Share

Bab 6

Author: Zhar
last update publish date: 2026-07-21 22:28:42

Hakim Ketua Santoso segera menatap Yudha dengan tatapan tajam.

"Pengacara Penggugat, menurut catatan resmi kepolisian, peristiwa itu tidak terjadi seperti yang Anda gambarkan. Mohon segera tunjukkan bukti yang sah dan valid!"

Pengacara Rina Wijaya langsung menyambar dengan penuh percaya diri, "Betul sekali Yang Mulia! Saya yakin Pengacara Penggugat sedang menuduh tanpa dasar dan memfitnah klien saya!"

"Pada hari kejadian, CCTV pihak pengelola MRT sedang dalam perbaikan dan tidak beroperasi. Lalu saya bertanya, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui detail kejadian seakurat itu? Apakah dia hadir di sana menyaksikan semuanya secara langsung? Atau dia hanya mengarang cerita?"

"Selain itu, soal tuduhan bahwa klien saya menendang pangkal paha... mana mungkin dua wanita muda berani bertindak seberani itu melawan pria dewasa? Itu tidak masuk akal! Apakah ada bukti medis atau saksi yang mendukung?"

"Dan terakhir, catatan polisi tertulis jelas bahwa Laras dan Tania sudah meminta maaf. Anda bilang permintaan maaf mereka tidak tulus? Itu kan perasaan subjektif! Mana bukti fisiknya?"

"Tentang video di TokTok mereka, apakah di situ tertulis nama Bimo? Tidak kan? Jadi mana buktinya bahwa yang mereka bicarakan itu adalah Bimo?"

Rina Wijaya tersenyum penuh kemenangan.

"Sudah sangat jelas kan Yang Mulia? Klien sayalah yang menjadi korban sebenarnya. Karena keras kepalanya Bimo dan ingin mencari popularitas, mental klien saya hancur dan depresi. Justru kami membalikkan tuntutan! Kami menuntut Bimo minta maaf secara terbuka dan membayar ganti rugi tekanan mental serta biaya pengobatan sebesar 360 Juta Rupiah!"

Pembelaan Rina sangat jitu. Opini publik dan pandangan Hakim mulai bergeser ke sisi mereka. Ini persis strategi yang membuat Bimo kalah telak di sidang pertama.

Tanpa CCTV resmi, tanpa bukti fisik yang kuat, siapa bisa membantah? Rina yakin Yudha sudah buntu dan tidak punya apa-apa.

Main-main sama gue? Lo tamat hari ini, bocah, batin Rina sambil menyeringai sinis ke arah Yudha.

Hakim Santoso menatap Yudha, "Pengacara Penggugat, apa tanggapan Anda? Tunjukkan buktinya sekarang atau sidang akan kami putuskan berdasarkan bukti yang ada."

Suasana menjadi hening. Netizen di kolom komentar mulai pasrah dan pesimis.

[Udah tamat kayaknya ceritanya... Kalah lagi nih.]

[Iya lah, kan catatan polisi resmi bilang udah minta maaf. Susah banget buktiin tulus atau enggaknya.]

[Sia-siah tadi berani banget nuduh sana sini, ternyata bukti kosong melompong.]

[Mending dari awal sewa pengacara senior, nggak bakal kayak gini nasibnya.]

Namun, berbeda dengan ekspresi orang lain, Yudha justru tersenyum santai. Sangat santai.

"Hakim Ketua, pihak kami mengajukan KEBERATAN."

"Siapa bilang saya tidak punya bukti? Buktinya ada semuanya di tangan saya!"

"Pertama, soal klaim mereka ketemu 'cowok mesum' di pagi hari. Saya punya bukti rekaman CCTV dan absensi asrama kampus!"

Yudha meletakkan berkas ke meja hakim.

"Terbukti pada tanggal 4 September pukul 22.58 sampai tanggal 5 September pukul 16.46, Laras dan Tania tidak pernah keluar dari kamar asrama perempuan Gedung 7! Bagaimana mungkin mereka bisa naik MRT di pagi hari? Terbang? Atau maksudnya ketemu orang itu di dalam mimpi?"

"Jadi jelas sekali, video TokTok yang mereka bilang 'bukan tentang Bimo' itu adalah PALSU TOTAL! Itu emang ditujukan buat Bimo doang!"

"KEBERATAN!" seru Rina Wijaya mencoba memotong.

"KEBERATAN DITOLAK!" bentak Yudha lebih dulu. "Hakim Ketua, saya keberatan! Pernyataan saya belum selesai tapi pengacara lawan dengan sengaja dan jahat memotong pembicaraan saya! Saya menuntut agar pengacara lawan dikeluarkan dari ruang sidang sekarang juga!"

Hakim Santoso melirik Rina dengan tidak suka, "Cukup! Pengacara Pembela, jangan seenaknya mengganggu proses persidangan. Ini peringatan keras untuk Anda."

Rina mendengus kesal tapi terpaksa diam.

Yudha melanjutkan dengan suara lantang, "Dan yang paling penting... Semua orang pikir karena CCTV MRT rusak, berarti tidak ada bukti kejadian saat itu? SALAH BESAR!"

"Meskipun CCTV resmi rusak, tapi ada saksi mata yang merekam kejadian aslinya! Silakan putar videonya!"

Yudha menyerahkan flashdisk ke petugas.

"Putar bukti video!" perintah Hakim Santoso.

BRUTTT...

Layar besar di ruang sidang langsung menyala.

Video itu diambil dari HP seorang penumpang lain pada sore hari kejadian. Kualitasnya cukup jelas.

Terlihat dengan sangat gamblang...

Laras dan Tania berteriak histeris menuduh Bimo.

Dan yang bikin semua orang ternganga... TERLIHAT JELAS momen di mana kaki Laras melayang menendang pangkal paha Bimo dengan keras!

Bimo langsung membungkuk kesakitan, wajahnya memerah menahan sakit, dan HP-nya dirampas secara paksa!

Dan bagian yang paling mematikan... saat polisi melakukan mediasi dan meminta mereka minta maaf!

Di video terdengar sangat jelas suara Laras dengan nada ketus, malas, sambil mendengus dan menoleh ke arah lain:

"Yaa.. maaf, gitu kan?! Puas?!"

Lalu Tania dengan wajah jutek, tangan di pinggang, berteriak dengan nada mengejek:

"Iya maaf! Oke?! Maaf gitu kan?! Apa lagi yang mau?! Jangan deket-deket aku ya nanti aku lapor pelecehan seksual lho! Pergi sana! Udah kan aku bilang maaf?! Petugas kan udah denger aku minta maaf? Apa lagi sih yang kalian mau dari aku?! Hah?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Si Pengacara Gila   Bab 93

    Yudha melirik panel sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.Dalam sekejap, layar transparan itu terbuka. Puluhan berkas, rekaman, hingga bukti-bukti yang selama ini tersembunyi langsung muncul di hadapannya.Setelah gagal mendapatkan jawaban dari Pak Ganang, Yudha mencoba menemui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.Namun hasilnya tetap sama."Agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, kami tidak bisa memberikan keterangan apa pun."Kalimat itu terdengar seperti sudah dihafal.Tak menyerah, Yudha kembali mencoba menemui Kepala Sekolah.Sayangnya, jawaban yang ia terima masih persis sama.Tak ada penjelasan.Tak ada dokumen.Tak ada satu pun pihak sekolah yang bersedia membuka kembali kasus kematian Tasya.Bisa dibilang, selama berada di SMP Negeri 13, Yudha tidak memperoleh bukti apa pun secara langsung.Namun dari beberapa siswa yang diam-diam berani berbicara, ia mulai melihat gambaran besar tentang bagaimana sekolah itu dija

  • Si Pengacara Gila   Bab 92

    Pak Ganang melempar lembar hasil ujian hingga menghantam wajah seorang siswa laki-laki. Belum sempat anak itu bereaksi, Pak Ganang yang sudah dikuasai amarah langsung menendang tubuh siswa kelas sembilan tersebut sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya tinggi besar dengan sorot mata yang mengintimidasi. Di SMP Negeri 13, tak ada satu pun murid yang berani membantah atau membuatnya marah. Lagi pula, sekolah itu merupakan salah satu dari lima SMP paling bergengsi di kota, dengan prestasi akademik yang selalu dibanggakan. Pak Ganang memang sudah lama dikenal sebagai guru yang keras. Memarahi, menghukum, bahkan sesekali melakukan kekerasan fisik kepada murid dianggapnya sebagai cara mendidik. Baginya, semakin tinggi tingkat kelulusan kelas yang diampunya, semakin besar pula peluangnya mendapat kenaikan pangkat dan tunjangan. Siswa itu perlahan kembali ke dalam kelas. Dengan tangan gemetar, ia mengambil selembar kertas berisi surat pernyataan. "Saya berjanji tidak

  • Si Pengacara Gila   Bab 91

    Yudha dan Martiyus berbincang selama hampir dua jam. Dalam waktu itu, Yudha benar-benar memahami seluruh masalah dan situasi yang menimpa keluarga itu.Setelah selesai menjelaskan, Martiyus menyerahkan semua dokumen dan bukti yang ia miliki kepada Yudha.Yudha menatap berkas-berkas itu, lalu berkata dengan nada tenang, “Soal biaya jasa pengacara, tidak perlu sampai tiga ratus juta. Dua ratus juta saja sudah cukup. Tapi ada satu kesepakatan: jika kita memenangkan kasus ini, biaya proses persidangannya tidak perlu kamu bayarkan lagi.”Sebenarnya, untuk menyewa jasa pengacara, angka segitu memang tidak terlalu tinggi. Namun kasus ini berbeda dari biasanya.Ada dua peristiwa yang saling berkaitan!Pertama, kasus diduga bunuh diri yang menimpa Tasya Andini.Kedua, kasus yang menimpa ibunya, Imelda, yang mengalami perundungan secara daring hingga akhirnya ia pun mengakhiri hidupnya.Kedua kasus ini akan diurus sekaligus!Dan Yudha yakin ia sanggup menangani keduanya. Selain itu, kasus ini d

  • Si Pengacara Gila   Bab 90

    Di media sosial, topik yang paling ramai dibicarakan bukanlah gosip selebritas atau hiburan. Yang menduduki puncak trending justru kabar memilukan.Imelda, ibu dari Tasya Andini, nekat melompat dari sebuah gedung dan meninggal dunia.Keluarga yang dulu berjumlah tiga orang kini hanya menyisakan sang ayah, Martiyus.Usianya baru empat puluh enam tahun, tetapi hanya dalam semalam, seluruh rambutnya berubah putih.Sambil memegang foto istri dan putrinya, Martiyus menahan air mata. Di dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang belum pernah terjawab.Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya?Video wawancaranya langsung meledak di media sosial.Yudha tercengang saat melihat berita itu."Apa yang sebenarnya terjadi?"Dia membuka topik yang sedang trending di TokTok, tetapi potongan-potongan informasi yang ada tidak cukup untuk membuatnya memahami keseluruhan kasus.Dalam video itu, Martiyus berkata dengan suara bergetar,"Setahun yang lalu, pu

  • Si Pengacara Gila   Bab 89

    Sidang banding kedua kasus Zara akhirnya digelar. Yudha tidak hadir langsung di ruang sidang, tapi ia mengikuti jalannya persidangan lewat siaran langsung yang disiarkan secara luas di media daring. Selama ini, Zara tetap berpegang pada harapan kosong. Ia yakin vonis mati di sidang pertama hanyalah ancaman untuk membuatnya takut. Meskipun ia tidak mampu menyewa pengacara sendiri, setidaknya lembaga bantuan hukum negeri telah menugaskan seorang pembela untuk membantunya. Ia pikir, dengan adanya bantuan itu, hukum pasti akan memberinya kesempatan kedua. Namun begitu keputusan hakim dibacakan, seluruh harapannya hancur seketika. "Terpidana Zara, tetap dijatuhi hukuman mati, dicabut hak-hak politiknya seumur hidup, dan diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak yang dirugikan!" Zara sama sekali tidak menyangka hasilnya akan tetap sama. Begitu mendengar kata-kata itu, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar hebat. Ia tidak pernah membayangkan

  • Si Pengacara Gila   Bab 88

    Akhirnya, genaplah lima belas hari sejak sidang pertama berakhir. Selama masa itu, Yudha bekerja tanpa henti, tapi hasilnya juga terasa sangat menguntungkan. Memang biaya untuk merekrut dan membangun tim tidak sedikit, namun saat Yudha menghitung laporan keuangan, ia menyadari satu hal penting: kantornya sudah mulai menghasilkan keuntungan bersih! Penyebabnya jelas: jumlah kasus yang masuk melimpah ruah. Kini, jumlah pengacara yang bekerja di kantornya telah mencapai lebih dari sepuluh orang. Lima di antaranya merupakan lulusan magister hukum dari Universitas Padjadjaran, sementara lima lainnya berasal dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meski kedua perguruan tinggi itu termasuk yang terbaik di Indonesia, ia sadar bahwa untuk menangani perkara-perkara besar, kantornya masih membutuhkan lebih banyak pengacara berbakat dari berbagai universitas ternama. Bahkan, banyak lulusan terbaik dari universitas hukum ternama di Indonesia, seperti Un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status