ログインWajah Hakim Yuliana berubah sedingin es.
Sebagai hakim ketua, dia dituntut mundur? Di negara ini memang sah-sah saja... ASALKAN ADA BUKTINYA! Kalau buktinya gak ada, berarti Yudha sedang melakukan pencemaran nama baik, dan hukumannya bisa lebih dari 7 tahun penjara! "Anda yakin mau menuntut saya?" tanya Yuliana dengan nada mengintimidasi. "Ingat, di pengadilan ini bicara fakta dan bukti. Kalau Anda nekat tapi gak bisa tunjukkan bukti, siap-siap Anda yang masuk penjara!" "Saya yakin, Yang Mulia," jawab Yudha tenang tanpa ragu sedikitpun. Melihat situasi memanas, Jaksa langsung mengajukan permohonan istirahat sidang selama 10 menit untuk musyawarah internal. [GILA! GILA! GILA! PAK YUDHA ITU MANUSIA ATAU BUKAN?!] [Belum pernah lihat pengacara seberani ini! Mau bawa hakimnya juga masuk bui!] [Merinding gue nontonnya. Takutnya nanti dia sendiri yang kejebak lho.] [Udah fitnah ceweknya, pengacaranya, sekarang hakimnya. Ini namanya perang total!] [Julukan 'Pengacara Edan' cocok banget buat dia!] Banyak netizen yang menganggap Yudha sudah keterlaluan. [Bodoh banget sih. Baru magang udah tantang hakim. Nanti kalau kalah, dia sendiri yang masuk.] [Gak masuk akal! Salah juga gak mungkin dihukum 20 tahun. Ini cari sensasi doang kayaknya.] [Semangat Pak Yudha! Walaupun rasanya mustahil menang, tapi gue salut keberaniannya!] Setelah 10 menit berlalu... keputusan diambil! Hakim Yuliana dinyatakan mengundurkan diri dari persidangan ini karena ada dugaan konflik kepentingan, dan hanya boleh duduk sebagai pengamat. Hakim Anggota, Bapak Santoso, naik menjadi Hakim Ketua yang baru! Tapi tantangan belum selesai. Kalau nanti buktinya gak kuat, Yudha tetap bakal dipenjara karena fitnah. Penonton live sekarang udah tembus SATU JUTA ORANG! Di sebuah firma hukum ternama, para senior juga nonton sidang ini. "Pasti kalah ini anak muda," kata Pengacara senior, Atta Hasibuan. "Bukti gak jelas, main tuduh sana sini. Gak heran setahun gak ada kasus. Cuma cari perhatian doang." Namun pemilik firma itu, Pak Yusril Mahendra, justru tersenyum sambil menyeruput teh. "Belum tentu. Dia pengacara, pasti paham hukum. Kalau dia berani ngomong seberani itu, berarti dia pegang kartu AS. Kalau gak, dia gak mungkin nekat tantang hakim langsung," ujar Yusril Mahendra tenang. TOK! TOK! TOK! Hakim Santoso mengetuk palu. Suaranya berat dan berwibawa. "Sidang dilanjutkan! Pengacara Penggugat, silakan kemukakan bukti untuk ketiga tuntutan Anda satu per satu!" Yudha mengangguk. Dia berdiri, matanya menyapu seluruh ruangan. "Baik, Yang Mulia. Sebelum tunjukkan bukti, izinkan saya menguraikan kembali kronologi kejadian agar semua orang tahu betapa kejamnya perlakuan yang diterima klien saya." "Pada sore hari tanggal 6 September, pukul 17.39, Klien saya Bimo sedang berada di dalam MRT. Sesampainya di stasiun, dia bertemu dengan Terdakwa Laras dan Tania." "Tepat pukul 17.40, Laras dan Tania tiba-tiba merebut HP Bimo dengan kasar! Mereka berteriak histeris menuduh Bimo memotret mereka! Bahkan Laras sampai menendang pangkal paha klien saya!" "Mereka memaksa Bimo membuka kunci HP dan memeriksa satu per satu foto di galeri." "Karena tidak menemukan apa-apa, mereka gak mau kalah. Mereka malah menuduh Bimo menyembunyikan kamera di dalam tas!" "Akhirnya petugas keamanan ikut campur, tas dibuka, diperiksa... dan hasilnya nihil! Itu murni kesalahpahaman!" "Saat polisi datang, mediasi dilakukan. Seharusnya mereka minta maaf. Tapi bagaimana sikap mereka? Muka jutek, minta maaf sambil ketawa-ketiwi, gak ada rasa bersalah sama sekali!" "Bahkan orang-orang di sekitar malah membujuk Bimo: 'Yah udahlah, masa cowok berantem sama cewek. Kasihan mereka, kamu sabar aja dong.' " Yudha menghentakkan suaranya, penuh emosi yang terkontrol. "DISINI SAYA INGIN BERTANYA KEPADA SEMUA ORANG!" "Bukankah kita sudah maju? Bukankah ada yang namanya persamaan hak? Kenapa kalau cowok harus selalu mengalah? Kenapa cowok harus selalu legowo kalau disakitin?" "Kenapa cewek bisa seenaknya nuduh, nyita barang pribadi, menghina, terus setelah salah malah dibilang 'kasihan'? Dimana keadilannya?!" "Dan kalian pikir masalah selesai sampai situ? SALAH BESAR!" "Sesampainya di rumah, Laras dan Tania malah bikin video di TokTok! Mereka mengaku jadi korban pelecehan, cap Bimo sebagai orang menjijikkan, sampai akhirnya ribuan netizen menyerang Bimo secara membabi buta!" "Karena gak terima diperlakukan seperti sampah padahal gak bersalah, klien saya membawa masalah ini ke pengadilan!" Yudha baru saja selesai bicara... "KEBERATAN YANG MULIA!" Pengacara Rina Wijaya langsung berdiri dengan wajah memerah marah. "Ini fitnah! Pengacara Penggugat hanya berbicara omong kosong tanpa bukti! Dia menghasut dan mengganggu ketertiban sidang! Saya meminta agar Pengacara Yudha dikeluarkan dari ruangan ini SEKARANG JUGA!"Sidang pengadilan kembali dibuka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, suasana ruangan terasa tegang namun penuh perhatian. Semua mata tertuju ke meja hakim, di mana Hakim Ketua Santoso kini berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. “Setelah melalui proses verifikasi mendalam, Pengadilan menemukan fakta bahwa Pengacara Rina Wijaya telah dengan sengaja melanggar aturan hukum. Ia terbukti menyuap pihak lain, memalsukan alat bukti, bahkan berulang kali melakukan pemalsuan berkas selama menjalankan profesinya. Sidang hari ini akan dilanjutkan dengan pertimbangan baru,” ucap Hakim Santoso dengan nada tegas. Berita itu seketika memicu kehebohan luar biasa di dunia maya. Siaran langsung sidang ini dibanjiri ribuan komentar dalam hitungan detik. [Wah, gila sih! Keren banget! Pengacara Yudha beneran bakal bikin pengacara lawan masuk penjara ya?!] [Kok bisa sampai sejauh ini ya? Dikit lagi kayaknya Rina Wijaya kena deh!] [Hahaha, Pengacara Yudha emang beda level! Keren banget s
Rina Wijaya kini sudah terborgol rapi di tangan petugas kepolisian, resmi ditahan dan menjalani proses penyidikan. Kariernya yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur lebur dalam sekejap. Masa depannya gelap gulita. Dia sudah tamat. Wajahnya pucat pasi, seputih kertas. Dalam hati dia mengutuk, Yudha... pengacara magang sialan ini benar-benar kejam! Dia sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan nasib Laras dan Tania. Dia sendiri pun belum tahu berapa tahun jeruji besi yang akan menunggunya. "Kakak! Kak Rina!" Laras mencengkeram lengan Rina erat-erat, matanya memanas. "Kakak harus bantu kami! Siapa lagi yang mau bela kami kalau bukan Kakak? Kan Kakak bilang pasti menang? Terus sekarang gimana? Apa aku sama Tania harus minta maaf sama cowok menyebalkan itu? Kenapa sih?! Aku nggak salah! Aku cuma kira dia mau rekam aku diam-diam! Kenapa sekarang giliranku yang harus minta maaf?!" Tania berdiri di samping dengan wajah manyun dan kesal setengah mati. "Aku nggak peduli keputusan peng
INI BUKTINYA!!Bukti transaksi pribadi antara pengacara lawan, Rina Wijaya, dan dokter Hari Darsono!Sebagai seorang psikiater, tentu saja sangat mudah bagi Hari untuk mengeluarkan surat keterangan gangguan jiwa atau depresi berat. Di zaman sekarang, isu kesehatan mental sedang ramai dibicarakan, jadi siapa pun bisa dengan mudah mengaku sakit jiwa untuk lepas dari tanggung jawab.Dan bukti yang dilayangkan Yudha bagaikan bom nuklir yang meledak seketika!Siaran langsung yang ditonton ribuan orang langsung heboh! Komentar-komentar berjejalan membanjiri layar.[APA?? SERIUS??][GILA! JADI DEPRESINYA PALSU SEMUA?!][BISA GITU YA CARANYA? SURAT DOKTER BISA DIBELI GITU AJA?][JAHAT BANGET! JADI LARAS SAMA TANIA ITU CUMA BERAKTING YA? MEREKA YANG REKAM ORANG, TERUS NUDUH ORANG REKAM MEREKA, BIKIN THREAD FITNAH, PAS UDAH KETAHANAN LEMAH, LANGSUNG PAKE ALASAN SAKIT JIWA. JIJIK BANGET SI!][MEREKA HARUS DIHUKUM! GAK BISA DIAM AJA INI!][EMANG BOLEH ADA DOKTER KAYA GINI? KELUARIN SURAT PASTU SE
Begitu kalimat itu meluncur dari mulut Yudha, suasana di ruang sidang langsung berubah 180 derajat. Keributan pun tak terelakkan, apalagi di kolom komentar siaran langsung yang langsung meledak.[Hah? Seriusan?][Maksudnya gimana? Sertifikat depresinya palsu dong?!][Gila, tadi kan bilang udah diverifikasi dan asli? Kok bisa berubah gitu?][Wah, ada apa-apa nih ceritanya! Ada skandal besar kah?][Asiiik, makin seru nih! Kalau beneran mereka cuma pura-pura sakit, pasti bakal kocak banget endingnya!]Hakim Ketua Santoso menatap Yudha dengan wajah serius dan tatapan tajam, seolah ingin menelusuri isi pikiran pengacara muda itu.Di sisi lain, wajah Rina Wijaya, pengacara dari pihak lawan, langsung berubah pucat. Ekspresinya sempat terlihat panik dan bingung, tapi ia buru-buru menguasai diri dan berusaha tetap terlihat tenang.Nggak mungkin!Gimana caranya Yudha bisa tahu soal ini?Meskipun jantungnya rasanya mau copot, Rina tetap mempertahankan wajah datarnya."Pengacara penggugat," tegur
"Saya meminta Hakim Ketua untuk menghukum Laras dan Tania dengan hukuman penjara selama 7 tahun! Dijalankan segera!!"Suara Yudha menggelegar, memecah keheningan.Seketika itu juga, tepuk tangan meriah meledak di ruang sidang! Buktinya terlalu kuat dan tidak bisa dibantah!Fakta sudah sangat jelas: Video Bimo adalah bentuk pembelaan hak asasi yang wajar. Sedangkan Laras dan Tania? Mereka adalah pelaku utama fitnah dan cyberbullying yang sangat kejam!Bimo berdiri terpaku di tempatnya.'Pengacara gue ini beneran monster, ya? Dari cuma minta maaf, sekarang mau masukin mereka berdua ke penjara?'Di dalam hati Bimo memberikan jempol berkali-kali. 'Gokil! Luar biasa!'Ini pengacara magang? Bukan! Ini adalah pembawa keadilan yang siap menghancurkan kejahatan!TOK! TOK! TOK!Hakim Santoso mengetuk palu."Tertib! Pengacara Pembela, apakah masih memiliki pembelaan?"Wajah Hakim Santoso tampak sangat serius. Dia tidak menyangka di balik wajah cantik kedua wanita itu, tersimpan niat jahat yang b
Yudha melanjutkan dengan suara tegas dan tak tergoyahkan,"Bimo hanya menceritakan pengalaman yang dia alami. Apakah itu disebut melakukan pelecehan online? Ratusan ribu komentar yang menyerang itu adalah tulisan netizen lain. Apa hubungannya dengan Bimo?""Saya ingin bertanya pada pengacara lawan, apakah berbagi fakta dan pengalaman pribadi di media sosial sekarang sudah dikategorikan sebagai tindak pidana?"Pertanyaan logis Yudha sekali lagi membuat seluruh ruangan hening dan tak bisa membantah.Namun Rina Wijaya tetap berusaha memutarbalikkan logika,"Tapi dampak buruk yang dialami klien saya karena video itu adalah FAKTA! Mental mereka hancur, depresi berat! Itu tidak bisa disangkal! Jadi kalau Bimo tidak upload video, mereka tidak akan menderita! Maka Bimo harus bertanggung jawab!"Yudha tersenyum miring, lalu melontarkan serangkaian pertanyaan yang mematikan logika lawan."Pengacara lawan sedang mendistorsi konsep! Kalau logikanya begitu... Jika hari ini Pengacara Rina tidak sen







