MasukBab 46Aku pikir yang datang itu kurir pengantar makanan, tapi tenyata malah Vina. Gadis itu muncul lengkap dengan seragam kerjanya. Di halaman rumah ada sebuah mobil taksi, dan Melvin bergegas menghampiri mobil itu, lalu membantu sopir taksi untuk mengeluarkan barang-barangku."Aku belum menghubungi kamu, Vin. Apakah Melvin yang meminta kamu datang?" Pandangan mataku tertuju pada dua orang laki-laki yang tengah sibuk memindahkan barang dari mobil."Iya, memang Melvin yang memintaku datang. Memangnya kenapa dengan orang-orang tadi malam, Mbak?" Gadis itu menyeretku masuk ke dalam rumah, membiarkan supir taksi dan Melvin menaruh barang-barangku hanya sampai di teras rumah."Aku nggak tahu juga persisnya, Vina. Tiba-tiba saja mereka muncul. Tapi yang jelas, mereka bertanya tentang soal statusku dengan Melvin. Aku memang bersama Melvin di mobil saat itu, dan itu yang pertama kalinya aku bersama dengan seorang laki-laki. Jadi mereka pikir itu suamiku." Aku menerangkan, meski sebenarnya ha
Bab 45"Ratih... dengarlah." Pria muda itu memegang bahuku, memaksaku untuk duduk kembali. "Kamu tanggung jawabku sekarang. Aku nggak akan biarin kamu terlantar, apapun status kamu sekarang. Aku nggak peduli. Aku sudah mengambil bagian sebagai peran pengganti. Bukannya dokter Jaka sudah bilang seperti itu?""Kamu keterlaluan! Aku nggak nyangka jika kamu gini sama aku. Apa mau kamu? Sadar, Melvin! Kita ini jauh berbeda. Kamu nggak seharusnya ambil tanggung jawab sebesar ini. Nggak seharusnya!" Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Jadilah suaraku yang serak seperti orang sakit tenggorokan. "Kamu fokus aja kuliah, ikut pendidikan profesi, biar kamu cepat jadi dokter seperti impian kamu. Kamu nggak perlu mikirin aku dan anakku....""Tapi aku nggak bisa! Aku cinta sama kamu, Ratih." Sorot mata pria itu berubah menjadi sangat lembut. Dia dengan lancangnya menyentuh daguku, sehingga kami akhirnya bertatapan. Aku tak bisa menghindar dari menatapnya, karena daguku dipegang dengan begitu kuat.
Bab 44Situasi terasa sangat tidak kondusif sehingga membuat Melvin akhirnya pasang badan. Masih dengan menggenggam tanganku, pemuda itu berdiri di depanku dan menatap kerumunan orang-orang. Total ada 10 orang yang bergerak menghampiri kami.Dari ekspresi wajah mereka jelas tampak ketidaksukaan dengan keberadaan kami. Tapi untungnya tidak ada seorangpun yang membawa senjata atau benda tajam."Apa kamu adalah suaminya Mbak Ratih?" tanya salah satu di antara mereka. Pra itu berdiri paling depan di antara mereka."Maksud Bapak menanyakan itu apa?"Pemuda itu membalas sembari menoleh ke belakang. Dia menggenggam tanganku lebih erat, seolah memberi kode agar aku diam dan menyerahkan soal itu kepadanya."Jawab yang jelas pertanyaan saya! Apa kamu adalah suaminya Mbak Ratih? Sebab menurut penuturan pemilik kos ini, tidak ada laki-laki yang datang selama Mbak Ratih indekos di sini, padahal ia dalam keadaan hamil!"Aku sudah ketar-ketir, namun genggaman itu membuatku diam, dan menanti kejelasa
Bab 43"Cukup, Melvin!" Kepalaku sudah terlanjur pening dengan ucapannya, susah mencerna karena selama ini Melvin tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda yang menguatkan dugaan jika dia menyukaiku. Ini begitu tiba-tiba, dan sangat tidak bisa dipercaya.Atau mungkin, jangan-jangan akulah yang tidak peka?Aku selalu menganggap jika perhatian pemuda berumur 23 tahun ini hanya sebatas perhatian seorang calon dokter kepada seorang teman yang kebetulan akan segera melahirkan. Aku meraih pintu mobil, berusaha membukanya. Namun tangan itu keburu ditangkap oleh Melvin. Dia menarik tubuhku dengan tarikan yang kuat, sehingga membuat kami terlihat seperti berpelukan. Sementara satu tangan digunakan Melvin untuk mengusap perutku. Sebuah usapan yang lembut. Namun sanggup membuat janin dalam perutku bergerak. Dia mulai menendang, memberi respon, seolah paham jika ada orang yang memberi perhatian kepadanya.Aku di buat dilema. Di satu sisi aku terlena dengan perlakuannya yang terlihat begitu memper
Bab 42Darahku terasa tersirap. Ingin menyangkal, tapi rasanya tidak mungkin, melihat betapa antusiasnya pelayan itu dan juga Melvin. Aku tidak berani menjelaskan apapun, bahkan kepala ini malah mengangguk, dan mengucapkan, "aku ingin makan ayam goreng dengan lalapan dan juga teh hangat.""Baiklah, Mbak cantik. Ditunggu sebentar ya." Pria muda itu akhirnya pergi, masuk ke ruangan dalam setelah mencatat pesanan kami.Ketika kami bertemu pandang, aku langsung membuang pandanganku ke arah dalam warung tenda ini. Entah apa aktivitas orang di dalam sana. Aku menghela nafas, lalu tiba-tiba saja sepasang tangan itu membuat jemariku menegang sempurna. Genggaman yang lembut, tapi sangat hangat. Sungguh, entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi merasakan genggaman hangat seperti ini.Dulu saat belum menikah dengan Bima, aku masih bisa menikmati hal seperti ini. Bima selalu pasang badan, karena merasa aku adalah gadis kesayangan oma Trisna.Bima baru menjauh setelah ia sibuk dengan kuliah
Bab 41Di layar itu beberapa kali menayangkan bang Lukas yang tengah menggandeng seseorang yang berpakaian seragam tahanan. Dia seorang laki-laki yang tampak masih muda, namun dari ekspresi wajahnya terlihat polos. Sorot matanya tak bisa berdusta, dia nampak kebingungan.Sayangnya layar televisi itu tidak menghidupkan mode suara, mungkin supaya tidak mengganggu sistem pelayanan yang ada, jadi aku hanya melihat gambar-gambar saja. Aku tidak tahu apa yang diucapkan oleh bang Lukas di saat layar menayangkan konferensi pers dengan pria itu berada di sampingnya.[Bang, sedang menangani kasus apa? Kok masuk TV?]Tidak kurang akal, aku mengirimkan pesan, meskipun hanya centang satu yang kudapat. Rupanya pria itu sedang menonaktifkan ponselnya. Mungkin karena pria itu tengah sibuk menghadapi awak media. Dia sedang fokus.Aku baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas saat Melvin menghampiriku. Dia menyerahkan plastik kecil berisi obat-obatan dan vitamin, lalu mengajakku untuk keluar.Melvin sen







