Share

Bab 7

Author: SayaNi
last update publish date: 2026-05-05 00:54:36

"Tunggu, aku butuh waktu untuk berpikir," potong Ruenna pelan. "Ini murni latihan akting, kan? Tidak lebih?"

Jerry mengangguk singkat. "Ya."

Ruenna menarik napas panjang. Berakting sebenarnya bukan hal baru baginya. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di rumah keluarga Oleander. Di depan kamera, ia berakting jadi chef profesional walau rasa masakannya sendiri masih misteri.

Tapi soal asmara? Pengalamannya nol besar.

Hidupnya selama ini habis hanya untuk bertahan hidup. Jangankan paham physical touch atau emotional bonding, punya pacar saja tidak pernah. Namun, demi menyelamatkan kanal YuTube-nya, satu-satunya tiket menuju kebebasan finansial demi neneknya, ia tidak punya pilihan selain menyetujui sandiwara baru ini.

"Lalu kapan latihannya? Jadwalku cukup padat," ucap Ruenna sok sibuk. Yang ia maksud 'jadwal padat' sebenarnya adalah menemani ibu mertua Fiorella berbelanja pakaian desainer, menghadiri arisan sosialita yang membosankan, dan mengurus rumah.

"Kita bisa menyesuaikan jadwalmu," balas Jerry tenang.

"Tunggu! Jerry, kau tidak bisa mengambil keputusan segabah ini," potong Genio panik. "Kita bahkan belum mengenal Nona ini! Bagaimana kalau dia membocorkan rahasia pribadimu ke mana mana?"

Jerry menoleh santai ke arah manajernya. "Kami punya ikatan yang cukup dekat."

Di seberang meja, pikiran Ruenna sudah melayang ke mana-mana. Jika akun YuTube-nya selamat, ia bisa terus mengunggah konten, meraup penghasilan besar, dan membiayai perawatan neneknya tanpa perlu bergantung pada siapa pun. Kekayaan adalah tiket tunggalnya menuju kebebasan.

Sementara itu, Genio mengamati mereka berdua bergantian dengan dahi berkerut. 'Ikatan dekat dari mana?' Tidak ada percikan romansa atau indikasi perselingkuhan di antara mereka.

Atmosfernya terlampau aneh, membuat manajer itu makin pusing sendiri.

Ruenna berdehem kecil untuk melegakan tenggorokannya yang jadi kering setelah sempat mengkhayal jadi YuTuber kaya raya. Ia kembali menatap Jerry dengan raut serius.

"... Baiklah," ucap gadis itu mantap. "Tapi aku punya syarat."

Jerry menaikkan sebelah alis, menunggu Ruenna melanjutkan ucapannya tanpa memotong.

"Jangan bilang siapa-siapa," lanjut Ruenna tegas. "Terutama... keluarga Oleander."

Jerry menatap mata Ruenna sejenak, mengunci kesepakatan itu secara tersirat. Senyum tipis yang sulit diartikan mengulas di bibirnya.

"Tentu," jawab Jerry singkat. "Rahasia dijamin aman."

"Satu lagi," tambah Ruenna sebelum menutup transaksi di antara mereka. "Aku tidak perlu buat video klarifikasi, kan? Masalah ini selesai, dan pihakmu tidak akan menuntut apa pun belakangan hari."

Genio mengerutkan kening, menatap Ruenna curiga. "Maksudnya, Nona Chef Rue mau membiarkan rumor Anda berpacaran dengan Jerry mengambang begitu saja?"

"Bukan begitu," sanggah Ruenna cepat. "Justru kalau aku buat klarifikasi, warganet malah makin penasaran. Kalau aku diam dan tetap mengunggah video resep masakan, lama-kelamaan orang akan menganggap pria di live kemarin cuma mirip saja. Channel-ku cuma soal masak, bukan yang aneh-aneh kok."

"Maksudmu resep tak layak makan?" potong Jerry. Ia tak tahan untuk tidak tertawa.

Ruenna melirik tajam, tahu persis pria itu menyindir takoyaki yang dibuatnya kemarin. "Yang salah itu bakat memasakku, bukan resepnya! Aku pakai resep berstandar ISO, tahu!"

Jerry menyesap sisa kopinya tanpa memedulikan pembelaan Ruenna. "Siapkan dokumen perjanjiannya," perintahnya pada Genio.

"Baik," sahut Genio, lalu pamit meninggalkan mereka.

Jerry berdiri, memberi isyarat singkat dengan dagunya pada Ruenna. "Ikut aku."

Ruenna segera ikut bangkit, dan mengikuti langkah Jerry menuju sebuah lift di sudut ruangan. Mereka naik ke lantai atas, memasuki ruangan kerja yang jauh lebih privat. Desainnya masih industrial, namun terasa lebih personal dengan rak buku besar.

"Selain jadi aktor, ternyata kau punya usaha sampingan mengelola sebuah restoran ya?" tanya Ruenna mencoba berbasa-basi. Agar ada bahan untuk bicara.

"Duduklah," potong Jerry, mengabaikan pertanyaan basa-basinya.

Pria itu mengambil seberkas kertas dari atas meja kerja, rangkuman action lines untuk adegan romansa yang sudah ia kumpulkan. Ia meletakkannya di hadapan Ruenna, lalu duduk di seberang meja.

"Ini daftar beberapa adegan latihan yang akan kita lakukan," ujarnya datar.

Ruenna mengambil berkas itu dan membacanya dengan teliti. Awalnya terasa normal. Berpegangan tangan, tatapan mata intens, berpelukan. Namun, makin ke halaman berikutnya, matanya makin membelalak.

"Kita tidak benar-benar melakukannya, kan?" tanya Ruenna dengan dahi berkerut.

Jerry hanya menajamkan tatapan dan mengangkat sebelah alisnya.

"Maksudku... adegan-adegan dewasa seperti ini!" lanjut Ruenna sambil menunjuk kertas itu dengan ragu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   125 I'm Yours

    Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. ​"Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   124. Jual Mahal

    "Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   123 Cerai

    Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. ​Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. ​Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   122 kebutuhan biologis

    Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   121 Rencana Mertua

    Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.​Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.​Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   120 lupa ngundang

    Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 3

    Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya. "Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk o

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 2

    Bersama dengan ART, Ruenna meletakkan piring-piring dengan hati hati. Hal yang sudah dihafalnya selama tinggal di kediaman Oleander. Sup pembuka, hidangan utama, hingga set alat makan ditata rapi di hadapan Mario, Altan, Livia, dan Jerry, cucu kakek Mario yang datang bersamanya. Begitu ART mereka

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 5

    Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 4

    Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status