Share

Bab 7

Author: Kalandara
Tania meringkuk di tengah genangan darah, tubuhnya gemetar menahan sakit. Gerald tampaknya juga tidak menyangka akibatnya akan separah ini. Langkahnya terhenti, dan dia baru hendak menoleh.

"Ah! Darah ... darahnya banyak sekali. Aku takut melihat darah."

Nessia yang berada dalam pelukannya tiba-tiba berseru lemah. Tubuhnya perlahan merosot dan wajahnya membenam di dada Gerald.

Seruan yang datang pada saat yang tepat itu seketika memutus keraguan Gerald yang nyaris tak terlihat.

Dia menunduk melirik Tania yang berlumuran darah dan tergeletak tak berdaya di antara pecahan kaca. Rasa terkejut di matanya dengan cepat tertutupi oleh ketegasan yang dingin.

"Ini akibat ulahmu sendiri." Dia menatap Tania yang tergeletak di lantai dan berkata dingin, tanpa sedikit pun rasa iba. "Pergi ke rumah sakit sendiri. Jangan bertindak sembarangan lagi."

Setelah mengatakan itu, Gerald tidak lagi melirik Tania. Sambil menggendong Nessia, dia melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Tania merasa seolah-olah lebih baik mati daripada menanggung rasa sakit ini. Namun, seluruh rasa sakit di tubuhnya bahkan tidak sebanding dengan seperseribu rasa sakit yang dirasakannya di dalam hati.

Dia menatap pintu yang tertutup rapat itu, lalu perlahan memejamkan mata.

....

Ketika sadar kembali, Tania mendapati dirinya sudah terbaring di rumah yang dikenalnya.

Luka-luka di tubuhnya telah dibalut dengan baik. Pada detik terakhir sebelum pingsan, dia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk memanggil dokter pribadinya.

Terdengar ketukan di pintu. Asisten Gerald masuk dengan ekspresi yang menunjukkan sedikit ketidakberdayaan dan kerumitan.

"Nyonya," ujar sang asisten pelan. "Nona Nessia mengalami trauma psikologis yang cukup parah. Pak Gerald ingin menemaninya, sekaligus meminta maaf atas tindakan yang Anda lakukan sebelumnya. Beliau meminta Anda menunggunya beberapa hari. Setelah itu, beliau nggak bakal berhubungan lagi dengan Nona Nessia."

Tania berbaring diam di atas ranjang dan menatap langit-langit. Suaranya lemah, tetapi terdengar jelas. "Nggak perlu. Dia boleh terus menemaninya. Aku merelakan mereka menjadi sepasang kekasih yang sama-sama malang."

Sang asisten menghela napas dan mencoba memberi pengertian, "Nyonya, jangan marah lagi."

Tania memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa lagi.

Sang asisten kembali menghela napas, lalu meletakkan sebuah paket di nakas. "Ini paket yang saya terima saat Anda tidur. Sepertinya dikirim oleh pengacara. Anda beristirahatlah dengan baik. Saya pergi dulu."

Suara langkah kaki perlahan menjauh, lalu pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Setelah menunggu beberapa saat, Tania baru menopang tubuhnya untuk duduk dan mengambil paket itu.

Dia membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah map tipis.

Tania membuka map itu dan benar saja, di dalamnya terdapat akta cerai yang sudah selesai diproses.

Dia menatap tulisan "mengakhiri ikatan perkawinan" yang tertera di sana untuk waktu yang lama.

Kemudian, Tania tersenyum. Namun, baru sekali tersenyum, air matanya sudah jatuh.

Dia menyeka air matanya, menyimpan akta cerai itu, lalu turun dari ranjang, membuka lemari pakaian, dan mulai berkemas.

Barang-barangnya tidak banyak. Hanya beberapa potong pakaian ganti, beberapa buku, dan sebuah foto lama.

Dalam foto itu, dia yang berusia delapan belas tahun berdiri di depan gerbang universitas dan mengenakan gaun merah. Senyumnya begitu cerah dan penuh percaya diri, bagaikan mawar merah yang sedang mekar sempurna.

Tania memasukkan foto itu ke dalam tas, lalu menarik resletingnya.

Angin malam berembus masuk, terasa dingin menusuk. Dia membawa koper turun ke lantai bawah dan menghentikan sebuah taksi.

"Mau ke mana?" tanya sopir.

"Bandara."

Mobil melaju ke jalan layang. Gemerlap lampu kota perlahan menjauh di belakangnya.

Tania mengeluarkan ponselnya, mematahkan kartu SIM menjadi dua, lalu membuangnya melalui jendela mobil.

Mulai sekarang, nama Gerald sudah tidak ada hubungannya lagi dengannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status