terdiam. "Maaf?"

"Kau tidak tuli, Dokter. Buka baju," ulang Dimas. Nadanya datar, seolah ia sedang menyuruh pelayan membuang sampah.

Darah naik ke wajah Arga. "Saya datang ke sini sebagai tenaga medis profesional, Pak. Bukan untuk dipermalukan. Jika ini prosedur wawancara—"

"Uang satu miliar itu bukan sumbangan, Arga. Itu investasi," Dimas meletakkan gelasnya dengan bunyi klontang yang keras. "Dan saya tidak pernah berinvestasi pada aset yang cacat. Buka, atau kau boleh pergi dan saya tarik kembali dana di rumah sakit itu sekarang juga."

Ancaman itu menghantam ulu hati Arga. Bayangan ibunya yang terbaring lemah melintas. Harga dirinya sebagai lulusan terbaik, sebagai manusia, berontak hebat. Tapi rasa cinta pada ibunya mencekik lehernya.

Dengan tangan gemetar menahan amarah, Arga membuka kancing kemejanya satu per satu. Kemeja lusuh itu jatuh ke lantai marmer. Arga berdiri bertelanjang dada di bawah sorotan lampu kristal, membiarkan dirinya ditelanjangi oleh mata dingin miliarder itu.

Dimas berdiri, berjalan mengelilingi Arga perlahan. Ia tidak memandang Arga sebagai manusia. Ia memandangnya seperti peternak yang sedang memeriksa kuda pacuan. Dimas menyentuh bahu Arga dengan ujung tongkat jalan yang ia bawa—bukan untuk menopang tubuh, tapi sebagai aksesori kekuasaan.

"Otot deltoid bagus. Postur simetris," gumam Dimas, mengetuk tulang punggung Arga dengan tongkatnya. "Gigi?"

Arga mengertakkan rahang, tapi ia membuka mulutnya sekilas. Ia merasa kerdil. Ia merasa kotor.

"Bersih. Tidak ada riwayat penyakit genetik. Golongan darah O positif. IQ 145," Dimas mendaftar data pribadi Arga seolah sedang membaca spesifikasi mesin. "Sempurna."

Langkah Dimas berhenti tepat di depan Arga. Ia menatap kedua tangan Arga yang tergantung kaku di sisi tubuh.

"Dan ini... The Magic Hands," bisik Dimas. Ia meraih tangan kanan Arga, mengangkatnya ke udara. Dimas memeriksa jari-jari Arga, meraba kapalan di telapak tangan Arga dengan jempolnya. "Tangan yang kasar untuk seorang dokter. Tapi katanya tangan ini bisa membangkitkan orang mati."

Arga menarik tangannya perlahan, tidak nyaman dengan sentuhan itu. "Saya hanya seorang fisioterapis, Pak. Bukan Tuhan. Saya mengembalikan fungsi gerak, bukan menciptakan keajaiban."

"Justru itu yang saya butuhkan. Fungsi," Dimas tersenyum tipis—senyum yang tidak mengandung kehangatan sedikitpun.

Dimas berjalan kembali ke meja kerjanya, mengambil selembar cek yang sudah ditandatangani, lalu melemparkannya ke arah Arga. Kertas itu melayang jatuh tepat di atas kemeja Arga yang berserakan di lantai.

Arga menunduk. Cek itu kosong. Nominalnya belum ditulis.

"Tugasmu sederhana, Dokter," kata Dimas, kembali duduk di singgasananya. Ia menatap Arga dengan sorot mata yang penuh kalkulasi mengerikan.

"Istriku rusak. Kakinya tidak berguna. Dokter-dokter mahal sudah menyerah, bilang itu masalah mental. Saya tidak butuh istri yang cacat mental."

Dimas condong ke depan, bayangannya menutupi separuh wajahnya.

"Sembuhkan kakinya, Arga. Buat dia berjalan lagi. Atau..." Dimas menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang membuat bulu kuduk Arga meremang. "...buat dia berguna lagi untuk tujuan lain. Isi nominal berapa pun yang kau butuhkan di cek itu setelah kau berhasil."

Arga menatap cek di lantai, lalu menatap Dimas. Ada ambiguitas dalam perintah itu. Membuatnya berguna lagi?

"Kapan saya bisa melihat pasien?" tanya Arga, suaranya parau.

"Sekarang," jawab Dimas. "Dia di kamarnya. Menunggumu. Jangan kecewakan investasi saya."

Saat Arga memungut kemejanya dan berbalik pergi, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam sangkar emas, dan pintu di belakangnya telah terkunci rapat.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 7: PROPOSAL INDEKS PRESTASI

    Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 6: TAGIHAN NYAWA

    Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 5: SENTUHAN PERTAMA

    Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 4: DIAGNOSIS PALSU

    Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 3: BONEKA YANG RETAK

    Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 2: SANGKAR EMAS

    Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status