MasukBegitu sampai di penthouse, Arlan melepas jasnya dengan kasar."Lia, masuk ke kamar. Aku harus memeriksa log data Kael. Ada sesuatu yang aneh dengan suhu prosesornya di pesta tadi," perintah Arlan tiba-tiba.Jantung Lia seakan berhenti. “Apa dia menyadari dongle itu?” batinnya."Mungkin hanya karena udara aula yang panas, Arlan. Biarkan saja dia mati (off) untuk malam ini," Lia mencoba bersuara senormal mungkin.Arlan berhenti melangkah. Dia menatap Lia dengan mata menyipit. "Sejak kapan kau peduli pada efisiensi daya robot ini, Lia? Biasanya kau ingin dia selalu menyala."Arlan berjalan mendekati Robot Kael yang berdiri di sudut ruang tamu. Dia membuka panel kontrol di tengkuk robot itu. Lia menahan napas. Jika Arlan menemukan dongle enkripsi yang masih terpasang, tamatlah riwayat mereka."Buka protokol transmisi," perintah Arlan pada tabletnya.Lia berdiri terpaku di ambang pintu kamar. Dia melihat jemari Arlan menelusuri kabel-kabel halus di leher robot itu.Tiiit."Kosong?" gumam
Lia tersenyum. Senyum yang sempurna, hasil latihan di depan cermin selama berhari-hari. Dia menyapa para menteri dan pengusaha, menjawab pertanyaan teknis mereka tentang AI dengan kecerdasan yang membuat Arlan bangga."Nona Lia, Anda benar-benar otak di balik kemajuan Arlan Corp," puji seorang investor."Saya hanya membantu tunangan saya merealisasikan visinya," jawab Lia manis, sambil tangannya diam-diam meraba saku jas Arlan saat pria itu sibuk mengobrol.Dia mendapatkannya. Dongle enkripsi keamanan Arlan.Lia berpura-pura butuh ke kamar kecil. Arlan mengizinkannya, tapi memberi isyarat pada Robot Kael untuk mengikutinya.Di koridor sepi menuju toilet, Lia berhenti. Dia berbalik menatap Robot Kael."Kael, dengarkan aku," bisik Lia panik. Dia memasukkan dongle itu ke port rahasia di bawah pergelangan tangan robot itu, celah yang dia temukan saat "bekerja" kemarin.Lampu indikator di mata robot itu berkedip biru cepat."Akses... diterima..." suara mesin itu berdesis."Hubungkan ke Wi-
Suara berat Arlan terdengar dari ambang pintu.Lia tersentak. Dia melepaskan tangan robot itu secepat kilat dan berdiri. Jantungnya berpacu kencang.Arlan berdiri di sana, bertelanjang dada, menyandarkan bahunya di kusen pintu. Wajahnya datar, matanya menyipit curiga."Apa yang kau lakukan di sini jam 3 pagi?" tanya Arlan pelan. "Bicara dengan toaster canggihmu lagi?"Lia menarik napas dalam, memasang topeng dingin yang sering dia pakai saat bernegosiasi bisnis di Aridonia."Aku haus," bohong Lia. "Dan aku... aku cuma ingin memastikan kau tidak merusak coding-nya tadi saat mengamuk."Arlan berjalan mendekat. Dia menatap Lia, lalu menatap robot itu. Dia menyentuh leher robot Kael, memeriksa suhu mesinnya."Suhunya naik 2 derajat," gumam Arlan, curiga. Dia menatap Lia tajam. "Kau menyalakannya?""Tidak," jawab Lia cepat. "Mungkin... mungkin sistem pendinginnya bermasalah karena ruangan ini panas. Kau mematikan AC tadi."Arlan menatap Lia lama, mencari kebohongan. Tapi Lia balas menatapn
Tadi, di atas meja itu... ada sekian detik di mana dia lupa nama Kael. Ada sekian detik di mana dominasi Arlan, kepintaran Arlan, dan cara Arlan menyentuhnya membuat otaknya korslet. Arlan benar. Tubuhnya merespons. Dia mendesah. Dia menikmati gesekan itu meski hatinya menjerit menolak.Itu adalah pengkhianatan terburuk.Tiba-tiba, pintu kaca shower terbuka.Lia tersentak, menutupi tubuhnya dengan tangan. Arlan berdiri di sana. Dia sudah berpakaian santai kaos polos hitam dan celana sweatpants abu-abu tapi auranya masih sama mengintimidasinya."Jangan digosok terlalu keras, Sayang," tegur Arlan lembut. Dia masuk ke dalam shower, tidak peduli pakaiannya basah.Arlan mengambil spons dari tangan Lia yang gemetar."Kau akan melukai kulit indah ini," bisik Arlan. Dia mulai membasuh punggung Lia dengan gerakan pelan dan sensual. "Bekas merah di lehermu itu... biarkan saja. Itu tanda tangan seniman di atas karyanya."Lia memejamkan mata, membiarkan Arlan memandikannya lagi. Dia tidak punya t
"Arlan, jangan..." napas Lia tercekat."Jangan apa?" tantang Arlan. Tangannya yang bebas merambat naik dari paha Lia, menyusup ke balik rok kerjanya, jari-jarinya yang kasar namun ahli menelusuri kulit paha bagian dalam Lia yang sensitif. "Jangan berhenti? Atau jangan menahan diri?"Arlan menatap mata Lia lekat-lekat sementara tangannya terus bergerak naik, menggoda batas kewarasan Lia dan menemukan sesuatu yang sangat berharga."Kau basah, Lia," bisik Arlan kotor, seringai kemenangan muncul di wajahnya. "Tubuhmu jujur. Otakmu mungkin membenciku, mulutmu mungkin memanggil nama Kael... tapi tubuhmu? Tubuhmu bereaksi padaku.""Itu... itu reaksi biologis!" bantah Lia, wajahnya memerah padam karena malu dan marah."Persetan dengan biologi," geram Arlan. Dia menarik pinggang Lia mendekat, menekankan ereksinya yang keras ke pusat tubuh Lia, menggeseknya perlahan. "Ini dominasi, Sayang. Aku memprogrammu ulang."Arlan kembali menyerang leher Lia, menghisap kulit putih itu hingga meninggalkan
Hari-hari berikutnya menjadi pola baru yang aneh dan mengerikan. Arlan tidak lagi mengurung Lia di kamar. Dia mengurung Lia di dalam pekerjaan.Arlan memberi Lia satu set komputer canggih tepat di sebelahnya. Dia memberikan tugas-tugas rumit optimasi render, perbaikan AI, desain quest tingkat tinggi.Lia awalnya menolak. Tapi Arlan tahu kelemahannya."Kalau kau tidak menyelesaikannya dalam satu jam, aku akan mengurangi jatah baterai 'Kael'," ancam Arlan santai sambil menyeruput kopi.Lia terpaksa bekerja. Dan yang mengerikan adalah... dia menikmatinya. Bagian otak Lia yang mencintai tantangan logika tidak bisa dimatikan. Saat dia berhasil memecahkan masalah kode yang rumit, ada kepuasan instan yang muncul, dan Arlan ada di sana untuk merayakannya."Jenius," puji Arlan saat Lia berhasil mengompresi data sebesar 50%.Arlan berdiri di belakang kursi Lia, memijat bahu wanita itu. Sentuhannya posesif."Lihat? Kita tim yang hebat," bisik Arlan. "Kau yang mendesain arsitekturnya, aku yang me







