مشاركة

Bab 2

مؤلف: Fist
Aku mengulang-ulang kalimat itu dalam hati, mengecapnya perlahan, lalu tersenyum.

Tujuh hari lagi adalah ulang tahun-nya Jason.

Sekaligus hari perpisahan aku dan dia.

Keesokan paginya, suara gemerisik bangunkan aku dari tidur.

Dengan mata setengah terbuka, aku lihat Jason sedang rapikan kosmetik yang berserakan di meja rias.

Semalam nggak pulang, di matanya kelihatan jelas kalau dia capek.

“Rosa, kamu sudah bangun? Aku lihat kamu taruh kosmetikmu sembarangan lagi, jadi aku sekalian bantu rapikan.”

Aku memandang wajah tampannya dengan tenang, tanpa berkata apa-apa.

Ia memang selalu seperti itu, penuh perhatian.

Hal-hal kecil seperti rapikan kosmetikku, hingga detail-detail kehidupan yang sering luput dari perhatianku, selalu ia pikirkan dan lakukan dengan sempurna.

Lima belas tahun lamanya, nggak pernah berubah. Seolah dalam setiap hal, aku selalu jadi yang utama.

Namun lelaki yang selalu utamakan aku itu, justru habiskan malam ulang tahunku dengan bermesraan sama perempuan lain.

Mungkin sadar dengan perubahan suasana hatiku, ia keluarkan sebuah kotak kecil dari saku.

Jason berlutut dengan satu kaki. Tatapannya begitu lembut, hampir meluap penuh cinta.

“Rosa, semalam aku nggak pulang karena ambil cincin yang aku pesan khusus untuk kamu. Berlian di atasnya adalah ‘Cinta Abadi’ yang aku cari dengan susah payah, di dunia ini hanya ada satu!”

Ia berhenti sejenak, lalu lanjutkan dengan suara yang semakin dalam, “Anggap saja ini lambang cinta kita yang abadi. Rosa, aku akan cinta kamu selamanya.”

Aku tarik sudut bibirku tipis-tipis.

Aku terima cincin itu dari tangannya dan amati dari berbagai sisi.

Jason peluk pinggangku dengan manja, nadanya penuh harap.

“Rosa, semalam aku begadang demi cincin untukmu ini. Apa nggak ada hadiah apa-apa untuk aku?”

Suaranya merendah, tangannya mulai bergerak perlahan di pinggangku.

Ekspresiku tetap datar saat kutahan tangannya.

Alasan seburuk itu, kalau bukan karena aku sudah tahu tentang perselingkuhannya, mungkin aku akan benar-benar percaya.

Gimanapun, selama lima belas tahun ia nggak pernah bohong ke aku.

Sampai Kaila muncul.

Ternyata segala sesuatu mungkin saja terjadi. Hanya saja waktunya belum tiba.

Aku tenangkan diri, sembunyikan gejolak di dada, lalu berkata dengan nada datar, “Kamu sudah gadang semalaman. Pasti capek. Istirahat dulu sana.”

Dengar itu, ia semakin erat peluk aku. Kepalanya menggesek manja di lekuk leherku, seperti anjing golden retriever besar yang tengah cari perhatian.

“Istriku Rosa kok baik banget sih? Aku benar-benar pria paling bahagia di dunia!”

Aku ikut tersenyum kecil, lalu ambil sebuah kotak indah yang sudah aku siapkan.

Jason terima itu dengan wajah bingung dan mau segera buka itu.

Aku tahan tangannya perlahan.

“Aku kasih hadiah ulang tahunmu duluan, tapi bukanya nanti saja tepat di hari ulang tahunmu.”

Matanya berbinar.

“Enam hari lebih awal sudah dapat hadiah? Aku jadi nggak sabar mau tahu apa yang kamu siapkan untuk aku!”

Kebahagiaan di wajahnya tampak begitu tulus. Kami terlihat seperti pasangan normal yang hangat dan bahagia.

Namun aku tahu, semuanya hanya sandiwara.

Ia pun tahu. Karena itu ia bermain peran dengan lebih sungguh-sungguh.

Di dalam kotak itu terdapat foto tangkapan layar semua pesan yang Kaila kirimkan ke aku selama setahun terakhir ini.

Riwayat obrolan mereka yang penuh rayuan, foto-foto mesra, dan berbagai barang yang ia belikan untuk wanita itu. Bahkan video yang Kaila kirim pun telah aku masukkan dengan rapi ke dalam sebuah flashdisk.

Selain itu, ada pula surat cerai yang telah aku tandatangani.

Semoga enam hari lagi, di hari ulang tahunnya, ia suka hadiah itu.

Sore harinya, Jason minta aku antarkan sebuah dokumen ke kantor.

“Rosa, tadi pagi aku buru-buru keluar rumah. Dokumen itu akan dipakai untuk investasi asing hari ini. Sangat penting. Bisa nggak tolong antarkan?”

Semakin ia bicara, suaranya makin lirih, hingga dipenuhi rasa bersalah.

“Ini salahku. Kalau aku nggak ceroboh, kamu nggak perlu repot-repot ke kantor.”

Jika dulu aku dengar nada bersalah seperti itu, pasti aku akan segera hibur dia, katakan kalau pergi ke kantor bukanlah hal yang merepotkan.

Namun sekarang, aku cuma setuju dengan suara pelan, lalu nggak bicara apa-apa lagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 10

    Sejak hari itu, aku nggak pernah ketemu Jason lagi.Belakangan, justru Yesi yang kasih tahu aku, katanya saat ia lewati suatu tempat, ia lihat Jason meringkuk di samping tempat sampah, kedinginan.Dengar itu, hatiku terasa perih.Gimanapun juga, kami pernah jadi suami istri. Nggak mungkin aku benar-benar tutup mata dan biarkan dia begitu saja.Aku pun minta alamatnya ke Yesi.Beberapa hari nggak ketemu, tubuh Jason tampak semakin kurus. Punggungnya yang dulu tegap kini membungkuk karena dingin. Ia pakai pakaian tipis, sembunyi di balik tempat sampah di sudut yang sedikit terlindung angin, napasnya mengepul dalam udara dingin.Lihat dia seperti itu, aku hanya bisa menghela napas panjang dan serahkan sebuah jaket ke dia.Tubuhnya menegang. Ia terima jaket itu, namun tetap menunduk, nggak berani menatap wajahku.Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan dengan nada tertahan,“Penampilanku sekarang pasti sangat menyedihkan, yah? Maaf, di akhir pun aku nggak bisa tinggalkan kesan yang baik u

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 9

    Kami minum dengan lepas, tertawa tanpa beban, saling cerita kisah hidup masing-masing. Entah karena alkohol atau karena ditemani orang-orang yang hangat, suasana hatiku benar-benar terasa jauh lebih ringan.Nggak tahu sudah berapa lama berlalu, orang-orang di ruangan mulai berkurang satu per satu. Yesi sudah mabuk berat sampai nggak sadarkan diri.Lihat keadaannya, aku diam-diam hubungi Roni.“Ron, tolong jemput kita. Malam ini kita minum lumayan banyak.”Dari seberang sana, suara Roni terdengar datar, namun samar-samar aku masih bisa tangkap nada nahan kesal di baliknya.“Oke.”Masih ada waktu sebelum ia tiba. Aku keluar dari ruang privat untuk menghirup udara segar.Tiba-tiba aku tabrakan dengan seorang pria berkulit coklat. Ia mabuk berat, dan tatapan matanya yang cabul melekat di tubuhku tanpa malu.“Wah, dari mana datangnya gadis cantik ini? Aku belum pernah lihat sebelumnya. Ayo sini, biar aku cium sedikit. Kita lihat rasanya sama manisnya dengan gadis-gadis lain atau nggak.”Sam

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 8

    Bibirnya gemetar, suaranya lirih hampir nggak terdengar.“Rosa, maafkan aku, yah? Emang kamu tega buang begitu saja lima belas tahun hubungan kita? Kita sudah lewati begitu banyak kesulitan, sudah lewati begitu banyak rintangan, baru akhirnya bisa bersama. Apa sekarang kamu beneran tega ingin putuskan semuanya denganku?”“Kamu bilang kita bisa punya anak, bisa liburan sama-sama, bisa saling nyatakan cinta waktu hujan turun. Kita masih punya begitu banyak hal yang belum kita lakukan. Janji-janji kita belum terpenuhi. Apa kamu beneran akan tinggalkan aku begitu saja?!”Ia hampir teriak, tubuhnya gemetar tanpa henti.Selama sepuluh tahun lebih, aku belum pernah lihat Jason sehisteris ini.Dalam ingatanku, ia selalu lembut dan tenang, seorang pria berwibawa yang sopan ke siapa pun. Ia selalu bersikap sangat lembut ke aku, nggak pernah sekali pun kehilangan kendali.Ternyata, cinta memang bisa ubah seseorang.Jika dulu aku lihat dia seperti ini, mungkin hatiku akan luluh.Namun kini, perasa

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 7

    Lebih dari sepuluh tahun terakhir ini, seluruh hidupku nyaris hanya berputar di sekitar Jason.Aku nggak kerja, nggak belajar, seakan hidupku berhenti di satu titik dan nggak pernah bergerak maju.Setelah sekian lama terhenti, kini saatnya aku tekan tombol mulai kembali.Makan malam itu berlangsung begitu menyenangkan. Sepanjang waktu, Yesi terus-terusan ambilkan makanan untukku. Dengan kehadirannya, suasana nggak pernah terasa canggung atau dingin.Kami merasa cocok sejak pertemuan pertama.Setelah selesai makan, aku ikuti pasangan itu ke perusahaan dan resmi jadi pemegang saham di Perusahaan SY.Kantor yang Roni siapkan untukku begitu luas dan terang, dan tepat di sebelahnya adalah ruangannya Yesi.Di sela pekerjaan, kami sering turun ke restoran kecil di bawah gedung untuk makan siang, atau duduk santai di lounge kecil dekat sana sambil nikmati segelas minuman.Kadang jika obrolan terasa semakin seru, kami berniat pergi ke bar untuk sedikit bersenang-senang.Tapi sering kali belum s

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 6

    Setelah itu, aku cabut kartu SIM HP-ku, patahkan jadi dua, lalu buang ke tempat sampah.Begitu pesawat mendarat, Roni sudah tunggu di bandara.Lihat aku keluar, ia angkat setangkai bunga lili di tangannya.“Rosa, di sini!”Dengar suaranya, aku tersenyum dan menatap ke arahnya.Bertahun-tahun nggak ketemu, ia tampak jauh lebih matang.Aku angkat tangan sapa dia.Roni dengan sigap ambil koperku.“Sejak terakhir kali berpisah, sudah berapa tahun kita nggak ketemu, yah?”Dengar itu, kenangan lama perlahan muncul dalam benakku.Aku dan Roni adalah teman sekelas di SMA. Setelah ujian masuk universitas, kami sama-sama pilih jurusan desain baju.Di bangku SMA, kami adalah teman sebangku yang saling membantu. Di universitas, kami dikenal sebagai pasangan partner terbaik.Ia selalu dapat pahami setiap ide liarku dalam desain. Konsep estetikanya pun sejalan denganku.Kami benar-benar sehati dalam pemikiran dan selera.Dulu, karena kedekatanku dengannya, banyak teman yang penasaran dengan hubungan

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 5

    Nggak satu pun dari kami peduli pada air hujan yang turun.Aku masih menunggu.Dulu, aku dan Jason pernah janji, setiap kali kami berdiri sama-sama di bawah hujan, kami harus nyatakan cinta sekali lagi ke satu sama lain.Namun kini, lihat lelaki di hadapanku yang sedang asyik nikmati pemandangan hujan rintik seorang diri, aku kembali sadar kami nggak akan pernah bisa menua bersama.Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan, semakin lama semakin dekat.Entah mengapa, firasat buruk mendadak menyergapku. Aku refleks mendongak dan lihat sebongkah batu besar meluncur cepat tepat ke arahku.Otakku seakan berhenti kerja.Brak!Dalam sekejap, tubuhku terasa seperti dilindas truk.“Ah!”Aku pegangi dadaku, tarik napas tajam tahan nyeri. Keringat dingin merembes di dahiku.“Rosa!”Suara Jason berubah sumbang karena panik. Matanya memerah seketika, air mata panas mengalir di pipinya.“Rosa! Kamu gimana? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!”Aku menatap wajahnya yang penuh rasa ketakutan,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status