MasukSierra memandang pantulan dirinya di depan cermin.
Rambut brunette dan mata hijau yang sama dengan yang dia lihat di pecahan spion. Artinya, semuanya bukan cuma mimpi. Entah bagaimana dia kehilangan kesadaran dan keguguran di malam natal, tiba-tiba sekejap mata nasibnya berubah jadi gadis gelandangan yang diculik. Garis-garis wajah yang muda dan lebih lemah ketimbang Sierra Morvessac yang berambut pirang dan bermata biru memandangnya kembali di cermin. “Selesai!” pekik William. Terdengar tepuk tangan dari lima orang bawahan William. “Selalu memuaskan seperti biasanya, Bos!” “Tentu saja Bos yang terbaik!” William tersenyum lebar. Dia memandang pantulan Sierra di cermin dan menyentuh rambutnya. “Lihat, gelandangan berubah jadi wanita secantik ini,” gumam William. Matanya berbinar. Kontras dengan wajah seseorang yang kosong dan berusaha menepis jemari yang merayap di wajahnya. “Siapa namamu, gelandangan?” tanya William. Sierra mengerutkan dahinya. Dia mengecap kata-kata asing di lidahnya, “Oleander.” William menggeleng. “Oleander?” Dia berdecak. “Jelek. Nama yang jelek. Biar aku ubah. Mungkin Paris? Belakangan aku nonton Emily in Paris. Atau…Sydney? Atau… tidak jangan nama kota. Mungkin yang lebih manis dan tegas seperti Katarina? Atau yang lebih imut seperti Zoe?” Tiba-tiba pintu terbuka lebar. William segera menghardik, “Hei, kalian! Pria-pria kasar! Tidakkah bos kalian mengajarkan soal tata krama?!” Alex muncul di belakang bawahannya. “Berhenti William! Dewangga memanggilmu!” William segera merapikan barang-barangnya sambil bergumam yang terdengar seperti omelan, “Aduh, orang itu lagi! Menyebalkan! Kemarin dia merusak karya seniku sekarang apalagi?!” Segera setelahnya, William bahkan tidak menoleh dua kali untuk melihat karya seninya. Dia meninggalkan ruangan tanpa bawahan-bawahan kemayu yang lain. “Apa sekarang? Bawa Oleander!” perintah Alex. Segera bawahan-bawahan Alex, si pria-pria tinggi mengerubungi Sierra. Tapi sebelum mereka sempat, tubuh Sierra keburu tertutup oleh lima pria bawahan William. Pria-pria cantik yang lebih pendek. “Apa yang mau kalian lakukan? Oleander milik kami!” kata Alex. “Tidak. Ini hasil karya ketua.” Alex mendengus. “Banci-banci konyol. Berhenti membuat masalah atau kami ratakan salon kecantikan kalian ini!” Dengan satu ultimatum, jalan terbuka dan Sierra diraih oleh bawahan Alex dengan mudahnya. Keluar dari lantai 9 yang dingin menuju…lantai 10. “Kita ke mana lagi?” tanya Sierra kali ini. Gudang pengap sudah, salon sudah. Dia mau di bawa ke mana lagi? Bukannya seharusnya pergi ke tempat Aaron? Alex menjawab tanpa menoleh, “Markas. Setidaknya pelatihan sehari mengenai apa yang akan kamu lakukan, tugas yang mesti diemban, dan…kontrak yang harus dipenuhi?” “Kontrak?” Sierra membuka mulut. Tapi kali ini, pintu lift terbuka. Tidak ada jawaban. Sierra mengekor di tengah pria-pria ini. Di lantai 10 ini, suasananya jauh berbeda ketimbang lantai 9 yang klinis dan dingin. Tempat ini lebih seperti markas gelap pria-pria bertubuh besar, berpakaian santai, kadang juga ada yang mengenakan pakaian bergaya seperti agen-agen di film action yang kadang-kadang teman-teman sekolah Sierra lihat. Sierra mengerutkan hidungnya. Bau cerutu di udara meski tidak ada yang sedang mengisap benda itu. “Lihat, lihat, ada wanita di tempat kita!” seru seorang pria sambil bersiul. Kakinya dinaikkan ke atas meja. Tidak lama, ruangan segera riuh. “Cantik juga. Berapa harganya?” tanya yang lain. Disambut tawa rendah. “Berhenti!” kata Alex. Sierra memandang lurus jalanan, mengikuti punggung Alex yang tiba-tiba berhenti. “Bos, ini orangnya. Wanita yang akan kita tempatkan di tempat Aaron Mitchell.” Suasana ruangan langsung hening. Si pria yang baru saja bersiul mendekati mereka. “Ini gelandangan yang kamu sebut? Demi Tuhan, aku tidak percaya dia gelandangan!” “Si banci lantai 9 yang mengubah penampilannya?” tanya pria lain sambil mendekat di samping Sierra. “Apakah sebaiknya aku kirim pacarku ke si banci lantai 9 itu ya?” tanya yang lain. “Ide bagus! Aku juga berniat begitu.” “Sayang sekali…” “Ah, kamu tidak punya pacar? Cari saja gadis jalanan lalu kirim ke lantai 9. Lebih bagus ketimbang pacar. Bisa kamu simpan di rumah. Tidak banyak permintaan dan tidak berisik.” Orang di depan Alex, seorang pria berjanggut putih berseru, “Kembali ke kerjaan kalian!” Terdengar selorohan malas. Mereka berjalan kembali ke kubikelnya dengan langkah gontai. Mengikuti Alex dan bawahan pria itu ke dalam sebuah ruangan tertutup. Kali ini, dia dipersilakan duduk oleh si bos tua berjanggut putih. “Aku Mark. Kamu seharusnya Oleander. Aku sudah diberitahu oleh atasannya Alex bahwa kamu yang akan ditempatkan di samping Aaron Mitchell,” kata si bos tua–Mark–sambil memandang Sierra lama. Sierra seolah terhipnotis. Dia mengangguk begitu saja. “Bagus kalau kamu mengerti,” kata Mark. “Aku tidak bisa bilang tugasmu mudah. Besok ada recruitment staff internal Aaron Mitchell secara tertutup. Aku sudah mendaftarkan kamu di bawah nama Lea. Oleander adalah Lea di muka umum. Kamu akan datang aras referral dari kenalan, teman lamaku, namanya Eden. Kamu harus lolos apapun yang terjadi.” Bahu Sierra turun. Dia bertanya, “Bagaimana caranya lolos?” “Aaron Mitchell orang miskin awalnya. Dia bisa seperti ini berkat usaha dan kebetulan. Untuk menarik perhatiannya…kamu harus terlihat sebagai orang yang sungguh-sungguh, berbakat, dan…menarik simpatinya sedikit sebagai orang berbakat di lingkungan yang salah.” “Bagaimana jika aku gagal..?” tanya Sierra setelah dia terdiam agak lama. Mark menggeleng. “Sayang sekali. Kamu harus tahu, menjalani tugas sebagai mata-mata itu berat. Tapi aku jamin, kehidupan lamamu sebagai gelandangan jauh lebih berat. Bos kami bukan orang yang pelit. Dia tahu kapan mesti menghargai seseorang, kapan mesti membuang seseorang. Bayaran seorang mata-mata…lebih dari cukup untuk membeli makanan sebulan, selimut dan baju hangat di musim dingin, juga biaya sewa penginapan…” Kata-kata ini terus terngiang di benak Sierra. Dia bukan siapa-siapa lagi. Tidak punya siapa-siapa juga. Benar juga kata Mark. Siapa yang akan menampung dia jika dia tidak bergerak di atas kakinya sendiri? Sierra menunduk sebentar sebelum dia memejamkan mata dan menghembuskan napas. Dia menegakkan punggungnya. Dia berkata, “Oke. Beri tahu aku lebih banyak caranya agar…dipilih Aaron Mitchell.” “Bagus.” Mark menjentikkan jarinya. “Alex, siapkan data mengenai Aaron Mitchell dan Winchester Holding Company!”Berbohong bukan perihal yang mudah buat Sierra.Berasal dari keluarga terpandang membuatnya kadang terlalu naif dan hidup dalam bubble yang mengurungnya sejak kecil.Sierra menepuk mulutnya berkali-kali. “Sial, mulut sial,” umpatnya.Kejadian pagi tadi terekam jelas di benaknya. Kebohongan bercelah. Aaron bukan orang bodoh. Pun juga Mark. Dia mesti berhati-hati mulai sekarang.“Zoe!” seru seseorang dari luar.Sierra menoleh ke kanan ke kiri. Dia berteriak dari dalam, “Tidak ada Zoe!”“Zoe!” katanya lagi. Suaranya agak mendayu untuk pria…mirip sekali dengan…William!Pintu dibuka tanpa aba-aba.Sierra mengernyit. Dia menggeleng, “Tidak ada Zoe di sini.”William berkaca pinggang. Kali ini rambutnya dicat merah muda bak permen kapas. Matanya memandang Sierra dari atas. “Kamu.”“Apa?” Sierra melongo.“Kamu Zoe.”Sierra berkedip. Dia akhirnya tertawa hambar. Zoe? Demi Tuhan, berapa kali dia berganti nama dalam seminggu ini? Oleander, Lea Collins, dan sekarang Zoe!“Aku Oleander,” Sierra me
Sukseskan interview kali ini atau gagal? Sierra tidak punya pilihan.Sukses setidaknya dia bisa hidup. Gagal artinya mati.“Saya Lea Collins. Sebelumnya bekerja di Moran Company.”Kata-kata itu langsung tercetus begitu saja dari mulutnya. Awalnya dia merasa semuanya seperti kesalahan sampai ketika Aaron memiringkan kepala dan bertanya, “Moran Company?”Sierra mengangguk. “Benar. Selama empat tahun.”“Tapi Moran Company tidak punya karyawan wanita kecuali di lantai pertama?” kata Aaron hati-hati. Dia mengetuk-ngetuk lengan kursinya.Sierra dipandang berpasang-pasang mata secara bersamaan. Tapi kali ini, dia menahan tangan kirinya yang gemetar dengan tangan kanan. “Itu benar. Moran Company dari luar memang tidak punya karyawan wanita. Tapi saya bekerja di bawah Mark Winter untuk waktu yang lama.”Kali ini pria yang lebih tua di kiri yang menyahut, “Mark? Ketua divisi operasi itu? Bagaimana caranya dia bisa punya karyawan wanita?”“Aku asisten pribadinya. Tidak secara langsung berada di
Dari sore hingga tengah malam Sierra terjebak bersama Mark, Alex, dan beberapa bawahan Alex yang lain. Kadang-kadang Sierra akan meluruskan kakinya, kadang-kadang menyadarkan punggungnya, kadang-kadang juga dia akan menekan jemarinya.“Jadi bagaimana caranya aku dapat mengambil peran sebagai orang kepercayaan Aaron?” tanya Sierra.Mark menjawab dengan senyum dingin dan perkataan yang lugas, “Jadilah cerdas, patuh, dan terlihat miskin.”Sierra tercenung. Terlihat miskin? Apa yang salah dengan terlihat berpunya?Tampaknya Mark mengerti diamnya Sierra. Mark melanjutkan, “Aaron Mitchell selalu punya tempat khusus buat orang berbakat yang miskin. Karena dia lahir di tempat yang sama. Misalnya, seluruh dunia tahu dia akhirnya ditinggalkan Sierra Morvessac berselingkuh. Pada akhirnya yang datang untuk menyelamatkan Aaron adalah wanita miskin dari Rumania yang berbakat. Ini bukan cuma pola. Kebanyakan orang-orang yang dia pekerjaan adalah orang-orang berbakat yang lahir dari keluarga miskin
Sierra memandang pantulan dirinya di depan cermin.Rambut brunette dan mata hijau yang sama dengan yang dia lihat di pecahan spion. Artinya, semuanya bukan cuma mimpi.Entah bagaimana dia kehilangan kesadaran dan keguguran di malam natal, tiba-tiba sekejap mata nasibnya berubah jadi gadis gelandangan yang diculik.Garis-garis wajah yang muda dan lebih lemah ketimbang Sierra Morvessac yang berambut pirang dan bermata biru memandangnya kembali di cermin.“Selesai!” pekik William.Terdengar tepuk tangan dari lima orang bawahan William. “Selalu memuaskan seperti biasanya, Bos!”“Tentu saja Bos yang terbaik!”William tersenyum lebar. Dia memandang pantulan Sierra di cermin dan menyentuh rambutnya.“Lihat, gelandangan berubah jadi wanita secantik ini,” gumam William. Matanya berbinar. Kontras dengan wajah seseorang yang kosong dan berusaha menepis jemari yang merayap di wajahnya.“Siapa namamu, gelandangan?” tanya William.Sierra mengerutkan dahinya. Dia mengecap kata-kata asing di lidahny
Oleander adalah namanya sekarang. Oleander…Oleander…Sierra Morvessac tidak pernah ada. Cuma Oleander…Sierra terbangun dengan guyuran air menyentuh kulitnya. Dia gelagapan. “Oleander, bangun!”Sierra langsung menyeka wajahnya. “Y-ya…?”Boots hitam berhenti di depan kakinya. Terangkat. Lalu memberi sedikit tekanan di atas betisnya yang rapuh. “Siapa namamu?” katanya dengan tekanan yang lebih keras.“Oleander.”“Kamu Sierra Morvessac?” Terdengar tawa meremehkan dari beberapa pria di belakang Alex.Sierra tiba-tiba merasa malu. Dia menggeleng dan berkata pelan, “Bukan.”“Bagus. Dia siap untuk misi berikutnya. Sekarang, ikut aku ke hadapan ketua.”Cengkraman kasar terasa menyakitkan di lengannya. Dia ditarik paksa mengikuti langkah lebar Alex dengan sepasang kakinya yang kurus dan lemah.Alex mengetuk. Selang beberapa detik kemudian, terdengar suara kasar berkata, “Masuk!”Si ketua bersandar di kursi. Tangannya sibuk menjepit rokok. Menarik dan menghembuskannya berulang kali sampai Sie
Sierra Morvessac mengerjapkan matanya berkali-kali ketika sinar matahari menembus sela-sela kegelapan di matanya. Sudah siang. Di mana dia?Riuh tawa gembira membuatnya menoleh.Gadis-gadis kecil berlalu-lalang sambil menggandeng orang tua mereka dan keluar masuk dari toko yang sedikit-sedikit pintunya terbuka. Toko permen dan coklat. Di sampingnya, toko yang lebih sepi namun dari jendela terlihat roti dipasang di etalase.Sierra memegang perutnya tanpa sadar. Dia melotot. Lalu dia melihat ke bawah. Bayinya…ke mana?“Bayi…bayi...bayiku?! Bayiku ke mana?!”Sierra tidak mengindahkan tatapan mencela orang di sekitarnya. Kebanyakan memilih mundur. Tapi pria tua yang lusuh justru menggeleng keras dan berkata, “Bayi apanya?! Kamu terlalu lapar sampai kehilangan akal ya?!”“Bayiku! Ada bayi di perutku!” Sierra bersikeras.“Tidak ada bayi! Suami saja tidak punya! Mana ada bayi?!”“Semalam masih ada bayi di perutku!” Sierra menangis.“Semalam kamu tidak hamil, kemarin juga tidak hamil, minggu
Jika ada kehidupan selanjutnya…Sierra harap dia tidak lagi lahir di keluarga Morvessac. Memiliki ayah bak monster kekuasaan, suami yang tidak menginginkannya, dan sahabat baik yang rupanya tidak pernah menganggapnya sahabat. Sierra termenung. Celah pintu rumah besar yang dulunya dia tinggal sempa







