Share

166

Penulis: semangkukramen
last update Tanggal publikasi: 2026-07-12 12:17:09

Cahaya matahari pagi yang malu-malu menembus celah gorden kamar, perlahan membangunkan Felly dari tidur nyenyaknya. Ia menggeliat pelan di balik selimut tebal, merasakan tubuhnya jauh lebih segar dibanding kemarin. Beban berat dan kepanikan yang sempat meremas dadanya seharian kemarin runtuh total setelah mendengar suara Marvin semalam.

Hal pertama yang Felly lakukan begitu kesadarannya terkumpul adalah meraba sisi kasur, mencari ponselnya. Layar menyala, menampil

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Simpanan Dosen Tampan   177

    Deretan papan petunjuk berukuran besar akhirnya mengarahkan SUV hitam milik Marvin memasuki area Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma. Langit sore mulai berhias rona oranye keemasan, membiaskan cahaya hangat yang menembus kaca depan kendaraan. Perjalanan antar-kota yang melelahkan itu tuntas tepat waktu, menyisakan jarak beberapa jam sebelum jadwal penerbangan Bu Dyas kembali ke Jakarta.Marvin memutar kemudi dengan sigap, melipir perlahan menuju area drop-off terminal keberangkatan internasional yang riuh oleh hilir mudik calon penumpang. Begitu mesin mobil dimatikan, Bu Dyas di kursi belakang terbangun pelan dari tidur lelapnya. Beliau merapikan tatanan rambutnya yang tetap anggun, lalu kembali mengenakan kacamata hitamnya dengan gerakan yang elegan."Sudah sampai, Ma," ucap Marvin datar sembari melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke belakang sekilas."Cepat sekali," gumam Bu Dyas sembari menyimpulkan senyum tipis. Beliau melirik Felly yang berada di samping kemu

  • Simpanan Dosen Tampan   176

    Roda-roda SUV mewah milik Marvin bergulir perlahan meninggalkan kompleks kampus Florence. Mobil garang yang selalu siap di garasi rumah pribadinya yang kini ia taruh di garasi rumah Bu Dyas yang ditempati Felly di Italia itu melaju mulus, membawa mereka bertiga membelah jalanan kota sebelum akhirnya lepas menuju jalur antar-kota.Pemandangan di luar jendela secara bertahap berubah—bangunan berarsitektur renaisans tergantikan oleh hamparan perbukitan Tuscany yang membentang luas. Dedaunan hijau memudar hangat di bawah paparan sinar matahari Jumat siang, menciptakan garis siluet indah di sepanjang jalur menuju Roma.Di balik kemudi, Marvin duduk tegap. Jemari tangannya yang panjang terkepal santai di atas lingkar kemudi. Suasana hatinya jauh berbeda dibanding saat perjalanan menuju kampus pagi tadi—rahangnya yang tadinya mengeras kaku kini tampak jauh lebih rileks.Penampilannya hari ini sudah kembali ke standar seorang Marvin yang sempurna—kemeja kasual terlipat rapi hingga siku, rambu

  • Simpanan Dosen Tampan   175

    Pagi itu, suasana meja makan kembali diwarnai denting halus cangkir porselen dan aroma kopi yang menyeruak. Namun, berbeda dari dugaan Felly yang mengira ibu mertuanya akan terburu-buru mengejar penerbangan pagi, Bu Dyas justru duduk dengan santai sembari membolak-balik layar ponselnya."Perasaan kemarin Mama bilang penerbangannya jam sepuluh pagi?" celetuk Felly hati-hati, memecah keheningan di antara mereka.Bu Dyas mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu menyunggingkan senyum anggun. "Mama sengaja memilih penerbangan sore yang berangkat dari Bandara Fiumicino. Kita bisa naik mobil dari sini, hitung-hitung road trip singkat."Mendengar itu, Felly langsung meneguk ludahnya sendiri. Otaknya bekerja cepat menyambungkan benang merahnya. Kalau jadwal terbang Bu Dyas sore nanti di Roma, artinya... mertuanya benar-benar serius dengan ucapannya semalam!"Jadi... Mama tetap mau ikut ke kampusku pagi ini?" tanya Felly lagi, memastikan dengan nada bergetar."Tentu saja," jawab Bu Dyas cepat

  • Simpanan Dosen Tampan   174

    Suasana meja makan pagi itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Bi Ningrum tampak bolak-balik dari dapur dengan wajah berseri-seri, menyajikan sepiring besar frittata hangat, roti panggang, dan potongan buah segar. Aroma kopi espresso yang kuat beradu dengan wangi mentega, menciptakan atmosfer pagi yang begitu nyaman di ruang makan berlantai marmer tersebut.Namun, kenyamanan itu agak terganggu bagi Marvin. Sejak mereka duduk di kursi masing-masing, Bu Dyas tidak henti-hentinya melayangkan ledekan tajam yang dibungkus dengan senyuman elegan khas sosialita kelas atas."Marvin, coba itu jenggot tipismu dicukur dulu. Mama lihat-lihat, Bi Ningrum saja sangat jauh lebih rapi dari kamu pagi ini," cibir Bu Dyas sambil mengoles selai ke rotinya dengan anggun. "Datang-datang ke Italia bukannya terlihat segar, malah mirip pria paruh baya yang tertekan karena cicilan rumah."Felly yang sedang mengunyah buah langsung menunduk dalam, menahan tawa mati-matian sampai bahunya bergetar.Marvin sama

  • Simpanan Dosen Tampan   173

    Felly terbangun saat semburat cahaya pagiFlorence mulai menyelinap di sela-sela gorden kamar. Hal pertama yang ia rasakan adalah embusan napas teratur yang hangat di puncak kepalanya, disusul sepasang lengan kekar yang masih mengunci pinggangnya dengan posesif.Ia mendongak pelan, mendapati Marvin masih tertidur sangat pulas. Sisa-sisa guratan lelah di wajah suaminya perlahan memudar, digantikan raut damai yang jarang sekali terlihat. Felly tersenyum tipis, merasa lega karena sang suami akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah nekat terbang belasan jam.Dengan gerakan sehalus mungkin, Felly menyisip keluar dari dekapan Marvin agar tidak mengusik tidurnya. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil segelas air hangat.Langkah kaki telanjang Felly menapaki anak tangga marmer yang sepi. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai dapur, langkahnya

  • Simpanan Dosen Tampan   172

    Marvin benar-benar ambruk dalam hitungan detik. Lengan kekarnya yang semula mendekap Felly erat, kini melemas dan jatuh pasrah di atas kasur, seiring dengan helaan napasnya yang berubah menjadi deru teratur yang lambat. Pria itu telah mencapai batas kemampuan fisiknya setelah puluhan jam terjaga tanpa jeda.Felly masih bergeming di posisinya, setengah berbaring di sisi Marvin. Air mata sisa kepanikannya masih mengalir pelan, membasahi pipi dan mantel wolnya. Namun, saat ia mendongak dan menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dalam jarak sedekat ini, rasa bersalah yang mencekik dadanya mendadak berubah menjadi rasa iba yang teramat dalam.Ia baru benar-benar memperhatikan penampilan Marvin pagi ini. Wajah tampan yang biasanya selalu tampak tegas dan rapi itu kini terlihat begitu lesu. Kedua matanya tampak cekung dengan bayangan gelap yang kentara di bawah kelopak mata yang terpejam. Di sekitar rahang tegasnya, samar-samar mulai tumbuh jenggot tipis yang tidak terurus, dan bibirnya

  • Simpanan Dosen Tampan   58

    Marvin membawa Felly ke club Devan. Di sana sudah lengkap formasi, seolah sengaja datang untuk menyambut Felly.“Hai, Felly!” Olivia tak lagi dingin seperti dulu. Wanita itu lebih ramah pada Felly, bahkan menyambut dengan pelukan hangat seolah bertemu teman lama.Felly awalnya kikuk, bingung bagaim

  • Simpanan Dosen Tampan   56

    “Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu

  • Simpanan Dosen Tampan   6

    Perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya, Felly dengan cepat merapikan mejanya dan bergegas pergi setelah berpamitan pada Gista. Sahabatnya itu tidak curiga apapun, mengira dirinya akan bekerja di minimarket seperti biasanya.Padahal di sinilah Felly berada. Di depan sebuah gedung apartemen me

  • Simpanan Dosen Tampan   5

    Seakan seluruh udara di dadanya tersedot habis.Felly merangsek maju, suara gemetar keluar dari mulutnya. “Pak, ini maksudnya apa? Kenapa rumah saya ditempeli ini?”Salah satu pria menoleh. Formal, rapi, ekspresinya datar, bahkan terlalu datar untuk berita yang bisa meruntuhkan hidup seseorang.“Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status