LOGIN"Ambil lagi saja hadiah ini. Aku tidak menginginkannya.” Gyana meninggalkan hadiah yang Sean berikan, lalu pergi begitu saja.
“Gya!” seru Sean menahan geram. Namun, Gyana tidak menggubris panggil itu. Langkahnya semakin cepat menaiki tangga. Gyana tidak peduli jika dengan ini Sean akan membencinya. Selama ini Sean juga tidak pernah menyukainya dengan tulus. Pria itu hanya menginginkan Tania. Sean mengepalkan kedua tangannya. Penolakan Gyana membuat egonya tersentil. Selama ini Gyana tidak pernah menolak permintaannya. “Gyana tunggu! Kamu—” “Tuan, kita sudah harus berangkat sekarang. Pihak Mercusuar sudah tiba di bandara.” Mike—asisten pribadi Sean muncul. Sean melonggarkan sedikit dasinya. Hembusan kasar lolos begitu saja, membuat Mike sempat heran. Tidak biasanya wajah sang atasan tampak memerah karena amarah sepagi ini. Apalagi ini masih di rumah. Seingat Mike, Sean bahkan jarang menunjukkan emosi berlebih saat di rumah, tepatnya setelah menikah dengan Gyana. “Cepat, Mike! Kamu mau saya pecat?!” bentak Sean saat Mike tidak langsung menyusul langkahnya. “Baik, Tuan.” Pria muda itu segera menyusul sang atasan. Sementara Sean sudah berangkat ke kantor, Gyana memilih memantau kepergian suaminya dari kamar. Kali ini tidak ada lagi air mata yang keluar. Sudah cukup semalam, Gyana menangisi kisahnya yang menyedihkan. Kepalanya harus berpikir cepat agar bisa menghindari ajakan Sean. Jika memang harus datang, ia harus membuat kejutan untuk orang-orang di rumahnya. Rumahnya? Gyana rasanya ingin tertawa saat menyebutkan itu. Kediaman utama keluarga Danuarta itu sebenarnya tidak pantas ia anggap rumah. Kehadiran Gyana selama ini lebih dianggap sebagai pengakuan atau bahkan lebih pantas disebut figuran. Setelah lebih dari 20 tahun Gyana baru bisa menginjakkan kakinya di rumah mewah keluarga kandungnya itu pasca tertukar dengan putri keluarga miskin di pinggiran kota, Gyana tidak pernah diperlakukan layaknya putri bungsu keluarga Danuarta. Ayah dan kedua kakak laki-lakinya tidak pernah menunjukkan mereka menerima kehadiran Gyana. Bagi mereka, hanya Tania—si putri angkatlah satu-satunya putri keluarga Danuarta. Gyana tidak pernah dianggap sebagai putri keluarga itu. Dulu Gyana hanya diperlukan karena ibu kandungnya membutuhkan donor darah dan hanya Gyana yang memiliki golongan darah sama dengan sang ibu. Sekarang, setelah ibunya meninggal, Gyana tidak lagi diperlukan. Dan Sean? Ah, pernikahan yang Gyana kira akan menjadi satu-satunya kebahagiaan setelah penolakan yang ia terima nyatanya tak kalah menyakitkan. Suaminya sendiri lebih mencintai Tania. Ponsel Gyana memunculkan notifikasi pesan. Benda pipih itu membuyarkan lamunan Gyana. Nama Tania muncul. [Lihat! Sean memberikanku satu set perhiasan ini.] Sebuah foto set perhiasan berwarna biru dikirim Tania. Disertai dengan pesan lain di bawahnya. [Aku akan memakai ini malam nanti. Kamu harus datang Gyana. Ingat! Pakai saja hadiah dari Sean. Suamimu itu sangat pengertian] [Aku memintanya memberimu hadiah yang tidak mencolok dan ia langsung setuju.] [Seperti biasa. Karena aku yang ulang tahun maka hanya aku yang pantas jadi sorotan.] Deretan pesan itu terus muncul mengganggu Gyana. Lagi-lagi Sean melakukan itu hanya untuk Tania. Perhiasan itu ternyata diberikan demi memenuhi keinginan Tania. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Gyana. Kini ia tahu kejutan seperti apa yang akan ia berikan kepada Tania. Tanpa berpikir panjang, Gyana pun lekas membalas pesan Tania. [Aku akan datang Tania. Terima kasih undangannya.] Setelah mengirimkan balasan kepada Tania, Gyana pun menghubungi teman lamanya. Persiapan singkat ini memerlukan seseorang yang ahli. Kedatangannya nanti harus membuat tuan rumah merasa terhormat. Ia tidak mungkin datang mendampingi Sean dengan penampilan yang biasa saja bukan? [Datang saja ke sini. Aku free hari ini, G.] Senyum lebar Gyana pun menghiasi wajah cantiknya. Tanpa menunggu lebih lama, Gyana pun segera bersiap-siap meluncur menuju tempat lamanya itu. Sesampainya di sana, pelukan hangat seorang perempuan dengan rambut keriting khasnya menyambut Gyana. “Kenapa baru sekarang sih? Aku kira kamu melupakanku setelah menikah dengan pewaris kekayaan King itu!” Wajah kesal perempuan itu justru membuat Gyana terkekeh pelan. “Tidak akan, Val. Aku tahu jadwalmu sangat padat beberapa bulan terakhir. Jadi, mana bisa aku datang hanya untuk mengajakmu minum kopi seperti dulu?” Valerie—teman lama Gyana yang kini sukses menjadi seorang fashion desainer. “Jadi apa yang bisa aku bantu sekarang? Kamu nggak mungkin datang tanpa sebab ke sini?” Tatapan sinis tanpa ragu Valerie layangkan kepada Gyana. Gyana menarik napasnya dalam, lalu merubah posisi duduknya agar lebih nyaman mengharap Valerie. “Aku akan menghadiri acara bersama suamiku malam ini. Dan aku butuh kamu untuk merubah penampilanku yang membosankan ini.” Valerie mengangguk serius, masih menunggu penjelasan Gyana selanjutnya. “Dan aku butuh sesuatu yang bisa membuat semua mata tertuju padaku,” ucap Gyana serius dan penuh penekanan. Valerie membulatkan matanya tidak percaya. “Kamu? Jadi sorotan? Kamu yakin?” Gyana mengangguk cepat. “Aku sangat yakin. Sebagai menantunya keluarga Airlangga bukankah aku harus tampil maksimal?” “Ini bukan karena keluarga gilamu itu, kan?” tanya Valerie menatap Gyana penuh selidik. Gyana menghela napasnya. Gyana tidak pandai berbohong dan Valerie tidak akan berhenti menginterogasi jika Gyana tidak segera jujur. “Salah satunya itu. Aku ingin mengalahkan Tania kali ini.” Valerie menjulurkan tangannya ke hadapan Gyana, seketika membuat Gyana mengangkat satu alisnya bingung. Sedangkan wanita dengan raut ekspresif ini dengan paksa mengambil tangan kanan Gyana lalu menautkan dengan tangannya. “Oke deal. Serahkan itu ke Nona Vale.” Bersamaan dengan kesepakatan itu, ponsel Gyana terus berdering. Dari Sean. Tak lama setelah pesan singkat dari pria itu muncul. [Kamu dimana? Mike bilang kamu tidak ada di rumah.]"Bunga untuk siapa itu, Bi?” tanya Sean. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Berbeda dengan biasanya, malam ini Sean terlihat kacau. Rambut yang biasanya rapi jadi berantakan, tiga kancing kemeja atas sudah terbuka dengan dasi yang sudah tidak terdapat mengikat leher dan jas yang biasanya masih terpakai kini hanya disampirkan di lengan. Aura Sean terasa lebih suram dari biasa. Suaranya juga lebih dingin dan ketus serta matanya yang menatap sinis pada buket bunga besar yang berada di atas meja ruang tengah. Sebuah buket lily putih yang langsung mengundang curiga Sean saat melihat benda tersebut. “Dari kartu ucapannya ditujukan ke Nyonya Gyana, Tuan.” “Dari siapa?” Fiska menggeleng. “Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.” Sean berjalan menuju meja. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dari dekat bunga yang ditujukan kepada istrinya tersebut. Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh buket bunga tersebut, suara Gyana lebih dulu menghentikan gerakan Sean. “Jangan sentuh itu,
“Kamu sengaja menghindari aku lagi?” Langkah Gyana terhenti saat mendengar suara dari arah belakang. Pintu kamar baru saja tertutup, Gyana kira kamar utama yang berada tidak jauh dari kamarnya pun sudah tidak berpenghuni. Biasanya Sean sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Sama dengan pagi biasanya, Gyana keluar kamar sengaja menunggu Sean pergi kerja. Hidup dengan pria yang menjadi penyebab luka di hatinya tentu saja sangat menyiksa batin. Apalagi jika itu adalah Sean. Pria itu bahkan tidak pernah menyadari bahwa Gyana menghindarinya karena ulahnya sendiri. “Aku tidak bermaksud meninggalkanmu di tepi jalan semalam. Tania—”“Hentikan omong kosongmu. Aku tidak sudi mendengar pembelaan dari mulutmu. Semua itu tidak akan mengubah persepsiku tentang hubungan kalian,” sela Gyana ketus. Gyana sudah siap berangkat kerja. Waktunya tinggal satu jam lagi sebelum nanti bertemu dengan mitra kerjanya. Namun, Sean dengan tanpa bersalah justru menahan dirinya. Dan, seperti yang telah
“Keterlaluan kamu!”“Argh!” Nael mengusap bahunya yang sakit karena terkena serangan mendadak dari wanita di belakangnya. Di saat Nael sedang meringis kesakitan, wanita dengan penampilan elegan di kala usia yang tidak muda lagi itu dengan santainya duduk di kursi bar menghadap dengan sang putra. “Mami kenapa sih? Anaknya tuh harusnya disayang-sayang bukan malah dipukul!” Claudia mendengus dengan mencibir sang putra melalui ekor matanya. Tidak terdapat gurat rasa bersalah di wajah cantiknya. Rasa kesal yang saat ini memenuhi rongga dada tidak cukup terlampiaskan dengan memukul Nael. “Mengapa tiba-tiba kamu batalkan dinner romantis dengan anaknya Tante Asti? Dia udah excited banget sejak seminggu lalu. Eh kamu malah seenaknya batalin H-1.” “Nael kan udah bilang kalau nggak tertarik ikut kencan buta, Mi. Mami sih ngeyel banget jadi orang tua,” sahut Nael seraya meneruskan plating yang sempat tertunda. “Dasar anak ini!” Claudia melotot dengan respon santai Nael. Hampir saja ponsel
Tidak ada yang berani menyela setiap kata yang terlontar. Masing-masing memilih untuk bertahan dengan isi kepala yang mulai berisik. Makan malam yang sebenarnya dilakukan untuk menambah kedekatan dua keluarga justru sebaliknya. Beberapa saat keheningan dibiarkan menyergap ruangan VIP yang didominasi warna cokelat yang dilapisi vinyl mahogany tersebut. Dehaman yang terdengar dari sudut ruangan pun memecah sunyi. Haris menaruh garpu dan sendok di atas piring lalu mengelap mulut dengan kain bersih. Kening pria paruh baya tersebut sedikit berkerut, tetapi riak wajahnya masih sangat tenang dan penuh wibawa. Saat Haris hendak bicara, tiba-tiba Dania berbisik pada Gyana. “Pergilah ke toilet dulu. Kuah supaya mengotori sedikit gaunmu.” Gyana yang tadinya menatap sang ayah lalu beralih pada sisi bajunya yang kotor. Dania benar, terdapat noda kecil di bajunya. Sebelum Haris mulai bicara, Gyana pun bangkit dari kursi. “Nenek, aku akan ke toilet. Bajuku perlu dibersihkan.” Ketegangan waja
Keheningan menyergap semua yang hadir. Bohong jika Gyana dan keluarganya tidak mengeluarkan reaksi apapun. Faktanya, dari mulai Raymond hingga Gyana semuanya berubah tegang. Hanya Haris yang tampak biasa saja. Pria itu tetap bisa menyantap daging di piring dengan tenang. Seakan-akan pengumuman yang barusan diumumkan bukanlah hal yang mengejutkan. Gyana tanpa sengaja menoleh dan menangkap sesuatu pada diri Sean. Pria yang biasanya tenang dan selalu mampu mengendalikan emosinya kini tampak diam dan panik. Jemari Sean bergerak mengetuk pahanya di bawah meja. Rahangnya tegang dan matanya tampak sedang menahan emosi yang hampir meledak. Tentu saja Gyana menjadi penasaran mengapa Sean bisa seperti itu. Mengapa Sean selalu tampak tidak senang jika ada yang mengungkit masalah sepupunya sendiri? Rahasia apa yang sebenarnya ada di dalam keluarga sesempurna Airlangga ini? “Gyana ayo makan! Jangan bengong saja. Kamu harus makan yang banyak.” Suara Nyonya Saras mengembalikan kesadaran Gyana.
“Lihat! Tania cantik sekali bukan?” bisik Gyana teramat pelan tetapi cukup bisa membuat ketenangan wajah Sean terusik. “Diam, Gya!” tekan Sean geram. Gyana justru menanggapinya dengan cengiran santai. Tidak menggambarkan rasa cemburu sama sekali meski ia tahu gaunnya tidak ada apa-apa dibanding gaun yang dikenakan Tania. Gyana tidak memungkiri sama sekali fakta itu. Meski gaun Tania terlihat lebih cantik, Gyana tidak kehilangan rasa percaya diri sama sekali. Tangannya masih melingkar di lengan Sean. Senyumnya masih tersuguh anggun dan suara ketukan heelsnya terdengar mantap. Sedangkan Sean berusaha mempertahankan keramahan wajahnya. Di depan mereka sudah duduk dengan tenang para anggota keluarga Airlangga dan Danuarta. Ruangan VVIP sebuah restoran yang menjadi tempat favorit keluarga Airlangga tersebut terasa lebih lenggang dan memancarkan kemewahan yang nyata. Sebuah lampu kristal menjuntai indah di atas meja keramik panjang yang dikelilingi sofa mewah berwarna navy. Di tengah-







