LOGINBunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.
Biiip... Biiip... Biiiiiip—
Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.
Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.
Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.
Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar.
"Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.
Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki kelistrikan jantung yang rusak.
"Siapkan defibrillator! Charge 200 joule!"
Arga melihat tubuh ringkih ibunya menyentak ke atas saat listrik dihantarkan. Sekali. Dua kali. Grafik masih kacau.
"Naikkan 360 joule! Clear!"
DUM.
Tubuh itu jatuh kembali ke kasur. Hening satu detik yang terasa selamanya. Lalu, suara bip pelan terdengar. Lemah. Tidak teratur. Tapi ada.
Arga merosot ke lantai, lututnya membentur ubin keras. Napasnya memburu seolah dialah yang baru saja disetrum. Ia selamat. Untuk sekarang.
Pintu kaca terbuka. Dokter spesialis jantung, Dr. Hendra, keluar dengan wajah suram. Ia melepas maskernya, menatap Arga bukan sebagai kolega, tapi sebagai pembawa vonis.
"Arga," panggil Dr. Hendra pelan.
Arga mendongak, matanya merah dan liar. "Dia stabil, kan, Dok? Deposit satu miliar dari Tuan Atmadja sudah masuk minggu lalu. Fasilitasnya harus yang terbaik!"
Dr. Hendra menghela napas berat. "Uang itu sudah memperpanjang napasnya seminggu ini, Ga. Tapi serangan barusan... itu tanda gagal jantung tahap akhir. Ventilator dan obat-obatan tidak lagi cukup. Jantungnya sudah menyerah."
Darah Arga berhenti mengalir. "Maksud Dokter?"
"Satu-satunya opsi adalah implantasi LVAD (Left Ventricular Assist Device) atau pompa jantung mekanik, sambil menunggu donor transplan," Dr. Hendra menyodorkan tablet berisi hasil pemindaian. "Tanpa alat itu, serangan berikutnya akan terjadi dalam kurang dari 24 jam. Dan kali ini, resusitasi tidak akan berhasil."
"Lakukan," sambar Arga cepat. "Pasang alatnya sekarang."
"Kita tidak bisa, Arga."
"Kenapa?! Uang deposit itu masih ada sisanya, kan?"
"Biaya operasi dan perangkat LVAD impor itu tiga miliar rupiah, Arga. Harus cash di muka karena asuransi ibumu sudah limit sejak bulan lalu. Dan sisa deposit dari Pak Dimas... dibekukan."
Arga membeku. "Dibekukan?"
"Pihak administrasi baru saja mendapat notifikasi. Rekening penjamin atas nama Atmadja Group memblokir akses dana sisa. Statusnya on hold," Dr. Hendra menatap Arga iba. "Kau punya waktu sampai besok pagi, Ga. Jika dana tidak cair, kami tidak bisa memesan alatnya. Dan jika alat tidak ada..."
Dokter itu tidak perlu menyelesaikan kalimatnya.
Tiga jam kemudian, Arga berdiri di trotoar depan rumah sakit.
Langit Jakarta seolah turut berduka, menumpahkan hujan badai yang menenggelamkan kota. Arga tidak berteduh. Ia membiarkan air hujan menghantam tubuhnya, berharap dinginnya bisa membekukan rasa panik yang membakar otaknya.
Ia sudah mencoba segalanya dalam tiga jam terakhir.
Ia menelepon bank—ditolak karena riwayat kredit macet.
Ia menelepon rentenir lintah darat—mereka minta jaminan sertifikat rumah yang sudah lama ia jual.
Ia bahkan mencoba menghubungi nomor pribadi Dimas yang pernah menghubunginya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Itu bukan kebetulan. Itu skenario.
Dimas Atmadja tidak sekadar "membantu". Dia sedang memegang tali kekang. Dia memberi sedikit kelonggaran agar Arga bisa bernapas, lalu menariknya tiba-tiba hingga Arga tercekik, hanya untuk mengingatkan siapa majikannya.
Arga merogoh saku celananya yang basah kuyup. Di sana, terselip cek kosong yang diberikan Dimas di pertemuan pertama mereka. Cek yang belum sempat Arga isi karena ia pikir deposit awal sudah cukup.
Sekarang ia sadar, cek itu adalah jebakan. Dimas tahu Arga akan kembali. Dimas tahu satu miliar tidak akan cukup.
Sebuah sorot lampu LED yang menyilaukan membelah tirai hujan.
Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam legam berhenti perlahan tepat di depan Arga. Kaca jendela belakang yang gelap turun perlahan, menyisakan celah sepuluh sentimeter.
Tidak ada wajah yang terlihat jelas, hanya siluet pria yang duduk nyaman di dalam kabin yang hangat dan kering. Aroma samar cerutu mahal menguar keluar, bercampur dengan bau aspal basah.
"Naik, Dokter," suara itu terdengar jernih, tenang, dan mutlak. Bukan permintaan, tapi perintah.
Arga menatap mobil itu. Ia tahu siapa di dalamnya. Ia tahu jika ia masuk ke mobil itu, ia tidak akan keluar sebagai orang yang sama. Ia akan menjual lebih dari sekadar tenaganya. Ia akan menjual martabatnya.
Tapi bayangan garis EKG ibunya yang mendatar kembali menghantui.
Dengan tangan gemetar kedinginan, Arga membuka pintu mobil.
Kehangatan AC mobil langsung menyergapnya. Interiornya hening, kedap suara, memisahkan kekacauan dunia luar dengan ketenangan artifisial di dalam.
Dimas Atmadja duduk menyilang kaki, mengenakan setelan jas abu-abu arang yang licin tanpa setitik pun debu. Ia sedang memegang tablet, membaca grafik saham, seolah-olah dia tidak baru saja memegang kendali atas hidup dan mati seseorang.
"Basah kuyup," komentar Dimas tanpa menoleh. Ia menekan tombol, dan sekat kaca antara penumpang dan sopir tertutup, memberikan privasi total. "Saya dengar ada drama kecil di ICU. Jantung?"
Arga menyeka air hujan dari wajahnya, napasnya memburu. "Anda memblokir dananya."
"Saya mengamankan dana saya," koreksi Dimas tenang. Ia meletakkan tabletnya, lalu menatap Arga dengan sorot mata predator yang telah berhasil memojokkan mangsanya. "Uang satu miliar kemarin adalah down payment untuk menyembuhkan kaki istriku. Tapi sepertinya... kebutuhanmu meningkat, Dokter. Inflasi nyawa memang mahal."
"Saya butuh tiga miliar. Sekarang," kata Arga, suaranya serak, melepaskan sisa harga dirinya.
Dimas tersenyum tipis. Ia membuka laci dashboard berlapis kayu eboni, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam.
"Tiga miliar adalah angka yang kecil bagi saya, Arga. Setara dengan harga jam tangan yang saya pakai," Dimas mengetuk jam Patek Philippe di pergelangan tangannya. "Tapi dalam bisnis, nilai uang ditentukan oleh nilai barang yang ditukar."
Dimas menyodorkan map itu ke pangkuan Arga yang basah.
"Kaki Kirana sudah menunjukkan kemajuan. Kamu membuktikan bahwa tanganmu memang ajaib," kata Dimas. Suaranya merendah, menjadi bisikan konspiratif. "Tapi saya butuh lebih dari sekadar kaki yang bergerak. Saya butuh rahim yang bekerja."
Arga menatap map itu. Judul di sampulnya bukan kontrak kerja fisioterapi.
PERJANJIAN SUROGASI BIOLOGIS & KERAHASIAAN MEDIS
"Buka," perintah Dimas.
Arga membukanya dengan jari kaku. Matanya memindai poin-poin hukum yang tertera di sana. Pasal-pasal gila yang melegalkan perzinahan atas nama prosedur medis. Istilah "Donor Alami". Klausul pelepasan hak asuh. Dan di halaman terakhir, nominal yang tertera: LUNAS.
"Tanda tangani itu," kata Dimas, menyodorkan pena emas. "Dan dalam lima menit, Dr. Hendra akan mendapat konfirmasi transfer penuh untuk operasi ibumu. Dia akan hidup."
"Ini gila..." bisik Arga. "Anda menyuruh saya meniduri istri Anda sendiri?"
"Saya menyuruhmu melakukan terapi," ralat Dimas tajam. Wajahnya mengeras. "Saya mandul, Arga. Saya butuh pewaris darah daging yang lahir dari istri sah saya agar warisan kakek saya tidak jatuh ke tangan sepupu-sepupu saya yang serakah. Dan kau... kau punya genetika unggul. Cerdas, fisik bagus, dan yang terpenting: kau bisa dikendalikan."
Dimas mencondongkan tubuhnya.
"Pilihannya sederhana. Keluar dari mobil ini dengan moralmu yang suci, lalu pesan peti mati untuk ibumu besok pagi. Atau tanda tangani kertas itu, jual benihmu, dan jadilah penyelamat."
Guntur menggelegar di luar, mengguncang mobil mewah itu. Tapi tangan Arga lebih terguncang.
Ia membayangkan wajah ibunya. Ia membayangkan wajah Kirana yang ketakutan.
Arga mengambil pena itu. Tinta hitam menggores kertas, mengikat takdir tiga manusia dalam satu simpul dosa yang tak akan bisa terurai.
"Anak pintar," Dimas tersenyum puas, mengambil kembali map itu.
"Kapan?" tanya Arga, suaranya mati.
"Besok malam," jawab Dimas. "Masa suburnya dimulai. Bersihkan dirimu, Dokter. Kita akan melakukan bisnis yang sebenarnya."
Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta
Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki
Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b
Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan
Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang







