Share

BAB 3

Author: SayaNi
last update publish date: 2026-04-09 21:52:27

Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu.

Ia langsung menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya.

"Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk oleh sekretaris Aras. "Mengapa Anda melakukannya?"

Aras yang sedang meneliti dokumen di meja kerjanya hanya mengangkat pandangannya sekilas. Tidak ada binar kebapakan. Bagi pria yang tak lagi muda itu, Ruenna hanyalah noda dari masa lalu yang kebetulan berguna karena mirip dengan Fiorella.

“Aku sudah mengatakannya padamu,” Aras meletakkan pulpennya. “Jangan mencari masalah dengan suami Fiorella,” lanjutnya.

"Sampai kapan aku tetap harus berpura-pura menjadi Fiorella?" Ruenna melangkah maju, menumpukan kedua tangannya di meja ayahnya. "Anda sebenarnya tahu di mana Fiorella, kan?"

Aras menyandarkan punggungnya, wajahnya tetap datar. "Untuk itulah aku membayar mahal perawatan nenekmu di Bright."

Setelah sekian lama saling menjatuhkan sebagai rival di industri teknologi, Mario Oleander dan Harmlock sepakat untuk memerger kedua perusahaan raksasa mereka demi mengakhiri sejarah panjang perang bisnis mereka lewat pernikahan.

Tawa hambar lolos dari bibir Ruenna, getir dan penuh ketidakpercayaan. "Bukankah Anda berjanji akan memberikan perawatan terbaik untuk Nenek seumur hidup? Dan tugasku hanya menggantikan Fiorella di altar," tagih Ruenna.

"Kau harus tahu satu hal. Dalam bisnis, kesepakatan berubah mengikuti situasi. Dan janji? Janji itu bergantung pada seberapa besar keuntungan yang bisa kudapatkan,” balas Aras tanpa beban.

Mendengar penjelasan ayahnya, Ruenna mengepalkan tangan kuat-kuat. Neneknya sudah cukup menderita melihat putri satu-satunya berakhir menjadi simpanan pria kaya yang otaknya entah di mana.

​"Kuberitahu satu rahasia, Altan memiliki wanita lain dan tinggal bersama," ucap Ruenna, berharap informasi itu bisa digunakan Aras untuk bernegosiasi atau setidaknya menjadi senjata politik untuk menekan keluarga Oleander.

​Jika Altan yang bermain api lebih dulu, pihak Oleander tidak akan bisa menyalahkan pihak Harmlock jika suatu saat rahasia pelarian Fiorella terbongkar. Pikir Ruenna.

​Namun, Aras justru terkekeh kecil, suara rendah yang membuat bulu kuduk Ruenna meremang.

​Pria paruh baya itu memutar-mutar pulpennya dengan santai. "Altan mau memelihara sepuluh wanita sekaligus pun, itu bukan masalah besar. Selama merger perusahaan di atas kertas tetap berjalan lancar."

​Ruenna terkesiap. Ia menatap Aras dengan tatapan tidak percaya.

​"Kembalilah ke rumah itu, dan lanjutkan peranmu," titah Aras, kembali mengabaikan keberadaan Ruenna.

​Ruenna mundur selangkah, napasnya terasa sesak.

​'Mereka semua sakit,' batinnya getir. Pria di depannya benar-benar seorang ayah yang menjual anaknya demi kekuasaan?

Entah mengapa gadis itu jadi merasa iba dengan Fiorella yang berstatus putri sah dan berdarah murni.

***

Akhirnya, Ruenna menyerah pada kenyataan. Ia terpaksa kembali menapakkan kaki di kediaman megah mertua Fiorella. Tak ada pilihan lain, ia harus menelan dalam-dalam harga dirinya demi memastikan Aras tetap mentransfer biaya perawatan sang nenek di Bright Memory Care.

​Namun, di balik dinding rumah yang patriarki itu, Ruenna punya 'dunia rahasia'. Dapur kediaman Eric Oleander yang berkonsep Modern Scandinavian lengkap dengan kabinet kayu minimalis dan peralatan dapur modern adalah studio impian bagi karir tersembunyinya.

​Setiap kali malam telah larut dan Livia bersama Eric Oleander sudah masuk ke kamar, Ruenna bertransformasi. Di depan kamera, ia bukan lagi menantu yang penurut, melainkan Chef Rue, seorang koki konten kreator dengan sepuluh ribu subscribers di YuTube.

​Malam itu, ia menata ponsel di atas tripod mini, menarik napas dalam, lalu menekan tombol live stream. Komentar mulai berdatangan satu per satu. Dengan lincah, Ruenna menuangkan adonan dan membolak-balik takoyaki menggunakan sumpit kayu.

​Sayangnya, tepat di tengah aksi koki ala-ala profesionalnya, perut Ruenna mendadak mulas. Tak sanggup menahan rasa mulas yang menyerang tiba-tiba, ia terpaksa meninggalkan wajan dan siaran langsung itu begitu saja demi melesat ke toilet tanpa mematikan rekaman live.

Di sisi lain rumah, Jerry sedang tekun menjalankan pekerjaan sampingannya menjadi sopir keluarga.

​Kemarin ia begitu antusias menawarkan diri mengantar kakeknya berkunjung, dan malam ini ia kembali sukarela menyetir untuk kedua orang tuanya ke kediaman Eric.

Bagi sang paman, kebaikan hati yang 'tidak biasa' ini hanya membuktikan satu hal, keponakannya itu memang aktor yang tidak punya banyak pekerjaan.

​Jerry memanfaatkan citra itu dengan sangat apik. Setelah sengaja menguap lebar di depan para tetua karena hampir mati bosan, ia berpamitan singkat lalu melangkah pergi untuk keliling rumah Eric Oleander, pura-pura mencari udara segar.

​Langkah santainya yang tampak tanpa arah itu akhirnya membawanya ke dapur.

​Di atas meja tengah dapur, mata tajamnya menangkap pemandangan menarik. Ada proses memasak yang ditinggalkan begitu saja, dan sebuah ponsel di atas tripod mini yang tengah merekam wajan.

​Jerry mendekat. Tanpa dosa, jemarinya memutar engsel tripod ke atas, mengubah sudut kamera dari wajan panas ke wajah tampannya sendiri.

​Dengan ekspresi datar dan tatapan tanpa beban, Jerry menatap layar, menyaksikan deretan komentar siaran langsung yang tadinya sepi mendadak bergulir heboh. Manik matanya lalu beralih santai ke samping tripod, tertambat pada sepiring takoyaki hangat yang beraroma menggoda.

Tepat saat itu, Ruenna yang baru kembali dari toilet mendadak terkejut dengan napas terengah. Matanya membelalak mendapati Jerry sedang berdiri santai di depan tripodnya.

​Panik setengah mati membayangkan rahasia pekerjaan sampingannya akan terbongkar, Ruenna meluncur maju, menyambar ponselnya, lalu mematikan siaran langsungnya.

​Jerry beralih menatapnya santai. "Kau yang buat ini?" tanyanya sambil menunjuk piring berisi takoyaki.

​"I-iya..." jawab Ruenna terbata.

​Tanpa permisi, Jerry mengambil satu takoyaki dan bersiap memasukkannya ke mulut.

​"Jangan!" seru Ruenna. Gadis itu tahu betul masakan buatannya hampir tak pernah ada yang berhasil.

​Terlambat. Bulatan takoyaki itu sudah ada di mulut Jerry.

​Ruenna bersiap melihat pria itu meringis jijik atau memuntahkannya. Namun, detik demi detik berlalu tanpa drama. Jerry tetap mengunyah dengan tenang lalu menelannya. Ekspresinya datar.

​"B-bagaimana rasanya?" tanya Ruenna ragu.

​"Seperti kayu lapuk yang dibakar," sahut Jerry tanpa berkedip.

​Ruenna mengernyit heran. "Maksudnya?"

​"Tidak layak disebut makanan."

​"Lalu kenapa ditelan sampai habis?!"

​"Karena sudah terlanjur masuk ke mulutku."

​Dengan jawaban super tenang itu, Jerry berbalik dan melangkah santai meninggalkan dapur.

​Ruenna berdiri terpaku, menatap punggung Jerry yang menghilang di lorong. 'Pria ini benar-benar aneh,' batinnya tak habis pikir.

​Tak ingin mengambil risiko, Ruenna bergegas membuang sisa takoyaki gagal itu, mencuci seluruh peralatan, dan memastikan dapur kembali steril. Setelah beres, ia berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya yang luas dan tak kalah mewah dari kamar Altan.

​Sambil merebahkan diri ke kasur, Ruenna meraih ponsel dari saku untuk memeriksa rekaman siaran langsung yang terpotong tadi. Namun, begitu layarnya menyala, ponsel itu mendadak error.

Ting! Ting! Ting! Ting!

​Notifikasi masuk bertubi-tubi tanpa henti. Ponsel di genggamannya tiba-tiba diserbu oleh ratusan pemberitahuan.

​Ruenna mengerjapkan mata berkali-kali. Ia memelototi layar saat aplikasi YuTube akhirnya berhasil terbuka. Angka subscriber-nya yang tadi sore masih bertahan di kisaran 10 ribu, kini meroket drastis hampir menyentuh angka 500 ribu!

​Dengan tangan gemetar, Ruenna membuka kolom komentar pada cuplikan siaran langsungnya yang terputus.

​@JerrysWife_Global: "YA TUHAN!! APAKAH ITU BENAR-BENAR JERRY?! Dia menatap takoyaki itu dengan wajah serius... seksi sekali!"

​@Kim_Ji_Soo: "Jerry Oppa! Bahkan saat menang Aktor Terbaik di Oscar pun dia tidak datang, tapi sekarang dia malah muncul di dapur orang?! Aku benar-benar ingin menangis!"

​@Li_Wei_99: "Siapa perempuan itu? Jangan-jangan mereka sedang syuting film rom-com secara rahasia?"

​Kening Ruenna berkerut makin dalam. Ratusan komentar dalam berbagai bahasa asing. Ia hanya bisa membatu bingung, sama sekali tidak memahami kenapa dunia begitu heboh hanya karena pria berparas tampan seperti Jerry.

​"Mereka semua muncul gara-gara pria itu?" gumam Ruenna terperangah.

​Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepupu dari suami Fiorella itu memang punya paras yang mencolok, tetapi reaksi netizen sungguh tidak masuk akal.

​"Apa dia semacam CEO yang viral di internet hanya karena ketampanannya?" gumam Ruenna polos.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   125 I'm Yours

    Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. ​"Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   124. Jual Mahal

    "Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   123 Cerai

    Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. ​Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. ​Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   122 kebutuhan biologis

    Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   121 Rencana Mertua

    Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.​Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.​Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   120 lupa ngundang

    Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 2

    Bersama dengan ART, Ruenna meletakkan piring-piring dengan hati hati. Hal yang sudah dihafalnya selama tinggal di kediaman Oleander. Sup pembuka, hidangan utama, hingga set alat makan ditata rapi di hadapan Mario, Altan, Livia, dan Jerry, cucu kakek Mario yang datang bersamanya. Begitu ART mereka

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 6

    Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 5

    Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 4

    Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status