Share

Bab VII

Penulis: Sann dyy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 09:57:48

Kiki mengetuk pintu pelan sebelum masuk, membawa pakaian yang sudah disetrika rapi.

“Dania… ini bajunya, ya,” ujarnya sambil menyerahkan dress berwarna hitam yang akan dikenakan Dania untuk acara pengajian memperingati hari ulang tahun Anna serta doa bersama.

“Makasih, Ki,” ucap Dania, menerima baju dengan kedua tangan.

“Pak Ryan bilang nanti langsung ketemu di sana aja. Beliau sudah berangkat duluan,” tambah Kiki, menyampaikan pesan Ryan sebelum pergi.

Dania terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada lipatan gaun di tangannya, jemarinya mengetat tanpa sadar. Jika bisa memilih, ia tak ingin pergi. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana keluarga Anna menghinanya ketika ia menerima lamaran Ryan. Mereka menganggap itu adalah bentuk pengkhianatan. Mereka menuduhnya bahagia atas kematian Anna. Dania bisa memaklumi itu karena belum genap empat bulan, Anna meninggal, Ryan justru melamar wanita lain—yang tak lain sahabat Anna sendiri.

Namun, menolak hadir juga bukan pilihan. Ia tahu, sekali saja ia tak datang, desas-desus akan segera menyebar; Dania tidak menghormati keluarga Anna… Dania sombong… dan lain-lain. Dunia Ryan dan keluarganya penuh mata, penuh mulut yang tak pernah lelah berbisik.

“Dania, kamu baik-baik aja?” tanya Kiki, memecah lamunannya. Ia menyentuh lengan Dania dengan hati-hati.

Dania menoleh, berusaha tersenyum. “Aku siap-siap dulu, ya,” katanya pelan.

Kiki mengangguk, hendak berbalik. Tapi Dania sempat bertanya, “Oh, ya, Ki. Konsumsinya udah dikirim ke sana kan?” Nada suaranya lembut, tapi terdengar tegas. Ia sudah berjanji pada Ryan untuk menanggung semua biaya acara hari itu—sebagai bentuk tanggung jawab, atau mungkin, sebagai penebusan diam-diam yang hanya ia pahami sendiri.

“Udah, semuanya beres,” jawab Kiki dengan senyum kecil sebelum keluar dari kamar.

Begitu pun tertutup, Dania menarik napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; wajah pucat, mata lelah, dan senyum yang tak pernah sampai ke mata.

Ia tahu, hari ini bukan sekadar doa untuk mendiang Annaa—tapi juga ujian bagi dirinya yang masih terus dihantui rasa bersalah dan tuduhan yang tak kunjung padam.

***

Dania  tiba di rumah orang tua Anna bersama Kiki. Halaman rumah itu telah disulap menjadi tempat pengajian yang megah—tenda-tenda putih berjejer rapi, bunga-bunga papan membentuk lorong menuju pintu utama. Aroma Melati dan dupa bercampur dengan suara orang-orang yang saling menyapa, menciptakan suasana ramai sekaligus menyesakkan.

Wajar saja, pikir Dania. Selain Anna adalah istri Ryan—mantan, ia juga putri dari salah satu pengusaha paling berpengaruh di kota ini. Tak ada yang berani absen dari acara seperti ini.

Dania menggenggam ponselnya eat. Membuka layar, berharap ada balasan dari Ryan.

Kosong.

Ia menghembuskan napas pelan, setengah pasrah. Apa lagi yang bisa diharapkan dari Ryan?

“Ayo kita masuk, Dania,” ucap Kiki lembut sambil membukakan pintu.

Dania mengangguk pelan. Sebelum turun, ia menarik napas panjang—seolah mengumpulkan serpihan keberanian terakhir yang ia punya. “Semoga semuanya berjalan baik,” bisiknya pada diri sendiri.

Begitu melangkah, ia langsung mengenakan topeng yang sudah begitu familiar—senyum ramah, tatapan tenang, gerakan elegan. Ia menyalami saru per satu pejabat yang hadir, berbasa-basi dengan sopan, meski hatinya menolak semua pandangan yang terasa menelanjangi.

Ketika hampir tiba di ruang tamu tempat keluarga Anna berkumpul, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya.

Ryan.

Dania sempat terpaku. Jarang sekali pria itu menunjukkan perhatian—bahkan hampir tak pernah. “Ada aku,” bisik Ryan singkat, suaranya dalam namun tenang.

Dania tak menjawab, hanya menunduk sedikit. Ada perasaan aneh—antara lega dan ragu—mengalir di dadanya. Mereka melangkah masuk, menyalami satu per satu anggota keluarga. Senyum keduanya terpajang tanpa retak, seperti sepasang patung porselen yang dipajang untuk menyenangkan mata tamu.

Namun ketika Dania memeluk Ratih, ibu Anna, bisikan lirih menusuk telinganya. “Ngapain kamu datang?”

Suara itu dingin, nyaris tanpa emosi.

“Maaf, Tante,” jawab Dania pelan. “Saya hanya menerima ajakan Ryan.”

Tiba-tiba, ia merasakan jemari Ratih mencengkeram punggungnya—tepat di bagian yang belum sembuh dari cambukan Ryan kemarin. Nyeri tajam menjalar cepat, membuat tubuhnya menegang. Tapi Dania menahan suara yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia hanya memejamkan mata sesaat, mencoba bertahan.

“Ma…” panggil Ryan tiba-tiba.

Cengkeraman itu lepas.

Ratih menoleh pada Ryan, tersenyum kaku seolah tak terjadi apa-apa. Dania perlahan melepaskan pelukan itu dan mundur satu langkah, berusaha mengatur napas.

Ia tahu caranya bertahan—berpura-pura baik-baik saja, bahkan ketika tubuh dan hatinya sama-sama memar.

Ryan yang sedari tadi memperhatikan wajah istrinya, perlahan mendekat. “Kamu kenapa?” bisiknya lembut di telinga Dania.

Dania buru-buru menggeleng, memasang senyum tipis yang dipaksakan. “Enggak apa-apa,” jawabnya singkat.

Ryan menghela napas pelan. “Ya sudah, kamu duduk di sini aja dengan Kiki. Aku di luar sama bapak-bapak.” Ia menepuk pelan bahu Dania lalu beranjak pergi.

Dania sempat ingin menahan—tapi urung.

Bagaimana jika orang-orang memperhatikan? Apa yang mereka pikirkan? Ia tak punya pilihan selain diam. Kini posisinya tepat di samping Ibu Ratih.

“Kan saya sudah bilang kamu tidak perlu datang,” ucap Ratih pelan, tapi nadanya tajam, penuh tekanan.

Dania tetap tersenyum kecil, seolah obrolan itu percakapan ringan antar keluarga. Ia tahu, di sekitarnya banyak mata yang memperhatikan.

“Maaf, Tante,” katanya tenang, meski hatinya bergetar. “Kalau saya nggak datang, nanti menimbulkan banyak pertanyaan, Tante.”

Ratih menatapnya tajam, “Saya nggak peduli,” katanya tegas, lalu meremas tangan Dania. “Lain kali jangan pernah injakkan kaki kamu di rumah saya. Saya tidak sudi.”

Dania menunduk dalam. Perih di dadanya nyaris menyesakkan tenggorokan. Ia bisa memahami kemarahan itu—kalau saja dulu ia menolak lamaran Ryan, mungkin semua orang akan lebih bahagia. Mungkin Anna masih akan dikenang dengan damai, bukan lewat bayangan dirinya.

“Assalamualaikum…”

Suara lembut itu memecah ketegangan. Ratih sontak melepas genggamannya dan menoleh ke arah pintu.

“Waalaikumussalam…” jawabnya cepat, wajahnya langsung berubah cerah.

Ia berdiri dan memeluk seorang wanita paruh baya yang baru tiba, penuh kehangatan seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Wanita itu—Mama Wulan, ibunda Ryan sekaligus mertua Dania.

“Sayang, kamu udah sampai duluan ternyata,” ucapnya ramah sambil menghampiri Dania. Ia langsung memeluk menantunya erat, bahkan mengecup pipinya dengan penuh kasih.

Dania sempat terdiam. Hangat pelukan itu terasa asing—karena sudah lama ia tidak mendapatkannya, bahkan dari suaminya sendiri.

Ratih yang menyaksikan pemandangan itu hanya membuang muka. Ada semburat kesal yang tak bisa disembunyikannya. Dulu saja, Wulan tidak pernah memperlakukan Anna sehangat itu.

Wulan duduk di sebelah Dania, menggenggam tangan menantunya dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Ratih tak lagi bisa mengintimidasinya. Ada pesan diam di balik genggaman itu: kamu tidak sendiri.

Suasana pengajian berjalan khidmat. Lantunan doa bergema lembut memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma bunga melati yang diletakkan di setiap sudut. Perlahan, satu per satu tamu mulai berpamitan dan meninggalkan tempat.

Ketika suasana mulai lengang, Ryan masuk ke dalam rumah. Wajahnya tampak tenang, meski matanya menelusuri ruangan mencari seseorang—Dania. Ia menghampirinya, lalu berkata pelan namun tegas. “Ayo, kita pulang.”

Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Dania dan menariknya berdiri. Dania mengangguk sopan. Sebelum melangkah keluar, ia menunduk memberi salam kepada Ratih dan Wulan.

Ketika mereka hendak keluar, tiba-tiba Ratih bersuara.

“Ryan, untuk malam ini tolong izinkan Kiki menginap di rumah Mama, ya,” ujarnya sambil menggenggam tangan Kiki dengan lembut.

Kiki tampak canggung, hanya tersenyum kikuk tanpa tahu harus berkata apa.

“Oke, Ma,” jawab Ryan. Ia berpikir, mungkin saja mereka ingin mengenang Anna.

Sementara itu, Dania menatap sekilas ke arah Ratih dan Kiki. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

Apakah Tante Ratih sedang merencanakan sesuatu bersama Kiki?

Dania menggeleng pelan, mencoba menepis prasangka itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Jangan berpikir macam-macam, pikirnya. Jangan biarkan dugaan buruk merusak sedikit kepercayaan yang tersisa di antara mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sisi Gelap Sang Penguasa   Bab XCIII

    Tara tak membuang waktu sejak pertemuannya dengan Dandy. Dari restoran itu, langkahnya langsung berbelok ke rumah sakit.Di depan kamar perawatan Dania, ia mendapati Ryan duduk dengan bahu merosot. Tatapannya kosong, menembus dinding kaca seolah pikirannya berada di tempat lain. Tara menghela napas sejenak, menenangkan diri, sebelum menghampiri.“Pak,” sapanya pelan. “Saya sudah selesai bertemu dengan Dandy.”Ryan sontak mendongak. Sorot matanya tajam, meski jelas lelah. “Apa hasilnya?”Tara menyerahkan map di tangannya—ragu, seolah sadar betul apa arti isi di dalamnya.Ryan menerima map itu. Jarinya terasa dingin saat membuka lembar demi lembar, namun raut wajahnya justru semakin tenang. Terlalu tenang. Seolah badai sedang dikurung rapat di balik ketenangan itu.Nama itu tercetak jelas.Ema — staf pribadi Pak Danny.Ryan menutup map perlahan, lalu menegakkan punggungnya. “Ini

  • Sisi Gelap Sang Penguasa    Bab XCII

    Dunia Ryan seolah berhenti berputar. “Janin?” ulangnya pelan, nyaris tak bersuara.Dokter mengangguk pelan. “Masih sangat kecil. Perkiraan usia kandungan sekitar empat hingga lima minggu. Benturan dan stres berat memicu keguguran spontan.”Ryan terhuyung satu langkah ke belakang. Tangannya refleks menahan dinding lorong rumah sakit agar tidak jatuh. “Dania…” gumamnya. “Dia… hamil?” Kata itu terasa asing, sekaligus menghancurkan.Istrinya. Anaknya. Hilang—dalam satu hari yang sama.Bayangan Dania semalam terlintas jelas di kepalanya. Tawa kecilnya. Tatapan lembutnya. Candanya tentang “adik untuk Issa”.Dadanya sesak. Napasnya tercekat.Ryan menunduk, menekan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia kehilangan kendali sepenuhnya.“Pak Ryan,” suara dokter kembali terdengar, “secara fisik, masih ada risiko perdarahan lanjutan. Kami juga mengkhawatirkan kondisi psikologis pasien saat sa

  • Sisi Gelap Sang Penguasa   Bab XCII

    Dalam waktu yang hampir bersamaan, Dania tak melepaskan ponselnya sejak pagi. Layarnya terus menyala—notifikasi datang silih berganti, sebagian berisi pesan simpati, sebagian lagi hinaan tanpa wajah. Tangannya gemetar setiap kali membaca satu per satu.Sesekali ia meneguk air putih, lalu menangis lagi. Sejak Ryan pergi bekerja, Dania mengurung diri di kamar. Tirai tertutup rapat. Cahaya matahari hanya menyelinap tipis di sela-sela jendela, sama seperti harapannya hari itu—kecil dan rapuh.Ia tak peduli berapa kali pintu diketuk.Kadang suster Issa.Kadang ART.Semua diabaikan.Dania tak ingin siapa pun melihat dirinya dalam keadaan hancur. Lukanya cukup ia tanggung sendiri. Dunia hanya berhak melihat senyum palsunya—bukan kepedihan yang menggerogoti dada.Tak ada makanan yang masuk ke perutnya. Aneh, ia tak merasa lapar sama sekali. Yang ada hanya mual dan sesak, seolah tubuhnya ikut menolak semua yang terjadi hari i

  • Sisi Gelap Sang Penguasa   Bab XCI

    “Pak Ryan…” Suara Tara terdengar pelan namun tegas saat ia masuk ke ruang kerja Ryan. Ia menutup pintu dengan hati-hati, lalu menunduk sopan.Ryan mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas di meja. Pena di tangannya berhenti bergerak. Sorot matanya tajam—kebiasaan lama setiap kali ada interupsi di tengah pekerjaannya. “Ada apa, Tara?”“Pak Suryo mengundang Bapak makan siang di salah satu restoran,” lapor Tara singkat, tapi nada suaranya mengisyaratkan ada sesuatu yang tak biasa.Ryan menyandarkan punggung ke kursinya. Alisnya sedikit berkerut. “Dalam agenda apa?”Tara ragu sesaat, menimbang kata-kata sebelum menjawab. “Ajudannya hanya menyampaikan bahwa Pak Suryo ingin membahas beberapa hal secara privat dengan Bapak. Tidak dijelaskan detailnya.”Ryan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap kembali layar laptop. Berita pagi ini, isu yang menyeret nama Dania dan Issa

  • Sisi Gelap Sang Penguasa   Bab XC

    Dania terbangun dari tidurnya ketika merasa seperti ada yang memperhatikan. Begitu perlahan ia membuka mata, wajah Ryan yang tersenyum sudah menatapnya dari jarak dekat.“Morning,” bisik Ryan, lalu mengecup keningnya singkat namun penuh rasa.“Morning, Ryan,” balas Dania hangat. Ia tersenyum, lalu mencium telapak tangan Ryan yang sejak tadi menyentuh pipinya.Ryan terkekeh kecil. “Kamu lelah?”“Sangat,” jawab Dania dengan tatapan sayu. “Kamu menggempurku berkali-kali.” Ia menggembungkan pipinya seperti anak kecil yang sedang mengeluh.Ryan mencubit pipinya gemas. “Mau lagi…” godanya.Sontak Dania melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. “Tidakk!” teriaknya sambil tertawa.Ryan ikut tertawa keras. “Ayolah, Sayang. Mumpung masih jam enam!”Bruk.Pintu kamar mandi ditutup cukup keras sebagai jawaban.Ryan tertawa semakin lepas, sampai sudut matanya berair. Sudah sangat lama—terlalu lama—ia tidak merasa

  • Sisi Gelap Sang Penguasa   Bab LXXXIX

    Ryan menggeleng mantap. Perlahan, ia berlutut di hadapan Dania. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah cincin yang berkilau sederhana namun bermakna.“Dania,” ucapnya dengan suara penuh keyakinan, “meski ini terlambat, aku akhirnya sadar sepenuhnya. Aku mencintaimu. Bukan karena kewajiban, bukan karena keadaan—tapi karena kamu.”Ia menelan napas. “Maukah kamu menjadi istriku… selamanya?”Air mata Dania jatuh lebih deras, kali ini tanpa ia tahan. “Ya,” jawabnya sambil terisak. “Aku mau.”Ryan bangkit dan langsung memeluk Dania erat—namun lembut, seolah takut perasaan itu akan pecah jika terlalu kuat. Di pelukan itu, Dania merasa lega. Untuk pertama kalinya, cintanya tak lagi berjalan sendirian.Sementara Ryan… ia baru menyadari satu hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan bersama Anna, ia tak pernah jatuh sedalam ini.Ryan merenggangkan pelukan mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status