Share

BAB 3: BONEKA YANG RETAK

Penulis: Lara Luka
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 08:31:43

Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.

Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.

Tidak ada jawaban.

Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.

Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.

Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.

Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusnya menenangkan, namun di sini justru terasa memucatkan. Di dekat jendela besar yang tertutup tirai vitrase tipis, seorang wanita duduk di kursi roda. Punggungnya menghadap pintu. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus menutupi punggung kursi, diam tak bergerak seperti tirai sutra hitam.

"Permisi," suara Arga memecah keheningan yang rapuh itu. "Selamat sore, Nyonya Atmadja."

Wanita itu tidak menoleh. Bahunya bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Ia duduk mematung menatap taman di luar jendela, seolah keberadaan Arga tidak lebih nyata dari debu di lantai.

Arga melangkah masuk, sepatunya berbunyi tap pelan di lantai parket kayu. Insting profesionalnya mengambil alih. Ia tidak melihat "istri miliarder", ia melihat pasien. Ia mengamati postur tubuh wanita itu dari belakang: bahu yang merosot (tanda hypotonia otot punggung atau depresi berat), kepala yang sedikit miring ke kiri, dan lengan yang terkulai pasif di pangkuan.

"Nama saya Arga. Arga Dananjaya," ia memperkenalkan diri lagi, kali ini berdiri tiga langkah di belakang kursi roda. "Saya fisioterapis baru yang ditugaskan Pak Dimas untuk menangani Anda."

Mendengar nama suaminya disebut, bahu wanita itu menegang sesaat. Reaksi mikro. Sangat halus, tapi cukup bagi mata terlatih Arga.

Perlahan, Arga berjalan memutar agar bisa melihat wajah pasiennya. Saat itulah napasnya tercekat.

Kirana Atmadja jauh lebih cantik daripada fotonya di ruang tamu, tetapi itu adalah kecantikan yang menyakitkan. Kulitnya seputih porselen yang tidak pernah tersentuh matahari, transparan hingga pembuluh darah biru halusnya terlihat di pelipis. Wajahnya kosong. Matanya, yang berwarna cokelat gelap, terbuka lebar namun tidak fokus—tatapan seribu yard yang sering Arga lihat pada korban kecelakaan fatal yang selamat namun jiwanya tertinggal di lokasi kejadian.

Ia seperti boneka pajangan yang retak di bagian dalam.

"Nyonya?" panggil Arga lembut.

Kirana berkedip lambat. Akhirnya, matanya bergeser, menatap Arga. Bukan tatapan menyambut, melainkan tatapan waspada seekor hewan terluka yang terpojok.

Arga berlutut dengan satu kaki agar sejajar dengan Kirana—teknik standar untuk tidak mengintimidasi pasien kursi roda. Tatapannya jatuh ke pangkuan Kirana. Wanita itu mengenakan gaun tidur satin selutut yang tersingkap sedikit, memperlihatkan kakinya.

Kaki itu indah. Jenjang, dengan struktur tulang yang sempurna. Namun, sebagai terapis, Arga melihat tragedi di sana. Otot quadriceps-nya mulai menyusut (atrophied), kehilangan massa karena terlalu lama tidak digunakan. Kulitnya terlihat tipis dan rapuh.

"Saya izin memeriksa kondisi kaki Anda," kata Arga, meminta persetujuan meski ia tahu ia sudah dibayar untuk melakukannya. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya agar hangat—kebiasaan lamanya—sebelum menyentuh pasien.

Kirana tidak menjawab, tapi tangannya yang berada di atas paha bergerak gelisah, menarik lengan baju panjangnya lebih turun.

Gerakan itu ceroboh.

Untuk sepersekian detik, kain satin itu tersingkap sebelum ditarik kembali. Mata Arga menangkapnya. Di pergelangan tangan Kirana yang kurus, ada bayangan ungu kebiruan. Bukan lebam baru, tapi lebam lama yang mulai memudar. Bentuknya lonjong, seperti bekas tekanan ibu jari yang sangat kuat.

Darah Arga berdesir panas. Dimas bilang dia lumpuh karena sakit. Dimas tidak bilang dia disakiti.

Arga menelan ludah, memaksa wajahnya tetap datar. Ia mengabaikan lebam itu untuk saat ini. Ia fokus pada kakinya.

"Maaf, ini mungkin sedikit dingin," gumam Arga.

Tangan Arga—tangan kasar yang penuh kapalan dan urat—menyentuh pergelangan kaki Kirana yang halus. Kontras tekstur kulit mereka begitu tajam. Arga memejamkan mata sesaat, mengaktifkan Hyper-Tactile Empathy-nya.

Dingin. Kaki itu sedingin es. Sirkulasi darahnya buruk.

Arga mulai meraba ke atas, menekan lembut otot betis (gastrocnemius). Lemah. Lembek. Tidak ada tonus otot. Arga menekan lebih dalam di titik saraf tibial di belakang mata kaki, mencari respons sekecil apa pun.

"Rileks..." bisik Arga, ibu jarinya memberikan tekanan memutar yang spesifik.

Kirana memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya. Napasnya mulai tidak teratur.

Arga menaikkan tangannya sedikit lagi, menekan titik refleks di bawah lutut. Itu adalah tes sederhana untuk mengecek integritas saraf peroneal. Jika sarafnya putus atau mati total seperti klaim medis pada umumnya, tidak akan ada reaksi.

Arga menekan.

DHUG!

Tiba-tiba, kaki kanan Kirana tersentak.

Itu bukan kedutan halus. Itu adalah tendangan refleks yang kuat dan tajam. Kaki yang katanya "lumpuh total" itu menendang tangan Arga hingga terlepas, tumit Kirana menghantam bahu Arga dengan tenaga yang mengejutkan.

Arga terhuyung ke belakang, hampir jatuh terjengkang.

Keheningan pecah.

Kirana terkesiap keras, matanya membelalak horor menatap kakinya sendiri yang kini kembali terkulai mati di pijakan kursi roda. Wajahnya pucat pasi, seolah dia baru saja ketahuan melakukan kejahatan besar. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun dengan panik.

"Nyonya..." Arga menatapnya dengan keterkejutan yang murni. Bahunya yang terkena tendangan berdenyut nyeri. Nyeri yang valid. Nyeri yang membuktikan ada kekuatan otot di sana.

"Tidak..." bisik Kirana, suaranya serak karena jarang digunakan. Ia mencengkeram lututnya sendiri dengan tangan gemetar, menatap pintu dengan ketakutan luar biasa. "Jangan bilang dia... tolong jangan bilang dia..."

Arga membeku. Ia melihat teror murni di mata wanita itu. Kirana tidak takut karena kakinya bergerak. Dia takut suaminya tahu kakinya bisa bergerak.

Arga perlahan bangkit berdiri, membersihkan bahunya. Otaknya berputar cepat menyusun diagnosis baru. Sarafnya utuh. Ototnya merespons. Tidak ada kerusakan fisiologis yang membenarkan kelumpuhan total ini.

Wanita ini tidak lumpuh. Tubuhnya hanya lupa caranya hidup—atau dipaksa untuk lupa.

"Saraf Anda merespons," kata Arga pelan, menatap tajam ke manik mata Kirana.

Kirana menggeleng panik, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya tidak bisa jalan. Saya lumpuh. Dokter bilang saya lumpuh."

Arga maju selangkah, menunduk hingga wajahnya dekat dengan Kirana.

"Dokter lain mungkin bilang begitu," bisik Arga, suaranya rendah agar tidak terekam dinding-dinding bertelinga itu. "Tapi tangan saya tidak pernah berbohong, Nyonya. Dan kaki Anda baru saja menendang saya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 7: PROPOSAL INDEKS PRESTASI

    Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 6: TAGIHAN NYAWA

    Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 5: SENTUHAN PERTAMA

    Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 4: DIAGNOSIS PALSU

    Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 3: BONEKA YANG RETAK

    Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny

  • Sentuhan Terlarang Sang Terapis   BAB 2: SANGKAR EMAS

    Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status