Share

Bab 2

Author: Lani
Tanpa pikir panjang, aku menyentak kuat pergelangan tangannya. Tali tasbih itu putus, butirannya tercerai-berai dan menggelinding di lantai.

Arya tertegun sejenak, lalu dengan ekspresi dingin dia segera mencengkeram lenganku. "Saras berniat baik padamu! Kalau kamu nggak mau berterima kasih, nggak perlu sampai melukainya begini, 'kan?"

Aku menatap Arya dengan tatapan yang sangat tenang, "Tasbih itu ... aku mendapatkannya setelah memohon doa untuk keselamatanmu."

Arya memalingkan wajahnya sedikit, lalu berucap dengan nada dingin, "Lantas kenapa? Saras sampai terjun ke laut karena ulahmu. Dia sudah melewati ribuan penderitaan untuk bisa kembali. Apa salahnya aku memberikan tasbih itu padanya agar dia tetap aman?"

"Lagi pula, ini memang sudah seharusnya! Kamu berutang nyawa padanya!"

Aku menatap Arya dalam-dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya berjongkok, mencoba memunguti butiran tasbih yang berserakan di lantai.

Satu butir terjatuh tepat di dekat kaki Saras. Baru saja aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya, dia sengaja menginjak jari-jariku.

Wajahnya masih menunjukkan raut polos dan tak berdosa, tetapi kakinya justru menginjak dan menekan jariku dengan kuat.

Aku menggertakkan gigi, berusaha menarik tanganku dari bawah kakinya dengan paksa, lalu mengambil butiran tasbih itu.

Tiba-tiba, Saras memekik kaget dan tubuhnya terjatuh ke belakang.

Arya dengan sigap menangkap tubuh Saras dan makian pun langsung terlontar dari mulutnya.

"Yuwita, beraninya kamu berbuat sejahat ini!"

"Sekarang kamu bahkan sudah nggak mau berpura-pura lagi, ya? Berani-beraninya mendorong Saras di depan banyak orang! Kamu benar-benar sudah nggak tertolong!"

Aku bahkan sudah malas untuk sekadar membela diri. Fokusku hanyalah mendapatkan kembali butiran tasbih itu. Setidaknya, satu beban di hatiku kini telah terangkat.

Tanpa memedulikan apa yang mereka bicarakan, aku berbalik dan pergi. Aku pulang ke rumah yang telah kutempati bersama Arya selama tiga tahun terakhir.

Kalaupun aku harus pergi dari dunia ini, aku ingin pergi dengan bersih dan tenang. Aku ingin bercerai dari Arya.

Aku mulai mengemasi semua barang yang kubawa, berencana untuk memesan layanan pemakaman lengkap. Aku ingin pada hari kepergianku nanti, mereka membakar semua barang ini menjadi abu. Separuh abunya biarlah bertebaran di langit dan separuhnya lagi dilarung ke laut bersama abu jenazahku.

Saat hendak mengangkat koper untuk pergi, aku tak sengaja menyenggol boneka di atas meja. Seketika, boneka itu mulai mengeluarkan suara.

"Istriku, hari ini kamu cantik sekali. Aku sangat menyukainya."

"Sayang, ayolah. Sekali lagi, ya?"

"Selama itu hal yang kamu sukai, aku akan mewujudkannya untukmu. Dasar kamu ini."

Air mataku tiba-tiba luruh begitu saja. Kata-kata itu ... semuanya adalah ucapan yang pernah dikatakan Arya kepadaku.

Dulu, aku merekam setiap kepingan momen manis kami, mengunggah audio tersebut ke dalam diska lepas, dan memasangkannya di dalam boneka ini.

Sejak saat itu, ketika Arya mulai melakukan kekerasan emosional dan bersikap dingin padaku, kenangan-kenangan manis inilah yang menjadi kekuatanku untuk bertahan hidup.

Aktingnya sungguh luar biasa. Dia menemaniku bersandiwara sebagai pasangan bahagia selama hampir setengah tahun, lalu tepat di hari ulang tahunku, hari di mana aku sangat menantikan kejutan darinya, dia menyeret paksa diriku dari surga menuju neraka.

Aku masih ingat dengan jelas tatapan dingin dan jijiknya saat dia bertanya padaku, "Hari ini juga hari ulang tahun Saras. Bagaimana bisa kamu merasa sebahagia ini tanpa tahu malu?"

"Kamu sudah mencelakainya, bahkan merebut kekasihnya. Bagaimana bisa kamu tidur dengan nyenyak seolah nggak terjadi apa-apa?"

Aku ingat saat dia dengan kejam memberitahuku bahwa dia tidak pernah sekali pun mencintaiku. Di hatinya, dari awal hingga akhir, hanya ada Saras seorang.

Benar, boneka ini juga sudah seharusnya dibuang.

Tepat saat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Suara dingin Arya terdengar, "Yuwita, apa kamu nggak punya harga diri? Setiap hari kamu tidur sambil berfantasi tentangku melalui rekaman ini?"

Aku baru saja hendak membantah, tetapi siapa sangka, boneka itu malah memutar rekaman suara saat aku dan Arya sedang bermesraan.

Padahal, dulu Arya lah yang bersikeras ingin merekamnya, tetapi saat ini, hal itu justru membuatku menundukkan kepala karena malu dan terhina.

Arya mendengus sinis. "Masih nggak mau mengaku?"

Aku segera mematikan suara boneka itu, mencabut diska lepas di dalamnya, dan tepat di depan mata Arya, aku memformat datanya lalu menginjak benda itu hingga hancur berkeping-keping.

Arya tertegun sejenak. Kilatan amarah tiba-tiba muncul di matanya.

"Untuk apa kamu berakting seperti itu? Ingin pura-pura nggak butuh agar aku mengejarmu? Kamu pikir aku akan tertipu taktik murahanmu itu?"

Sikapku yang acuh tak acuh justru membuat Arya makin murka. Dia mencengkeram tanganku dengan kuat dan membentak, "Saras akan pindah ke sini. Sekarang juga, kamu kembali ke rumah Keluarga Andaru dan bantu dia beres-beres barangnya!"

Kebetulan sekali. Aku memang berniat kembali ke rumah Keluarga Andaru untuk menyingkirkan semua barang-barangku dari sana selamanya.

Setelah ini, aku tidak akan punya hubungan apa-apa lagi dengan mereka semua.

Akan tetapi, baru saja aku melangkah masuk ke rumah Keluarga Andaru, aku melihat seorang pria di ruang tamu. Pria itu berpakaian mewah dan tampak berkelas, tetapi auranya terasa liar dan berandalan. Dia adalah si bos penculik yang menculikku waktu itu!

Sekujur tubuhku terasa membeku, darahku seolah berhenti mengalir. Dengan jari gemetar, aku menunjuk pria itu dan berteriak, "Penculik! Orang ini adalah penculiknya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 11

    Tiba-tiba, Arya melepaskan tangannya dari wajahnya. Sorot matanya kembali berubah menjadi penuh kebencian dan kekejaman."Masih ada beberapa bajingan lagi yang belum mati.""Tunggu sebentar lagi. Setelah Arok dan para penculik itu mati, aku akan datang menemanimu."Aku hanya bisa memutar bola mataku dengan jengkel. Siapa juga yang mau ditemani olehmu!"Tunggu sebentar lagi. Setelah Arok dan para penculik itu mati, aku akan datang menemanimu," gumam Arya.Kedua orang tuaku mematung karena ketakutan. Mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.Sementara itu, Arya sudah melangkah keluar dengan pisau di tangannya yang masih meneteskan darah.Tiba-tiba, aku merasa semua ini sudah tidak ada artinya lagi. Saat aku masih hidup, mereka menyiksaku, menyakitiku, dan tidak memercayaiku. Demi membuat Saras senang, mereka sekuat tenaga menghinaku.Lalu, sekarang setelah aku mati, mereka baru bilang mencintaiku? Ini benar-benar lelucon yang konyol.Suara yang kudengar saat aku tenggelam di laut

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 10

    Baru setelah Arya dan yang lainnya melihat jenazahku yang sudah tak lagi berbentuk, mereka benar-benar percaya bahwa aku telah tiada.Arya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku sudah mati. Terlebih lagi saat dia mendengar dari Wendy dan Tyas bahwa aku telah menyerahkan seluruh urusan pemakamanku kepada mereka dan tidak meninggalkan apa pun untuknya.Sementara itu, kecelakaan mobilku pun penuh dengan kejanggalan.Sopir truk dan aku sama-sama tewas di tempat, tetapi jalan tersebut sama sekali bukan rute yang seharusnya dilewati oleh sopir truk itu.Seolah otaknya baru saja kembali berfungsi, Arya dengan ekspresi muramsegera menelepon anak buahnya untuk menyelidiki hal ini hingga tuntas.Di saat yang sama, Arya seolah melupakan keberadaan polisi dan detektif di sana. Dia benar-benar menunjukkan sikap khas CEO arogan yang buta hukum dengan sesumbar, "Aku akan membuat semua orang ikut terkubur bersama Yuwita!"Ternyata saat seseorang merasa kehabisan kata-kata, orang itu benar-benar

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 9

    Padahal baru saja saat polisi datang, mata Arya masih dipenuhi oleh sosok Saras, menunjukkan kemesraan yang luar biasa pada wanita itu.Bahkan saat aku sudah mati pun, dia masih menganggap aku sedang berakting, menganggap semua orang ini hanyalah aktor yang kusewa.Akan tetapi, kini, saat dia mengaku sebagai suamiku dengan ekspresi penuh duka yang mendalam, semua orang justru menatapnya dengan pandangan yang aneh.Para tamu undangan yang hadir di pesta mulai berbisik-bisik, melontarkan komentar miring yang ditujukan kepada orang tuaku dan juga Arya.Sementara itu, saat Saras mencoba mengendap-endap menuju pintu belakang, tatapan tajam polisi langsung tertuju padanya.Seorang polisi wanita yang tampak cekatan segera melangkah maju dan meringkusnya."Maaf, Bu, kamu belum boleh pergi.""Kamu diduga terlibat dalam kasus penculikan dan pembunuhan berencana. Mohon kooperatif dan ikut dengan kami untuk pemeriksaan."Wajah Saras seketika pucat pasi. Dia terus meronta."Aku nggak melakukannya!

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 8

    Arya mencengkeram kepalanya dengan ekspresi kesakitan, dia bergumam sendiri, "Apa yang kalian bicarakan? Yuwita benar-benar mati? Dia mati?""Kasus penculikan apa? Bukannya itu semua cuma kebohongannya saja?"Detektif itu melirik ke arah Saras yang mencoba menyelinap pergi di saat semua orang tidak memperhatikan, lalu dia membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah video kepada Arya.Di dalamnya terlihat rekaman video.Saras, dengan ekspresi yang tampak mengerikan dan penuh kebencian, berkata kepada Arok, "Hanya kalau dia mati, Arya baru akan menjadi milikku sepenuhnya!""Aku membencinya! Kenapa dia harus muncul? Selama dia masih ada, dia akan terus mengingatkanku kalau aku ini palsu. Dia akan merebut segalanya dariku dan aku nggak akan pernah bisa hidup tenang!"Sementara itu, Arok dengan penuh rasa iba menangkup wajah Saras dan membujuknya dengan lembut, "Jangan khawatir, selama ada aku di sini, semuanya akan beres.""Siapa pun orang yang nggak ingin kamu lihat, aku akan melenyapkannya

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 7

    Arya adalah orang pertama yang tertawa."Jadi, sekarang Yuwita sampai menyewa orang untuk berpura-pura jadi polisi cuma demi menarik perhatianku?""Kenapa? Kalau kemarin dia bilang mati dibunuh penculik, sekarang dia bilang mati tertabrak mobil, begitu?""Aku benar-benar penasaran, sebenarnya dia punya berapa nyawa?"Ekspresi polisi itu makin tegang dan serius. "Tuan, apa kamu keluarganya?"Di saat yang sama, Wendy dan Tyas dari jasa pemakaman menatap Arya dengan tatapan penuh amarah dan rasa tidak percaya."Kami adalah petugas yang bertanggung jawab mengurus jenazah Kak Yuwita. Beliau sudah menyerahkan semua urusan pemakamannya kepada kami.""Setelah kalian pihak keluarga mengonfirmasi identitasnya, kami akan langsung memproses pemakamannya!""Kasihan sekali Kak Yuwita. Dia begitu baik dan lembut, tapi sekarang setelah dia meninggal, nggak ada satu pun anggota keluarga atau suaminya yang sudi melihatnya!"Sambil berbicara, Wendy mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke depan Arya.

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 6

    Malam itu, Arya tetap tidak kunjung pulang. Tak ada satu pun pesan atau kabar darinya untukku.Tepat tengah malam, aku menyalakan lilin ulang tahunku sendiri dan merapalkan doa, "Aku ingin pergi dengan tenang, bersih tanpa noda, dan nggak ingin punya hubungan apa pun lagi dengan mereka."Hari ketujuh, hari terakhir. Aku sudah tidak memiliki penyesalan lagi. Aku hanya ingin pergi ke tepi laut sendirian, duduk tenang di sana, lalu menunggu orang-orang yang telah kusewa datang untuk menjemput jenazahku.Sayangnya, ketenangan sekecil itu pun tidak sudi mereka berikan padaku.Teleponku berdering tanpa henti. Aku tidak mengangkatnya, jadi mereka mulai mengirimkan pesan singkat.Ibu: [Hari ini hari ulang tahun Saras, apa maksudmu nggak hadir? Kamu mau orang-orang mengira kami pilih kasih terhadap Saras?].Ayah: [Cepat seret kakimu ke sini! Semua orang sedang menunggumu!].Saras: [Kak, keinginan terbesarku adalah bisa rukun dengan Kakak. Apa Kakak bisa datang ke pesta ulang tahunku?].Arya: [K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status