เข้าสู่ระบบ
Matahari siang menyorot hangat di halaman kampus. Mahasiswa baru masih sibuk mondar-mandir mencari ruangan, ada yang gugup, ada yang sok cuek.
Aurelya Pramesthi berjalan cepat dengan wajah serius, blazer hitam tipis membalut kemeja putihnya. Dari jauh, orang bisa langsung menilai: galak. Tatapannya tajam, langkahnya tegas. Padahal dalam hati, ia masih bingung sama jadwal kelas yang baru ia terima. “Hey, hati-hati jalan, woy!” teriak seorang cowok tinggi yang hampir ketabrak Aurelya. Raksa Adityan. Dingin, misterius, dan entah kenapa, aura pelindungnya langsung bikin orang lain waspada. Aurelya mendengus. “Lu yang nggak lihat jalan.” Raksa hanya menaikkan sebelah alis, tidak menjawab. Diamnya justru bikin Aurelya makin kesal. Di sisi lain, Shafira Arunika sibuk melambaikan tangan ke dua temannya, Vanya Lakshita dan Nayara Anindhita. “Eh, sini! Gue udah dapet info lokasi kelas!” seru Shafira dengan senyum hangat. Vanya datang dengan langkah kalem, sambil menenteng diary kecil di tangannya. Wajahnya teduh, seperti gadis yang baru keluar dari film indie. Sedangkan Nayara, feminim dengan aura misterius, hanya tersenyum tipis, lalu menunduk sambil merapikan rambut panjangnya. Tak jauh dari mereka, Arya Dirgantara—cowok populer yang wajahnya sering jadi bahan gosip di grup mahasiswa baru—bercanda dengan Elvano Jatmika yang jenaka. Sementara itu, Dewa Pradipta terlihat duduk sendirian di bangku taman, wajahnya seperti menantang siapa pun yang berani mendekat. Satya Narendra, cowok kalem berkacamata, datang paling akhir. Tangannya membawa buku filsafat, langkahnya santai tapi pasti. Seolah semesta sengaja mempertemukan, nama mereka dipanggil di pengeras suara: “Mahasiswa baru, kelas Komunikasi A, harap berkumpul di Aula Utama.” Mata mereka saling bertemu, sekilas, lalu berpaling lagi. Tak ada yang tahu, dari pertemuan pertama yang biasa itu, akan lahir ratusan kisah penuh tawa, luka, dan rahasia. Dan hari itu, Bab pertama dimulai. Vanya melangkah pelan menuju aula, diary kecil masih digenggam erat di tangannya. Ia sempat berhenti sejenak di depan papan pengumuman, membaca jadwal yang tertempel rapi. Tiba-tiba ada suara ringan di sampingnya. “Lo juga bingung sama jadwal yang kayak candi prambanan ini?” Vanya menoleh, menemukan seorang cowok berambut sedikit berantakan dengan senyum lebar—Elvano Jatmika. Ia terkekeh kecil. “Candi prambanan?” “Iya,” Elvano mengangguk sok serius. “Rumit, penuh misteri, dan kalau salah baca bisa nyasar. Sama aja kayak gue pas nyari kelas barusan, nyampe-nyampe malah ke parkiran motor.” Vanya menahan tawa. “Berarti bukan jadwalnya yang ribet, tapi lo yang nggak bisa baca.” “Ouch, kena mental gue,” Elvano pura-pura meletakkan tangan di dadanya, ekspresi lebay. Vanya tersenyum tipis. Ia jarang berbicara banyak dengan orang baru, tapi entah kenapa Elvano punya cara bikin suasana ringan. “Lo… Vanya, kan?” “Tau dari mana?” “Shafira nyebut nama lo tadi. Gue Elvano. Lo bisa manggil gue Van juga… biar lebih hemat vokal.” Vanya terkekeh lagi, kali ini tulus. “Nama lo aja udah singkat, masih mau dihemat.” “Kan hidup mahasiswa baru harus hemat segalanya, termasuk huruf.” Elvano mengedip nakal. Mereka berjalan beriringan menuju aula. Vanya membuka diary kecilnya, menuliskan sesuatu singkat sambil berjalan. “Elah, masih sempet nulis diary? Jangan-jangan lo lagi catet jokes gue ya?” “Enggak,” jawab Vanya datar tapi matanya berkilat geli. “Kalau catet jokes lo, bukunya bisa penuh dalam sehari.” “Wih, berarti gue berbakat jadi stand-up comedy kampus nih.” “Lebih cocok jadi badut ospek.” Elvano tertawa keras, dan tanpa sadar suara tawanya bikin beberapa mahasiswa lain menoleh. Vanya sedikit salah tingkah, tapi diam-diam merasa… hangat. Pertemuan sederhana itu, tanpa mereka sadari, akan jadi awal dari ikatan yang jauh lebih dalam. Sesampainya di aula, ruangan sudah mulai dipenuhi mahasiswa baru. Bangku panjang berjejer rapi, sebagian besar sudah terisi. Vanya melangkah ragu, matanya mencari tempat kosong. “Eh, situ kosong tuh,” Elvano menunjuk deretan kursi di dekat jendela. Vanya hanya mengangguk, lalu berjalan mendahului. Ia duduk dengan hati-hati, meletakkan diary kecil di pangkuannya. Elvano ikut duduk di sampingnya, tanpa basa-basi. Beberapa menit mereka diam, sampai Elvano membuka suara lagi. “Lo suka nulis, ya?” Vanya menoleh singkat, agak kaget. “Hm? Kok tau?” “Diary itu kayaknya nggak pernah lepas dari tangan lo. Dari tadi lo pegang mulu, bahkan pas jalan. Pasti penting banget buat lo.” Vanya menunduk, jemarinya mengusap sampul diary berwarna cokelat muda. “Iya… cuma kebiasaan aja. Gue suka nyatet hal-hal kecil. Kadang cuma satu kalimat, kadang satu halaman.” Elvano mengangguk sambil bersandar di kursi. “Berarti lo tipe pengamat. Gue suka orang yang detail.” “Kenapa?” “Soalnya gue kebalikannya. Gue lebih sering asal. Nggak pernah terlalu mikirin detail, yang penting seru aja jalanin.” Vanya tersenyum samar. “Makanya lo nyasar ke parkiran.” Elvano tertawa pelan, menunduk. “Touché. Tapi ya gitu deh, kalau ada orang kayak lo, mungkin bisa bikin hidup gue lebih… tertata.” Kata-kata itu membuat Vanya sedikit salah tingkah. Ia menoleh ke jendela, menatap pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Dalam hati, ia merasa aneh—baru kenal, tapi cowok ini bicara seolah mereka sudah saling mengenal lama. Tak lama kemudian, Elvano menyikut pelan lengannya. “Eh, coba bayangin. Kalau gue stand-up di depan mahasiswa baru sekarang, kira-kira lo bakal catet punchline gue nggak?” “Kalau lucu, mungkin.” “Kalau garing?” “Gue tulis juga. Buat bukti ke anak cucu nanti kalau ada manusia yang gagal bikin orang ketawa.” Elvano terbahak, kepalanya menunduk sampai hampir menyentuh meja. Suaranya mengundang tawa kecil dari bangku sekitar, tapi Vanya tetap tenang, hanya menutup wajah dengan tangan seolah menahan malu. Di balik semua itu, ada satu hal yang sama-sama mereka rasakan yaitu kehadiran satu sama lain ternyata lebih menyenangkan daripada yang mereka duga. Hari itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi mereka, justru di situlah awal dari sesuatu yang diam-diam tumbuh, perlahan tapi pasti. Acara perkenalan di aula berjalan cukup lama—sambutan, pengumuman, bahkan sesi perkenalan antar mahasiswa baru. Begitu selesai, para mahasiswa buru-buru keluar, sebagian mencari udara segar, sebagian lagi langsung menuju kantin kampus yang katanya baru direnovasi. Vanya masih duduk sebentar, menutup diary kecilnya, saat Elvano berdiri sambil meraih tas. “Laper nggak?” tanyanya tiba-tiba. Vanya menoleh, sedikit bingung. “Hm?” “Kantin. Gue denger katanya menunya variatif banget, ada mie ayam, nasi goreng, sampe tahu bulat yang digoreng dadakan.” Elvano meliriknya dengan ekspresi sok serius. “Gimana? Mau temenin gue survey kuliner kampus?” Vanya menahan senyum, pura-pura berpikir. “Survey kuliner?” “Iya. Penting buat kelangsungan hidup mahasiswa. Lo mau bertahan kuliah empat tahun, kan?” “Aku sih nggak niat mati kelaparan.” “Berarti ayo, sekalian kita riset,” kata Elvano sambil menunjuk pintu keluar. Mau tak mau, Vanya ikut berdiri. Mereka berjalan keluar aula, menyusuri koridor yang ramai dengan mahasiswa baru. Dalam perjalanan, obrolan kecil pun muncul. “Elvano,” ucap Vanya pelan, “lo emang suka bercanda gitu, ya?” “Kenapa?” “Kayak… semua hal bisa jadi bahan ketawa buat lo.” Elvano mengangkat bahu. “Ya biar hidup nggak kaku-kaku amat. Lagian, kalau orang lain bisa senyum gara-gara gue, rasanya lumayan lah. Anggep aja gue badut kampus versi limited edition.” Vanya menghela napas pendek, tapi bibirnya melengkung tipis. “Limited edition biasanya mahal.” “Nah, itu dia. Jadi lo beruntung bisa temenan sama gue lebih awal.” Vanya terkekeh kecil. Hatinya terasa hangat. Obrolan receh ini anehnya nyaman, tidak membuatnya lelah. Begitu sampai di kantin, aroma masakan langsung menyambut. Suara panci beradu, teriakan penjual menawarkan menu, dan mahasiswa yang antre menambah riuh suasana. Elvano langsung melirik ke kanan-kiri, matanya berbinar. “Gila, gue berasa lagi masuk festival kuliner. Lo mau makan apa?” Vanya membuka dompet, menimbang. “Kayaknya nasi goreng deh.” “Elah, standar banget. Gue kira lo bakal pilih menu yang aesthetic kayak salad buah.” "Aesthetic nggak bikin kenyang.” “Elah, pinter juga jawaban lo,” Elvano ngakak sambil menunjuk antrean mie ayam. “Oke, gue ke mie ayam. Kita ketemuan di meja tengah, ya.” Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan, masing-masing dengan nampan. Vanya dengan nasi goreng sederhana, Elvano dengan mie ayam plus es teh jumbo. “Lo asal tau aja,” Elvano membuka obrolan sambil mengaduk mie ayamnya, “kalau suatu saat gue sukses jadi influencer makanan, lo harus jadi saksi pertama kali gue review mie ayam kampus.” Vanya mengunyah pelan, lalu menatapnya dengan mata tenang. “Kalau lo sukses, gue catet di diary.” “Elah, lo yakin? Jangan-jangan diary lo nanti isinya cuma daftar kegagalan gue.” “Bisa jadi,” Vanya tersenyum tipis. “Tapi mungkin itu yang bikin lucu.” Elvano terdiam sebentar, menatap Vanya yang masih kalem. Senyumnya bukan senyum lebar seperti biasanya, tapi ada ketulusan yang bikin suasana terasa beda. Makan siang sederhana itu, tanpa mereka sadari, jadi awal dari kebiasaan kecil yang nantinya sering terulang—obrolan santai, tawa ringan, dan rasa nyaman yang pelan-pelan tumbuh. Saat mereka keluar dari kantin, angin sore menerpa pelan, membawa aroma pohon kampus yang rimbun. Vanya merapatkan tasnya, sementara Elvano berjalan dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke saku celana. “Lo tau nggak,” ucap Elvano tiba-tiba, “gue nggak nyangka hari pertama kuliah bisa seseru ini.” Vanya meliriknya sekilas. “Seru gara-gara makanan?” Elvano tersenyum kecil, menoleh ke arah Vanya. “Nggak. Gara-gara ada yang nemenin.” Vanya terdiam sejenak, lalu menunduk, pura-pura memperhatikan diary di tangannya. Pipinya terasa hangat, meski ia berusaha terlihat biasa saja. Hari itu mungkin hanya hari pertama, langkah awal di dunia kampus yang penuh cerita. Tapi baik Vanya maupun Elvano sama-sama merasakan satu hal—ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat mereka menunggu esok dengan sedikit lebih bersemangat. Dan di situlah, kisah panjang mereka benar-benar dimulai.Tapi ada sesuatu yang kembali utuh. Kepercayaan. Dan Aurel tau, kalau ujian ini bisa mereka lewatin— yang lain, pelan-pelan, akan menyusul. Raksa tau itu juga. Dia cuma nggak pernah jago nunjukinnya. Pagi itu, Raksa duduk di motor lebih lama dari biasanya sebelum turun. Mesin udah mati, helm masih di kepala, tapi pikirannya belum sampai kampus. Kepalanya penuh—bukan sama tugas, bukan juga sama deadline. Tapi sama Aurel. Bukan versi Aurel yang galak. Bukan juga yang dingin. Versi Aurel yang berdiri di lorong kemarin, bilang dia takut… tapi tetap milih tinggal. Kenapa orang bisa seberani itu? pikir Raksa. Ngaku takut, tapi nggak pergi. Raksa nggak terbiasa dengan itu. Sejak kecil, dia belajar satu hal: kalau sesuatu mulai terasa penting, jarak adalah cara paling aman. Dan sekarang, jarak itu justru yang hampir bikin semuanya runtuh. Raksa buka helm, menghela napas panjang, lalu akhirnya turun. Di kelas, Aurel duduk di tempat biasa. Raksa ngeliatnya
Dan untuk pertama kalinya, Aurel nggak merasa sendirian di dalam diam. Perasaan itu nggak langsung meledak jadi bahagia berlebihan. Nggak ada senyum lebay atau langkah ringan yang dibuat-buat. Justru semuanya terasa… stabil. Kayak sesuatu yang akhirnya nemu tempatnya. Besoknya, Aurel bangun dengan kepala lebih tenang. Masih ada pikiran tentang Raksa. Masih ada deg-degan kecil. Tapi nggak lagi bikin sesak. Di kampus, hari berjalan normal. Terlalu normal, malah. Raksa datang telat hari itu. Aurel sadar tanpa perlu nengok jam. Bangku di sebelahnya kosong lebih lama dari biasanya. Sekilas, dadanya nyentak—bukan panik, tapi refleks. Tenang, batinnya. Dia nggak ke mana-mana. Raksa baru muncul menjelang kelas dimulai. Wajahnya sama seperti biasa, tapi langkahnya sedikit lebih cepat. Dia duduk tanpa banyak basa-basi. “Pagi,” ucapnya pelan. “Pagi,” balas Aurel. Singkat. Tapi cukup. Namun sepanjang kelas, Raksa lebih banyak diam. Lebih dari biasanya. Fokusnya ke depan, ke catat
Aurel cuma bisa bilang, “Thanks,” dengan muka yang nggak jelas antara malu dan senang. Pintu lift keburu nutup sebelum dia sempat mikir lebih jauh. Pantulan wajahnya di kaca lift keliatan asing—pipinya agak hangat, matanya terlalu hidup buat dibilang biasa. Dia menghembuskan napas pelan. Aneh, batinnya. Satu kata doang. Tapi rasanya panjang. Di perjalanan pulang, Aurel lebih banyak diam. Tangannya sibuk mainin ujung jaket, sementara pikirannya muter ke satu titik yang sama—cara Raksa manggil namanya barusan. Pelan. Nggak lebay. Tapi kena. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena caranya peduli tanpa nanya terlalu jauh. Malam itu, Aurel susah tidur. Bukan karena ribut. Justru karena terlalu sunyi. Dan di dalam sunyi itu, ada perasaan baru yang pelan-pelan berdiri. Nggak nyelonong. Nggak maksa. Cuma… nunggu disadari. Besoknya, kampus terasa beda. Bukan kampusnya yang berubah. Tapi Aurel yang datang dengan langkah sedikit lebih ringan. Dia masih jadi Aurel yang sama—nggak
Pilihan yang, cepat atau lambat, bakal nyeret mereka ke perasaan yang udah dari awal mereka coba sembunyiin. Mulai dari situ… hubungan Aurel dan Raksa mulai keliatan jelas—setidaknya buat orang-orang yang cukup peka ngeliatin keduanya dari jauh. Termasuk beberapa orang yang lagi ada di halaman kampus sore itu. Angin sore lewat pelan, nyeret daun-daun kering yang belum sempat disapu petugas kampus. Aurel lagi jalan pelan menuju gedung kelas, masih keinget omongan Raksa tadi malam. Besok bareng. Kata sederhana, tapi di kepala Aurel rasanya kayak suara yang terus ngegema. Sampai-sampai dia nggak sadar ada suara yang nyapa dari belakang. “Aurel?” Aurel noleh cepat. Shafira. Dengan totebag penuh sticky notes warna-warni dan wajah ceria seperti biasa. “Eh… Fira,” jawab Aurel, sedikit kaku karena kepalanya masih penuh Raksa. Shafira senyum, tapi tatapannya ngamatin. Peka, seperti biasa. “Lo kayak habis mikirin sesuatu.” Aurel buru-buru geleng. “Nggak.” “Yaudah,” Shafira anggu
Aurel langsung buang pandang. Karena kalau dia lihat lebih lama, dia takut kelewat ngerti apa maksud Raksa sebenarnya. Raksa kemudian ngelangkah lagi, tapi lebih pelan, kayak nunggu Aurel otomatis jalan di sampingnya. Dan Aurel beneran ikut. Tanpa mikir. Kayak kaki mereka udah nyari satu sama lain. Beberapa langkah kemudian— tanpa sengaja— jari mereka bersentuhan lagi. Tipis. Cepat. Tapi kali ini… Raksa nggak langsung narik tangannya. Aurel juga nggak. Mereka sama-sama ngebiarin momen itu lewat, tapi diamnya ngomong lebih banyak dari seluruh percakapan hari ini. Aurel ngerasa aneh. Aneh yang hangat. Aneh yang… bikin hati deg-degan. Raksa ngerasa cemas kecil, tapi bukan cemas yang bikin mundur. Cemas yang bikin dia sadar kalau dia udah mulai kehilangan kendali. Dan semua itu— sentuhan kecil, langkah yang pelan, tatapan yang keburu ngaku sebelum kata-kata— adalah awal dari sesuatu yang mereka sendiri belum siap buat akui. Tapi udah terjadi. Mereka cuma belum bila
Mulai dari situ — pelan, nyaris nggak kerasa — sesuatu di antara mereka berubah. Tetap sunyi. Tetap kecil. Tapi hadir. Raksa jalan duluan, tapi bukan kayak biasa yang langkahnya mantap dan cuek. Kali ini dia kayak… nahan diri. Biar Aurel nggak keteteran, biar ritme mereka tetap sama. Aurel nggak komentar. Tapi detik itu juga, dia tahu: ada hal yang nggak bisa dia pura-purain nggak kerasa. Mereka melewati koridor kampus yang adem, lampu-lampu kuning lembut, dan suara langkah yang echo pelan. Dan entah kenapa, suasana itu malah bikin semuanya terasa lebih dekat. Lebih pribadi. Sampai akhirnya, dari arah yang berlawanan… seseorang muncul. Seseorang yang bikin langkah Raksa ngehentiin sepersekian detik. Dan bikin Aurel merasakan udara di sekitarnya berubah. Alden. Cowok yang terkenal supel, pinter ngomong, dan… suka ngasih perhatian ke Aurel sejak semester kemarin. Alden senyum duluan. “Eh, Aurel.” Nadanya ramah — yang kayak biasanya aja — tapi entah kenapa terdengar t







