Share

BAB 4

Penulis: SayaNi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 22:07:51

Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang baru saja keluar dari kamar.

"Lihat siapa yang baru bangun," cemooh Altan sambil menyusupkan sebelah tangan ke saku celana.

Ruenna berpura-pura tidak lihat. Menganggap Altan tak ubahnya penampakan hantu, ia berniat melewatinya begitu saja untuk turun ke dapur dan membantu Livia menyiapkan sarapan.

Namun, Altan sengaja menghalangi jalannya Ruenna.

"Dengar," bisik Altan sinis. "Jangan mengadukan perselingkuhanku pada Kakek Mario."

Meski ada desir takut, Ruenna membalas datar, "Ternyata Anda takut."

"Takut?" Altan tertawa remeh. "Darah lebih kental daripada air. Kakek tidak akan pernah membuangku hanya demi cucu menantu palsu sepertimu."

Ruenna menelan ludah. 'Hmm... pria ini benar juga.'

"Kalau pernikahan ini batal, dua keluarga hanya kembali pada perang bisnis mereka," Altan mencondongkan wajahnya, membungkuk sedikit. "Tapi kau? Kau akan ditendang keluar tanpa membawa sepeser pun. Jadi, bertingkahlah seperti anjing yang penurut. Jangan gigit tangan yang memberimu makan."

Pria itu lalu melangkah santai menuruni tangga.

Sepeninggal Altan, Ruenna mengusap kasar air mata yang tidak sengaja menetes. Ia menarik ingus kuat-kuat lewat hidung, berusaha memaksa ingusnya untuk tersedot balik ke dalam.

Jika keluarga Aras mendepaknya, biaya perawatan sang nenek di Bright Memory Care yang puluhan ribu dolar setiap bulan akan langsung dihentikan. Sejak ibunya meninggal, nenek Sofia adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Ijazah sarjananya sama sekali tak berguna. Catatan kriminal atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan sudah menutup rapat seluruh pintu karier. Hanya posisi buruh cuci piring restoran yang mau mempekerjakannya.

Sambil menyusuri langkah menuju dapur, Ruenna merogoh ponsel dari saku. Rekaman live semalam masih tersimpan aman dalam folder privat karena penampakan tak terduga Jerry.

Ibu jarinya mengambang tepat di atas tombol Publikasikan. Wajah Jerry yang terekam tak sengaja bisa membuat akun YouTube miliknya pasti meledak dan bisa memberi jalan keluar finansial baginya.

Namun, jemarinya mendadak Ragu.

***

Di tempat lain, Jerry sedang berlari melintasi jalur setapak di halaman belakang rumahnya. Keringat membasahi kaus lari putih yang melekat di tubuhnya.

Musik di earphone-nya tiba-tiba meredup, berganti nada dering telepon.

Dengan perintah suara singkat, panggilan langsung terhubung.

"Jerry! Kau sudah lihat video yang kukirim?" Suara Genio, manajernya, terdengar seperti ingin mengabarkan bencana alam.

Jerry tak menjawab. Ia memperlambat langkah menjadi jalan cepat sambil mengatur napas.

"Jerry? Kau masih hidup?" cecar Genio panik. "Tim IT kita sedang melacak sumber video deepfake itu. Teknologinya halus sekali, tapi tenang, manajemen akan segera merilis pernyataan kalau itu bukan kau."

Jerry berhenti melangkah. Ia merogoh ponsel di saku lengan, membuka video kiriman Genio.

"Itu bukan deepfake," ucap Jerry datar.

Hening seketika di seberang sana, sebelum Genio kembali berseru, "Apa? Asli? Jangan bercanda. Bagaimana bisa?!"

"Jangan berlebihan," sahut Jerry santai. Ia melangkah menuju kursi taman lalu duduk bersandar, menikmati jeda istirahatnya.

"Kau bersama wanita? Malam-malam? Dia sengaja menjebakmu demi konten?" tanya Genio bertubi-tubi.

"Menurutmu begitu?"

"Dia pacarmu?"

"Bukan."

"Lalu kenapa kau ada di sana?"

"Mencari udara segar."

Genio menghela napas panjang, suaranya terdengar frustrasi. "Jerry, sebosan apa pun kau, jangan mencari sembarang wanita!"

Mata Jerry menyipit tipis saat mengingat Ruenna, istri sepupunya sekaligus cucu pemilik perusahaan teknologi Harmlock.

"Dia bukan wanita sembarangan," katanya pada Genio.

"Tetap saja! Berhati-hatilah," dengus Genio. "Sepertinya dia chef amatir. Demi konten dan subscribers, wanita tipe begitu rela melakukan apa saja. Dia memperalatmu agar kanal YouTube-nya viral.

"Chef?" tanya Jerry. Ia pun tertawa lepas. Sangat kontras dengan citranya sebagai pembunuh berdarah dingin di film terakhirnya. Tudingan panik Genio sama sekali tak digubris, tetapi sebutan 'chef' langsung memicu ingatannya pada takoyaki berasa kayu bakar yang hampir meracuninya semalam.

"Kenapa kau malah tertawa? Ini masalah serius!" suara Genio meninggi. "Branding-mu itu aktor misterius. Muncul di video amatir seperti ini bisa merusak citra eksklusif yang kita bangun bertahun-tahun!"

Jerry berhenti tertawa dan membalas dengan nada datar. "Kalau menurutmu ini masalah serius, selesaikanlah dengan tenang."

Di seberang telepon, Genio memijat pelipisnya, berusaha meredam emosi akibat sikap santai aktornya itu. "Baiklah, aku akan mengurusnya."

Tanpa membalas, Jerry memutuskan sambungan. Ia membiarkan sinar matahari pagi menerpa wajahnya yang berpeluh. Jemarinya lalu menyapu layar, membuka tautan kanal YouTube Chef Rue yang dikirimkan Genio.

Sebuah senyum miring terukir di bibirnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   108. Ada hantu?

    Jerry melangkah santai memasuki ruang kerja bernuansa kayu gelap milik Kakek Mario. Di balik meja besar, sang patriarki duduk dengan ekspresi siap menelan orang bulat-bulat. "Kau sudah meninggalkan wanita itu?" sapa Kakek Mario tanpa basa-basi, ia ingin menunjukkan ketegasannya pada cucunya yang membangkang. "Pintu keluarga ini tertutup rapat kalau kau masih bersamanya." Ekspresi Jerry tidak goyah sedikit pun. Dengan santai ia mendekati meja, lalu menjatuhkan amplop cokelat tebal di atas meja sang kakek. "Kedatanganku ke sini bukan untuk minta maaf atau memohon," ucap Jerry dengan santai. Kakek Mario mendengus remeh. "Lalu kau mau apa?" "Ini terakhir kalinya aku memberi peringatan," balas Jerry tenang. "Aku bukan lagi bagian dari Oleander. Jadi, mari kita sepakat untuk tidak saling mengusik." Sudut mata Kakek Mario menyipit tajam. "Tanpaku, kau bisa apa? Bahkan rumah sakit keluarga Deluca tidak lepas dari sokongan dana dariku." Bukannya terintimidasi, Jerry langsung kel

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   107 Suami tidak berakhlak

    "Sepertinya ada yang lagi yang kau sembunyikan dariku," ucap Jerry. Pria itu menghela napas. Memasang raut wajah kecewa. "Jerry, bagaimana kalau kita berdua... pergi?" usul Ruenna tiba-tiba. Mengira istrinya itu sedang mengajak liburan romantis, Jerry tersenyum semringah. "Ah, maaf, aku lupa tentang bulan madu kita. Kau ingin honeymoon kemana?"​"Bukan, bukan itu maksudku," balas Ruenna pelan. Ia melepaskan tangan Jerry yang masih mengapit dagunya. Digenggamnya tangan itu, sembari menatap mata Jerry lekat-lekat. "Maksudku, kita benar-benar pergi jauh. Kalau perlu pindah ke luar negeri... mungkin ke Kutub Utara."​"Kutub Utara?"​"Iya, biar lebih aman," balas Ruenna serius. "Dengan begitu, pamanmu tak akan bisa mencoba membunuhmu lagi."Tangan Jerry yang lain beralih mengelus lembut pipi Ruenna. Bibirnya mengulas senyum tipis, ia selalu luluh tiap kali wanita itu menunjukkan perhatiannya. "Soal itu, aku akan baik-baik saja."​​Ruenna melepas tangan Jerry, dan langsung mengambil pons

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   106 Yes, Master

    Peringatan (21+)mengandung adegan dewasa. Bagi yang kurang nyaman, disarankan melompati bab ini.Jemari Ruenna perlahan membebaskan milik Jerry yang menuntut untuk segera disentuh.Ruenna mengelus kulit sensitif yang hangat itu seolah mencoba menenangkannya. Ibu jarinya membelainya pelan sembari memberi kecupan."Ssshh..." Jerry meremas pelan sandaran sofa, merasakan kehangatan jemari Ruenna yang bermain lembut di sana.Ruenna mendongak sebentar, menatap mata Jerry yang menahan gairah, lalu menunduk kembali. Ia mengecap dengan ujung lidahnya, sebelum akhirnya perlahan membiarkan rongga mulutnya yang hangat membungkus milik Jerry.Tulang rusuk Jerry yang belum sembuh total memaksanya untuk tetap diam bersandar. Ia hanya bisa pasrah membiarkan Ruenna memanjakannya dengan lumatan yang semakin intens."Ugh... Argh... Ruenna," erang Jerry. Kepalanya makin terperosok ke sandaran sofa. Rasa nikmat itu terasa begitu menyiksa.Jerry memejamkan matanya. Jemarinya menyusup ke sela-sela rambut Ru

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   105 I have a boyfriend

    "Saya?" Ruenna tersenyum canggung, karena tiba-tiba dikasih panggung untuk bicara. Haruskah ia ikutan pamer? "Kesibukan saya cuma sibuk menghabiskan uang jajan yang diberikan Michelle," ucap Ruenna sembari tersenyum manis. Ia menatap Michelle yang duduk di sebelahnya. Lalu lanjut dengan semangat, "Tahu sendiri, kan? Rumit sekali rasanya. Van Cleef, Harry Winston, atau Cartier itu rajin sekali mengeluarkan koleksi perhiasan baru setiap musimnya. Padahal set perhiasan berlian yang dibelikan Michelle musim lalu saja belum semuanya sempat saya pakai."Tiga tahun Ruenna hidup sebagai Fiorella, ia sudah terbiasa dengan barang-barang mewah karena sering berbalanja bersama Livia. Satu meja langsung terdiam. Mereka sebenarnya ingin menganggap Ruenna hanya membual demi mengangkat gengsi Michelle di depan mereka. Namun, saat mata mereka secara naluriah meneliti penampilan Ruenna dari atas ke bawah, niat menyangkal itu sirna. Potongan gaun, pendar kemilau perhiasan berlian yang dikenakan Ruenn

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   104 Suami patuh istri

    Setelah keluar dari rumah sakit, Jerry memilih menghabiskan masa pemulihannya di rumah yang ia tempati bersama Ruenna. Siang itu, Genio datang setelah pembebasannya diselesaikan oleh pengacara Homar. Pria itu menyandarkan punggung di sofa, menatap Jerry yang duduk santai di hadapannya."Jadi, apa rencanamu sekarang?" Jerry menjawab santai, "Istriku bilang, balas dendam tidak akan pernah ada ujungnya. Aku patuh pada istriku."Genio tertegun, antara ingin tertawa atau heran. "Lalu aku harus patuh pada siapa? Kau bosnya."Raut wajah Jerry berubah serius. "Pengacara Eric sengaja memperlama persidangan. Dia pikir bisa membuat putranya menjadi tak bersalah," Jerry tertawa sebelum lanjut berkata, "aku jadi ingin memastikannya mendapat hukuman terberat."Genio menaikkan sebelah alisnya, menyindir halus. "Bukannya kau suami yang patuh pada istri?"Jerry terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Benar. Terima kasih sudah mengingatkan.""Sama-sama," balas Genio datar.Tak lama kemudian, terde

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   103 Hot Gila

    Tiga hari kemudian...Jerry sudah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat, dan bisa duduk bersandar di tempat tidurnya. Meski beberapa lapis perban masih membalut dada dan bahunya. Di sudut ruangan, Narin sibuk melihat lihat tumpukan hadiah dari para penggemar Jerry yang sudah di periksa oleh keamanan. "Jerry, boneka karakter yang lucu ini sangat mirip denganmu! Yang ini buat aku, ya?" seru Narin memeluk boneka itu. Jerry melirik adiknya datar. "Ambil saja semuanya sebelum dibuang.""Cih, herman kok bisa orang sepertimu punya penggemar, tampan tidak, attitude tidak ada," cibir Narin, tetapi jemarinya tetap sibuk memilah barang-barang unik lainnya. "Kak, cepatlah bosan dengan Jerry, lalu buang saja dia."Ruenna tersenyum tipis mendengar ucapan Narin padanya. Ia pikir gadis yang tengah sibuk dengan tugas akhir kuliah itu akan membencinya karena akrab dengan Aylin. Tetapi Narin malah bersikap biasa saja padanya. Ruenna kembali fokus pada mangkuk sup di tangannya. Ia menyuapkan satu send

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 7

    "Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 6

    Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 5

    Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 3

    Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya. "Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk o

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status