LOGINKiki mengetuk pintu pelan sebelum masuk, membawa pakaian yang sudah disetrika rapi.
“Dania… ini bajunya, ya,” ujarnya sambil menyerahkan dress berwarna hitam yang akan dikenakan Dania untuk acara pengajian memperingati hari ulang tahun Anna serta doa bersama.
“Makasih, Ki,” ucap Dania, menerima baju dengan kedua tangan.
“Pak Ryan bilang nanti langsung ketemu di sana aja. Beliau sudah berangkat duluan,” tambah Kiki, menyampaikan pesan Ryan sebelum pergi.
Dania terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada lipatan gaun di tangannya, jemarinya mengetat tanpa sadar. Jika bisa memilih, ia tak ingin pergi. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana keluarga Anna menghinanya ketika ia menerima lamaran Ryan. Mereka menganggap itu adalah bentuk pengkhianatan. Mereka menuduhnya bahagia atas kematian Anna. Dania bisa memaklumi itu karena belum genap empat bulan, Anna meninggal, Ryan justru melamar wanita lain—yang tak lain sahabat Anna sendiri.
Namun, menolak hadir juga bukan pilihan. Ia tahu, sekali saja ia tak datang, desas-desus akan segera menyebar; Dania tidak menghormati keluarga Anna… Dania sombong… dan lain-lain. Dunia Ryan dan keluarganya penuh mata, penuh mulut yang tak pernah lelah berbisik.
“Dania, kamu baik-baik aja?” tanya Kiki, memecah lamunannya. Ia menyentuh lengan Dania dengan hati-hati.
Dania menoleh, berusaha tersenyum. “Aku siap-siap dulu, ya,” katanya pelan.
Kiki mengangguk, hendak berbalik. Tapi Dania sempat bertanya, “Oh, ya, Ki. Konsumsinya udah dikirim ke sana kan?” Nada suaranya lembut, tapi terdengar tegas. Ia sudah berjanji pada Ryan untuk menanggung semua biaya acara hari itu—sebagai bentuk tanggung jawab, atau mungkin, sebagai penebusan diam-diam yang hanya ia pahami sendiri.
“Udah, semuanya beres,” jawab Kiki dengan senyum kecil sebelum keluar dari kamar.
Begitu pun tertutup, Dania menarik napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; wajah pucat, mata lelah, dan senyum yang tak pernah sampai ke mata.
Ia tahu, hari ini bukan sekadar doa untuk mendiang Annaa—tapi juga ujian bagi dirinya yang masih terus dihantui rasa bersalah dan tuduhan yang tak kunjung padam.
***
Dania tiba di rumah orang tua Anna bersama Kiki. Halaman rumah itu telah disulap menjadi tempat pengajian yang megah—tenda-tenda putih berjejer rapi, bunga-bunga papan membentuk lorong menuju pintu utama. Aroma Melati dan dupa bercampur dengan suara orang-orang yang saling menyapa, menciptakan suasana ramai sekaligus menyesakkan.
Wajar saja, pikir Dania. Selain Anna adalah istri Ryan—mantan, ia juga putri dari salah satu pengusaha paling berpengaruh di kota ini. Tak ada yang berani absen dari acara seperti ini.
Dania menggenggam ponselnya eat. Membuka layar, berharap ada balasan dari Ryan.
Kosong.
Ia menghembuskan napas pelan, setengah pasrah. Apa lagi yang bisa diharapkan dari Ryan?
“Ayo kita masuk, Dania,” ucap Kiki lembut sambil membukakan pintu.
Dania mengangguk pelan. Sebelum turun, ia menarik napas panjang—seolah mengumpulkan serpihan keberanian terakhir yang ia punya. “Semoga semuanya berjalan baik,” bisiknya pada diri sendiri.
Begitu melangkah, ia langsung mengenakan topeng yang sudah begitu familiar—senyum ramah, tatapan tenang, gerakan elegan. Ia menyalami saru per satu pejabat yang hadir, berbasa-basi dengan sopan, meski hatinya menolak semua pandangan yang terasa menelanjangi.
Ketika hampir tiba di ruang tamu tempat keluarga Anna berkumpul, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya.
Ryan.
Dania sempat terpaku. Jarang sekali pria itu menunjukkan perhatian—bahkan hampir tak pernah. “Ada aku,” bisik Ryan singkat, suaranya dalam namun tenang.
Dania tak menjawab, hanya menunduk sedikit. Ada perasaan aneh—antara lega dan ragu—mengalir di dadanya. Mereka melangkah masuk, menyalami satu per satu anggota keluarga. Senyum keduanya terpajang tanpa retak, seperti sepasang patung porselen yang dipajang untuk menyenangkan mata tamu.
Namun ketika Dania memeluk Ratih, ibu Anna, bisikan lirih menusuk telinganya. “Ngapain kamu datang?”
Suara itu dingin, nyaris tanpa emosi.
“Maaf, Tante,” jawab Dania pelan. “Saya hanya menerima ajakan Ryan.”
Tiba-tiba, ia merasakan jemari Ratih mencengkeram punggungnya—tepat di bagian yang belum sembuh dari cambukan Ryan kemarin. Nyeri tajam menjalar cepat, membuat tubuhnya menegang. Tapi Dania menahan suara yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia hanya memejamkan mata sesaat, mencoba bertahan.
“Ma…” panggil Ryan tiba-tiba.
Cengkeraman itu lepas.
Ratih menoleh pada Ryan, tersenyum kaku seolah tak terjadi apa-apa. Dania perlahan melepaskan pelukan itu dan mundur satu langkah, berusaha mengatur napas.
Ia tahu caranya bertahan—berpura-pura baik-baik saja, bahkan ketika tubuh dan hatinya sama-sama memar.
Ryan yang sedari tadi memperhatikan wajah istrinya, perlahan mendekat. “Kamu kenapa?” bisiknya lembut di telinga Dania.
Dania buru-buru menggeleng, memasang senyum tipis yang dipaksakan. “Enggak apa-apa,” jawabnya singkat.
Ryan menghela napas pelan. “Ya sudah, kamu duduk di sini aja dengan Kiki. Aku di luar sama bapak-bapak.” Ia menepuk pelan bahu Dania lalu beranjak pergi.
Dania sempat ingin menahan—tapi urung.
Bagaimana jika orang-orang memperhatikan? Apa yang mereka pikirkan? Ia tak punya pilihan selain diam. Kini posisinya tepat di samping Ibu Ratih.
“Kan saya sudah bilang kamu tidak perlu datang,” ucap Ratih pelan, tapi nadanya tajam, penuh tekanan.
Dania tetap tersenyum kecil, seolah obrolan itu percakapan ringan antar keluarga. Ia tahu, di sekitarnya banyak mata yang memperhatikan.
“Maaf, Tante,” katanya tenang, meski hatinya bergetar. “Kalau saya nggak datang, nanti menimbulkan banyak pertanyaan, Tante.”
Ratih menatapnya tajam, “Saya nggak peduli,” katanya tegas, lalu meremas tangan Dania. “Lain kali jangan pernah injakkan kaki kamu di rumah saya. Saya tidak sudi.”
Dania menunduk dalam. Perih di dadanya nyaris menyesakkan tenggorokan. Ia bisa memahami kemarahan itu—kalau saja dulu ia menolak lamaran Ryan, mungkin semua orang akan lebih bahagia. Mungkin Anna masih akan dikenang dengan damai, bukan lewat bayangan dirinya.
“Assalamualaikum…”
Suara lembut itu memecah ketegangan. Ratih sontak melepas genggamannya dan menoleh ke arah pintu.
“Waalaikumussalam…” jawabnya cepat, wajahnya langsung berubah cerah.
Ia berdiri dan memeluk seorang wanita paruh baya yang baru tiba, penuh kehangatan seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Wanita itu—Mama Wulan, ibunda Ryan sekaligus mertua Dania.
“Sayang, kamu udah sampai duluan ternyata,” ucapnya ramah sambil menghampiri Dania. Ia langsung memeluk menantunya erat, bahkan mengecup pipinya dengan penuh kasih.
Dania sempat terdiam. Hangat pelukan itu terasa asing—karena sudah lama ia tidak mendapatkannya, bahkan dari suaminya sendiri.
Ratih yang menyaksikan pemandangan itu hanya membuang muka. Ada semburat kesal yang tak bisa disembunyikannya. Dulu saja, Wulan tidak pernah memperlakukan Anna sehangat itu.
Wulan duduk di sebelah Dania, menggenggam tangan menantunya dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Ratih tak lagi bisa mengintimidasinya. Ada pesan diam di balik genggaman itu: kamu tidak sendiri.
Suasana pengajian berjalan khidmat. Lantunan doa bergema lembut memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma bunga melati yang diletakkan di setiap sudut. Perlahan, satu per satu tamu mulai berpamitan dan meninggalkan tempat.
Ketika suasana mulai lengang, Ryan masuk ke dalam rumah. Wajahnya tampak tenang, meski matanya menelusuri ruangan mencari seseorang—Dania. Ia menghampirinya, lalu berkata pelan namun tegas. “Ayo, kita pulang.”
Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Dania dan menariknya berdiri. Dania mengangguk sopan. Sebelum melangkah keluar, ia menunduk memberi salam kepada Ratih dan Wulan.
Ketika mereka hendak keluar, tiba-tiba Ratih bersuara.
“Ryan, untuk malam ini tolong izinkan Kiki menginap di rumah Mama, ya,” ujarnya sambil menggenggam tangan Kiki dengan lembut.
Kiki tampak canggung, hanya tersenyum kikuk tanpa tahu harus berkata apa.
“Oke, Ma,” jawab Ryan. Ia berpikir, mungkin saja mereka ingin mengenang Anna.
Sementara itu, Dania menatap sekilas ke arah Ratih dan Kiki. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Apakah Tante Ratih sedang merencanakan sesuatu bersama Kiki?
Dania menggeleng pelan, mencoba menepis prasangka itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Jangan berpikir macam-macam, pikirnya. Jangan biarkan dugaan buruk merusak sedikit kepercayaan yang tersisa di antara mereka.
Suara sendok dan garpu mulai terdengar beradu, mengiringi aroma sedap seafood bakar yang memenuhi ruangan. Di meja tersaji ikan bakar, udang jumbo, kepiting alaska, dan capcai hangat.Ryan tanpa banyak bicara langsung bergerak memotong ikan, memisahkan durinya dengan teliti, lalu menaruh daging putihnya ke piring Dania. Setelah itu, ia mengupaskan udang besar satu per satu dan menambahkannya ke piring sang istri.Gerakan itu tidak luput dari perhatian Wulan. Ia menyenggol kaki Nathan di bawah meja, memberi kode untuk melihat sikap Ryan.Nathan menoleh… dan tertegun sejenak.Ia sangat ingat—bahkan terlalu ingat—bahwa Ryan dulu tidak pernah melakukan ini untuk Anna. Pernah sekali Anna meminta Ryan mengupaskan udang saat liburan di Bali, dan Ryan menolak mentah-mentah. “Aku nggak pandai,” katanya waktu itu.Tapi lihatlah sekarang. Dania bahkan tidak meminta. Dan Ryan melakukannya tanpa ragu.“Ryan, cukup,&rd
Tok tokKetukan itu membuat Dania refleks membuka mata. Tubuhnya berat, ototnya seperti masih tersisa getaran dari badai yang ia dan Ryan ciptakan berjam-jam sebelumnya. Ia ingin bangkit, tapi terhenti saat merasakan lengan Ryan melingkari pinggangnya, mengikatnya erat—seolah menolak kenyataan bahwa waktu tidak berhenti hanya untuk mereka.Perlahan ia menurunkan tangan Ryan dari pinggangnya. Begitu tubuhnya terlepas, hawa dingin kamar seakan menggigit kulitnya.“Ah, shit…” gumamnya ketika baru sadar tidak ada apa pun yang menempel di tubuh. Hanya sisa-sisa kemesraan yang masih berjejak di kulitnya.Ia buru-buru mengambil pakaian yang berserakan di lantai: blus yang terbalik, rok yang kusut, dan cardigan yang entah bagaimana bisa berada di ujung ranjang. Ia memakainya asal—pokoknya tertutup dulu.Tok tok.Ketukan kedua membuatnya mempercepat langkah menuju pintu.Asisten rumah tangga itu menunduk
Di kantor Walikota.Ryan bersandar dalam-dalam pada sofa panjang di ruang pribadinya. Kepala tertekuk ke belakang, jemarinya menutupi wajah yang sudah sangat letih. Ia baru saja selesai rapat dengan dinas perhubungan kota. Rapat barusan terasa seperti pertarungan tanpa ujung. Semakin dibahas, semakin jelas aroma kecurangan proyek itu—tapi ia tidak bisa gegabah. Semua harus dibongkar dengan bukti.Napasnya berhembus berat.“Tara…” panggilnya pelan, nyaris seperti desahan.Pintu langsung terbuka. Tara muncul dengan bahu tegak, selalu siap kapan pun ia dipanggil. “Iya, Pak,” suaranya rendah namun sigap.Ryan menurunkan tangannya, menatap Tara dengan mata lelah namun tajam. “Apa pendapat kamu soal rapat tadi?”Tara sempat ragu. Ia bukan tipe bawahan yang suka sok tahu apalagi menyampaikan opini tanpa diminta. Tapi tatapan Ryan seolah berkata bicara saja.“Saya rasa proyek pen
Ratih menegakkan punggung, mencoba mempertahankan dominasi. “Kita sedang membahas beberapa keputusan penting dan—”“Oh,” Dania menyela halus, matanya melirik layar presentasi. “Keputusan penting… yang menyangkut kepemilikan klinik ini?”Beberapa staff langsung menunduk menahan senyum.Tasya meneguk ludah, sementara Ratih mengepalkan tangan di bawah meja.Dania melanjutkan, masih tenang — lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.“Bagus sekali. Aku suka ketika semua berjalan transparan.” Ia menyandarkan tubuh ke kursi, tangan terlipat anggun. “Jadi aku ingin mendengar semuanya langsung dari kamu, Bu Ratih. Mulai dari awal… sampai bagian ancaman pemecatan.”Ruangan menjadi semakin sunyi. Udara serasa menahan napas.Ratih kehilangan kata.Dan di saat itu pula semua staff menyadari satu hal: Dania bukan perempuan yang diam dan bisa did
Sinar mentari pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai, menari di udara sebelum akhirnya jatuh tepat pada wajah Dania. Kelopak matanya sempat bergetar, namun belaian lembut di wajahnya membuatnya enggan kembali sepenuhnya ke dunia nyata. Sentuhan itu begitu hati-hati… seolah seseorang sedang menikmati keberadaannya.Dania membuka mata pelan—dan langsung menemukan Ryan duduk di sebelahnya, wajahnya dekat sekali, jarinya membingkai bibir Dania seolah itu hal paling berharga yang pernah disentuhnya.“Ryan…” panggil Dania lirih, lebih seperti hembusan napas daripada suara.Ryan tersenyum—senyum hangat yang jarang ia lihat sebelumnya. Ia menunduk, mengecup kening Dania dengan penuh kelembutan. “Pagi, Sayang.”Sapaan itu membuat hati Dania bergetar aneh—bahagia sekaligus takut merasa terlalu nyaman.“Pagi,” balasnya pelan. Ia mencoba bangkit duduk, namun Ryan mendahuluinya, memegang
Ryan tiba-tiba menarik pinggang Dania, seperti tak ingin memberi kesempatan bagi keraguan untuk menyelinap lagi di antara mereka. Jarak yang semula aman kini hilang tanpa jejak. Tatapannya penuh kekaguman—penuh rasa yang menumpuk dan tidak pernah ia ucapkan dengan jelas sebelumnya.Ia mendekat… sangat dekat sampai napas mereka saling menyentuh.Setitik ragu muncul di mata Dania, namun tidak ada penolakan. Tidak ada langkah mundur.Ryan menangkap isyarat itu. Dengan perlahan tapi pasti, ia menempelkan bibirnya pada bibir Dania. Sentuhan lembut itu hanya berlangsung sebentar… sebelum akhirnya ia memperdalam ciumannya—mencurahkan seluruh gejolak yang selama ini ia tahan.Bibir Ryan bergerak lebih menuntut. Tangan yang satu tetap di pinggang Dania, sementara yang lain naik ke tengkuknya, menarik sang istri lebih dekat lagi hingga tak ada ruang tersisa.Dania membuka mata sekejap—masih diselimuti amarah yang belum tuntas&







