แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: SayaNi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-19 13:38:41

Ruenna menelan ludah. Angan-angannya menjadi content creator sukses yang tinggal menghitung pundi-pundi uang mendadak hancur seperti gelembung sabun.

"Jadi, terima saja tawaran kami," desak Genio.

"Apa untungnya bagi Anda menghapus kanal Chef Rue?" cicit Ruenna. "Membagikan resep itu cita-cita saya," lanjutnya mengiba.

"Untuk menutup akses Anda ke publik. Kami harus memastikan tidak ada lagi orang yang mengeksploitasi privasi aktor kami di masa depan."

"Eksploitasi?" Ruenna mengernyit. Eksploitasi itu terlalu berlebihan. "Dengar, saya hanya live stream dan saya sama sekali tidak tahu kalau dia seorang aktor!"

Genio menatap Ruenna, tak mau kalah. "Jika Anda tidak menonton film-filmnya, Anda memang tidak akan mengenalnya. Jerry tidak pernah muncul di gala premiere atau wawancara mana pun."

"Tidak pernah ikut promosi?" Ruenna mengernyit polos. "Apa dia cuma pemain figuran?"

Genio berdehem keras. Telinganya panas mendengar bosnya disamakan dengan figuran. "Jerry adalah aktor kelas A. Dia punya privilese untuk bebas dari kewajiban konferensi pers atau promosi apa pun."

Pria berkacamata itu kembali mengetuk berkas tebal di meja. "Jadi? Pilih menjual akun Anda, atau berurusan dengan hukum?"

Ruenna kembali berpikir, 'melawan orang kaya yang punya pengacara berderet adalah tindakan sia-sia,'

Ia kira lonjakan 500 ribu subscriber semalam adalah dapat durian runtuh, tak disangka malah jadi musibah.

Namun, gadis itu tak akan menyerah begitu saja. Ia menundukkan kepala, mengatur napasnya agar terdengar gemetar, dan diam-diam menggigit bagian dalam bibir, sengaja memancing air mata agar menggenang di pelupuk mata.

Begitu mendongak kembali menatap Genio, matanya sudah berkaca-kaca, membuatnya tampak seperti korban perampokan.

"Saya akui, akun Yutube saya awalnya hanya sepuluh ribu pengikut," ujar Ruenna dengan suara parau yang dibuat-buat. "Tapi Anda tahu berapa banyak malam yang telah saya lewati demi membuat konten dan mendapatkan subscriber, saya mengedit sampai tangan cidera merekam ulang puluhan kali..."

Aksi ratapannya tiba-tiba terhenti ketika ujung matanya menangkap sosok seorang pria di sudut ruangan. Jerry berdiri bersedekap di dekat tiang, memperhatikan drama Ruenna entah sejak kapan.

Ruenna tersentak dan lekas menyapu sisa air mata palsunya, menarik napas dalam, lalu memperbaiki posisi duduknya. Raut mukanya berubah datar dan elegan. Di depan orang lain, ia harus tetap mempertahankan citra Fiorella yang tak bakal mengemis demi hal sepele.

Jerry melangkah mendekat, menarik kursi di seberang Ruenna, lalu duduk bersandar dengan santai.

"Kau mau berpacaran denganku?" tanyanya langsung dengan wajah polos tanpa dosa.

Ruenna yang baru selesai merapikan penampilannya mendadak melotot.

Genio di sebelahnya spontan menganga. Di samping meja, seorang staf yang hendak menyajikan kopi tersentak kaget hingga nampannya hampir miring dan menumpahkan kopi.

Genio mendekat dan berbisik pada Jerry, "Jangan bercanda di tengah negosiasi,"

"Aku serius," sahut Jerry santai. Matanya tidak lepas dari Ruenna.

Ruenna menelan ludah, berusaha menjaga martabatnya. "Saya wanita bersuami."

Jerry memajukan wajahnya ke arah Ruenna. "Pernah melakukan kencan dewasa?"

Kalimat itu membuat Genio yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak. Pria berkacamata itu menatap bosnya dengan pandangan horor. 'Jerry dengan istri orang semalam dan sekarang mau memacarinya?' batin Genio histeris.

Jerry yang sama sekali tidak sadar pikiran manajernya sudah liar ke mana-mana, mengangguk santai. "Aku akan membiarkan kanal YuTube-mu. Tapi ada syaratnya."

Ruenna mengangkat alis, firasatnya mulai buruk. "Syarat apa?"

"Jadi partnerku."

"Partner apa?"

"Berhubungan."

Ruenna langsung tersedak ludahnya sendiri. "Anda gila?! Mengajak hal seperti itu di depan manajer Anda?"

"Maksudku, partner latihan kencan untuk proyek film baruku," potong Jerry santai. "Aku butuh seseorang yang mengerti physical touch dan emotional bonding."

Genio memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut. Ia berbisik frustrasi pada Jerry, "Apa ini soal naskah Tuan Demir? Kau sungguhan mengambil peran itu?"

"Itu naskah terakhirnya sebelum pensiun. Aku harus ambil," balas Jerry tanpa menoleh.

"Tapi kita bisa nego! Minta mereka ubah peranmu jadi antagonis seperti biasa," bisik Genio lagi.

"Kalau kita buang waktu dengan negosiasi, pria tua itu keburu meninggal sebelum syuting mulai," tukas Jerry datar.

Ruenna hanya diam, memperhatikan interaksi absurd dua pria di depannya.

Aktor papan atas itu benar-benar tidak memedulikan pusingnya sang manajer. Ia kembali menatap Ruenna dengan tatapan memikatnya.

"Bagaimana, Chef Rue?" Senyum tipis terukir di sudut bibir Jerry.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   125 I'm Yours

    Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. ​"Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   124. Jual Mahal

    "Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   123 Cerai

    Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. ​Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. ​Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   122 kebutuhan biologis

    Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   121 Rencana Mertua

    Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.​Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.​Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   120 lupa ngundang

    Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 7

    "Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 5

    Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 2

    Bersama dengan ART, Ruenna meletakkan piring-piring dengan hati hati. Hal yang sudah dihafalnya selama tinggal di kediaman Oleander. Sup pembuka, hidangan utama, hingga set alat makan ditata rapi di hadapan Mario, Altan, Livia, dan Jerry, cucu kakek Mario yang datang bersamanya. Begitu ART mereka

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 1

    Tiga tahun berperan sebagai istri dari seorang pria yang tak pernah menyentuhnya, keseharian Ruenna Selyn malah mengulek cabai di dapur kediaman Oleander. Alih-alih duduk manis menyeruput teh, atau menghabiskan uang di outlet fashion brand mahal layaknya menantu keluarga konglomerat. Di bawah ara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status