Share

Bab 3

Author: Lani
Pria itu menoleh ke arahku, lalu menyunggingkan senyum yang tampak sangat licik dan nakal.

Arya mengernyitkan dahi dan membentak dengan nada dingin, "Mau berulah apalagi kamu? Dia ini teman Saras. Jangan cari gara-gara!"

"Dia pelakunya! Dia yang menculikku!"

Dengan penuh emosi, aku mengeluarkan ponsel untuk menelepon polisi. Mendengar keributan itu, Ayah dan Ibu pun datang menghampiri.

Pria itu seketika memasang wajah bak seorang pria terhormat yang santun, lalu berkata padaku, "Nona, apa Nona nggak salah orang? Ini pertama kalinya kita bertemu."

Aku tidak mungkin lupa. Saat para penculik itu menyiksaku, pria inilah yang berdiri di samping sambil menyipitkan mata sambil tersenyum. Dialah orangnya!

Tanganku yang memegang ponsel masih gemetar hebat. "Dia benar-benar pelaku yang menculikku. Aku mengenalnya!"

Tiba-tiba, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Ibu menamparku. "Mau bikin ulah apa lagi? Apa kamu mau merebut semua orang yang ada di sisi Saras?"

"Tuan Arok adalah penyelamat nyawa Saras. Dia juga tuan muda dari Keluarga Brawijaya! Kalau kamu sampai menyinggung Keluarga Brawijaya, aku nggak akan tinggal diam!"

Aku memegang pipiku dengan tatapan tidak percaya, mataku berkaca-kaca menatap Ibu. "Jadi, apa pun yang kukatakan, Ibu tetap nggak akan pernah memercayaiku, 'kan?"

Tepat saat itu, Saras berjalan mendekat.

"Ada apa?" tanya Saras.

"Siapa lagi kalau bukan dia! Dia menyinggung Tuan Arok dan bersikeras memfitnahnya sebagai penculik!" jawab Ibu sambil memutar bola matanya dengan kesal.

Arya yang berusaha menahan emosinya, mencengkeram tanganku dan berdesis pelan, "Yuwita, minta maaf pada Arok sekarang!"

Saras memiringkan kepalanya, menatapku dengan heran. "Kak, kenapa Kakak harus berbohong?"

"Arok selalu berada di luar negeri dan baru saja kembali beberapa hari yang lalu. Nggak mungkin dia pernah bertemu denganmu."

Tepat pada saat itu, polisi tiba di rumah.

Aku malas meladeni orang-orang ini. Aku langsung menjelaskan kepada polisi tentang penculikan yang kualami dan bahwa Arok inilah otak di balik semuanya.

Arya sepertinya sudah habis kesabaran. Dia menarikku dengan kasar ke belakang tubuhnya dan berkata kepada polisi, "Aku suaminya. Kami nggak ingin buat laporan."

"Istriku belakangan ini mengalami gangguan mental. Dia menderita paranoid dan suka mengarang skenario sendiri."

"Dia bilang dia diculik, bahkan mengaku sudah dibunuh oleh penculiknya, tapi kenyataannya sekarang dia berdiri di depan kita dalam keadaan baik-baik saja."

"Sekarang dia malah memfitnah teman Saras sebagai penculik. Itu semua cuma karena dia cemburu," lanjut Arya.

Hanya dengan beberapa kalimat, Arya berhasil membuatku terlihat seperti wanita licik yang rela melakukan cara kotor demi bersaing dengan Saras. Akhirnya, polisi pun pergi meninggalkan rumah.

Karena sudah tidak tahan lagi, aku menyentak tangan Arya dan berlari ke lantai atas.

Di rumah Keluarga Andaru, barang-barangku jauh lebih sedikit. Kamar yang kutempati pun hanyalah sebuah gudang kecil yang sempit. Setelah memasukkan semuanya ke dalam koper, aku berniat segera pergi.

Akan tetapi, saat sampai di tangga, aku mendengar keluargaku dan Arya sedang berdiskusi tentang bagaimana cara membuangku.

"Yuwita benar-benar penuh dengan kebohongan dan niat busuk. Saras sudah susah payah bisa kembali, jangan sampai dia dicelakai lagi olehnya!"

Arya mengangguk setuju. "Rencanaku, setelah hari ulang tahun nanti, aku akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Kita akan umumkan kepada publik kalau mentalnya terganggu dan dia butuh perawatan."

Benar, hari ulang tahun itu adalah tepat hari aku akan meninggalkan dunia ini selamanya.

Ayahku mengangguk. "Itu pilihan terbaik. Kasihan Saras, selama bertahun-tahun ini dia sudah banyak menderita. Setelah urusan ini selesai, Arya, sudah saatnya kamu dan Saras bersatu sebagai pasangan yang semestinya."

Aku mengira hatiku sudah mati rasa, tetapi saat mendengar mereka merencanakan nasibku dengan begitu dingin dan keji, jantungku tetap terasa sakit hingga gemetar.

Tanganku lemas, membuat koper yang kupegang merosot dan menghantam anak tangga, menimbulkan suara dentuman keras. Mereka serentak menoleh dan menatap tajam ke arahku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 11

    Tiba-tiba, Arya melepaskan tangannya dari wajahnya. Sorot matanya kembali berubah menjadi penuh kebencian dan kekejaman."Masih ada beberapa bajingan lagi yang belum mati.""Tunggu sebentar lagi. Setelah Arok dan para penculik itu mati, aku akan datang menemanimu."Aku hanya bisa memutar bola mataku dengan jengkel. Siapa juga yang mau ditemani olehmu!"Tunggu sebentar lagi. Setelah Arok dan para penculik itu mati, aku akan datang menemanimu," gumam Arya.Kedua orang tuaku mematung karena ketakutan. Mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.Sementara itu, Arya sudah melangkah keluar dengan pisau di tangannya yang masih meneteskan darah.Tiba-tiba, aku merasa semua ini sudah tidak ada artinya lagi. Saat aku masih hidup, mereka menyiksaku, menyakitiku, dan tidak memercayaiku. Demi membuat Saras senang, mereka sekuat tenaga menghinaku.Lalu, sekarang setelah aku mati, mereka baru bilang mencintaiku? Ini benar-benar lelucon yang konyol.Suara yang kudengar saat aku tenggelam di laut

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 10

    Baru setelah Arya dan yang lainnya melihat jenazahku yang sudah tak lagi berbentuk, mereka benar-benar percaya bahwa aku telah tiada.Arya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku sudah mati. Terlebih lagi saat dia mendengar dari Wendy dan Tyas bahwa aku telah menyerahkan seluruh urusan pemakamanku kepada mereka dan tidak meninggalkan apa pun untuknya.Sementara itu, kecelakaan mobilku pun penuh dengan kejanggalan.Sopir truk dan aku sama-sama tewas di tempat, tetapi jalan tersebut sama sekali bukan rute yang seharusnya dilewati oleh sopir truk itu.Seolah otaknya baru saja kembali berfungsi, Arya dengan ekspresi muramsegera menelepon anak buahnya untuk menyelidiki hal ini hingga tuntas.Di saat yang sama, Arya seolah melupakan keberadaan polisi dan detektif di sana. Dia benar-benar menunjukkan sikap khas CEO arogan yang buta hukum dengan sesumbar, "Aku akan membuat semua orang ikut terkubur bersama Yuwita!"Ternyata saat seseorang merasa kehabisan kata-kata, orang itu benar-benar

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 9

    Padahal baru saja saat polisi datang, mata Arya masih dipenuhi oleh sosok Saras, menunjukkan kemesraan yang luar biasa pada wanita itu.Bahkan saat aku sudah mati pun, dia masih menganggap aku sedang berakting, menganggap semua orang ini hanyalah aktor yang kusewa.Akan tetapi, kini, saat dia mengaku sebagai suamiku dengan ekspresi penuh duka yang mendalam, semua orang justru menatapnya dengan pandangan yang aneh.Para tamu undangan yang hadir di pesta mulai berbisik-bisik, melontarkan komentar miring yang ditujukan kepada orang tuaku dan juga Arya.Sementara itu, saat Saras mencoba mengendap-endap menuju pintu belakang, tatapan tajam polisi langsung tertuju padanya.Seorang polisi wanita yang tampak cekatan segera melangkah maju dan meringkusnya."Maaf, Bu, kamu belum boleh pergi.""Kamu diduga terlibat dalam kasus penculikan dan pembunuhan berencana. Mohon kooperatif dan ikut dengan kami untuk pemeriksaan."Wajah Saras seketika pucat pasi. Dia terus meronta."Aku nggak melakukannya!

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 8

    Arya mencengkeram kepalanya dengan ekspresi kesakitan, dia bergumam sendiri, "Apa yang kalian bicarakan? Yuwita benar-benar mati? Dia mati?""Kasus penculikan apa? Bukannya itu semua cuma kebohongannya saja?"Detektif itu melirik ke arah Saras yang mencoba menyelinap pergi di saat semua orang tidak memperhatikan, lalu dia membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah video kepada Arya.Di dalamnya terlihat rekaman video.Saras, dengan ekspresi yang tampak mengerikan dan penuh kebencian, berkata kepada Arok, "Hanya kalau dia mati, Arya baru akan menjadi milikku sepenuhnya!""Aku membencinya! Kenapa dia harus muncul? Selama dia masih ada, dia akan terus mengingatkanku kalau aku ini palsu. Dia akan merebut segalanya dariku dan aku nggak akan pernah bisa hidup tenang!"Sementara itu, Arok dengan penuh rasa iba menangkup wajah Saras dan membujuknya dengan lembut, "Jangan khawatir, selama ada aku di sini, semuanya akan beres.""Siapa pun orang yang nggak ingin kamu lihat, aku akan melenyapkannya

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 7

    Arya adalah orang pertama yang tertawa."Jadi, sekarang Yuwita sampai menyewa orang untuk berpura-pura jadi polisi cuma demi menarik perhatianku?""Kenapa? Kalau kemarin dia bilang mati dibunuh penculik, sekarang dia bilang mati tertabrak mobil, begitu?""Aku benar-benar penasaran, sebenarnya dia punya berapa nyawa?"Ekspresi polisi itu makin tegang dan serius. "Tuan, apa kamu keluarganya?"Di saat yang sama, Wendy dan Tyas dari jasa pemakaman menatap Arya dengan tatapan penuh amarah dan rasa tidak percaya."Kami adalah petugas yang bertanggung jawab mengurus jenazah Kak Yuwita. Beliau sudah menyerahkan semua urusan pemakamannya kepada kami.""Setelah kalian pihak keluarga mengonfirmasi identitasnya, kami akan langsung memproses pemakamannya!""Kasihan sekali Kak Yuwita. Dia begitu baik dan lembut, tapi sekarang setelah dia meninggal, nggak ada satu pun anggota keluarga atau suaminya yang sudi melihatnya!"Sambil berbicara, Wendy mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke depan Arya.

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 6

    Malam itu, Arya tetap tidak kunjung pulang. Tak ada satu pun pesan atau kabar darinya untukku.Tepat tengah malam, aku menyalakan lilin ulang tahunku sendiri dan merapalkan doa, "Aku ingin pergi dengan tenang, bersih tanpa noda, dan nggak ingin punya hubungan apa pun lagi dengan mereka."Hari ketujuh, hari terakhir. Aku sudah tidak memiliki penyesalan lagi. Aku hanya ingin pergi ke tepi laut sendirian, duduk tenang di sana, lalu menunggu orang-orang yang telah kusewa datang untuk menjemput jenazahku.Sayangnya, ketenangan sekecil itu pun tidak sudi mereka berikan padaku.Teleponku berdering tanpa henti. Aku tidak mengangkatnya, jadi mereka mulai mengirimkan pesan singkat.Ibu: [Hari ini hari ulang tahun Saras, apa maksudmu nggak hadir? Kamu mau orang-orang mengira kami pilih kasih terhadap Saras?].Ayah: [Cepat seret kakimu ke sini! Semua orang sedang menunggumu!].Saras: [Kak, keinginan terbesarku adalah bisa rukun dengan Kakak. Apa Kakak bisa datang ke pesta ulang tahunku?].Arya: [K

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 5

    Aku pindah ke markas rahasiaku, sebuah apartemen bekas berukuran kecil yang kubeli dari hasil menjual gim yang kurancang bersama teman-temanku saat kuliah dulu.Ini adalah aset yang sepenuhnya milikku sendiri, tidak ada satu orang pun yang tahu.Latar belakangku yang sulit dan pengalaman hidupku mem

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 4

    Alis Arya bertaut rapat dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, "Sedang menguping apa lagi kamu di sana?"Di mata Ibu, terpancar rasa jijik yang tak lagi ditutup-tutupi. "Karena kamu sudah mendengarnya, aku nggak akan menyembunyikannya lagi darimu.""Jantung Saras lemah. Dia nggak bole

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 2

    Tanpa pikir panjang, aku menyentak kuat pergelangan tangannya. Tali tasbih itu putus, butirannya tercerai-berai dan menggelinding di lantai.Arya tertegun sejenak, lalu dengan ekspresi dingin dia segera mencengkeram lenganku. "Saras berniat baik padamu! Kalau kamu nggak mau berterima kasih, nggak pe

  • Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik   Bab 1

    "Yuwita, berani-beraninya kamu menampakkan wajahmu di sini!""Saras sudah pernah hampir mati karena ulahmu dan dia baru saja kembali. Apa kamu masih berniat mencelakainya lagi?"Cengkeraman kuat di leherku membangkitkan kembali rasa takut yang luar biasa saat aku tenggelam waktu itu. Tubuhku gemetar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status