Share

Mabuk

Author: Dahlia Cici
last update publish date: 2026-05-26 18:11:01

Naura akhirnya mengambil satu gelas minuman dari meja. “Malam ini aku mau senang-senang,” gumamnya pelan.

Musik semakin keras. Lampu klub bergerak cepat mengikuti dentuman lagu. Untuk pertama kalinya sejak tinggal serumah dengan Raka, Naura merasa kepalanya sedikit lebih ringan.

Bela langsung menarik tangannya ke tengah keramaian. “Ayo! Jangan bengong terus!”

Naura tertawa kecil meski masih sedikit canggung. Ia tidak benar-benar suka party, tapi malam ini ia ingin melupakan semuanya. Tentang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Serumah Dengan Mantan   Cium

    Naura tertawa kecil sambil berjalan sempoyongan menuju dance floor. Musik menghentak keras memenuhi ruangan. Lampu warna-warni terus bergerak cepat mengikuti dentuman lagu. “Nah gitu dong!” teriak Bela heboh. Naura ikut tertawa. Kepalanya terasa ringan. Bahkan terlalu ringan. Ia mulai ikut bergerak mengikuti musik. Rambut panjangnya terurai berantakan, sementara rok hitam yang kini jauh lebih pendek membuat beberapa pasang mata mulai memperhatikannya. Dan itu membuat Naura semakin tidak sadar diri. Beberapa pria mulai mendekat. “Boleh gabung?” “Cantik banget sih…” “Dari tadi sendirian?” Naura hanya tertawa kecil sambil menggeleng. Namun karena pengaruh alkohol, tubuhnya justru semakin santai. Ia bahkan sempat ikut bernyanyi bersama musik yang terdengar samar di telinganya. Sungguh, Naura tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sementara di sisi lain ruangan, rahang Raka menegang keras. Tatapannya lurus menatap Naura yang sedang dikerumuni beberapa pria. Wajahnya dingin. Namun sor

  • Serumah Dengan Mantan   Mabuk

    Naura akhirnya mengambil satu gelas minuman dari meja. “Malam ini aku mau senang-senang,” gumamnya pelan. Musik semakin keras. Lampu klub bergerak cepat mengikuti dentuman lagu. Untuk pertama kalinya sejak tinggal serumah dengan Raka, Naura merasa kepalanya sedikit lebih ringan. Bela langsung menarik tangannya ke tengah keramaian. “Ayo! Jangan bengong terus!” Naura tertawa kecil meski masih sedikit canggung. Ia tidak benar-benar suka party, tapi malam ini ia ingin melupakan semuanya. Tentang rumah itu. Tentang status baru mereka. Tentang Raka yang terus membuat pikirannya kacau. Beberapa menit berlalu. Naura mulai lebih santai. Ia bahkan ikut tertawa saat salah satu temannya mulai berjoget aneh di tengah kerumunan. “Nah gitu dong, Naura!” teriak Bela. “Sekali-sekali lepasin stres!” Naura mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun di saat itulah, seseorang menyodorkan gelas baru ke tangannya. “Nih, coba ini,” ujar salah satu teman pria di kelasnya. Naura menatap cairan berwarna k

  • Serumah Dengan Mantan   Aku Mau Senang-Senang

    Malam hari. Rumah besar itu sudah mulai sepi. Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh malam. Dari celah pintu kamar, Naura mengintip pelan ke arah koridor. Suasana begitu sunyi. Naura langsung menarik napas lega.“Oke… sekarang atau nggak sama sekali,” gumamnya pelan.Ia sudah berganti pakaian sejak tadi. Dress hitam sederhana dengan jaket tipis di luar. Rambutnya dibiarkan terurai natural. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuat dirinya terlihat berbeda.Naura berjalan pelan sembari berjinjit menuruni tangga. Matanya beberapa kali melirik ke arah ruang kerja Raka yang pintunya tertutup.“Aman…”Namun baru satu langkah menuju pintu depan...“Naura.”Tubuhnya langsung membeku. Pelan-pelan Naura menoleh. Dan benar saja, Raka duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang laptop di pangkuannya. Lampu ruang tamu yang redup membuat wajahnya terlihat semakin dingin.“Kamu mau ke mana?”Naura langsung salah tingkah sepersekian detik, tapi ia cepat-cepat memasang wajah santai.“Kelua

  • Serumah Dengan Mantan   Cemburu?

    “RAKA!” pekik Naura kaget.Tubuhnya langsung terangkat begitu saja ke pundak Raka.“Turunin aku!” teriak Naura sambil memukul punggung Raka pelan karena panik. Beberapa mahasiswa langsung menoleh heboh ke arah mereka.“Ya Tuhan, itu Naura, kan?” “Cowoknya siapa?”Namun Raka berjalan tetap tenang seolah tidak peduli dengan semua tatapan itu. Wajahnya masih dingin. Rahangnya mengeras. Satu tangannya menahan kaki Naura agar tidak jatuh.“Raka! Aku malu!” desis Naura panik.“Kalau nggak mau malu, seharusnya dari tadi nurut,” jawab Raka datar.Naura semakin kesal. “Aku bisa jalan sendiri!”“Tapi kamu keras kepala.”“Dan kamu nyebelin!”Raka tidak membalas lagi. Ia langsung membuka pintu mobil dan menurunkan Naura ke kursi dengan cepat namun tetap hati-hati.Brak.Pintu mobil tertutup. Naura langsung menatap tajam ke arah Raka dari dalam mobil. “Kamu gila ya?!”Raka berjalan memutari mobil tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian ia masuk ke kursi kemudi dan langsung menjalankan mobil.Suas

  • Serumah Dengan Mantan   Mister Posesif

    Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi kamu memang sengaja goda aku, Naura. Mulai dari rambut, sampai sekarang masalah sabuk pengaman," ucap Raka hampir berbisik.Naura menelan ludah. “Jangan ngaco,” balasnya cepat, berusaha terdengar tegas meski jantungnya mulai kacau lagi.Raka terkekeh pelan. Tangannya bergerak turun ke arah sabuk pengaman di dekat bahu Naura.“Diam dulu,” ucapnya singkat. Beberapa detik kemudian sabuk pengaman terlepas. Namun Raka tidak langsung mundur. Wajahnya masih terlalu dekat. Tatapannya turun sejenak ke leher Naura yang terbuka karena rambut yang terurai. Naura langsung menahan napas. “Lain kali jangan bikin aku salah fokus di jalan.” Kalimat itu membuat pipi Naura langsung memanas.Naura segera mend

  • Serumah Dengan Mantan   Masih Posesif

    Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.Deg.Deg.Deg.Jantungnya berdetak kacau.“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan masih mencengkram kemeja Raka tanpa sadar. Sementara tangan Raka tetap menahan pinggang Naura dengan kuat, seolah takut Naura benar-benar jatuh.Tatapan Raka turun lagi ke bibir Naura. Lalu kembali ke matanya. Ada sesuatu di sana. Bukan dingin, bukan juga marah. Lebih seperti emosi yang selama ini ditahan.Naura menelan ludah. “Apa yang kamu lakuin?” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura dalam-dalam. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.Beberapa detik berlalu. Dan waktu terasa jauh lebih lambat. Namun tiba-tiba, Raka menarik napas panjang. Rahannya menegang, dan perlahan ia menjauhkan wajahnya. Seakan baru tersadar dengan apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status