LOGINDea melempar ucapannya ke Rey, berharap lelaki itu akan ikut menyudutkan dan mencibir Anara. Anara lebih cepat membalas sebelum Rey menyahuti ucapan Dea. "Kak Dea tahu saja, yang pasti bukan om-om sembarangan, ya. Om yang ini memang sangat dermawan dan baik hati. Apa Kak Dea juga mau kukenalkan?" balasnya berani. Dea berdecih, tatapan tidak suka dan jijiknya begitu jelas. Kadang Anara juga gereget ingin mencongkel lirikan sinisnya, tapi dia mencoba sabar karena tahu Dea dekat dengan Rey. Bagaimana pun, Rey bilang dia tidak boleh mencampuri urusannya kalau mau tetap aman sejahtera. "Tidak perlu! Kamu pikir saya murahan," jawab Dea penuh sindiran, namun Anara tidak tersinggung. Dia memilih pamit dan pergi dengan angkuh. "Oke, tidak masalah." Anara melirik Rey sekilas, kemudian dia pamit pulang untuk menjemput Zavi. Setelah Anara melangkah Dea kembali mengobrol dengan Rey. "Setelah ini mau balik ke hotel atau pulang?" "Ke hotel." Anara mencuri dengar, telinganya berfungs
Zavi selalu sensitif jika ada lelaki lain yang mendekati Anara, jelas anak itu takut sampai ada yang membawa pergi Anara. Meski kecil, Zavi tahu untuk menahan Anara harus menjadikan Anara keluarganya. Makanya anak itu ngebet ingin ayahnya segera menikahi Anara. Gerakan Erik terhenti, Anara juga menepis pelan tangan lelaki itu. Dia pamit ke toilet karena perutnya tidak nyaman. ***Waktu demi waktu berlalu, Rey kian tenggelam dalam padatnya agenda pekerjaan. Berbagai urusan strategis baik di luar kota maupun ke luar negeri, menuntut kehadirannya, membuat waktu tinggal di rumah semakin terbatas. Beruntung, di tengah kesibukan itu, kondisi kesehatan Zavi berangsur-angsur membaik.Hari ini, sosok lelaki itu muncul di layar kaca, hadir dalam sebuah program reality show yang menampilkan figur muda inspiratif dan berprestasi. Dia diundang sebagai tamu kehormatan. Anara melihat dan mengamatinya dengan anteng dari balik layar TV di rumah. Tatapannya menunjukan rasa bangga setiap kali kamera
"A--pa?" Anara sampai kehabisan kata-kata. Dia hanya tidak menyangka keingian Rey sangat jauh dari ekspektasinya. Rival? Kok, Rival? Minimal kalau tidak dinikahi, bukankah harusnya teman ranjang? "Kamu kaget atau pura-pura kaget?" Rey masih saja bersikap santai, seolah apa yang dia katakan bukan sesuatu yang aneh. Malahan sesuatu yang Anara tunggu sebelumnya. Anara masih terbengong dengan wajahnya yang kaku dan syok. "Bu--bukan begitu ... Maksud Pak Rey ingin jadikan aku wanita simpanan atau bagaimana?" Kali ini Anara juga bicara langsung pada intinya. Anara terlalu serius menanggapi. Rey tertawa, tawa yang terdengar seperti ejekkan. "Mungkin mirip itu." Anara menunduk, dia tampak berpikir keras dan mempertimbangkan. Jadi wanita simpanan juga tidak masalah asal Rey benar-benar bisa membantunya dan memberinya keuntungan. Toh, sekarang Anara bukan gadis suci. Tapi jujur, kalau boleh berharap, Anara ingin hidup normal dan berharga. Pikiran Anara terus beperang antara log
Hoeeek! Hoeeek! Anara mual, dia menekan isi perutnya yang terasa diaduk-aduk namun tidak ada yang keluar, selain cairan berwarna kekuningan. Dia belum sarapan pagi tadi, wajar jika muntah pun tidak ada isinya. Anara pikir dia masuk angin, atau pusing karena perutnya kosong. Setelah mencuci muka dan keluar dari toilet bergegas dia keluar dari rumah sakit ingin membeli makanan. Namun, langkahnya terhenti saat ibunya yang juga berada di rumah sakit itu berdiri di depan ruang ICU tempat Lila dirawat. Tidak hanya sendiri, Salma justru sedang dipojokan oleh Henry yang entah dari mana datangnya mereka bisa bertemu. "Oh, jadi putrimu yang tidak jelas siapa ayahnya itu sedang sekarat ya?" Ucapan Henry sangat pedas. "Jaga mulutmu! Lula pasti akan sembuh!" Salma tidak terima putri bungsunya dikatai begitu oleh Henry. Meski benar, Lula terlahir tanpa tahu siapa ayahnya, Salma sendiri bingung lelaki mana yang menanamkan benih di rahimnya, dia tetap tidak terima Lula dipandang rendah. Apala
Suara Anara yang parau dan serius membuat Rey tidak bisa mencurigainya. "Baik, saya akan segera datang."Anara bisa sedikit lega setelah Rey memberi kabar akan datang. Sementara Zavi masih berada di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit).***Rafi tidak bisa tenang saat tahu jika Zavi dibawa ke rumah sakit dan Rey bilang sempat kejang dan koma. "Kamu keterlaluan menghukum anak itu. Sejak awal kondisi fisik Zavi itu lemah, ditambah tekanan mental sedikit saja pastilah dia langsung drop," ucap Sarah tidak jauh berbeda dengan suaminya, dia juga merasa takut. Rafi duduk dengan napas gelisah. Sarah berdecak, dia tidak mau disalahkan sendirian. Kemarin saat makan bersama keluarga Dea, Zavi membuat keributan. Anak itu tidak terima jika ayahnya akan menikah dengan Dea, lalu terang-terangan berteriak dan mengatakan hanya wanita yang mendonorkan ginjal untuknya yang akan jadi mamanya. Zavi bahkan sempat tantrum, anak itu menggebrak meja. Meski tenaganya kecil, namun sikap arogan itu je
Anara mengusap wajah kecil yang pucat itu, memastikan kondisi Zavi. Bibir Zavi bergumam, namun tidak terdengar jelas suara yang keluar. Melihat tubuh kecil yang basah Anara membopongnya keluar dari kamar mandi. Anara panik, tapi mencoba tetap tenang dengan mengganti baju Zavi yang basah lebih dulu. Anak itu butuh rasa hangat dan nyaman. ***“Nara, mau dibawa ke mana Zavi? Kalau masih demam biarkan dia istirahat di sini dulu!” tegur Sarah yang melihat Anara menggendong Zavi. “Tubuhnya sudah sangat lemas, bagaimana mungkin dibiarkan, Zavi harus ke rumah sakit!” Anara bersikeras, dia sudah memakaikan Zavi baju yang kering dan hangat, dia ingin membawa anak itu. Dia bukan ibu kandungnya, tapi sifat protektif keibuan membuatnya tidak bisa hanya diam melihat anak sekecil Zavi dibiarkan. Kemarin saat Anara melihat Zavi terakhir anak itu masih baik dan sehat, tidak ada gejala demam atau pun sakit. Jadi kondisi Zavi saat ini membuat Anara tidak bisa tenang. “Kami punya dokter keluarga.”







