LOGINRapat dewan berjalan dengan mulus. Diego berhasil mempertahankan posisinya. Beberapa dewan ada yang tidak setuju, tetapi kekuatan keluarga Smith membuat posisi Diego semakin mapan. Video skandal itu menjadi topik hangat. Bahkan ada yang menyudutkan posisi Diego. Melakukan pelecehan terhadap sekretarisnya di tempat kerja. Namun, saat Alexander Smith berbicara, semua bungkam dan setuju jika Diego tetap memimpin Stanford Corporation. “Hari yang melelahkan.” Diego meregangkan kedua lengannya ke atas. Semua dewan sudah meninggalkan ruangan. Termasuk ayah Laura dan Robert Stanford. Diego duduk bersandar di kursi paling ujung dengan tangan dilipat. Memejamkan matanya setelah melewati badai. Biasanya setelah rapat, di ruangan ini Diego menghabiskan waktu sesaat bersama Valerie, bercumbu mesra, menghabiskan tawa bersama saat Diego menyusuri lekuk manis bibirnya. “Valerie…” desis Diego. Lelaki itu masih bersandar, merasakan kehadiran Valerie dalam bayangannya. Kacamata dan noted kecil yan
“Ibu?” Diego melihat ibunya duduk di kursi roda. Wanita itu memandang taman dengan tatapan kosong. Tubuhnya seperti patung, hanya duduk dan menurut. Selama ini ia tidak tahu jika ternyata ayahnya merawat ibunya di rumah. Lelaki tua itu menyembunyikan keberadaan ibunya dan mengancam Diego. Namun, kali ini wanita itu tiba-tiba muncul dengan Laura di sampingnya. “Diego, kamu sudah bangun?”Laura berbalik tersenyum saat Diego datang. Ia menghampiri Diego yang baru saja datang, tetapi lelaki itu melewatinya begitu saja dan berjongkok di depan kursi roda. Kesal, tapi Laura mencoba menahannya. “Dia butuh udara segar. Ayahmu menitipkannya padaku.” “Ibu, bagaimana keadaanmu?” tanya Diego khawatir. Tidak peduli dengan perkataan Laura.Tangannya mengusap lutut ibunya. Wajah sayu wanita itu memancarkan kesedihan, kekosongan, tekanan, tetapi bibirnya tak mengeluarkan sepatah katapun. Air mata tiba-tiba lolos begitu saja meluncur membasahi pipinya. Diego langsung mengusapnya perlahan. Tangann
Langit Chicago terlihat gelap saat Diego memasuki kawasan penthouse miliknya. Tubuhnya cukup lelah mengemudi jarak jauh, tapi sebanding dengan apa yang ia rasakan meskipun tidak bertemu dengan Valerie. Diego merogoh saku mengambil kunci apartemen, tapi pintu apartemen ternyata tidak terkunci. Ayahnya sudah bediri tegak membelakanginya memakai vest biru dengan kemeja putih di dalamnya. Kedua tangannya masuk saku, bahunya terlihat tegang. “Bodoh!” Robert Stanford langsung berbalik saat mendengar langkah kaki masuk. Diego tetap berdiri di tempat dengan wajah lelahnya. Bersikap tenang menghadapi lelaki temprament di depannya. “Sejak kapan kamu jadi bodoh seperti ini?” “Bodoh? Saya hanya realistis. Perjalanan Cleveland ke Chicago memakan waktu 6-7 jam perjalanan. Tidak mungkin saya bisa datang.” Dengan santainya Diego menjawab pertanyaan ayahnya. Lelaki itu beranjak melewati ayahnya. Melepas jaket dan duduk bersandar di sofa. Memejamkan mata, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku be
Diego mengguyur tubuhnya dengan air dingin di bawah shower. Ia mengusap wajahnya berulang kali mengacak rambutnya menghilangkan sisa panas di tubuhnya yang tersisa. Laura menjebaknya, istrinya membuat Diego kehilangan kendali dengan menambah obat perangsang di minumannya. Namun, Diego berhasil menepisnya dan berlari ke kamar mandi. L"Laura…” Diego menyebut namanya dengan amarah. Air dingin menghantam tubuh Diego tanpa jeda. Kepalanya tertunduk, kedua tangan menempel di dinding shower. Ia marah pada situasi yang hampir menjatuhkannya.Diego mematikan keran dan berdiri di depan cermin. Wajahnya keras, garis rahangnya menegang. Ia memakai kaus putih polos dengan gerakan cepat.Membuka pintu kamar mandi dan Laura sudah berdiri di depan menunggu. Wanita itu masih mengenakan gaun tipis yang sama seperti sebelumnya. Rambutnya tergerai, wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.“Kamu sudah tenang?” tanya Laura, suaranya lembut. Diego melewatinya untuk mengambil jaket. Tidak p
Pintu apartemen terbuka, ruangan terlihat rapi dan sunyi. Pintu tidak dikunci dan Diego berhasil masuk tanpa harus mendobraknya.“Valerie, sayang,” panggil Diego pelan.Diego melangkah masuk perlahan, tidak menimbulkan suara. Wangi lemon yang segar menyambut kedatangannya dan suasana terasa sunyi seperti tak berpenghuni.“Valerie, jangan sembunyi, sayang. Saya pasti menemukanmu,” ujar Diego.Ia melihat sekeliling, dapur terlihat tanpa aktivitas, wastafel di dapur bersih, tempat sampah kosong. Diego beralih ruang tengah, sepatu Valerie berjejer rapi. Meja dan sofa terlihat bersih tak tersentuh. Tas kecil hitam tergeletak di meja tepat di samping sweater putih yang dipakai Valerie selamam.“Cukup bermainnya Valerie! Jangan menggoda kesabaranku, keluarlah!” Diego mulai tidak sabar.Pintu kamar tertutup rapat, Diego berjalan ke kamar, membuka pintu dan tidak ada Valerie di sana. Seprai dan selimut terlihat rapi, keranjang pakaian kotor menumpuk di sudut dan bingkai foto berjejer rapi di
Diego duduk di meja kerja ruangannya dengan mata merah dan tangan kanannya mengepal, sedangkan tangan kirinya memegang ponsel. “Temukan Valerie sampai dapat!” Perintah Diego. Rahangnya mengeras menelepon orang suruhannya untuk menemukan Valerie. Lelaki itu frustasi, perasaannya menggila saat wanitanya menjauh dan menghilang. Hingga pukul tiga sore, Valerie belum juga muncul kembali menemuinya. Valerie tidak bisa dihubungi, ia tidak meninggalkan pesan apapun. Semalam semuanya baik-baik saja saat Valerie merawatnya. Namun, saat Diego membuka mata. Semua seperti mimpi.“Apa yang kamu rencanakan?” kepalan tangan Diego bergetar, mengencang, hingga pena di sampingnya bergeser. Asisten Diego masuk dengan wajah ketakutan. Kemarahan Diego membuat semua staf eksekutif takut menunjukkan wajah di depan bosnya. Diego menyuruh semua staf eksekutif mencari informasi alamat tempat tinggal orang tua Valerie. “Bagaimana? Kamu sudah mendapat informasinya?” tanya Diego tajam. “Be– lum, Tuan Stanf







