LOGINDi menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor.
Kakek Mario benar-benar membuat Altan memulai karier dari nol. Ia ditempatkan di divisi inbound Logistics, bagian paling teknis dan membosankan yang mengurusi alur masuk komponen perangkat keras. Tugasnya? Memeriksa kecocokan nomor seri ribuan unit base station. Saat Altan tengah menatap layar monitor, ponselnya bergetar di atas meja. Ia segera menyambar ponsel itu dan berjalan cepat menuju pintu darurat. Ia menaiki anak tangga menuju rooftop, satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas lega. Angin kencang menyapu rambut Altan saat ia menggeser tombol hijau. Ia berdiri di tepi pagar pembatas, menatap gedung-gedung beton yang seolah mengejek posisinya saat ini. "Halo, Babe. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku saat ini," ucap Altan begitu sambungan telepon terhubung. Ia melonggarkan sedikit dasinya yang terasa mencekik. "Kau baik-baik saja, Sayang?" Suara wanita di seberang terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seorang istri yang posisinya sedang digantikan wanita lain. "Jadi lebih baik karena mendengar suaramu, Fio." "Aku ada di sekitar Menara Aureon, apa kita bisa makan siang bersama?" Altan menghela napas kasar, "Maaf, sepertinya tidak bisa. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu." "Kau takut pekerjaanmu tak selesai?" Suara di telepon tertawa kecil. "Kau tahu, aku harus lulus dari masa percobaan di divisi sialan ini. Jika kinerjaku buruk, Kakek Mario hanya akan mencari cara lain untuk menghukumku lebih berat," keluh Altan frustrasi. "Oh Sayang, kau pasti sangat menderita." Terdengar suara klakson samar, wanita di seberang telepon tengah mengemudi. "Kalau begitu, kenapa kau tidak segera memberikan apa yang keluargamu inginkan agar drama ini cepat selesai?" Altan mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?" "Lekas hamili istri palsumu," ucap Fiorella dengan nada datar tanpa beban. "Mengapa kau menunda-nunda rencana kita?" "Aku tidak menundanya, Fio. Aku hanya sedang mencari cara untuk membuatnya mengandung keturunanku... tanpa aku harus menyentuhnya seujung jari pun." Di seberang sana, Fiorella mendengus. "Tiduri dia, Altan. Itu jalan pintas paling cepat. Kau hanya perlu berpura-pura menyukainya." Rahang Altan mengeras. "Bagaimana bisa kau setenang ini meminta suamimu meniduri wanita lain?" "Sayang, Ini hanya soal teknis. Hanya menghamili, bukan mengencani apalagi mencintainya. Setelah keluargamu mendapatkan cucu yang mereka dambakan, kau bisa membuang wanita itu dengan mudah." Altan menarik napas pendek. "Kau sedang mabuk, Fio?" "Tidak. Aku sangat sadar. Jika kau membuat kakek senang dengan memberinya cicit, keluargamu akan berhenti menekanmu." "Sayang..." "Kau bisa membayangkanku saat melakukannya dengan dia. Ayolah, Altan. Keluargamu memintamu memperlakukan wanita itu dengan baik, itu jauh lebih menjengkelkan," suara wanita di seberang telepon terdengar kesal. Altan terdiam. Ide menyentuh wanita rendahan itu, bagi pria itu menjijikkan, namun secara fungsional, itu adalah solusi tercepat untuk mengakhiri statusnya sebagai pegawai rendahan di divisi logistik. Jauh sebelum perjodohan bisnis itu, Altan dan Fiorella memang sudah menjadi sepasang kekasih. Masalahnya, Fiorella tidak bisa hamil. Kakek Mario tak akan menerima cucu menantu yang tak bisa melahirkan keturunan. Mereka sengaja memanfaatkan kemiripan Ruenna untuk menggantikan posisi Fiorella secara sementara, sampai Ruenna dibuat hamil dan melahirkan. "Pikirkan itu, Sayang," ucap wanita itu sebelum memutus sambungan. Altan menurunkan ponselnya perlahan, dan menarik napas dalam-dalam. Sementara Altan mencoba memikirkan usulan yang baru saja di dengarnya, wanita yang mereka bicarakan tengah dalam perjalanan dengan sebuah taksi online. *** Ruenna turun di depan sebuah restoran bergaya Industrial di kawasan yang tenang. Tempat itu terkesan privat dan sepi, hanya dua mobil terparkir di pelataran. Baru saja melangkah mendekat, seorang pria berseragam safari langsung menyambut dan mempersilakannya masuk tanpa bertanya. Bagian dalamnya mirip kafe eksklusif, tetapi sama sekali tidak ada pengunjung. Ruenna melirik jam di ponselnya. Pukul empat sore, jam yang seharusnya ramai untuk bersantai. Semalam, seseorang dari manajemen Jerry tiba-tiba mengontaknya dan mengajak bertemu. Tak disangka, alamat yang diberikan justru tempat sepi seperti ini. "Nona Rue?" Ruenna sedikit terperanjat. Seorang pria berkacamata sudah berdiri di hadapannya, lalu tanpa menunggu respons, ia mengarahkan Ruenna ke sebuah meja di sudut. "Restorannya belum buka?" tanya Ruenna sambil melirik sekeliling. Genio hanya membalas dengan senyum formal. Tempat ini sebenarnya bukan kafe umum, melainkan markas terselubung agensi Jerry. Konsep restoran dari luar hanyalah kamuflase untuk menghalau media dan penggemar dari urusan pribadi sang aktor. Menangkap aura dingin pria di depannya, Ruenna buru-buru memotong sebelum Genio sempat membuka suara. "Jerry yang mendadak masuk ke frame saya. Rekaman live-nya sudah saya hapus dan tidak saya sebar luas." "Saya tahu," balas Genio datar, menyodorkan sebuah dokumen tebal ke atas meja. "Karena itu, kami ingin membeli akun YuTube Anda, Nona Rue." Ruenna mengernyit heran. "Membeli akun saya? Untuk apa?" "Tentu saja untuk menghapusnya." "Saya tidak akan menjualnya," tolak Ruenna tegas. "Dua ratus ribu dolar." Ruenna tertegun sejenak. Namun, ia menggeleng. "Tidak." "Lima ratus ribu dolar." Jantung Ruenna berdegup kencang. Setengah juta dolar bisa menutup biaya perawatan neneknya di Bright Memory Care untuk waktu yang sangat lama. Ia tidak perlu lagi mengemis pada Aras. Namun, kanal yang kini memiliki 500 ribu subscriber itu adalah satu-satunya tiket kebebasan agar ia tak selamanya menjadi budak sang ayah biologis. "Saya tidak akan menjualnya. Kanal itu adalah hidup saya," tegas Ruenna. Tatapan Genio makin dingin. "Jika Anda menolak tawaran kami, dengan terpaksa kami akan menempuh jalur hukum." Ruenna tertawa hampa. "Atas dasar apa? Saya tidak melakukan kejahatan." "Menyiarkan seorang figur publik tanpa izin tetap dianggap pelanggaran hak privasi," cecar Genio tanpa ragu. "Meski penonton yang memotong dan menyebarkan cuplikannya, Anda yang memulainya."Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. "Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin
"Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari
Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar
Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih
Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk
Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t
"Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol
Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda
Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa
Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya. "Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk o







