共有

Bab 7

作者: Zhar
last update 公開日: 2026-07-21 22:31:11

Wajah Laras dan Tania pucat pasi. Mereka sama sekali tidak menyangka ada orang yang merekam momen memalukan itu secara utuh.

Di video terlihat sangat jelas, saat Bimo dengan tegas menyatakan bahwa dia pasti akan membawa masalah ini ke meja hijau, Laras justru menyeringai arogan dan berkata dengan nada menantang:

"Silakan! Sepupu gue pengacara lho! Gue tunggu di pengadilan ya! Jangan cuma omong doang!"

Bahkan petugas keamanan dan pihak manajemen MRT pun tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Mereka justru menasihati Bimo:

"Yah mas, masa sama cewek-cewek begitu keras. Sabar ya, selesaiin baik-baik aja, jangan diperpanjang masalahnya. Kasihan mereka kan cewek."

Seluruh kejadian yang sangat tidak adil itu terekam sempurna di HP saksi mata.

Begitu video selesai diputar, kolom komentar live streaming langsung meledak ribuan pesan per detik!

[APAAN TUH?! ITU DIMINTA MAAF ATAU NANTANG BERANTEM?!]

[GILA BANGET SIKAPNYA! TERUS BERANI-BERANINYA SURUH NUNTUT KE PENGADILAN!]

[MEREKA HARUS DIHUKUM BERAT! JANGAN DIAMIN AJA! INI FITNAH TERBUKTI!]

[KEREN PAK YUDHA! BISA NEMU BUKTI VIDEO SEJELAS INI! LUAR BIASA!]

[GOKIL! BUKAN KAYA PENGACARA MAGANG SAMA SEKALI!]

[HUKUM ADIL TELAH TIBA! GAS TERUS PAK!]

Yudha berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, penuh wibawa dan emosi yang terkontrol.

"Bolehkah saya bertanya pada Yang Mulia Hakim dan semua orang yang hadir di sini? Apakah ini sikap meminta maaf yang wajar dan patut dicontoh? Klien saya hanya ingin keadilan dan permintaan maaf yang tulus, tapi balasannya adalah ejekan, hinaan, dan tantangan!"

"Kalau model minta maaf begini dibilang sah dan masalah selesai, berarti mulai sekarang orang bisa sembarangan nuduh orang lain memotret tidak senonoh di jalanan, lalu setelah salah tinggal minta maaf sambil ngeyel dan marah-marah, dan masalah dianggap selesai begitu saja? Apakah itu keadilan yang kalian inginkan?!"

Pertanyaan retoris Yudha membuat seluruh ruangan hening sesaat. Kata-katanya menusuk tepat ke hati nurani.

Laras dan Tania panik setengah mati, mata mereka saling pandang penuh ketakutan dan kegelisahan. Mereka tidak menyangka ada bukti sejelas ini. Tapi Pengacara Rina Wijaya di samping mereka tetap tenang, dia tersenyum tipis dan memberi kode mata agar mereka tetap tenang dan jangan panik.

Rina memang kaget Yudha bisa menemukan video itu, tapi dia tidak merasa kalah. Dia punya cara untuk memutarbalikkan fakta!

"Apa tanggapan Pengacara Pembela?" tanya Hakim Santoso dengan wajah serius.

Rina Wijaya berdiri dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Yang Mulia, saya sudah menonton videonya. Memang benar sikap klien saya saat itu mungkin agak kurang sopan dan terbawa emosi karena panik, tapi kan tidak sampai melakukan kekerasan berat atau melukai secara fisik kan?"

"Adapun soal ditendang, kalau memang Bimo terluka parah, pendarahan, atau harus dirawat, silakan tunjukkan surat keterangan rumah sakit dan hasil rontgen! Kalau tidak ada bukti medis, berarti kan cuma main-main doang, gak ada kerugian materiil yang nyata. Kami tidak takut membayar biaya pengobatan kalau memang ada lukanya!"

Rina sangat licik. Dia tahu Bimo cuma kesakitan sesaat dan tidak pergi ke dokter, jadi dia berani menantang soal itu.

"Dan lagi," lanjut Rina dengan suara yang mulai meninggi, "Hanya karena sikap minta maaf kurang enak didengar, apakah itu alasan bagi Bimo untuk menyerang mereka habis-habisan di dunia maya? Justru karena video yang diunggah Bimo, ratusan ribu netizen menyerang klien saya! Hidup mereka hancur, prestasi sekolah menurun, mental mereka terganggu, dan akhirnya depresi berat!"

"Saya akui sikap mereka tadi kurang baik, dan sekarang mereka bersedia minta maaf dengan tulus. TAPI... Tindakan Bimo menyebarkan video pribadi orang lain dan memancing kebencian itu juga melanggar hukum! Kami tetap pada tuntutan awal!"

"Kami menuntut Bimo membayar ganti rugi tekanan mental dan biaya pengobatan sebesar 360 Juta Rupiah, serta meminta maaf secara terbuka kepada klien saya!"

Mata Laras langsung berbinar-binar mendengar itu. 'Sepupu gue emang hebat! Licik banget idenya!'

Bimo sendiri sampai bengong dan ternganga. 'Loh? Kok gue yang disuruh bayar? Gue kan cuma mau klarifikasi doang kok?'

Netizen pun mulai pesimis dan kecewa.

[Hadeh... Emang gini terus nasibnya. Bimo bikin video klarifikasi, malah jadi senjata makan tuan.]

[Iya lah, kan dia yang upload duluan. Jadi dikira saling serang dan saling bully.]

[Kesel banget sih! Kenapa yang salah gak dihukum berat? Kenapa yang benar malah disuruh bayar duit?]

[Akhirnya pasti Bimo yang kalah atau seri, harus keluar duit juga akhirnya.]

[Putus asa deh... Udah difitnah, dihina, disakiti, sekarang harus bayar lagi. Gak adil!]

Di sebuah firma hukum ternama, Pengacara Senior Atta Hasibuan tertawa sinis sambil menatap layar.

"Gimana? Udah kubilang kan? Anak muda itu cuma bisa heboh doang. Sekarang situasinya balik lagi. Meskipun ada video bukti, karena tadi dia berani nuduh hakim dan pengacara lain, secara tidak langsung posisinya jadi lemah. Hakim pasti gak akan memihak dia sepenuhnya."

"Akhirnya ya gitu deh... Ceweknya minta maaf seadanya, tapi Bimo tetep harus keluar duit buat ganti rugi 'tekanan mental' mereka. Paling banter jumlahnya dikit doang, tapi tetep aja bayar."

Namun Pak Yusril, sang direktur, tetap tenang menyeruput teh hijau hangatnya.

"Sabar... Jangan buru-buru menyimpulkan. Lihat dulu matanya. Anak itu belum selesai bicara. Selama dia belum duduk, berarti dia masih punya kartu AS di lengan bajunya."

Tepat saat suasana tampak buntu dan semua orang mengira Bimo akan kalah...

Yudha angkat bicara lagi. Wajahnya tenang, tapi matanya memancarkan aura mematikan.

"Hakim Ketua, PIHAK KAMI PUNYA BUKTI BARU!"

Seluruh ruangan menoleh serentak ke arahnya.

"Bukti apa lagi yang akan Anda ajukan?" tanya Hakim Santoso.

"Sebelum menyerahkan bukti utama, tolong petugas putar dulu video klarifikasi yang diunggah oleh klien saya, Bimo, di akun TokTok-nya. Yang pertama dan yang kedua."

Layar besar di ruang sidang kembali menyala. Muncul video Bimo yang menceritakan kejadian apa adanya. Suaranya sedih, kecewa, tapi sangat sopan. Dia tidak memaki, tidak menghina, tidak menyebarkan aib, dia hanya menceritakan fakta yang dia alami dan meminta dukungan agar mendapatkan keadilan.

"Cukup, stop di situ," kata Yudha tegas.

"Bolehkah saya bertanya pada Yang Mulia dan pada Pengacara Lawan... Di video ini, di mana bagian Bimo melakukan cyberbullying? Di mana dia memaki-maki? Di mana dia melebih-lebihkan cerita? Dia cuma menceritakan fakta yang dia alami untuk membela hak-haknya sendiri!"

"Jadi saya tanya lagi dengan jelas... SIAPA YANG DIBULLY OLEH BIMO?!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Si Pengacara Gila   Bab 13

    Sidang pengadilan kembali dibuka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, suasana ruangan terasa tegang namun penuh perhatian. Semua mata tertuju ke meja hakim, di mana Hakim Ketua Santoso kini berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. “Setelah melalui proses verifikasi mendalam, Pengadilan menemukan fakta bahwa Pengacara Rina Wijaya telah dengan sengaja melanggar aturan hukum. Ia terbukti menyuap pihak lain, memalsukan alat bukti, bahkan berulang kali melakukan pemalsuan berkas selama menjalankan profesinya. Sidang hari ini akan dilanjutkan dengan pertimbangan baru,” ucap Hakim Santoso dengan nada tegas. Berita itu seketika memicu kehebohan luar biasa di dunia maya. Siaran langsung sidang ini dibanjiri ribuan komentar dalam hitungan detik. [Wah, gila sih! Keren banget! Pengacara Yudha beneran bakal bikin pengacara lawan masuk penjara ya?!] [Kok bisa sampai sejauh ini ya? Dikit lagi kayaknya Rina Wijaya kena deh!] [Hahaha, Pengacara Yudha emang beda level! Keren banget s

  • Si Pengacara Gila   Bab 12

    Rina Wijaya kini sudah terborgol rapi di tangan petugas kepolisian, resmi ditahan dan menjalani proses penyidikan. Kariernya yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur lebur dalam sekejap. Masa depannya gelap gulita. Dia sudah tamat. Wajahnya pucat pasi, seputih kertas. Dalam hati dia mengutuk, Yudha... pengacara magang sialan ini benar-benar kejam! Dia sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan nasib Laras dan Tania. Dia sendiri pun belum tahu berapa tahun jeruji besi yang akan menunggunya. "Kakak! Kak Rina!" Laras mencengkeram lengan Rina erat-erat, matanya memanas. "Kakak harus bantu kami! Siapa lagi yang mau bela kami kalau bukan Kakak? Kan Kakak bilang pasti menang? Terus sekarang gimana? Apa aku sama Tania harus minta maaf sama cowok menyebalkan itu? Kenapa sih?! Aku nggak salah! Aku cuma kira dia mau rekam aku diam-diam! Kenapa sekarang giliranku yang harus minta maaf?!" Tania berdiri di samping dengan wajah manyun dan kesal setengah mati. "Aku nggak peduli keputusan peng

  • Si Pengacara Gila   Bab 11

    INI BUKTINYA!!Bukti transaksi pribadi antara pengacara lawan, Rina Wijaya, dan dokter Hari Darsono!Sebagai seorang psikiater, tentu saja sangat mudah bagi Hari untuk mengeluarkan surat keterangan gangguan jiwa atau depresi berat. Di zaman sekarang, isu kesehatan mental sedang ramai dibicarakan, jadi siapa pun bisa dengan mudah mengaku sakit jiwa untuk lepas dari tanggung jawab.Dan bukti yang dilayangkan Yudha bagaikan bom nuklir yang meledak seketika!Siaran langsung yang ditonton ribuan orang langsung heboh! Komentar-komentar berjejalan membanjiri layar.[APA?? SERIUS??][GILA! JADI DEPRESINYA PALSU SEMUA?!][BISA GITU YA CARANYA? SURAT DOKTER BISA DIBELI GITU AJA?][JAHAT BANGET! JADI LARAS SAMA TANIA ITU CUMA BERAKTING YA? MEREKA YANG REKAM ORANG, TERUS NUDUH ORANG REKAM MEREKA, BIKIN THREAD FITNAH, PAS UDAH KETAHANAN LEMAH, LANGSUNG PAKE ALASAN SAKIT JIWA. JIJIK BANGET SI!][MEREKA HARUS DIHUKUM! GAK BISA DIAM AJA INI!][EMANG BOLEH ADA DOKTER KAYA GINI? KELUARIN SURAT PASTU SE

  • Si Pengacara Gila   Bab 10

    Begitu kalimat itu meluncur dari mulut Yudha, suasana di ruang sidang langsung berubah 180 derajat. Keributan pun tak terelakkan, apalagi di kolom komentar siaran langsung yang langsung meledak.[Hah? Seriusan?][Maksudnya gimana? Sertifikat depresinya palsu dong?!][Gila, tadi kan bilang udah diverifikasi dan asli? Kok bisa berubah gitu?][Wah, ada apa-apa nih ceritanya! Ada skandal besar kah?][Asiiik, makin seru nih! Kalau beneran mereka cuma pura-pura sakit, pasti bakal kocak banget endingnya!]Hakim Ketua Santoso menatap Yudha dengan wajah serius dan tatapan tajam, seolah ingin menelusuri isi pikiran pengacara muda itu.Di sisi lain, wajah Rina Wijaya, pengacara dari pihak lawan, langsung berubah pucat. Ekspresinya sempat terlihat panik dan bingung, tapi ia buru-buru menguasai diri dan berusaha tetap terlihat tenang.Nggak mungkin!Gimana caranya Yudha bisa tahu soal ini?Meskipun jantungnya rasanya mau copot, Rina tetap mempertahankan wajah datarnya."Pengacara penggugat," tegur

  • Si Pengacara Gila   Bab 9

    "Saya meminta Hakim Ketua untuk menghukum Laras dan Tania dengan hukuman penjara selama 7 tahun! Dijalankan segera!!"Suara Yudha menggelegar, memecah keheningan.Seketika itu juga, tepuk tangan meriah meledak di ruang sidang! Buktinya terlalu kuat dan tidak bisa dibantah!Fakta sudah sangat jelas: Video Bimo adalah bentuk pembelaan hak asasi yang wajar. Sedangkan Laras dan Tania? Mereka adalah pelaku utama fitnah dan cyberbullying yang sangat kejam!Bimo berdiri terpaku di tempatnya.'Pengacara gue ini beneran monster, ya? Dari cuma minta maaf, sekarang mau masukin mereka berdua ke penjara?'Di dalam hati Bimo memberikan jempol berkali-kali. 'Gokil! Luar biasa!'Ini pengacara magang? Bukan! Ini adalah pembawa keadilan yang siap menghancurkan kejahatan!TOK! TOK! TOK!Hakim Santoso mengetuk palu."Tertib! Pengacara Pembela, apakah masih memiliki pembelaan?"Wajah Hakim Santoso tampak sangat serius. Dia tidak menyangka di balik wajah cantik kedua wanita itu, tersimpan niat jahat yang b

  • Si Pengacara Gila   Bab 8

    Yudha melanjutkan dengan suara tegas dan tak tergoyahkan,"Bimo hanya menceritakan pengalaman yang dia alami. Apakah itu disebut melakukan pelecehan online? Ratusan ribu komentar yang menyerang itu adalah tulisan netizen lain. Apa hubungannya dengan Bimo?""Saya ingin bertanya pada pengacara lawan, apakah berbagi fakta dan pengalaman pribadi di media sosial sekarang sudah dikategorikan sebagai tindak pidana?"Pertanyaan logis Yudha sekali lagi membuat seluruh ruangan hening dan tak bisa membantah.Namun Rina Wijaya tetap berusaha memutarbalikkan logika,"Tapi dampak buruk yang dialami klien saya karena video itu adalah FAKTA! Mental mereka hancur, depresi berat! Itu tidak bisa disangkal! Jadi kalau Bimo tidak upload video, mereka tidak akan menderita! Maka Bimo harus bertanggung jawab!"Yudha tersenyum miring, lalu melontarkan serangkaian pertanyaan yang mematikan logika lawan."Pengacara lawan sedang mendistorsi konsep! Kalau logikanya begitu... Jika hari ini Pengacara Rina tidak sen

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status