Share

Bab 5

Author: Zhar
last update publish date: 2026-07-21 22:25:18

Wajah Hakim Yuliana berubah sedingin es.

Sebagai hakim ketua, dia dituntut mundur? Di negara ini memang sah-sah saja... ASALKAN ADA BUKTINYA!

Kalau buktinya gak ada, berarti Yudha sedang melakukan pencemaran nama baik, dan hukumannya bisa lebih dari 7 tahun penjara!

"Anda yakin mau menuntut saya?" tanya Yuliana dengan nada mengintimidasi. "Ingat, di pengadilan ini bicara fakta dan bukti. Kalau Anda nekat tapi gak bisa tunjukkan bukti, siap-siap Anda yang masuk penjara!"

"Saya yakin, Yang Mulia," jawab Yudha tenang tanpa ragu sedikitpun.

Melihat situasi memanas, Jaksa langsung mengajukan permohonan istirahat sidang selama 10 menit untuk musyawarah internal.

[GILA! GILA! GILA! PAK YUDHA ITU MANUSIA ATAU BUKAN?!]

[Belum pernah lihat pengacara seberani ini! Mau bawa hakimnya juga masuk bui!]

[Merinding gue nontonnya. Takutnya nanti dia sendiri yang kejebak lho.]

[Udah fitnah ceweknya, pengacaranya, sekarang hakimnya. Ini namanya perang total!]

[Julukan 'Pengacara Edan' cocok banget buat dia!]

Banyak netizen yang menganggap Yudha sudah keterlaluan.

[Bodoh banget sih. Baru magang udah tantang hakim. Nanti kalau kalah, dia sendiri yang masuk.]

[Gak masuk akal! Salah juga gak mungkin dihukum 20 tahun. Ini cari sensasi doang kayaknya.]

[Semangat Pak Yudha! Walaupun rasanya mustahil menang, tapi gue salut keberaniannya!]

Setelah 10 menit berlalu... keputusan diambil!

Hakim Yuliana dinyatakan mengundurkan diri dari persidangan ini karena ada dugaan konflik kepentingan, dan hanya boleh duduk sebagai pengamat. Hakim Anggota, Bapak Santoso, naik menjadi Hakim Ketua yang baru!

Tapi tantangan belum selesai. Kalau nanti buktinya gak kuat, Yudha tetap bakal dipenjara karena fitnah.

Penonton live sekarang udah tembus SATU JUTA ORANG!

Di sebuah firma hukum ternama, para senior juga nonton sidang ini.

"Pasti kalah ini anak muda," kata Pengacara senior, Atta Hasibuan. "Bukti gak jelas, main tuduh sana sini. Gak heran setahun gak ada kasus. Cuma cari perhatian doang."

Namun pemilik firma itu, Pak Yusril Mahendra, justru tersenyum sambil menyeruput teh.

"Belum tentu. Dia pengacara, pasti paham hukum. Kalau dia berani ngomong seberani itu, berarti dia pegang kartu AS. Kalau gak, dia gak mungkin nekat tantang hakim langsung," ujar Yusril Mahendra tenang.

TOK! TOK! TOK!

Hakim Santoso mengetuk palu. Suaranya berat dan berwibawa.

"Sidang dilanjutkan! Pengacara Penggugat, silakan kemukakan bukti untuk ketiga tuntutan Anda satu per satu!"

Yudha mengangguk. Dia berdiri, matanya menyapu seluruh ruangan.

"Baik, Yang Mulia. Sebelum tunjukkan bukti, izinkan saya menguraikan kembali kronologi kejadian agar semua orang tahu betapa kejamnya perlakuan yang diterima klien saya."

"Pada sore hari tanggal 6 September, pukul 17.39, Klien saya Bimo sedang berada di dalam MRT. Sesampainya di stasiun, dia bertemu dengan Terdakwa Laras dan Tania."

"Tepat pukul 17.40, Laras dan Tania tiba-tiba merebut HP Bimo dengan kasar! Mereka berteriak histeris menuduh Bimo memotret mereka! Bahkan Laras sampai menendang pangkal paha klien saya!"

"Mereka memaksa Bimo membuka kunci HP dan memeriksa satu per satu foto di galeri."

"Karena tidak menemukan apa-apa, mereka gak mau kalah. Mereka malah menuduh Bimo menyembunyikan kamera di dalam tas!"

"Akhirnya petugas keamanan ikut campur, tas dibuka, diperiksa... dan hasilnya nihil! Itu murni kesalahpahaman!"

"Saat polisi datang, mediasi dilakukan. Seharusnya mereka minta maaf. Tapi bagaimana sikap mereka? Muka jutek, minta maaf sambil ketawa-ketiwi, gak ada rasa bersalah sama sekali!"

"Bahkan orang-orang di sekitar malah membujuk Bimo: 'Yah udahlah, masa cowok berantem sama cewek. Kasihan mereka, kamu sabar aja dong.' "

Yudha menghentakkan suaranya, penuh emosi yang terkontrol.

"DISINI SAYA INGIN BERTANYA KEPADA SEMUA ORANG!"

"Bukankah kita sudah maju? Bukankah ada yang namanya persamaan hak? Kenapa kalau cowok harus selalu mengalah? Kenapa cowok harus selalu legowo kalau disakitin?"

"Kenapa cewek bisa seenaknya nuduh, nyita barang pribadi, menghina, terus setelah salah malah dibilang 'kasihan'? Dimana keadilannya?!"

"Dan kalian pikir masalah selesai sampai situ? SALAH BESAR!"

"Sesampainya di rumah, Laras dan Tania malah bikin video di TokTok! Mereka mengaku jadi korban pelecehan, cap Bimo sebagai orang menjijikkan, sampai akhirnya ribuan netizen menyerang Bimo secara membabi buta!"

"Karena gak terima diperlakukan seperti sampah padahal gak bersalah, klien saya membawa masalah ini ke pengadilan!"

Yudha baru saja selesai bicara...

"KEBERATAN YANG MULIA!"

Pengacara Rina Wijaya langsung berdiri dengan wajah memerah marah.

"Ini fitnah! Pengacara Penggugat hanya berbicara omong kosong tanpa bukti! Dia menghasut dan mengganggu ketertiban sidang! Saya meminta agar Pengacara Yudha dikeluarkan dari ruangan ini SEKARANG JUGA!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Si Pengacara Gila   Bab 93

    Yudha melirik panel sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.Dalam sekejap, layar transparan itu terbuka. Puluhan berkas, rekaman, hingga bukti-bukti yang selama ini tersembunyi langsung muncul di hadapannya.Setelah gagal mendapatkan jawaban dari Pak Ganang, Yudha mencoba menemui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.Namun hasilnya tetap sama."Agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, kami tidak bisa memberikan keterangan apa pun."Kalimat itu terdengar seperti sudah dihafal.Tak menyerah, Yudha kembali mencoba menemui Kepala Sekolah.Sayangnya, jawaban yang ia terima masih persis sama.Tak ada penjelasan.Tak ada dokumen.Tak ada satu pun pihak sekolah yang bersedia membuka kembali kasus kematian Tasya.Bisa dibilang, selama berada di SMP Negeri 13, Yudha tidak memperoleh bukti apa pun secara langsung.Namun dari beberapa siswa yang diam-diam berani berbicara, ia mulai melihat gambaran besar tentang bagaimana sekolah itu dija

  • Si Pengacara Gila   Bab 92

    Pak Ganang melempar lembar hasil ujian hingga menghantam wajah seorang siswa laki-laki. Belum sempat anak itu bereaksi, Pak Ganang yang sudah dikuasai amarah langsung menendang tubuh siswa kelas sembilan tersebut sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya tinggi besar dengan sorot mata yang mengintimidasi. Di SMP Negeri 13, tak ada satu pun murid yang berani membantah atau membuatnya marah. Lagi pula, sekolah itu merupakan salah satu dari lima SMP paling bergengsi di kota, dengan prestasi akademik yang selalu dibanggakan. Pak Ganang memang sudah lama dikenal sebagai guru yang keras. Memarahi, menghukum, bahkan sesekali melakukan kekerasan fisik kepada murid dianggapnya sebagai cara mendidik. Baginya, semakin tinggi tingkat kelulusan kelas yang diampunya, semakin besar pula peluangnya mendapat kenaikan pangkat dan tunjangan. Siswa itu perlahan kembali ke dalam kelas. Dengan tangan gemetar, ia mengambil selembar kertas berisi surat pernyataan. "Saya berjanji tidak

  • Si Pengacara Gila   Bab 91

    Yudha dan Martiyus berbincang selama hampir dua jam. Dalam waktu itu, Yudha benar-benar memahami seluruh masalah dan situasi yang menimpa keluarga itu.Setelah selesai menjelaskan, Martiyus menyerahkan semua dokumen dan bukti yang ia miliki kepada Yudha.Yudha menatap berkas-berkas itu, lalu berkata dengan nada tenang, “Soal biaya jasa pengacara, tidak perlu sampai tiga ratus juta. Dua ratus juta saja sudah cukup. Tapi ada satu kesepakatan: jika kita memenangkan kasus ini, biaya proses persidangannya tidak perlu kamu bayarkan lagi.”Sebenarnya, untuk menyewa jasa pengacara, angka segitu memang tidak terlalu tinggi. Namun kasus ini berbeda dari biasanya.Ada dua peristiwa yang saling berkaitan!Pertama, kasus diduga bunuh diri yang menimpa Tasya Andini.Kedua, kasus yang menimpa ibunya, Imelda, yang mengalami perundungan secara daring hingga akhirnya ia pun mengakhiri hidupnya.Kedua kasus ini akan diurus sekaligus!Dan Yudha yakin ia sanggup menangani keduanya. Selain itu, kasus ini d

  • Si Pengacara Gila   Bab 90

    Di media sosial, topik yang paling ramai dibicarakan bukanlah gosip selebritas atau hiburan. Yang menduduki puncak trending justru kabar memilukan.Imelda, ibu dari Tasya Andini, nekat melompat dari sebuah gedung dan meninggal dunia.Keluarga yang dulu berjumlah tiga orang kini hanya menyisakan sang ayah, Martiyus.Usianya baru empat puluh enam tahun, tetapi hanya dalam semalam, seluruh rambutnya berubah putih.Sambil memegang foto istri dan putrinya, Martiyus menahan air mata. Di dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang belum pernah terjawab.Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya?Video wawancaranya langsung meledak di media sosial.Yudha tercengang saat melihat berita itu."Apa yang sebenarnya terjadi?"Dia membuka topik yang sedang trending di TokTok, tetapi potongan-potongan informasi yang ada tidak cukup untuk membuatnya memahami keseluruhan kasus.Dalam video itu, Martiyus berkata dengan suara bergetar,"Setahun yang lalu, pu

  • Si Pengacara Gila   Bab 89

    Sidang banding kedua kasus Zara akhirnya digelar. Yudha tidak hadir langsung di ruang sidang, tapi ia mengikuti jalannya persidangan lewat siaran langsung yang disiarkan secara luas di media daring. Selama ini, Zara tetap berpegang pada harapan kosong. Ia yakin vonis mati di sidang pertama hanyalah ancaman untuk membuatnya takut. Meskipun ia tidak mampu menyewa pengacara sendiri, setidaknya lembaga bantuan hukum negeri telah menugaskan seorang pembela untuk membantunya. Ia pikir, dengan adanya bantuan itu, hukum pasti akan memberinya kesempatan kedua. Namun begitu keputusan hakim dibacakan, seluruh harapannya hancur seketika. "Terpidana Zara, tetap dijatuhi hukuman mati, dicabut hak-hak politiknya seumur hidup, dan diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak yang dirugikan!" Zara sama sekali tidak menyangka hasilnya akan tetap sama. Begitu mendengar kata-kata itu, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar hebat. Ia tidak pernah membayangkan

  • Si Pengacara Gila   Bab 88

    Akhirnya, genaplah lima belas hari sejak sidang pertama berakhir. Selama masa itu, Yudha bekerja tanpa henti, tapi hasilnya juga terasa sangat menguntungkan. Memang biaya untuk merekrut dan membangun tim tidak sedikit, namun saat Yudha menghitung laporan keuangan, ia menyadari satu hal penting: kantornya sudah mulai menghasilkan keuntungan bersih! Penyebabnya jelas: jumlah kasus yang masuk melimpah ruah. Kini, jumlah pengacara yang bekerja di kantornya telah mencapai lebih dari sepuluh orang. Lima di antaranya merupakan lulusan magister hukum dari Universitas Padjadjaran, sementara lima lainnya berasal dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meski kedua perguruan tinggi itu termasuk yang terbaik di Indonesia, ia sadar bahwa untuk menangani perkara-perkara besar, kantornya masih membutuhkan lebih banyak pengacara berbakat dari berbagai universitas ternama. Bahkan, banyak lulusan terbaik dari universitas hukum ternama di Indonesia, seperti Un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status