Share

Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh
Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh
Author: Steve

Bab 1

Author: Steve
Tangan perawat yang memegang gunting menggantung canggung di udara.

Sambil menahan rasa sakit, aku menggantikan Agus memotong tali pusar bayi kami.

Aku menatap wajah mungil yang asing itu, hatiku terasa begitu hampa.

Enam tahun saling mencintai, tiga tahun menjalani pernikahan, ternyata tetap tidak sebanding dengan gadis yang baru dikenalnya selama setengah tahun.

Saat aku didorong keluar dari ruang operasi, Ibu langsung menghampiriku dengan wajah cemas.

Awalnya, dia menanyakan keadaanku. Tapi setelah itu, dia mulai mengomel.

“Agus selama ini kelihatannya cukup bisa diandalkan. Kenapa begitu kamu melahirkan, dia malah pergi setelah menerima telepon?”

“Memangnya ada urusan sebesar apa sampai nggak bisa menemani istrinya melahirkan?”

Aku menajamkan sudut bibirku, “Ibu, sudah ada perempuan lain di dalam hati Agus.”

“Aku mau cerai dengannya.”

Seketika, kemarahan di wajah Ibu langsung membeku.

Dia terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca, lalu hanya mengusap keringat di dahiku dengan penuh kasih.

“Apa pun yang ingin kamu lakukan, Ibu akan mendukungmu.”

Mendengar kalimat itu, aku tak mampu lagi berpura-pura kuat. Aku langsung memeluk Ibu dan menangis sepuas-puasnya.

Saat berusia delapan belas tahun, Agus pernah berani menghadapi puluhan berandalan demi membelaku.

Bahkan ketika tenaganya sudah terkuras habis, dia masih berusaha memelukku untuk menenangkanku.

Pria yang dulu bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untukku itu, kini telah mengalihkan pandangannya kepada perempuan lain.

Seharusnya sejak mengetahui Agus berubah hati, aku langsung menceraikannya.

Tapi aku tidak tega meninggalkan anak yang ada di dalam kandunganku.

Usianya sudah tiga bulan. Dari hasil USG pun, bentuk wajahnya sudah mulai bisa terlihat.

Jadi, begitu Agus keluar dari kamar mandi, aku langsung mengungkapkan semuanya kepadanya.

Malam ketika dia mengurung diri di ruang kerja, aku juga menghabiskan semalaman di balkon, membiarkan tubuhku diterpa angin dingin.

Pada akhirnya, Agus tetap memilihku.

Di hadapanku, dia mengajukan permohonan kepada pihak kampus untuk memindahkan mahasiswinya dan menyerahkan Melia kepada rekan kerjanya.

Pisah ranjang saat malam itu seolah hanyalah sebuah mimpi.

Namun, aku tahu sudah ada retakan dalam hubungan antara aku dan Agus.

Cepat atau lambat, retakan itu akan membuat hubungan kami hancur berantakan.

Hanya saja, aku tidak menyangka hari itu akan datang secepat ini.

Sehari setelah melahirkan, akhirnya aku bertemu lagi dengan Agus.

Dia datang bersama Melia.

Sepertinya gadis itu baru saja mengalami sesuatu yang menakutkan. Dia terus mengikuti di sisi Agus dan tangan mungilnya mencengkeram ujung pakaian Agus.

Melia ditinggalkan di depan pintu kamar rawat.

Agus berlutut di hadapanku dengan wajah penuh rasa bersalah sekaligus penuh harapan.

“Bayi kita laki-laki atau perempuan?”

Pemandangan ini terasa begitu familiar.

Malam itu, dia juga berlutut dekat kakiku seperti ini, berjanji bahwa dia tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Melia.

Aku menepis tangannya, lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk menampar Agus.

“Pergi kamu!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 10

    Agus tersenyum getir, “Aku sudah mengerti. Kamu nggak perlu mengatakannya lagi.”Dia mengambil pena, tapi tangannya terus gemetar.Dulu, saat kami menikah, tangan Agus juga gemetar seperti ini.Pria yang bisa berbicara dengan lancar di hadapan puluhan ribu orang saat mengajar, malah kehilangan ketenangannya di hadapan ratusan tamu di pesta pernikahan kami.Dia berkata, “Angel, akhirnya aku bisa menikahimu.”Dulu, cintanya memang nyata.Begitu pula kebencianku sekarang.Pada akhirnya, ketika cinta telah sampai di penghujung jalan, semuanya bergantung pada hati nurani.Pada akhirnya, Agus tetap menandatanganinya.Dia mendorong surat cerai itu kembali kepadaku. Suaranya terdengar serak.“Angel, setelah kita bercerai, aku masih boleh menemui anak kita?”Aku menatapnya, lalu mengangguk.“Boleh. Tapi kamu nggak boleh membawanya menemui orang-orang yang nggak berhubungan.”Agus terlihat lega, tetapi kesedihan yang tak berujung juga terpancar di wajahnya.“Baik, terima kasih.”Setelah masa ten

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 9

    Akun media sosialnya dilaporkan hingga akhirnya diblokir. Bahkan artikel-artikel yang dulu memujinya satu per satu kembali diungkit dan kini justru dijadikan bukti bahwa dia hanyalah seorang munafik.Pada akhirnya, Agus tidak punya pilihan selain muncul dan menerima wawancara dari media.Dia tidak menyangkal bahwa dirinya memang telah berselingkuh secara emosional. Dia juga mengungkapkan semua perbuatan Melia sebelumnya kepada publik.“Aku selalu menganggap diriku sebagai orang yang berintegritas. Tapi pada akhirnya, aku tetap kalah oleh kelemahan yang ada dalam diri seorang pria.”“Aku pikir aku hanya memberikan perhatian lebih kepada seorang mahasiswa. Tapi ternyata, hatiku sudah terombang-ambing di antara dua perempuan.”“Aku bersalah kepada istriku. Aku juga sudah nggak pantas lagi mengajar dan mendidik orang lain.”Setelah itu, Agus mengajukan pengunduran diri kepada pihak kampus.Sedangkan Melia, berkat terus menjual kisah penderitaannya, berhasil mengumpulkan cukup banyak pengik

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 8

    “Aku benar-benar mengira keluarganya miskin, orang tuanya lebih menyayangi anak laki-laki. Aku hanya merasa kasihan kepadanya.”Ini sudah keempat kalinya Agus berlutut di hadapanku.Namun, kali ini hatiku tidak lagi bergejolak. Yang tersisa hanya rasa lelah yang tak berujung.Aku menarik tanganku perlahan.“Agus, di dunia ini masih banyak orang yang jauh lebih membutuhkan belas kasihan daripada dia.”“Kalaupun semua yang dikatakan Melia itu benar, dia bisa mengajukan beasiswa atau mencari pekerjaan paruh waktu.”“Kamu hanya gurunya. Tapi apa yang kamu lakukan untuknya sudah jauh melampaui batas seorang guru.”“Bangunlah, lututmu nggak seharusnya direndahkan seperti ini.”Aku berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu, memisahkan diriku dari tangisan dan permohonan Agus di luar.Hari-hari berikutnya, Agus bertindak seperti orang gila.Setiap hari dia datang ke bawah apartemen tempat Ibu tinggal, menunggu dari pagi hingga malam.Sarapan yang dia beli tidak kubuang. Aku langsung memberikan

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 7

    “Mana mungkin aku nggak kenal? Mantan istriku meninggalkanku dan membawa pergi anak kami karena gadis itu.”“Dulu dia bilang keluarganya memaksanya menikah. Aku sudah memberinya kurang lebih enam miliar dari awal.”“Setelah itu, mantan istriku mengetahui semuanya. Rumah tanggaku hancur berantakan. Jangan-jangan kamu juga ditipu olehnya?”Setiap kata itu terasa seperti hantaman keras yang menghantam hati Agus.Dia menutup telepon, lalu menghubungi nomor kedua dan ketiga.Jawaban yang didapat semuanya sama.Cara yang sama, alasan yang sama dan akhir yang sama, yaitu keluarga yang hancur berantakan.Agus menatap gadis yang dulu begitu dia kasihi dan ingin lindungi itu. Seketika, perutnya terasa mual.Dia bahkan meninggalkan istrinya saat nyawa sang istri berada di ujung tanduk hanya demi perempuan penuh kebohongan dan kelicikan seperti ini. Bahkan dirinya sendiri yang mendorong istrinya semakin dalam ke dalam penderitaan.“Pergi!”Dia menggeram kata itu.Agus langsung mengusir Melia yang

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 6

    Pintu lift menutup, seolah-olah menggambarkan hubungan antara aku dan Agus yang sejak awal memang sudah berjalan ke arah yang berbeda.Sesampainya di rumah Ibu, dia sedang menenangkan anakku.Begitu melihatku pulang, Ibu segera mengambil koper dari tanganku.“Kamu sudah membicarakan semuanya dengannya?”Aku mengangguk sambil mencubit pipi kecil putriku.“Bu, mulai sekarang aku harus merepotkan Ibu untuk menjaga si Lulu.”“Dasar kamu, kita ini keluarga. Apa yang perlu direpotkan?”Ibu pura-pura marah, lalu masuk ke dapur dan mengambilkan semangkuk sup ayam yang masih hangat untukku.“Justru kamu, kamu kurus sekali setelah melahirkan. Harus makan lebih banyak supaya tubuhmu cepat pulih.”Mataku terasa panas, nyaris saja air mata jatuh. Aku hanya menjawab pelan, “Iya.”…Di saat yang sama, Agus dan Melia sedang bertengkar hebat.Agus menepis tangan Melia dengan jijik.Dorongannya begitu kuat hingga wanita itu terhuyung dan membentur pintu.Mendengar suara keributan, tetangga buru-buru mem

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 5

    Aku menatap Agus dengan dingin, menunggu dia mengambil dokumen yang kulemparkan.Namun, Melia lebih dulu panik dan berusaha merampasnya.“Jangan sentuh!”Agus membentaknya dengan tegas, lalu mengambil dokumen itu dan mulai membacanya.Semakin banyak halaman yang dibacanya, ekspresi wajahnya perlahan berubah. Dari marah, menjadi terkejut, lalu akhirnya memucat karena tidak percaya.“Ini pasti kamu palsukan, ‘kan?”Suaranya terdengar bergetar, “Teknologi sekarang begitu canggih, foto editan seperti ini juga bisa saja dibuat.”Aku menatapnya sambil tersenyum tipis, membuat Agus terdiam.Dia tiba-tiba teringat bahwa tadi Melia hanya mengatakan dirinya mendapat pesan pribadi berisi makian dan disebut sebagai pelakor, tetapi dia langsung menuduhku sebagai pelakunya.Kenapa saat itu dia tidak mengatakan mungkin saja pesan-pesan itu palsu?Raut wajah Melia yang tadinya pucat perlahan kembali normal setelah melihat Agus masih memercayainya.“Pak Agus, Bu Angel memang nggak menyukaiku sejak dulu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status