ログインRuang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.
Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi.
"Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.
Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia...
"Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."
Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan seorang suami mendengar istrinya bisa sembuh. Yang ada hanyalah kilatan dingin yang sulit diartikan.
"Jadi?" tanya Dimas datar.
"Jadi, kelumpuhannya bukan karena kerusakan fisik permanen," lanjut Arga, mencoba meyakinkan. "Diagnosis saya mengarah pada Psychosomatic Paralysis atau Conversion Disorder. Tubuhnya sehat, Pak. Pikirannya yang mematikan fungsi kakinya karena trauma berat. Dengan terapi rutin dan pendekatan psikologis, dia bisa berjalan lagi dalam—"
"Stop."
Satu kata itu memotong kalimat Arga seperti guillotine.
Dimas berdiri, berjalan perlahan memutari meja. Ia berhenti tepat di depan Arga, menatapnya dengan intensitas yang membuat Arga merasa kerdil.
"Kamu salah paham dengan Job Description-mu, Arga," suara Dimas rendah, namun berbahaya. "Saya tidak membayarmu satu miliar untuk menjadi psikiater. Saya tidak butuh kamu mengobati jiwanya. Jiwa itu urusan Tuhan, atau iblis. Urusanmu adalah daging dan otot."
Arga mengernyit. "Tapi Pak, akarnya ada di pikiran. Jika traumanya tidak diselesaikan, kakinya tidak akan—"
"Lupakan kakinya!" bentak Dimas. Suaranya menggema di ruangan luas itu.
Hening sejenak. Dimas merapikan jasnya, kembali tenang seolah bentakan tadi tidak pernah terjadi. Ia tersenyum tipis—senyum seorang pedagang yang sedang menjelaskan cara kerja mesin pada orang awam.
"Kaki itu tidak penting, Dokter. Dia tidak perlu lari maraton. Dia tidak perlu berdansa," Dimas melangkah mendekat, menepuk bahu Arga. "Keluarga Atmadja butuh pewaris. Kakek saya memberi tenggat waktu satu tahun sebelum aset dibekukan. Saya butuh anak."
Rahang Arga mengeras. "Hubungannya dengan fisioterapi?"
"Sirkulasi darah," jawab Dimas enteng. "Dokter kandungan bilang rahimnya 'dingin'. Aliran darah ke panggulnya buruk karena dia duduk terus di kursi roda. Hormonnya kacau."
Dimas berjalan ke lemari arsip, mengambil sebuah map berlabel PROTOKOL TERAPI. Ia menyerahkannya pada Arga.
"Ini prosedur yang saya mau kamu lakukan. Lupakan latihan jalan. Saya mau kamu fokus memijat area ini," Dimas menunjuk diagram anatomi di kertas itu. Jari telunjuknya mengetuk area panggul, perut bawah, dan paha dalam (inner thigh). "Lancarkan aliran darah di sana. Rangsang sistem hormonalnya. Buat tubuhnya siap untuk... dibuahi."
Arga membaca dokumen itu. Matanya membelalak. Ini bukan fisioterapi. Ini adalah foreplay yang dibungkus istilah medis. Memijat otot adductor dan iliopsoas di paha dalam secara intensif hanya akan satu tujuan: membangkitkan gairah seksual.
"Pak, ini..." Arga menahan napas, menatap Dimas tak percaya. "Ini melanggar batas etika. Memanipulasi area sensitif pasien dengan tujuan non-medis adalah pelecehan."
"Tujuannya medis, Arga. Reproduksi adalah biologi," sanggah Dimas dingin. "Dan kamu bukan lagi dokter yang terikat sumpah di rumah sakit. Kamu milik saya. Tanganmu milik saya."
Dimas mendekatkan wajahnya. "Ingat ibumu di ICU. Ingat ventilator yang menyala karena uang saya. Lakukan saja tugasmu. Buat istriku 'hangat' dan siap. Sisanya urusan saya."
Arga keluar dari ruangan itu dengan perasaan mual. Ia merasa seperti baru saja menyepakati kontrak penjualan jiwa.
Arga kembali ke kamar Kirana dengan langkah berat. Pintu kamar tidak dikunci. Di dalam, lampu utama sudah dipadamkan, diganti lampu tidur remang-remang.
Kirana tertidur di kursi rodanya, kepalanya terkulai miring dengan posisi yang tidak nyaman.
Arga mendekat perlahan. Ia ingin memindahkan wanita itu ke tempat tidur, tapi ia ragu untuk menyentuhnya lagi. Perintah Dimas terngiang di kepalanya: Fokus pada paha dalam. Buat dia siap.
"Biadab," desis Arga pelan.
Mata Arga menyapu nakas di samping tempat tidur. Di sana, berjejer botol-botol obat dengan label mewah dari klinik swasta. "Vitamin Saraf", "Suplemen Kalsium", "Multivitamin".
Semuanya terlihat normal. Tapi insting Arga—insting yang terasah di jalanan dan klinik kumuh—mencium ketidakberesan.
Kirana tidur terlalu lelap. Dadanya naik turun dengan ritme yang terlalu lambat, terlalu berat. Bahkan saat Arga tidak sengaja menyenggol meja nakas dan menimbulkan bunyi duk, Kirana tidak bergerak sedikitpun. Itu bukan tidur alami. Itu sedasi.
Tangan Arga terulur mengambil botol berlabel "Vitamin Saraf Kompleks". Ia membuka tutupnya, menuangkan satu butir pil ke telapak tangannya.
Pil itu berbentuk lonjong, berwarna putih dengan kode cetak kecil di satu sisi: TZ-4.
Jantung Arga berpacu. Sebagai tenaga medis, ia hafal kode obat. Ini bukan vitamin B12 atau neurobion.
Ini Tizanidine.
Sebuah muscle relaxant (pelemas otot) dosis tinggi. Obat yang biasa diberikan pada pasien kejang otot parah atau cerebral palsy untuk melumpuhkan kekuatan otot agar tidak kaku.
Jika obat ini diberikan pada orang dengan otot yang sudah lemah, efeknya fatal: otot akan menjadi bubur. Pasien akan merasa tubuhnya berat, lemas total, dan tidak bertenaga untuk menggerakkan satu jari pun.
Arga mengambil botol kedua. Labelnya "Suplemen Tidur". Isinya pil biru kecil.
Diazepam. Obat penenang golongan benzodiazepin.
Arga meremas botol itu hingga buku jarinya memutih. Teka-teki itu terpecahkan.
Kirana tidak lumpuh karena trauma semata. Dia dibuat lumpuh secara kimiawi.
Setiap hari, wanita ini dicekoki racun yang melemahkan ototnya dan menidurkan otaknya, disamarkan sebagai "obat penyembuh". Dimas tidak sedang merawat istrinya. Dia sedang memenjarakan istrinya di dalam tubuhnya sendiri.
"Arga...?"
Suara lirih dari arah kursi roda mengejutkan Arga.
Kirana terbangun. Matanya sayu, berat, dipenuhi kabut obat bius. Dia menatap Arga dengan bingung, lalu matanya jatuh pada botol obat di tangan Arga.
"Waktunya... minum obat...?" tanya Kirana lemah, tangannya terulur gemetar, refleks seorang tawanan yang sudah terbiasa patuh pada jadwal.
Arga menatap wanita rapuh itu, lalu menatap botol racun di tangannya. Kemarahan yang panas menjalar dari ulu hatinya.
"Tidak, Nyonya," Arga menyembunyikan botol itu ke dalam saku jasnya dengan cepat. Suaranya bergetar menahan emosi. "Malam ini... Anda tidak perlu obat ini."
Karena mulai malam ini, saya yang akan menjadi obat Anda, batin Arga bersumpah. Namun ia tahu, sumpah itu akan membawanya ke neraka yang lebih dalam.
Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta
Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki
Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b
Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan
Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang







