LOGINPOV Naura
Keesokan paginya, Naura kembali menjalani rutinitasnya.Setelah sarapan bersama Noel dan Jolina, ia berpamitan untuk berangkat ke kampus."Jangan lupa makan siang," pesan Jolina."Iya, Bu.""Dan jangan pulang terlalu malam."Naura tersenyum."Iya."Noel yang sedang membaca koran ikut menimpali."Kalau tugas kuliah terlalu banyak, jangan memaksakan diri.""Ayah juga."Naura mencium tangPOV NauraAkhir pekan akhirnya tiba.Naura berdiri cukup lama di depan lemari. Beberapa pakaian sudah ia keluarkan, tetapi tidak ada satu pun yang terasa cocok.Jolina yang melihatnya dari pintu hanya tersenyum."Sudah hampir setengah jam kamu memilih baju."Naura menghela napas."Aku bingung, Bu.""Ini cuma bertemu keluarga Harsa.""Justru itu."Jolina masuk ke kamar."Kenapa harus terlalu dipikirkan?"Naura terdiam."Aku ingin memberikan kesan yang baik.""Itu boleh.""Tapi jangan sampai kamu menjadi orang lain hanya karena ingin disukai."Naura mengangguk.Akhirnya ia memilih pakaian sederhana dan elegan.Jolina tersenyum."Nah, itu baru anak Ibu."---Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah.Harsa turun dan berjalan menuju pintu."Selamat pagi, Om Noel, Tante Jo
POV NauraNaura masih duduk di tepi tempat tidur.Pikirannya sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Jolina, tetapi satu pertanyaan masih mengganggunya.Bagaimana dengan keluarga Harsa?Ia mengambil ponselnya dan membuka percakapan dengan Harsa.Jarinya sempat mengetik."Keluargamu tahu tentang aku?"Namun Naura menghapusnya."Kenapa aku jadi penasaran begini?"Ia meletakkan ponselnya.Belum sempat berdiri, sebuah pesan masuk.Harsa:"Sudah sampai rumah?"Naura tersenyum kecil.Naura:"Sudah."Harsa:"Hadiahnya sudah dibuka?"Naura menoleh ke arah tote bag yang masih berada di atas meja."Oh iya."Ia mengambilnya dan membuka perlahan.Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kulit dengan pena, serta sebuah kotak kecil.Naura membuka kotak itu.Di dalamnya ada sebuah kalung sederhana denga
POV NauraRapat akhirnya dimulai.Naura duduk di sisi meja bersama tim perusahaannya, sementara Harsa berada di seberang bersama beberapa koleganya.Presentasi berjalan lancar.Beberapa klien memberikan pertanyaan mengenai perkembangan proyek, dan Naura menjawab satu per satu dengan tenang.Setelah hampir dua jam, rapat akhirnya selesai."Kalau begitu, kita lanjutkan tahap berikutnya sesuai jadwal," ujar Naura.Semua orang mengangguk."Terima kasih atas kerja samanya."Satu per satu kolega dan klien mulai meninggalkan ruangan.Tidak lama kemudian, ruangan hanya tersisa Naura, Harsa, dan dua sekretaris mereka.Harsa menatap kedua sekretarisnya."Kalian bisa keluar dulu.""Baik, Pak."Setelah pintu tertutup, Naura membereskan dokumennya."Kamu tadi mau membicarakan sesuatu."Harsa mengangguk."Iya.""Jadi?"Harsa ber
POV NauraMalam itu, setelah makan malam selesai, Naura masih duduk bersama Noel dan Jolina di ruang keluarga.Noel menatap putrinya."Lalu bagaimana? Apakah kamu akan lanjut S2 atau langsung memimpin perusahaan?"Naura tersenyum."Aku sudah mendaftar S2, Yah."Noel terlihat terkejut sekaligus bangga."Sudah mendaftar?""Iya.""Tapi aku masih ikut mengurus perusahaan, kok."Jolina langsung menatap putrinya."Kamu yakin bisa membagi waktunya?"Naura mengangguk."Aku sudah memikirkannya.""Untuk urusan perusahaan, Ayah tetap bisa membantu mengawasi. Aku tidak akan meninggalkan perusahaan."Noel tersenyum."Kalau begitu Ayah mendukung.""Ayah justru senang kamu punya rencana yang jelas."Naura mengangguk."Aku ingin melanjutkan pendidikan sekaligus tetap mengembangkan perusahaan.""Kalau nanti jadwal kuliah t
Note : karena aku lupa nama mama harsa maaf kalau ada kesalahan ya.POV HarsaMalam itu, Harsa masih berada di ruang kerjanya.Beberapa dokumen proyek terbuka di atas meja. Laptopnya masih menyala, sementara ponselnya berada di samping tangan.Ia baru saja selesai membaca pesan dari Naura ketika suara seorang wanita terdengar dari belakang."Apa yang sedang kamu lakukan, Harsa?"Harsa langsung menoleh."Mama?"Hani berdiri di ambang pintu sambil tersenyum."Belum tidur?"Harsa menutup laptopnya."Eh, Mama kok belum istirahat? Nanti dicariin Papa, loh."Hani tertawa kecil."Justru Mama mau mencari kamu."Ia kemudian masuk dan duduk di sofa."Mama merindukan putra Mama."Harsa tersenyum."Aku kan ada di sini.""Iya, tapi kamu semakin sibuk."Hani memandang putranya beberapa saat."Apalagi setelah kejadian dulu, M
POV NauraSore itu, setelah merayakan kelulusannya bersama Noel dan Jolina, Naura memutuskan bertemu dengan Irish.Sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua. Naura merasa ada banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada sahabatnya itu.Mereka akhirnya bertemu di sebuah kafe yang cukup tenang.Irish langsung memeluk Naura."Selamat ya! Akhirnya kamu lulus juga."Naura tertawa."Terima kasih."Mereka duduk berhadapan.Setelah memesan minuman, Irish memperhatikan wajah Naura yang sejak tadi terlihat banyak pikiran."Kenapa?""Kenapa apanya?""Kamu kelihatan tidak sepenuhnya bahagia."Naura terdiam.Irish mengangkat alis."Jangan bohong sama aku."Naura menghela napas."Aku bingung.""Setelah lulus, aku harus memilih.""Memilih apa?""Antara fokus mengembangkan perusahaan atau melanjutkan S2."
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas







