Share

KEJUTAN PERTAMA

Author: Anonara
last update publish date: 2026-09-08 10:40:15

Pesan itu Gyana biarkan begitu saja. Alih-alih membalas pesan Sean, Gyana justru mematikan ponselnya. Kali ini Gyana membiarkan kemungkinan Sean akan marah padanya. 

Gyana tidak akan membiarkan Sean mengacaukan rencananya. Kejutan untuk Tania harus berhasil. Bayangan wajah marah gadis itu membuat Gyana begitu bersemangat saat Valerie bersama para staf di butik itu mulai beraksi. 

Selama ini Gyana malas berdandan apalagi membeli barang-barang mewah. Ah tidak, lebih tepatnya Gyana tidak pernah percaya diri memakai apapun yang bernilai mahal. Bahkan sekedar riasan pun, Gyana seringkali merasa tidak pantas. 

Apalagi setelah insiden beberapa tahun silam. Gya ujianna semakin merasa kecil dan tidak pantas hidup sebagai keluarga Danuarta. Inilah yang menjadi alasan kuat ia menerima pernikahannya dengan Sean. Hanya demi diterima dengan baik di keluarga kandungnya. 

Sayangnya itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Perlakuan tidak menyenangkan tetap saja diterima Gyana. 

“Bagaimana dengan gaun ini, G?” Suara Valerie membuyarkan lamunan Gyana. 

Saat ini Gyana sudah berada di sebuah ruangan besar yang terdapat banyak koleksi gaun-gaun cantik. Diterpa oleh lampu kristal yang menggantung semakin membuat gaun-gaun tersebut berkilau indah. 

“Aku rasa ini cocok untuk kamu. Hmmh, memang sedikit terbuka tapi ini akan membuatmu sangat berbeda, G.” Valerie menunjukkan sebuah gaun cantik berwarna merah. 

Gyana belum sempat bereaksi saat tiba-tiba Valerie menarik pelan tangannya menuju sebuah cermin besar. Gaun tersebut segera Valerie letakkan di depan Gyana. 

“Ambil ini, G. Setelah ini aku akan meminta rekanku untuk merias dan merubah penampilan kamu. Sudah saatnya kamu menunjukkan dirimu yang sebenarnya.” Senyum lebar dan tulus Valerie membuat Gyana merasa terharu. 

Gyana berusaha mengubur perasaan rendah diri yang mulai muncul. Apalagi saat tangannya bersentuhan dengan permukaan gaun indah yang halus ini.

Valerie benar, jika keluarganya enggan mengakui dirinya, maka ia yang harus berusaha lebih untuk pantas menyandang nama Danuarta. 

Hampir lima jam lamanya ia berada di butik Valerie. Tidak hanya gaun, Valerie juga membantu Gyana memilihkan sepatu dan tas. 

“Sekarang kamu bisa membuka mata dan melihat dirimu, G!” sorak Valerie. 

Tampaknya gadis itu sangat antusias dengan hasil akhirnya. 

Perlahan mata Gyana terbuka. Di depan sebuah cermin, Gyana sempat membisu beberapa saat. Sosok di depannya begitu cantik. Gyana merasa tidak percaya bahwa itu adalah dirinya sendiri. 

“Val… itu….” 

Valerie mengangguk puas. “Tuh kan, kamu itu cantik banget. Saudara angkatmu pasti akan kepanasan deh!” 

“Makasih….” Gyana hampir saja ingin menangis bahagia. Tetapi urung karena pelototan mata Valerie yang langsung dilayangkan kepadanya. 

***

“Nyonya Gyana?” Mike tanpa sengaja menatap Gyana lebih lama. 

Gyana merapatkan coat hitam panjang yang menutupi dirinya semakin erat. Sore tadi sempat hujan. Aroma khas hujan juga masih terasa di penciuman. Desau angin juga membuat malam ini lebih dingin daripada biasanya. 

“Iya, Mike. Ini saya. Apakah wajah saya terlihat aneh?” 

Mike menggeleng cepat. Pria muda itu lalu segera menunduk merasa bersalah.

“Ampuni saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud lancang. Anda terlihat… berbeda.” 

Gyana terkekeh ringan. Dibandingkan Sean, terkadang Mike lebih bisa membuat Gyana merasa nyaman. Gyana bahkan sempat berpikir, terlalu lama hidup di lingkungan menengah ke bawah, seperti membuat Gyana lebih cepat beradaptasi dengan para pekerja. 

“Mari Nyonya. Tuan sudah menunggu di mobil.” Mike mempersilakan Gyana melangkah lebih dulu menuju mobil. 

Langkah Gyana semakin cepat saat semakin dekat dengan sebuah rolls-royce yang terparkir di depan butik Valerie. Gyana yakin, Sean pasti marah padanya. Seharian ini Gyana sengaja mematikan ponselnya. Sesuatu yang belum pernah Gyana lakukan sebelumnya. 

Mike segera membuka pintu mobil. Gyana pun masuk. 

Suasana mencekam mulai terasa saat Gyana mendaratkan bokongnya di samping Sean. Aura intimidasi pria itu begitu kuat. Belum lagi dinginnya malam semakin membuat Gyana mati kutu. 

Baru kali ini dia sengaja mengabaikan bahkan menolak perintah Sean. 

Mobil melaju cepat membelah jalanan kota. Sepanjang perjalanan tidak satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara. Dari sudut mata, Gyana bisa melihat jelas Sean tampak serius menatap ke depan. 

Sedangkan Gyana semakin merapatkan coatnya. Sejak berada di tempat yang sama, Sean tidak kunjung mengomentari pakaiannya. Gyana berharap, Sean tidak menyadari gaunnya malam ini.

Dalam kesunyian tersebut, perjalanan terasa lebih lama. Akhirnya mereka pun sampai di kediaman Danuarta. Rumah megah yang berdiri angkuh itu menjadi saksi berapa kecilnya Gyana dipandang selama ini. 

Rumah yang tidak terdapat kehangatan bahkan tidak mengajarkan arti keluarga bagi Gyana selama ini. Kalau saja Sean tidak memaksanya untuk datang, Gyana tidak akan sudi menginjakkan kaki di tempat ini. 

Mirisnya perlakuan tidak menyenangkan itu justru Gyana dapatkan dari si pemilik rumah yang notabene-nya adalah keluarga kandungnya sendiri. 

Sean telah turun tanpa bersuara. Sementara Mike lekas berlari kecil menuju pintu sebelah Gyana, bersiap membantu sang nyonya untuk turun. 

Gyana memejamkan matanya beberapa saat. Dihirupnya napas lebih dalam. Gyana harus menguatkan dirinya sendiri. Tekadnya telah bulat. 

Saat matanya terbuka. Gerakan tangannya mulai membuka coat yang sejak tadi membungkus tubuhnya. Dalam seketika, semilir dingin menyusup pelan menerpa kulitnya. 

“Kamu bisa, Gya,” gumamnya rendah. 

Pintu terbuka dan Gyana bergerak turun. Bersamaan dengan kaki Gyana yang mendarat sempurna, Sean pun menoleh. Sorot datar itu dalam sekejap berubah dengan kedua alis tebalnya yang menukik tajam.

“Apa ini, Gyana?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   GAGAL

    "Gimana? Tuan Muda Sean bersedia datang tidak?” Tania mencoba menghubungi Sean lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Panggilan telepon yang ia lakukan sama sekali tidak mendapat respon dari Sean. Pesan-pesan yang Tania kirimkan juga tidak kunjung mendapat balasan. Padahal status pesan yang dia kirim sudah bercentang dua. Tidak biasanya Sean mengabaikannya begini. “Waah, sepertinya Sean sudah tidak memprioritaskan kamu lagi, Tania!” cibir salah satu wanita yang duduk di meja yang sama dengan Tania. “Diam kamu!” sungut Tania kesal. “Kalau memang Kak Sean tidak bisa datang itu karena Kak Sean lagi sibuk. Bukan berarti sengaja tidak memperdulikan aku.” “Karena kamu kalah taruhan itu artinya kamu harus mentraktir kami tas mahal limited edition itu. Dan Tuan Muda Sean yang tidak bisa datang itu artinya kamu yang harus bayar semua termasuk belanjaan kami yang lain.”Ucapan wanita berambut pirang membuat dua wanita lainnya tertawa renyah bercampur seringaian licik semakin membuat wajah Tania

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   MENIKMATI WAKTU BERDUA

    “Aku yang melakukan itu, Sean. Bukan para pelayan tidak bersalah itu.” Tangan Gyana dengan cepat dicekal Sean dengan kuat. Tarikan Sean yang kuat dan mendadak membuat Gyana yang tidak bersiap langsung terdorong ke depan dan menubruk dada Sean yang telanjang sebagian. Alhasil, bibir Gyana yang hanya pernah sekali bersentuhan dengan fisik Sean pun mendarat di dada Sean tanpa bisa dicegah. Mata Gyana membulat dan spontan hendak mendorong Sean. Namun, pergerakannya justru ditahan pria itu. Tenaga Sean yang jauh lebih besar dibanding Gyana membuat wanita yang masih memakai pakaian olahraga itu tidak berkutik. Beruntung sekarang mereka sudah berada di kamar Gyana. Sementara para pelayan yang tadi dihukum di depan sudah dibubarkan Sean. “Jelaskan semuanya!” pinta Sean memusatkan pandangannya pada wajah Gyana yang tampak memerah karena selesai berolahraga. Suara dingin dan penuh penekanan membuat Gyana menelan ludah dengan susah payah. Meski sering melontarkan kalimat ketus dan raut din

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI MENCEKAM

    “Nyonya Gyana!” Fiska berlari kecil menghampiri Gyana yang baru saja sampai di teras rumah. Bulir keringat masih membasahi kening dan sekitar sisi wajahnya. Gyana juga belum sempat meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Napas Gyana bahkan masih tersengal-sengal karena baru selesai berlari pagi. “Gawat, Nyonya!” seru Fiska dengan wajah tegang. “Anu… Tuan….”Gyana mengangkat satu alisnya. Mencoba memahami maksud perkataan Fiska yang sepotong-sepotong. Perlahan Gyana mengusap dengan pelan lengan Fiska, berharap wanita itu bisa lebih tenang.“Ada apa dengan Tuan?” tanya Gyana lembut. Ia juga mengiringi Fiska untuk masuk ke rumah. “Coba Bibi jelaskan pelan-pelan.” “Tuan—”“Kalau tidak ada yang berani mengaku saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua!” Belum sempat Fiska mengurai penjelasan, suara Sean lebih dulu terdengar dari lantai dua. Alih-alih berbicara dengan nada tenang dan rendah seperti biasa, kali ini suara Sean sangat kentara sedang emosi

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   TERTAHAN

    “Kamu tidak boleh mencintai Nael. Rasanya di sini….” Sean menunjuk dadanya. Matanya masih sayu dan suaranya serak serta lirih.. “Tidak rela kamu berdekatan dengan dia.”Guana tidak kunjung menjawab. Malas sekali menanggapi celotehan Sean yang semakin ngawur. Kalau bukan karena pria ini dicari Mike, Gyana mana mau menginjakkan kakinya di tempat sialan ini. Ruang kerja Sean masih sama seperti enam bulan lalu. Bahkan foto Tania masih menempel di dinding dengan begitu menawan. Senyumnya pun masih sama menyebalkan dengan Tania yang asli. “Udah tau nggak bisa minum banyak malah dipaksa,” sungut Gyana seraya melepaskan sepatu Sean. Sebenarnya Gyana sama sekali tidak menduga bahwa Sean masih memakai kemeja, celana dan sepatu kerjanya. Apalagi ini sudah tiga jam dari semenjak pria itu pulang dari kantor. Banyaknya gelas kosong bekas minuman beralkohol itu pun membuat Gyana berasumsi tampaknya kondisi Sean memang tidak baik. Saat pulang tadi pun, Gyana sempat heran melihat penampilan suamin

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   KACAU

    "Bunga untuk siapa itu, Bi?” tanya Sean. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Berbeda dengan biasanya, malam ini Sean terlihat kacau. Rambut yang biasanya rapi jadi berantakan, tiga kancing kemeja atas sudah terbuka dengan dasi yang sudah tidak terdapat mengikat leher dan jas yang biasanya masih terpakai kini hanya disampirkan di lengan. Aura Sean terasa lebih suram dari biasa. Suaranya juga lebih dingin dan ketus serta matanya yang menatap sinis pada buket bunga besar yang berada di atas meja ruang tengah. Sebuah buket lily putih yang langsung mengundang curiga Sean saat melihat benda tersebut. “Dari kartu ucapannya ditujukan ke Nyonya Gyana, Tuan.” “Dari siapa?” Fiska menggeleng. “Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.” Sean berjalan menuju meja. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dari dekat bunga yang ditujukan kepada istrinya tersebut. Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh buket bunga tersebut, suara Gyana lebih dulu menghentikan gerakan Sean. “Jangan sentuh itu,

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI YANG BURUK

    “Kamu sengaja menghindari aku lagi?” Langkah Gyana terhenti saat mendengar suara dari arah belakang. Pintu kamar baru saja tertutup, Gyana kira kamar utama yang berada tidak jauh dari kamarnya pun sudah tidak berpenghuni. Biasanya Sean sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Sama dengan pagi biasanya, Gyana keluar kamar sengaja menunggu Sean pergi kerja. Hidup dengan pria yang menjadi penyebab luka di hatinya tentu saja sangat menyiksa batin. Apalagi jika itu adalah Sean. Pria itu bahkan tidak pernah menyadari bahwa Gyana menghindarinya karena ulahnya sendiri. “Aku tidak bermaksud meninggalkanmu di tepi jalan semalam. Tania—”“Hentikan omong kosongmu. Aku tidak sudi mendengar pembelaan dari mulutmu. Semua itu tidak akan mengubah persepsiku tentang hubungan kalian,” sela Gyana ketus. Gyana sudah siap berangkat kerja. Waktunya tinggal satu jam lagi sebelum nanti bertemu dengan mitra kerjanya. Namun, Sean dengan tanpa bersalah justru menahan dirinya. Dan, seperti yang telah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status