MasukHujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.
Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak.
"Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.
Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, bukan pasien yang menunggu terapi.
"Tolong... jangan sakit..." bisik Kirana. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar tertelan suara hujan.
Hati Arga mencelos. "Saya tidak akan menyakiti Anda. Saya berjanji."
Arga menuangkan minyak ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya dengan gerakan cepat untuk menciptakan panas gesekan. Ia tidak boleh menyentuh pasien dengan tangan dingin. Itu aturan nomor satu.
"Permisi," Arga meminta izin sebelum tangannya menyentuh pergelangan kaki Kirana.
Saat kulit kasar Arga bertemu dengan kulit halus Kirana yang dilumuri minyak, wanita itu tersentak hebat. Napasnya tercekat. Arga berhenti, menahan tangannya diam di sana—teknik grounding—membiarkan Kirana terbiasa dengan keberadaan tangan asing di tubuhnya.
"Bernapas, Nyonya. Tarik... hembuskan," pandu Arga lembut.
Perlahan, Arga mulai menggerakkan tangannya ke atas. Melewati betis yang kurus, lutut yang menonjol, lalu berhenti di batas gaun tidur Kirana yang tersingkap sebatas paha.
Di sinilah ujian dimulai.
Sesuai instruksi "Protokol Terapi" Dimas, Arga harus mengerjakan area Adductor Magnus—otot besar di paha bagian dalam yang memanjang hingga ke pangkal paha. Area yang sangat privat. Area yang biasanya dihindari dalam fisioterapi umum kecuali untuk kasus cedera selangkangan atlet.
Tangan Arga yang besar dan hangat meluncur ke area sensitif itu.
Kirana memalingkan wajah ke samping, memejamkan mata rapat-rapat. Air mata merembes keluar dari sudut matanya. Tubuhnya gemetar, menolak sentuhan itu, namun tak berdaya melawannya.
Arga merasakan penolakan itu lewat ujung jarinya. Otot paha Kirana menegang kaku (spasm). Hyper-Tactile Empathy-nya mengirimkan sinyal rasa takut yang luar biasa dari tubuh Kirana ke otak Arga. Ini bukan sekadar malu. Ini trauma. Tubuh ini pernah disentuh dengan paksa sebelumnya.
"Lihat saya, Kirana," Arga memanggil namanya, menghilangkan embel-embel 'Nyonya' untuk memangkas jarak status.
Kirana tidak merespons. Dia masih terisak tanpa suara.
"Kirana, buka matamu. Lihat saya," perintah Arga, kali ini lebih tegas namun tetap lembut.
Perlahan, Kirana membuka matanya yang basah. Tatapan mereka bertemu.
"Saya bukan dia," kata Arga, menatap lurus ke manik mata cokelat itu. "Saya bukan suamimu. Saya tidak akan memaksamu. Jika kamu bilang berhenti, saya berhenti. Detik ini juga. Persetan dengan kontraknya."
Kata-kata itu seperti mantra. Ketegangan di bahu Kirana sedikit mereda. Ada kebingungan di matanya—mungkin karena ini pertama kalinya seorang pria memberinya pilihan di rumah ini.
"Lakukan..." bisik Kirana akhirnya, pasrah namun memberi izin. "Buat aku bisa berjalan lagi."
Arga mengangguk. Ia mulai memijat.
Bukan dengan nafsu kasar yang diinginkan Dimas, tapi dengan teknik Myofascial Release yang presisi. Jempol Arga menekan simpul otot yang kaku di paha dalam, mengurainya perlahan. Gerakannya ritmis, panjang, dan dalam.
Panas menjalar.
Minyak ylang-ylang membuat kulit mereka licin, meminimalkan gesekan tapi meningkatkan sensasi. Tangan Arga yang kuat memanipulasi daging lunak di paha Kirana, mendorong aliran darah yang macet untuk naik ke atas, menuju panggul.
Sensasinya membingungkan bagi Kirana. Rasa sakit akibat pijatan pada otot yang lama mati bercampur dengan rasa nikmat yang asing. Sentuhan Arga tegas, mendominasi, tapi entah bagaimana... melindungi. Tangan itu tidak mengambil sesuatu darinya, tapi memberi energi.
Napas Kirana mulai berubah. Dari isakan tertahan menjadi desahan berat yang tak teratur.
Tangan Arga bergerak semakin tinggi, mendekati area terlarang di pangkal paha untuk menekan titik limfatik. Wajah Kirana memerah. Dia tidak menepis tangan Arga. Justru secara tidak sadar, pinggulnya sedikit terangkat—mencari tekanan lebih.
Arga merasakan perubahan itu. Lewat telapak tangannya, ia bisa merasakan suhu tubuh Kirana meningkat drastis. Detak nadi di arteri femoralis Kirana berdegup kencang di bawah jari Arga.
Dia merasakannya, batin Arga. Tubuhnya hidup. Dia tidak dingin. Dia membara.
Keringat mulai menetes dari pelipis Arga. Ia juga manusia. Menyentuh wanita secantik ini, merasakan respons tubuhnya yang jujur dan rawand, membuat darah Arga sendiri berdesir. Insting lelakinya berteriak untuk tidak sekadar memijat, tapi membelai.
Namun Arga menahannya. Ia mengubah tekanan erotis itu menjadi gerakan medis yang disiplin. Ia adalah benteng terakhir yang menjaga kewarasan wanita ini.
"Bagus," puji Arga dengan suara serak. "Ototmu merespons. Darahmu mengalir."
Kirana menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa malu, tapi juga ada rasa terima kasih. Dan di kedalaman matanya, ada kilatan kecil—benih ketergantungan. Dia baru saja menyadari bahwa tangan pria ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa utuh setelah sekian lama.
"Terima kasih..." desah Kirana, matanya kembali terpejam, kali ini karena kelelahan yang nikmat, bukan ketakutan.
Tiga lantai di bawah mereka, di ruang kerja yang gelap, layar monitor raksasa menyala terang.
Dimas Atmadja duduk bersandar di kursi kulitnya, segelas wine merah di tangan kanan. Matanya terpaku pada layar CCTV definisi tinggi yang menampilkan tayangan hitam-putih dari kamar tidur istrinya.
Kamera itu dipasang di sudut strategis, menangkap jelas bagaimana tangan Arga menyusup di antara kedua kaki istrinya.
Dimas tidak marah. Dia tidak cemburu melihat istrinya mendesah karena sentuhan pria lain. Sebaliknya, ia memutar gelas wine-nya dengan perlahan, menikmati pemandangan itu seperti seorang sutradara yang bangga melihat aktornya mengikuti naskah dengan sempurna.
Ia melihat rona merah di leher Kirana. Ia melihat bagaimana tubuh istrinya yang biasanya kaku seperti mayat kini melengkung, merespons rangsangan.
"Bagus, Arga," gumam Dimas, menyesap anggurnya. Senyum miring terukir di bibirnya. "Buat dia basah. Buat dia subur. Siapkan ladangnya untuk benihku."
Dimas menekan tombol interkom di mejanya.
"Ujang."
"Ya, Tuan," suara Ujang terdengar instan.
"Siapkan prosedur inseminasi untuk minggu depan. Sepertinya terapis baru kita bekerja lebih cepat dari dugaan."
Dimas mematikan layar. Baginya, itu bukan adegan perselingkuhan. Itu hanya prosedur pra-operasi. Dan Arga hanyalah alat bedah yang sangat efektif.
Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta
Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki
Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b
Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan
Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang







