LOGINWho would have thought that Echi, an average man in a village would ever have anything to do with the mistake of an ancestor?Isiewu, a diviner and Chief priest of Umuolu, a ruthless man who pretends to be a saviour lures the village into a war they were not meant to partake in. In the end, we find the torn heart of a young boy as he begins his search for the truth. Will he find the truth? Will more difficulties face him? This 19th century masterpiece is set in a small Igbo village in present day Nigeria and features love, mistakes, disaster and most of all, mysterious events.
View MoreāCari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.ā
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? āKa-kamu ... serius, Mas?ā bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. āKamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?ā Kaisar mendesah berat. āAku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.ā Djiwa menelan ludahnya susah payah. āKalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?ā tanyanya bingung. āKamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!ā Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. āCari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,ā ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. āAku tidak sedang bernegosiasi.ā Dada Djiwa terasa menyesakāseolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. āKamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?ā Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. āJadi, lakukan sajaāatau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!ā Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. āNggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.ā Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. āKalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.ā Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. āBagaimana?ā Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. āDjiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.ā Tatapan Kaisar tetap dingin. āBaiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,ā setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. āKe mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi ⦠anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,ā gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagiāsebentar lagi waktu sarapan. āYa Tuhan!ā Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinardāyang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantuāhierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. āIni teh hijaunya, Mi,ā Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. āTerima kasih,ā ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. āAku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,ā kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. āSatu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.ā Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. āTapi kamu belum juga hamil.ā Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapunāterutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elitā memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabangāmulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. āSaya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,ā lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinyaāagar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. āSaya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.ā āMungkin Djiwa mandul, Mi!ā Inggritāistri Radja, si sulungāmenimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. āBisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!ā imbuh Fairishāistri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri SultanāFairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata āmandulā itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosanāseolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. āMi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,ā ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannyaāmembuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. āTidak ada kata ābaik-baik sajaā, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!ā āLakukan saja, Wa ⦠apa yang dikatakan Mami,ā akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. āLagipula,ā Kaisar kembali melanjutkan. āAku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.ā Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? āDengar baik-baik,ā Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. āSaya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.ā Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. āJika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.ā Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. āSetelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.āChibuzor Victor Obih was born in the southern part of Nigeria. Delta State to be precise. His writing includes essays, poetry and short stories. He likes to play soccer, read, study and above all, write. He is currently a fourth year student of a renowned public university in Nigeria. The University of Port-Harcourt is where he is pursuing a bachelor's degree in Mechanical Engineering. Shading Black is his first book and his first attempt to explore the beautiful world of a novelist. To stay connected with him and his works, you can follow him on Instagram using the account name: Chibuzor Victor Obih or follow him on Facebook using the account name: Author Chibuzor Victor Obih.
The room was silent. The door swung open and James came inside, holding a book. Ibekwe stared at James and sighed. They looked at each other for a while before James sat down."I got some interesting information you might want to hear," James said."Tell me," Ibekwe said. He had been feeling guilty since the death of Ifeme."The same boy who killed Osisiakalaka confessed some of the diviner's sins to me. He gave some fascinating explanations about your history that still baffles me," James said, moving his fingers. "Is the name Isiewu familiar to you?" He asked."Not really. I have only heard my grandfather mention him once and that was when he told me to story of Umuolu's war."James reasoned with compressed lips. "Isiewu played a major role in destroying your family. According to Efulefu, the diviner slept with Agunwa, the daughter of a chief priest named Egwusinala. Does these names sounds familiar to you?""I think it does," Ibekwe said.
When James Streamer and his father arrived at Osisiakalaka's shrine with some of the people of Umuise who had converted to Christianity he was shocked to find a large crowd of men and women sitting tiredly in front of the shrine. He asked a young woman to explain what was going on in the shrine and she obeyed without hesitation."A great man has fallen in Umuise," she said with tears in her eyes."Who is the man that has attracted everyone in this village to Osisiakalaka's shrine?" James asked."The man is not here. He is far away from this village.""What do you mean by that?""His body is lying in the shrine but his spirit has departed," the woman replied slowly."What is the name of the man that has caused so much tears to flow in your eyes?"The young woman turned and pointed at the door of the shrine."Osisiakalaka," she said. "Maybe you will be able to tell us why your god has sent his messenger to kill the greatest
"What is happening to the family of Okoli? The news of death has become a common thing in Umuise." Chima said as the elders gathered in the village square.There were many men and women sprawled on the ground. None of them brought stools along with them. It was a day of mourning."What will the ancestors of Okoli say when they hear that his family lineage was wiped out within a week?" Chima asked but no one replied.The women sprayed ashes on their heads as if they were mourning the death of a chief priest. The children covered their bodies with sand as they wept and called Ifeme's name.After Chima sat down, the next elder who spoke was Ekwensi. He did not salute the crowd."Great people of Umuise, our gods have been offended. They have been desecrated and now they seek justice for the blood of Okoli. People of Umuise, we have sinned against our gods by sending a man that did not deserve death an
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore