로그인Wajah Laras dan Tania pucat pasi. Mereka sama sekali tidak menyangka ada orang yang merekam momen memalukan itu secara utuh.
Di video terlihat sangat jelas, saat Bimo dengan tegas menyatakan bahwa dia pasti akan membawa masalah ini ke meja hijau, Laras justru menyeringai arogan dan berkata dengan nada menantang: "Silakan! Sepupu gue pengacara lho! Gue tunggu di pengadilan ya! Jangan cuma omong doang!" Bahkan petugas keamanan dan pihak manajemen MRT pun tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Mereka justru menasihati Bimo: "Yah mas, masa sama cewek-cewek begitu keras. Sabar ya, selesaiin baik-baik aja, jangan diperpanjang masalahnya. Kasihan mereka kan cewek." Seluruh kejadian yang sangat tidak adil itu terekam sempurna di HP saksi mata. Begitu video selesai diputar, kolom komentar live streaming langsung meledak ribuan pesan per detik! [APAAN TUH?! ITU DIMINTA MAAF ATAU NANTANG BERANTEM?!] [GILA BANGET SIKAPNYA! TERUS BERANI-BERANINYA SURUH NUNTUT KE PENGADILAN!] [MEREKA HARUS DIHUKUM BERAT! JANGAN DIAMIN AJA! INI FITNAH TERBUKTI!] [KEREN PAK YUDHA! BISA NEMU BUKTI VIDEO SEJELAS INI! LUAR BIASA!] [GOKIL! BUKAN KAYA PENGACARA MAGANG SAMA SEKALI!] [HUKUM ADIL TELAH TIBA! GAS TERUS PAK!] Yudha berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, penuh wibawa dan emosi yang terkontrol. "Bolehkah saya bertanya pada Yang Mulia Hakim dan semua orang yang hadir di sini? Apakah ini sikap meminta maaf yang wajar dan patut dicontoh? Klien saya hanya ingin keadilan dan permintaan maaf yang tulus, tapi balasannya adalah ejekan, hinaan, dan tantangan!" "Kalau model minta maaf begini dibilang sah dan masalah selesai, berarti mulai sekarang orang bisa sembarangan nuduh orang lain memotret tidak senonoh di jalanan, lalu setelah salah tinggal minta maaf sambil ngeyel dan marah-marah, dan masalah dianggap selesai begitu saja? Apakah itu keadilan yang kalian inginkan?!" Pertanyaan retoris Yudha membuat seluruh ruangan hening sesaat. Kata-katanya menusuk tepat ke hati nurani. Laras dan Tania panik setengah mati, mata mereka saling pandang penuh ketakutan dan kegelisahan. Mereka tidak menyangka ada bukti sejelas ini. Tapi Pengacara Rina Wijaya di samping mereka tetap tenang, dia tersenyum tipis dan memberi kode mata agar mereka tetap tenang dan jangan panik. Rina memang kaget Yudha bisa menemukan video itu, tapi dia tidak merasa kalah. Dia punya cara untuk memutarbalikkan fakta! "Apa tanggapan Pengacara Pembela?" tanya Hakim Santoso dengan wajah serius. Rina Wijaya berdiri dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. "Yang Mulia, saya sudah menonton videonya. Memang benar sikap klien saya saat itu mungkin agak kurang sopan dan terbawa emosi karena panik, tapi kan tidak sampai melakukan kekerasan berat atau melukai secara fisik kan?" "Adapun soal ditendang, kalau memang Bimo terluka parah, pendarahan, atau harus dirawat, silakan tunjukkan surat keterangan rumah sakit dan hasil rontgen! Kalau tidak ada bukti medis, berarti kan cuma main-main doang, gak ada kerugian materiil yang nyata. Kami tidak takut membayar biaya pengobatan kalau memang ada lukanya!" Rina sangat licik. Dia tahu Bimo cuma kesakitan sesaat dan tidak pergi ke dokter, jadi dia berani menantang soal itu. "Dan lagi," lanjut Rina dengan suara yang mulai meninggi, "Hanya karena sikap minta maaf kurang enak didengar, apakah itu alasan bagi Bimo untuk menyerang mereka habis-habisan di dunia maya? Justru karena video yang diunggah Bimo, ratusan ribu netizen menyerang klien saya! Hidup mereka hancur, prestasi sekolah menurun, mental mereka terganggu, dan akhirnya depresi berat!" "Saya akui sikap mereka tadi kurang baik, dan sekarang mereka bersedia minta maaf dengan tulus. TAPI... Tindakan Bimo menyebarkan video pribadi orang lain dan memancing kebencian itu juga melanggar hukum! Kami tetap pada tuntutan awal!" "Kami menuntut Bimo membayar ganti rugi tekanan mental dan biaya pengobatan sebesar 360 Juta Rupiah, serta meminta maaf secara terbuka kepada klien saya!" Mata Laras langsung berbinar-binar mendengar itu. 'Sepupu gue emang hebat! Licik banget idenya!' Bimo sendiri sampai bengong dan ternganga. 'Loh? Kok gue yang disuruh bayar? Gue kan cuma mau klarifikasi doang kok?' Netizen pun mulai pesimis dan kecewa. [Hadeh... Emang gini terus nasibnya. Bimo bikin video klarifikasi, malah jadi senjata makan tuan.] [Iya lah, kan dia yang upload duluan. Jadi dikira saling serang dan saling bully.] [Kesel banget sih! Kenapa yang salah gak dihukum berat? Kenapa yang benar malah disuruh bayar duit?] [Akhirnya pasti Bimo yang kalah atau seri, harus keluar duit juga akhirnya.] [Putus asa deh... Udah difitnah, dihina, disakiti, sekarang harus bayar lagi. Gak adil!] Di sebuah firma hukum ternama, Pengacara Senior Atta Hasibuan tertawa sinis sambil menatap layar. "Gimana? Udah kubilang kan? Anak muda itu cuma bisa heboh doang. Sekarang situasinya balik lagi. Meskipun ada video bukti, karena tadi dia berani nuduh hakim dan pengacara lain, secara tidak langsung posisinya jadi lemah. Hakim pasti gak akan memihak dia sepenuhnya." "Akhirnya ya gitu deh... Ceweknya minta maaf seadanya, tapi Bimo tetep harus keluar duit buat ganti rugi 'tekanan mental' mereka. Paling banter jumlahnya dikit doang, tapi tetep aja bayar." Namun Pak Yusril, sang direktur, tetap tenang menyeruput teh hijau hangatnya. "Sabar... Jangan buru-buru menyimpulkan. Lihat dulu matanya. Anak itu belum selesai bicara. Selama dia belum duduk, berarti dia masih punya kartu AS di lengan bajunya." Tepat saat suasana tampak buntu dan semua orang mengira Bimo akan kalah... Yudha angkat bicara lagi. Wajahnya tenang, tapi matanya memancarkan aura mematikan. "Hakim Ketua, PIHAK KAMI PUNYA BUKTI BARU!" Seluruh ruangan menoleh serentak ke arahnya. "Bukti apa lagi yang akan Anda ajukan?" tanya Hakim Santoso. "Sebelum menyerahkan bukti utama, tolong petugas putar dulu video klarifikasi yang diunggah oleh klien saya, Bimo, di akun TokTok-nya. Yang pertama dan yang kedua." Layar besar di ruang sidang kembali menyala. Muncul video Bimo yang menceritakan kejadian apa adanya. Suaranya sedih, kecewa, tapi sangat sopan. Dia tidak memaki, tidak menghina, tidak menyebarkan aib, dia hanya menceritakan fakta yang dia alami dan meminta dukungan agar mendapatkan keadilan. "Cukup, stop di situ," kata Yudha tegas. "Bolehkah saya bertanya pada Yang Mulia dan pada Pengacara Lawan... Di video ini, di mana bagian Bimo melakukan cyberbullying? Di mana dia memaki-maki? Di mana dia melebih-lebihkan cerita? Dia cuma menceritakan fakta yang dia alami untuk membela hak-haknya sendiri!" "Jadi saya tanya lagi dengan jelas... SIAPA YANG DIBULLY OLEH BIMO?!"Yudha melirik panel sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.Dalam sekejap, layar transparan itu terbuka. Puluhan berkas, rekaman, hingga bukti-bukti yang selama ini tersembunyi langsung muncul di hadapannya.Setelah gagal mendapatkan jawaban dari Pak Ganang, Yudha mencoba menemui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.Namun hasilnya tetap sama."Agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, kami tidak bisa memberikan keterangan apa pun."Kalimat itu terdengar seperti sudah dihafal.Tak menyerah, Yudha kembali mencoba menemui Kepala Sekolah.Sayangnya, jawaban yang ia terima masih persis sama.Tak ada penjelasan.Tak ada dokumen.Tak ada satu pun pihak sekolah yang bersedia membuka kembali kasus kematian Tasya.Bisa dibilang, selama berada di SMP Negeri 13, Yudha tidak memperoleh bukti apa pun secara langsung.Namun dari beberapa siswa yang diam-diam berani berbicara, ia mulai melihat gambaran besar tentang bagaimana sekolah itu dija
Pak Ganang melempar lembar hasil ujian hingga menghantam wajah seorang siswa laki-laki. Belum sempat anak itu bereaksi, Pak Ganang yang sudah dikuasai amarah langsung menendang tubuh siswa kelas sembilan tersebut sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya tinggi besar dengan sorot mata yang mengintimidasi. Di SMP Negeri 13, tak ada satu pun murid yang berani membantah atau membuatnya marah. Lagi pula, sekolah itu merupakan salah satu dari lima SMP paling bergengsi di kota, dengan prestasi akademik yang selalu dibanggakan. Pak Ganang memang sudah lama dikenal sebagai guru yang keras. Memarahi, menghukum, bahkan sesekali melakukan kekerasan fisik kepada murid dianggapnya sebagai cara mendidik. Baginya, semakin tinggi tingkat kelulusan kelas yang diampunya, semakin besar pula peluangnya mendapat kenaikan pangkat dan tunjangan. Siswa itu perlahan kembali ke dalam kelas. Dengan tangan gemetar, ia mengambil selembar kertas berisi surat pernyataan. "Saya berjanji tidak
Yudha dan Martiyus berbincang selama hampir dua jam. Dalam waktu itu, Yudha benar-benar memahami seluruh masalah dan situasi yang menimpa keluarga itu.Setelah selesai menjelaskan, Martiyus menyerahkan semua dokumen dan bukti yang ia miliki kepada Yudha.Yudha menatap berkas-berkas itu, lalu berkata dengan nada tenang, “Soal biaya jasa pengacara, tidak perlu sampai tiga ratus juta. Dua ratus juta saja sudah cukup. Tapi ada satu kesepakatan: jika kita memenangkan kasus ini, biaya proses persidangannya tidak perlu kamu bayarkan lagi.”Sebenarnya, untuk menyewa jasa pengacara, angka segitu memang tidak terlalu tinggi. Namun kasus ini berbeda dari biasanya.Ada dua peristiwa yang saling berkaitan!Pertama, kasus diduga bunuh diri yang menimpa Tasya Andini.Kedua, kasus yang menimpa ibunya, Imelda, yang mengalami perundungan secara daring hingga akhirnya ia pun mengakhiri hidupnya.Kedua kasus ini akan diurus sekaligus!Dan Yudha yakin ia sanggup menangani keduanya. Selain itu, kasus ini d
Di media sosial, topik yang paling ramai dibicarakan bukanlah gosip selebritas atau hiburan. Yang menduduki puncak trending justru kabar memilukan.Imelda, ibu dari Tasya Andini, nekat melompat dari sebuah gedung dan meninggal dunia.Keluarga yang dulu berjumlah tiga orang kini hanya menyisakan sang ayah, Martiyus.Usianya baru empat puluh enam tahun, tetapi hanya dalam semalam, seluruh rambutnya berubah putih.Sambil memegang foto istri dan putrinya, Martiyus menahan air mata. Di dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang belum pernah terjawab.Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya?Video wawancaranya langsung meledak di media sosial.Yudha tercengang saat melihat berita itu."Apa yang sebenarnya terjadi?"Dia membuka topik yang sedang trending di TokTok, tetapi potongan-potongan informasi yang ada tidak cukup untuk membuatnya memahami keseluruhan kasus.Dalam video itu, Martiyus berkata dengan suara bergetar,"Setahun yang lalu, pu
Sidang banding kedua kasus Zara akhirnya digelar. Yudha tidak hadir langsung di ruang sidang, tapi ia mengikuti jalannya persidangan lewat siaran langsung yang disiarkan secara luas di media daring. Selama ini, Zara tetap berpegang pada harapan kosong. Ia yakin vonis mati di sidang pertama hanyalah ancaman untuk membuatnya takut. Meskipun ia tidak mampu menyewa pengacara sendiri, setidaknya lembaga bantuan hukum negeri telah menugaskan seorang pembela untuk membantunya. Ia pikir, dengan adanya bantuan itu, hukum pasti akan memberinya kesempatan kedua. Namun begitu keputusan hakim dibacakan, seluruh harapannya hancur seketika. "Terpidana Zara, tetap dijatuhi hukuman mati, dicabut hak-hak politiknya seumur hidup, dan diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak yang dirugikan!" Zara sama sekali tidak menyangka hasilnya akan tetap sama. Begitu mendengar kata-kata itu, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar hebat. Ia tidak pernah membayangkan
Akhirnya, genaplah lima belas hari sejak sidang pertama berakhir. Selama masa itu, Yudha bekerja tanpa henti, tapi hasilnya juga terasa sangat menguntungkan. Memang biaya untuk merekrut dan membangun tim tidak sedikit, namun saat Yudha menghitung laporan keuangan, ia menyadari satu hal penting: kantornya sudah mulai menghasilkan keuntungan bersih! Penyebabnya jelas: jumlah kasus yang masuk melimpah ruah. Kini, jumlah pengacara yang bekerja di kantornya telah mencapai lebih dari sepuluh orang. Lima di antaranya merupakan lulusan magister hukum dari Universitas Padjadjaran, sementara lima lainnya berasal dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meski kedua perguruan tinggi itu termasuk yang terbaik di Indonesia, ia sadar bahwa untuk menangani perkara-perkara besar, kantornya masih membutuhkan lebih banyak pengacara berbakat dari berbagai universitas ternama. Bahkan, banyak lulusan terbaik dari universitas hukum ternama di Indonesia, seperti Un







