首頁 / Romansa / Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku / Bab 43: Target yang Bergeser ( POV Reyhan )

分享

Bab 43: Target yang Bergeser ( POV Reyhan )

作者: Olivia
last update publish date: 2026-05-05 14:58:24

Asap cerutu menggantung di udara tanpa terburu-buru menghilang, berputar pelan di bawah lampu kuning yang redup,

menciptakan bayangan yang bergerak di dinding beton yang lembap. Bau tembakau yang pahit bercampur dengan aroma logam dari senjata yang baru saja dibersihkan, menempel di tenggorokan setiap kali Reyhan menarik napas panjang.

Tangannya masih memegang pistol itu dengan kuat. Logamnya dingin, beratnya terasa pas di telapak tangan, dan permukaannya masih menyimpan sisa hangat dari gesek
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 101 : Aku Lelah Menjadi Orang Terakhir yang Tahu

    “Cukup.”Suara Aru tidak keras, tidak tinggi, Namun seluruh ruangan langsung terdiam. Monitor jantung masih berdetak pelan di samping ranjang Bisma.Hujan masih turun di balik jendela, Tetapi bagi Aru, semuanya terdengar jauh, dan terasa kabur.Seolah ia sudah terlalu lelah untuk memproses satu rahasia lagi.“Sudah cukup.”Perempuan itu perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bisma.Gerakan sederhana. Namun entah kenapa membuat dada laki-laki itu terasa sesak.Aru berdiri, Lalu mengusap wajahnya pelan. Seolah sedang berusaha mengumpulkan sisa tenaga yang masih dimilikinya. Karena beberapa hari terakhir hidupnya berubah menjadi rangkaian kejutan yang tidak pernah selesai.Ayahnya hidup, Reyhan hampir mati, Bisma tertembak, dan bahunya semakin parah, Rumah sakit diserang, Foto-foto misterius, Flashdisk, Safe house, Dan sekarang...Kebenaran tentang Bisma, Atau setidaknya sebagian kecil darinya.“Aru...”Suara Bisma terdengar pelan, Namun perempuan itu menggeleng, tidak marah

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 100 : Nama yang Dikubur

    “Gerry... perjelas.” Suara Aru terdengar tenang.Namun semua orang di ruangan itu tahu ketenangan Arunika selalu menjadi pertanda sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang terjadi di dalam kepalanya.Gerry menatap layar tabletnya beberapa saat, Seolah sedang memastikan kembali data yang baru diterimanya, Lalu ia mengangkat wajah.“Pria yang berdiri di samping ayah nona di foto itu bukan orang asing.”Hening... Monitor jantung di samping ranjang Bisma berdetak pelan.Tut.Tut.Tut.“Aku sudah dengar bagian itu.” Tatapan Aru tidak bergeser.“Lanjutkan.”Gerry menarik napas panjang" Nama pria itu adalah Mahendra Pratama.”Tubuh Bisma langsung menegang, Hampir tidak terlihat. Tetapi Aru melihatnya, Karena sejak dulu, ia selalu memperhatikan hal-hal kecil pada Bisma.“Mahendra?” Paman Dion mengernyit.“Nama keluarga yang sama.”“Iya.”Gerry mengangguk.“Secara hukum pria itu meninggal dua puluh lima tahun lalu dalam kecelakaan kapal.”Keheningan kembali turun menyelimuti ruangan itu, Lalu

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 99 : Tempat yang Disembunyikan

    Aru berdiri membeku di depan pintu itu, Jantungnya masih berdetak keras akibat lorong panjang yang dipenuhi foto-foto Bisma. Namun sekarang ada hal lain yang membuat napasnya terasa berat.Suara ayahnya, dan suara Paman Adrian, Bersama, Di tempat yang seharusnya tidak ada.Gerry bergerak sedikit di depan Aru, naluri melindunginya muncul otomatis. Namun Aru mengangkat tangan pelan.“Tidak.”“Nona...”“Aku masuk sendiri.”Paman Dion menghela napas panjang, Ia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Arunika saat perempuan itu sudah mengambil keputusan. Perlahan Aru mendorong pintu, engsel tua itu mengeluarkan bunyi lirih.Ruangan di baliknya jauh berbeda dari lorong yang suram, Hangat, tenang. Bahkan ada aroma kopi yang masih tersisa di udara, Seperti seseorang baru saja duduk di sana beberapa menit lalu.Di tengah ruangan berdiri seorang pria berambut putih yang sangat dikenalnya, Tubuh Aru langsung menegang, Semua kemarahan yang selama ini ditahan, kerinduan, kehilangan, Seketika bercamp

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 98 : Lantai Tiga Belas

    Mobil berhenti bahkan sebelum benar-benar masuk ke area rumah sakit, Lampu darurat menyala di beberapa sisi gedung. Hujan masih turun deras, membasahi halaman yang kini dipenuhi kendaraan keamanan dan ambulans.Namun ada sesuatu yang salah.Keadaan yang terlalu sepi, tidak ada suara panik, dan petugas yang berlarian, Dan tidak ada kekacauan seperti yang dibayangkan Aru ketika mendengar rumah sakit diserang. Justru itulah yang membuat tengkuknya meremang.“Ini jebakan,” gumam Gerry.Aru sudah membuka pintu sebelum pria itu selesai bicara.“Nona!”“Aku tahu.”Sepatu Aru menghantam genangan air. Dingin langsung merambat ke pergelangan kakinya. Namun ia terus berjalan cepat menuju pintu utama.Paman Dion dan Gerry menyusul di belakang, Begitu masuk ke dalam gedung, aroma antiseptik langsung menyambut mereka, Lobi terlihat normal.Seorang resepsionis masih duduk di mejanya, Dua perawat masih berjalan di koridor, Tidak ada tanda-tanda penyerangan.“Ini tidak masuk akal,” bisik Paman Dion. G

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 97 : Mereka Tidak Memburu Ayahku

    “Bisma?”Suara Aru nyaris tidak terdengar.Satu kata itu terasa asing saat keluar dari bibirnya sendiri, Mobil yang melaju di tengah hujan mendadak terasa sempit, Udara di dalam kabin seperti menghilang sedikit demi sedikit.“Tidak mungkin.”Kalimat itu keluar lebih cepat dari pikirannya.Karena beberapa jam lalu Bisma berada di meja operasi, Beberapa jam lalu ia hampir kehilangan nyawanya. Dan sekarang Gerry mengatakan ada rekaman yang menunjukkan Bisma berada di lokasi ledakan?“Itu tidak mungkin.”Kali ini Aru mengulanginya dengan lebih tegas.Gerry mengangguk pelan.“Awalnya saya juga berpikir begitu, nona.”“Lalu?”“Karena itu saya meminta rekamannya diperiksa tiga kali.”Jemari Aru perlahan mengepal di atas pangkuannya.“Dan?”“Wajahnya terlihat seperti Bisma.”Seperti, Bukan Bisma. Perbedaan kecil itu langsung ditangkap Aru, Matanya menyipit.“Seperti?”Gerry membuka laptop lagi, Beberapa detik kemudian sebuah cuplikan CCTV muncul di layar.Gambar malam hari, Kualitas rendah, H

  • Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku   Bab 96 : Orang yang Selalu Satu Langkah di Depan

    “Ini rencana Ayah.”Suara Aru terdengar pelan di dalam mobil yang mendadak sunyi, Hujan masih turun di luar. Tetesannya menghantam atap mobil dengan ritme yang tidak beraturan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca yang basah, menciptakan bayangan samar yang bergerak mengikuti laju hujan.Gerry menoleh.“Maaf, nona?”Aru tidak langsung menjawab, Tatapannya tetap lurus ke depan. Namun perlahan jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.“Orang tua itu memiliki sesuatu yang sangat besar.”Suaranya terdengar lebih tenang sekarang, Terlalu tenang.“Dan dia tidak ingin aku mengetahuinya.”Dion mengernyit.“Atau orang lain,” lanjut Aru pelan.Keheningan kembali turun, Karena semakin mereka mengikuti jejak ayah Aru, semakin terlihat bahwa semua kejadian ini bukan kebetulan, Kematian palsu.Safe house.Hendra.Warisan.Surat.Flashdisk.Semuanya seperti potongan puzzle yang sengaja disebar, Dan seseorang terus memastikan mereka selalu terlambat satu langkah.“Kalau benar begitu...” Dion mengh

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status