LOGINPintu ruangan terbuka keras."Nyonya!" seru Yogo sambil melangkah masuk.Namun langkahnya terhenti seketika.Di tengah ruangan, berdiri Freya. Wajahnya tenang, namun di tangannya pistol terarah tepat ke kepala Arunika. Tak ada bayang ketakutan hanya senyum tipis yang dingin dan tak terbaca.Dan yang membuat Yogo menahan napas… Arunika juga mengangkat senjata. Ujung pistolnya menunjuk tepat ke arah dada Freya.Dua perempuan. Dua senjata. Satu ruangan yang tiba-tiba terasa sempit dan berbahaya."Nyonya…" Yogo hendak maju."Mundur, Yogo," perintah Arunika tegas."Tapi—""Mundur."Yogo berhenti di tempat.Freya tersenyum makin lebar. "Menarik. Ternyata kau tidak selemah yang dikira, Arunika."Arunika tak berkedip sedikit pun. "Aku tidak pernah mengaku lemah. Viktor yang selalu berkeras ingin melindungiku — bukan aku."Freya tertawa pelan. "Benar. Dia selalu begitu. Selalu merasa harus menyelamatkan siapa pun yang dianggapnya butuh bantuan. Selama bertahun-tahun… aku menunggu dia menyadari
Pintu lift terbuka perlahan.Ting.Arunika melangkah keluar. Lorong lantai dua puluh satu begitu sunyi — tak ada suara langkah kaki lain, tak ada suara percakapan. Hanya bunyi langkah sepatunya yang bergema di atas lantai marmer dingin.Yogo berdiri beberapa meter di belakangnya, tetap waspada."Nyonya..." panggilnya pelan.Arunika menoleh sekilas. "Tunggu di sini saja.""Tapi—""Kalau aku membutuhkanmu, aku akan memanggil," tegasnya namun lembut.Yogo menghela napas, tahu kapan harus patuh. "Baik, Nyonya."Arunika melanjutkan langkahnya sendirian. Di ujung lorong berdiri sebuah pintu besar berwarna gelap — tak ada nomor kamar, hanya sebuah simbol kecil berbentuk burung phoenix yang terukir di tengahnya. Arunika berhenti di depannya, jari-jarinya perlahan menyentuh simbol itu."Jadi ini sarangnya..." gumamnya pelan.Belum sempat ia mengetuk, pintu terbuka sendiri. Seorang pria berdiri di baliknya usia sekitar lima puluh tahun, rambut beruban namun tatapannya tajam dan tenang, seolah t
Ruangan itu kembali sunyi begitu pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar ponselHotel Meridian Pukul delapan malam Datang sendiri.Arunika menatap teks itu beberapa detik sebelum mematikan layarnya. Yogo berdiri di belakangnya, wajahnya tegang."Nyonya…""Aku akan datang."Yogo mengerutkan kening. "Itu jelas jebakan.""Aku tahu.""Kalau begitu kenapa—""Karena aku ingin tahu siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini," potong Arunika tegas. Ia berdiri tegak, tatapannya tajam dan mantap. "Dan kalau aku datang tanpa persiapan, aku hanya akan terlihat seperti orang bodoh."Yogo terdiam."Yogo," panggilnya pelan namun tegas."Ya, Nyonya.""Siapkan senjata paling ringan untukku."Yogo membeku di tempat. "Senjata… maksud Nyonya pistol?""Iya.""Maaf, Nyonya… saya rasa ini tidak bijaksana," jawabnya ragu."Jangan khawatir," Arunika tersenyum tipis sambil meraih tasnya. "Aku tidak berniat mencari masalah. Aku hanya ingin memastikan… kalau masalah datang kepadaku, aku tidak berdiri d
"Tuan… hasilnya nihil. Tidak ada catatan penerbangan internasional atas nama Nyonya Arunika," lapor Dimas dengan kepala tertunduk. Viktor berdiri perlahan, rahangnya mengeras. Tatapannya tajam menatap Dimas. "Kau bukan orang bodoh, kan, Dimas?" suaranya rendah namun berat. "Hanya mencari satu wanita kau tidak mampu?" Dimas diam, namun Larry yang berdiri di sampingnya tiba-tiba berseru. "Tuan! Ada jejak!" Larry segera melangkah mendekat sambil membawa tablet. "Thailand… Nyonya berada di Thailand." Di layar terlihat sinyal yang baru saja menyala dari ponsel yang diberikan Arunika kepada Bi Lina. GPS-nya aktif. Dan ada pesan masuk yang baru saja dikirim. Larry membacanya pelan: "Kami baik-baik saja di sini. Nyonya Arunika… dia terasa seperti orang yang tidak kukenal. Namun aku tahu satu hal, dia melakukan semua ini untuk melindungi Tuan Viktor. Dia mengerahkan banyak orang untuk melawan musuh Tuan. Katakan pada Tuan Nyonya selamat dan bersamaku." Viktor menatap layar itu lama
"Bibi, ini ponsel baru untuk Bibi," ucap Arunika sambil menyodorkan benda itu. "Tolong jangan hubungi siapa pun, ya. Cukup simpan dan gunakan hanya jika ada keadaan darurat."Bi Lina mengangguk pelan, menerima ponsel itu dengan wajah cemas namun tetap patuh. "Baik, Nyonya. Aku mengerti."Rumah kecil yang baru saja dibeli Arunika itu tiba-tiba digetarkan ketukan di pintu keras namun teratur, memecah kesunyian sore yang hening.Bi Lina menoleh cepat. "Nyonya… siapa yang datang?"Arunika bangkit perlahan, berjalan tenang menuju pintu. "Buka saja, Bibi. Itu temanku."Pintu terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang pria berperawakan tegap dengan senyum tipis yang penuh selidik."Nyonya Arunika…" suaranya rendah namun jelas. "Bagaimana kabarmu? Kau terlihat makin cantik… dan makin bersinar, setelah menjadi Nyonya Megantara."Arunika tidak tersenyum. Ia menyingkirkan pintu sedikit lebih lebar."Masuk, Yogo. Jangan banyak basa-basi," ucapnya tegas tanpa menoleh. "Aku memintamu datang untuk sa
"Bi Lina, kemasi barang-barangku. Kau ikut bersamaku."Suara Arunika tenang namun tegas saat berbicara di ruang tamu.Bibi Lina berhenti bergerak sejenak, wajahnya tampak bingung. "Nyonya… kita mau ke mana?"Arunika menoleh, menatap wanita tua yang sudah melayaninya bertahun-tahun itu dengan senyum lembut namun mantap."Bibi, aku paling percaya padamu. Jadi tolong percayalah padaku kali ini."Bibi Lina menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, Nyonya. Aku ikut."Arunika mendekat sedikit, berbisik pelan. "Dan Bibi… jangan sampai ada orang lain yang tahu kita pergi."Sementara itu, di ruang rapat lantai teratas gedung perkantoran milik Viktor, Pintu terbuka tiba-tiba. Semua kepala menoleh. Arunika berdiri di ambang pintu. Pembicaraan di ruangan itu seketika terhenti. Para direktur dan rekan kerja yang hadir saling berpandangan, tak ada yang berani bersuara.Viktor yang duduk di kursi utama langsung berdiri. Wajahnya yang serius seketika melembut saat melihat sosok istriny
Jawaban itu jatuh seperti vonis mati. Ruangan luas di villa itu mendadak terasa menyempit, oksigen seolah tersedot keluar meninggalkan Arunika yang sesak dalam kehampaan. Ia menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Bukan hanya karena makna kotor di baliknya, tapi karena Bisma mengatakannya denga
Keheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri. Selama ini aku salah. Pagi datang membawa
Arunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar. Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma







