LOGINKeesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang baru saja keluar dari kamar.
"Lihat siapa yang baru bangun," cemooh Altan sambil menyusupkan sebelah tangan ke saku celana. Ruenna berpura-pura tidak lihat. Menganggap Altan tak ubahnya penampakan hantu, ia berniat melewatinya begitu saja untuk turun ke dapur dan membantu Livia menyiapkan sarapan. Namun, Altan sengaja menghalangi jalannya Ruenna. "Dengar," bisik Altan sinis. "Jangan mengadukan perselingkuhanku pada Kakek Mario." Meski ada desir takut, Ruenna membalas datar, "Ternyata Anda takut." "Takut?" Altan tertawa remeh. "Darah lebih kental daripada air. Kakek tidak akan pernah membuangku hanya demi cucu menantu palsu sepertimu." Ruenna menelan ludah. 'Hmm... pria ini benar juga.' "Kalau pernikahan ini batal, dua keluarga hanya kembali pada perang bisnis mereka," Altan mencondongkan wajahnya, membungkuk sedikit. "Tapi kau? Kau akan ditendang keluar tanpa membawa sepeser pun. Jadi, bertingkahlah seperti anjing yang penurut. Jangan gigit tangan yang memberimu makan." Pria itu lalu melangkah santai menuruni tangga. Sepeninggal Altan, Ruenna mengusap kasar air mata yang tidak sengaja menetes. Ia menarik ingus kuat-kuat lewat hidung, berusaha memaksa ingusnya untuk tersedot balik ke dalam. Jika keluarga Aras mendepaknya, biaya perawatan sang nenek di Bright Memory Care yang puluhan ribu dolar setiap bulan akan langsung dihentikan. Sejak ibunya meninggal, nenek Sofia adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ijazah sarjananya sama sekali tak berguna. Catatan kriminal atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan sudah menutup rapat seluruh pintu karier. Hanya posisi buruh cuci piring restoran yang mau mempekerjakannya. Sambil menyusuri langkah menuju dapur, Ruenna merogoh ponsel dari saku. Rekaman live semalam masih tersimpan aman dalam folder privat karena penampakan tak terduga Jerry. Ibu jarinya mengambang tepat di atas tombol Publikasikan. Wajah Jerry yang terekam tak sengaja bisa membuat akun YouTube miliknya pasti meledak dan bisa memberi jalan keluar finansial baginya. Namun, jemarinya mendadak Ragu. *** Di tempat lain, Jerry sedang berlari melintasi jalur setapak di halaman belakang rumahnya. Keringat membasahi kaus lari putih yang melekat di tubuhnya. Musik di earphone-nya tiba-tiba meredup, berganti nada dering telepon. Dengan perintah suara singkat, panggilan langsung terhubung. "Jerry! Kau sudah lihat video yang kukirim?" Suara Genio, manajernya, terdengar seperti ingin mengabarkan bencana alam. Jerry tak menjawab. Ia memperlambat langkah menjadi jalan cepat sambil mengatur napas. "Jerry? Kau masih hidup?" cecar Genio panik. "Tim IT kita sedang melacak sumber video deepfake itu. Teknologinya halus sekali, tapi tenang, manajemen akan segera merilis pernyataan kalau itu bukan kau." Jerry berhenti melangkah. Ia merogoh ponsel di saku lengan, membuka video kiriman Genio. "Itu bukan deepfake," ucap Jerry datar. Hening seketika di seberang sana, sebelum Genio kembali berseru, "Apa? Asli? Jangan bercanda. Bagaimana bisa?!" "Jangan berlebihan," sahut Jerry santai. Ia melangkah menuju kursi taman lalu duduk bersandar, menikmati jeda istirahatnya. "Kau bersama wanita? Malam-malam? Dia sengaja menjebakmu demi konten?" tanya Genio bertubi-tubi. "Menurutmu begitu?" "Dia pacarmu?" "Bukan." "Lalu kenapa kau ada di sana?" "Mencari udara segar." Genio menghela napas panjang, suaranya terdengar frustrasi. "Jerry, sebosan apa pun kau, jangan mencari sembarang wanita!" Mata Jerry menyipit tipis saat mengingat Ruenna, istri sepupunya sekaligus cucu pemilik perusahaan teknologi Harmlock. "Dia bukan wanita sembarangan," katanya pada Genio. "Tetap saja! Berhati-hatilah," dengus Genio. "Sepertinya dia chef amatir. Demi konten dan subscribers, wanita tipe begitu rela melakukan apa saja. Dia memperalatmu agar kanal YouTube-nya viral. "Chef?" tanya Jerry. Ia pun tertawa lepas. Sangat kontras dengan citranya sebagai pembunuh berdarah dingin di film terakhirnya. Tudingan panik Genio sama sekali tak digubris, tetapi sebutan 'chef' langsung memicu ingatannya pada takoyaki berasa kayu bakar yang hampir meracuninya semalam. "Kenapa kau malah tertawa? Ini masalah serius!" suara Genio meninggi. "Branding-mu itu aktor misterius. Muncul di video amatir seperti ini bisa merusak citra eksklusif yang kita bangun bertahun-tahun!" Jerry berhenti tertawa dan membalas dengan nada datar. "Kalau menurutmu ini masalah serius, selesaikanlah dengan tenang." Di seberang telepon, Genio memijat pelipisnya, berusaha meredam emosi akibat sikap santai aktornya itu. "Baiklah, aku akan mengurusnya." Tanpa membalas, Jerry memutuskan sambungan. Ia membiarkan sinar matahari pagi menerpa wajahnya yang berpeluh. Jemarinya lalu menyapu layar, membuka tautan kanal YouTube Chef Rue yang dikirimkan Genio. Sebuah senyum miring terukir di bibirnya.Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. "Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin
"Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari
Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar
Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih
Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk
Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t
"Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol
Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda
Bersama dengan ART, Ruenna meletakkan piring-piring dengan hati hati. Hal yang sudah dihafalnya selama tinggal di kediaman Oleander. Sup pembuka, hidangan utama, hingga set alat makan ditata rapi di hadapan Mario, Altan, Livia, dan Jerry, cucu kakek Mario yang datang bersamanya. Begitu ART mereka
Tiga tahun berperan sebagai istri dari seorang pria yang tak pernah menyentuhnya, keseharian Ruenna Selyn malah mengulek cabai di dapur kediaman Oleander. Alih-alih duduk manis menyeruput teh, atau menghabiskan uang di outlet fashion brand mahal layaknya menantu keluarga konglomerat. Di bawah ara







