Share

Bab 6

Author: Kalandara
Sesaat kemudian, ponselnya berdering.

Gerald tidak mendengar jelas perkataannya setelah itu. Perhatiannya teralihkan oleh ponsel. Dia melirik layar, dan ekspresinya seketika berubah.

"Nessia terjatuh di kamar mandi. Aku harus pergi ke sana sebentar." Gerald turun dari ranjang dan mulai mengenakan jaket. Baru setengah mengenakannya, dia berhenti dan menoleh ke Tania. "Kamu ikut denganku."

"Nggak." Tania berbaring dan membelakanginya.

"Tania ...."

"Kamu pergi sendiri."

Gerald ragu sejenak. "Dia jatuh di kamar mandi, mungkin nggak mengenakan pakaian. Nggak pantas kalau aku yang masuk. Kamu perempuan, kamu saja yang melihat keadaannya. Lagian, kalau kamu ada di sana, kamu juga bisa memastikan nggak terjadi apa-apa di antara kami."

Tania memejamkan mata, suaranya terdengar sangat datar. "Aku nggak peduli apakah bakal terjadi sesuatu di antara kalian atau nggak."

Gerald menghentikan gerakannya. Dia berbalik dan menatap punggung Tania. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. "Apa katamu? Apa maksudmu kamu nggak peduli apakah bakal terjadi sesuatu di antara kalian atau nggak?"

Tania tidak menjawab.

"Tania, lihat aku!"

Dia tidak bergerak.

Gerald beralih ke sisi lain ranjang, lalu berjongkok dan mencengkeram bahunya agar Tania menghadap dirinya.

Tatapannya begitu rumit. Ada kebingungan, rasa terluka, serta sedikit kemarahan karena merasa tersinggung. "Dulu, kamu nggak seperti ini. Dulu, cuma melihatku berbicara satu kalimat dengan Nessia saja, kamu bisa bersedih selama berhari-hari. Sekarang, kamu bilang kamu nggak peduli?"

"Orang pasti bakal berubah," ujar Tania.

Gerald menatapnya lama. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia berdiri dan menarik Tania dari ranjang. "Ikut aku."

Dia menarik Tania keluar, lalu membawanya masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sesampainya di apartemen Nessia, pintu kamar mandi tertutup. Dari dalam terdengar rintihan yang terputus-putus.

"Kamu masuk dan lihat dia." Gerald mendorong Tania pelan.

Tania membuka pintu kamar mandi. Nessia sedang duduk di lantai. Pakaiannya basah kuyup, rambutnya berantakan, dan matanya sembap karena menangis.

Begitu melihat Tania, dia tertegun sejenak, lalu melirik ke belakangnya.

"Di mana Gerald?"

"Di luar. Kalau kamu bisa berdiri sendiri, berdirilah. Kalau nggak bisa, aku bakal memanggilnya."

Tania berbalik hendak pergi, tetapi Nessia tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

"Waktu aku menelepon, kalian lagi berhubungan intim, ya?" Suara Nessia terdengar parau karena menangis. "Kalian lagi berusaha punya anak? Kalian berencana punya anak?"

Tania tidak berkata apa-apa.

"Maaf, aku nggak bermaksud mengganggu kalian ...." Nessia menangis tersedu-sedu, tetapi suaranya mengandung sindiran tajam. "Tapi, aku benar-benar nggak tahan! Kumohon, jangan punya anak dengannya! Kukira aku bisa menahannya, tapi aku nggak sanggup. Aku bisa menjadi gila!"

Tania memandangi Nessia yang sedang histeris, lalu berkata dengan tenang, "Nggak ada anak. Ke depannya juga nggak bakal ada."

Nessia tidak percaya. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Tania makin erat. "Kamu bohong! Kalian terus bersama selama beberapa hari ini. Dia pasti sudah menyentuhmu ...."

"Nessia, lepaskan."

"Aku nggak percaya ...."

Nessia menariknya dengan kuat. Pergelangan tangan Tania terasa sakit karena dicengkeram. Secara naluriah, dia mengibaskan tangannya.

Nessia menjerit. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan bagian belakang kepalanya membentur tepi bak mandi, menimbulkan suara benturan yang keras.

Pintu didorong terbuka. Gerald menerobos masuk dan langsung melihat Nessia tergeletak di lantai.

"Nessia!" Dia bergegas menghampiri dan menopangnya, lalu memeriksa luka di bagian belakang kepalanya. "Apa yang terjadi?"

Tania baru hendak menjelaskan, tetapi Nessia lebih dulu menangis hingga sulit bernapas. Dengan suara terputus-putus, dia berkata, "Gerald, Nona Tania memfoto tubuh telanjangku dan mengancamku supaya meninggalkanmu. Kalau nggak, dia bakal menyebarkan semua foto itu. Ponselnya sudah penuh dengan fotoku. Bagaimana ini, bagaimana ini ...."

"Aku nggak melakukannya!" Suara Tania akhirnya bergetar, dipenuhi amarah dan ketidakpercayaan. "Nessia, kamu lagi bicara omong kosong apa?"

"Nona Tania, aku tahu kamu membenciku, tapi kamu juga nggak boleh mempermalukanku seperti ini." Nessia makin menjadi-jadi. Dengan mata berkaca-kaca, dia menatap Gerald. "Gerald, aku takut."

"Nessia!" Tania gemetar karena marah. Dia menunjuk Nessia. "Kamu gampang sekali mengarang cerita bohong, ya? Aku tahu apa yang mau kamu lakukan! Dengar ya, aku nggak bakal punya anak dengan Gerald, jadi kamu nggak perlu menggunakan cara seperti ini! Kalau mau menuduh seseorang, setidaknya cari alasan yang lebih masuk akal! Sekarang, minta Gerald lihat ponselku. Memangnya ada foto telanjangmu di dalamnya?"

"Cukup!"

Bentakan Gerald memutus pertengkaran mereka.

Dia melangkah cepat ke depan dan tanpa banyak bicara merebut ponsel yang diangkat Tania. Bahkan tanpa melihatnya, Gerald mengangkat tangan dan membantingnya keras-keras ke lantai.

Brak.

Ponsel itu hancur berkeping-keping, dan bagian-bagiannya berserakan ke segala arah.

Gerald menatap Tania. Matanya dipenuhi rasa jijik dan amarah. "Tania, sudah kukatakan aku bakal berusaha mencintaimu, tapi Nessia itu batas akhirku! Jangan menyentuhnya!"

Tania menatap ponsel yang hancur di lantai, lalu mengangkat kepala dan menatap wajah Gerald yang terdistorsi oleh amarah. Hatinya benar-benar hancur. Dia bertanya dengan suara serak, "Jadi, kamu memercayainya dan nggak memercayaiku?"

Padahal kebohongan itu begitu jelas. Namun, Gerald bahkan tidak mau melihatnya dan langsung memilih memercayai Nessia.

"Nessia polos dan baik hati. Dia nggak pernah berbohong! Tentu saja aku memercayainya!" bentak Gerald dingin. "Di seluruh dunia ini, cuma dia yang kupercaya!"

Setelah mengatakan itu, dia dengan penuh rasa iba menggendong Nessia yang tergeletak di lantai, lalu melirik Tania dengan dingin. Dia menggendong Nessia dan hendak pergi.

Mungkin karena amarah di dalam hatinya belum mereda, saat melewati Tania, bahunya tiba-tiba menghantam tubuh Tania.

Hantaman itu dipenuhi amarah.

Tania baru saja didorong sebelumnya dan masih belum berdiri dengan kokoh. Hantaman itu begitu kuat hingga tubuhnya terjatuh ke belakang.

Bruk!

Di belakangnya terdapat satu dinding kaca besar dari lantai hingga langit-langit sebagai dekorasi.

Kaca besar itu seketika pecah. Pecahan tajam berjatuhan deras seperti air terjun dan menggores kulitnya. Darah seketika mengalir deras, membasahi pakaian tipisnya hingga merah, begitu pula pecahan kaca yang berserakan di lantai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status