MasukKeesokan paginya, Naura, Harsa, dan Keenan kembali berkumpul di ruang rapat.
Di atas meja sudah terdapat beberapa dokumen dan hasil pemeriksaan sistem.Keenan membuka laptopnya."Aku sudah mendapatkan identitas orang yang menggunakan jaringan lama perusahaan."Naura menatap layar."Siapa?""Namanya Dimas. Mantan kepala bagian keuangan."Harsa mengerutkan kening."Dia sudah keluar sejak kapan?""Hampir enam bulanBeberapa minggu setelah masalah perusahaan selesai, keadaan kembali tenang.Nama perusahaan Naura kembali dipercaya para investor. Proyek yang sempat diterpa masalah justru mendapatkan banyak perhatian positif karena berhasil melewati krisis tanpa menghentikan operasional.Naura juga kembali fokus pada kuliahnya.Pagi kuliah.Siang hingga sore mengurus perusahaan.Malam mengerjakan tesis.Rutinitas itu membuatnya semakin yakin bahwa hidupnya sudah jauh berbeda dari beberapa tahun lalu.Suatu sore, setelah kelas selesai, Naura duduk di taman kampus sambil membuka laptop.Ponselnya bergetar.Pesan dari Harsa.Aku ada di dekat kampusmu. Kalau kamu belum ada rencana, boleh aku temani makan?Naura tersenyum.Ia mengetik balasan.Boleh.Tidak lama kemudian Harsa datang."Kamu sudah selesai?""Sudah.""Capek?""Sedikit."
Keesokan paginya, Naura, Harsa, dan Keenan kembali berkumpul di ruang rapat.Di atas meja sudah terdapat beberapa dokumen dan hasil pemeriksaan sistem.Keenan membuka laptopnya."Aku sudah mendapatkan identitas orang yang menggunakan jaringan lama perusahaan."Naura menatap layar."Siapa?""Namanya Dimas. Mantan kepala bagian keuangan."Harsa mengerutkan kening."Dia sudah keluar sejak kapan?""Hampir enam bulan lalu."Naura terdiam."Kenapa dia diberhentikan?"Keenan membuka dokumen lain."Karena ada selisih laporan keuangan. Tapi waktu itu tidak cukup bukti untuk menyatakan dia melakukan penggelapan."Harsa langsung berdiri."Berarti dia punya alasan untuk membalas.""Tapi belum tentu dia pelakunya," kata Naura.Keenan mengangguk."Benar. Makanya aku tidak mau kita langsung menuduh."Beberapa jam kemudian, mereka
Launching proyek akhirnya selesai.Tepuk tangan dan ucapan selamat masih terdengar di seluruh ruangan ketika Naura turun dari panggung bersama Harsa dan Keenan.Proyek yang mereka kerjakan selama berbulan-bulan akhirnya resmi berjalan.Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa jam.Malam harinya, ketika Naura baru saja sampai di rumah, ponselnya berdering berkali-kali.Naura mengernyit.Pesan dari salah satu direktur perusahaan masuk.«Bu Naura, segera buka berita. Ada masalah besar.»Naura langsung membuka salah satu tautan berita.Wajahnya berubah.Judul berita itu terpampang besar."PROYEK BESAR PERUSAHAAN NAURA DIDUGA MELAKUKAN MANIPULASI DANA DAN KEBocoran DATA INVESTOR.""Ini apa?"Naura segera membaca isi beritanya.Ada dokumen yang terlihat seperti laporan internal perusahaan.Di dalamnya terdapat angka investasi, pembagian keuntungan, ba
Hari-hari Naura kembali dipenuhi kesibukan.Pagi untuk kuliah, siang hingga sore untuk perusahaan, dan malam untuk menyelesaikan tugas-tugas S2 yang semakin menumpuk.Dulu, rutinitas seperti itu mungkin akan membuatnya mengeluh.Namun sekarang Naura justru menikmatinya.Ia merasa hidupnya kembali menjadi miliknya.Suatu sore, setelah menyelesaikan rapat, Naura keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas.Di lorong, ia melihat Harsa sedang berbicara dengan salah satu karyawan.Begitu melihat Naura, Harsa tersenyum."Sudah selesai?""Sudah.""Kamu mau langsung pulang?"Naura mengangguk."Aku masih harus mengerjakan tugas kuliah."Harsa tidak menahannya."Kalau begitu, pulanglah. Jangan terlalu malam."Naura tersenyum."Terima kasih."Baru beberapa langkah ia berjalan, suara Keenan terdengar dari belakang."Naura!"
Pagi itu, Naura datang ke kampus lebih awal dari biasanya.Bukan karena ada ujian atau tugas yang harus dikumpulkan. Ia hanya ingin menikmati sedikit ketenangan sebelum kembali menghadapi kesibukan di perusahaan.Beberapa minggu terakhir, hidupnya terasa jauh lebih tertata.Kuliah tetap berjalan. Perusahaan juga mulai stabil. Hubungannya dengan kedua orang tuanya semakin dekat. Dan yang paling penting, Naura mulai belajar bahwa dirinya tidak harus selalu terburu-buru menentukan masa depan hanya karena orang lain menunggu jawabannya.Setelah kelas selesai, Naura berjalan menuju parkiran sambil membuka ponselnya.Ada dua pesan masuk.Dari Keenan.«Jangan lupa makan. Hari ini aku ada meeting sampai sore.»Lalu dari Harsa.«Kuliahmu selesai? Kalau belum, jangan buru-buru pulang. Fokus dulu.»Naura tersenyum kecil.Dulu, pesan seperti itu mungkin akan membuatnya bingung.Sekarang t
Makan siang bertiga berjalan jauh lebih tenang dari yang Naura bayangkan.Tidak ada perdebatan.Tidak ada sindiran.Harsa dan Keenan bahkan beberapa kali membicarakan pekerjaan tanpa membawa urusan pribadi.Naura memperhatikan keduanya sambil tersenyum kecil.Ternyata mereka memang bisa bekerja sama.Hanya saja selama ini ego dan rasa cemburu sering membuat semuanya menjadi rumit.“Kalian berdua kalau begini sebenarnya cocok jadi partner,” ujar Naura tiba-tiba.Keenan tertawa.“Jangan terlalu memuji. Nanti Harsa besar kepala.”Harsa menatapnya.“Yang besar kepala siapa?”“Kamu.”Naura tertawa kecil.Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa benar-benar ringan.---Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor.Naura langsung menuju ruangannya.Di atas meja sudah ada beberapa dokumen kuliah yang harus ia selesai
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban







