Home / Romansa / Sisi Liar Mematikan! / Bab 72 Rasa ini tulus

Share

Bab 72 Rasa ini tulus

Author: Jackie Boyz
last update publish date: 2026-05-16 09:56:24

Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Pria yang sedang memelukku adalah serigala lapar yang tidak akan pernah bisa puas? Bagaimana aku bisa melupakannya! Erlangga Adiyasa adalah pria yang tidak pernah bisa aku tawar meski aku sudah memuaskan gairahnya tujuh hari tujuh malam di ranjang! Dia akan terus lapar dan semakin lapar! Sebelum tulang-belulangku remuk dia tidak akan bersedia berhenti.

Tanpa sadar Mirna melamun dalam pelukan Erlangga sambil terus menatap wajah tampan yang kini hanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 127 Cintai aku saja

    Pada saat ini Mirna sangat takut untuk ditinggalkan, Mirna tidak ingin kehilangan bahkan memiliki jarak dengan Erlangga. Celah sebelumnya secara tidak langsung sudah membuatnya merasa sangat sakit. Kecurigaan dan sikap acuh Erlangga terhadapnya membuat Mirna tidak ingin mengulangi momen menyakitkan itu lagi. Mirna sangat sedih dan merasa hancur kemarin hanya karena sebuah kesalahpahaman.“Aku tidak tahu hatiku tiba-tiba terasa sangat sakit, aku tidak tahu alasannya tapi satu hal yang aku tahu .... sekarang atau nanti aku tidak mau berpisah denganmu.”Mirna mengakui perasaannya dengan jujur, dia tidak akan menahannya lagi mulai sekarang. Mirna tidak mau Erlangga pergi atau mengusirnya. Bahkan jika pria yang memeluknya sekarang masih menganggapnya kotor dia akan berusaha untuk mendapatkan hatinya lagi, sampai Erlangga bersedia menerimanya.Ego dan rasa yang sulit diungkapkan secara terbuka kini sudah lenyap dan menyatu dengan perasaan dalam hatinya. “Kamu membuat peng

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 126 Undangan makan malam perjodohan

    Mirna sangat kelelahan, dia merasa sangat lelah bahkan lebih lelah dari biasanya tapi dia merasa lebih bahagia. Beberapa hari sebelumnya Erlangga dan dirinya memiliki jarak dan hal itu tidak membuat Mirna merasa senang. Hubungan antara dirinya dengan Erlangga sebelumnya seperti cangkang telur yang retak. Setidaknya sekarang Mirna berharap tidak ada keretakan lagi.Setelah hari ini, dua hari berikutnya semuanya berjalan dengan lancar. Setiap malam Erlangga meminta untuk dilayani oleh Mirna dan Mirna juga tidak berani menolaknya. Emosi Erlangga menjadi lebih terkendali dan pria itu tidak memperhitungkan perkara sepele di perusahaan sebagai pelampiasan. Mohan juga ikut terkena dampaknya, semua pekerjaan lancar, proyek juga berjalan sesuai rencana. Semuanya menjadi terkendali dan stabil.***Genap tujuh hari, tiba-tiba telepon di kediaman Erlangga berdering. Kebetulan Mirna sedang sendiri di rumah. Dia pulang pukul tiga sore sementara Erlangga masih memiliki jadwal

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 125 Tubuh hamil istriku

    Mereka berdua berpapasan di koridor. Dalam cahaya malam yang redup dan penerangan lampu koridor samping di anak tangga kecil dia melihat Mirna berdiri tidak jauh di depannya. Erlangga berjalan mendekatinya dan Mirna turun dari anak tangga. “Maaf, aku datang terlambat.” Mirna menganggukkan kepalanya. “Seharusnya aku bangun lebih awal dan pulang lebih dulu.” Mirna berjalan di sampingnya dan Erlangga tidak membiarkannya berlalu. Tubuh kurus dengan perut buncit di sampingnya diraih dan dia peluk dengan hangat. Mirna mengangkat wajahnya dalam ekspresi kebingungan. Erlangga selalu terlihat lembut di luar dan sangat buas saat di ranjang. “Er, aku baik-baik saja, ini jasmu,” tuturnya sambil mengangkat tangan kanannya, jas Erlangga ada di lengan Mirna. Sementara tangan kiri Mirna menenteng tas kecil.Erlangga menahannya untuk tetap tinggal di dalam pelukannya. Sangat jelas Erlangga tidak mau berpisah dari Mirna dan ingin memeluknya seperti ini dalam waktu tidak sebentar.

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 124 Bersikaplah lebih lunak sedikit

    “Aku masih kenyang, terima kasih, kamu makan saja sendiri. Karena kamu sudah berada di sini, bawa serta berkas BNC ke ruanganmu!” Mirna menolak ajakannya, dia juga melepaskan pelukan hangat Erlangga yang membuatnya merasa nyaman. Erlangga tidak mengerti di mana letak kesalahannya, Mirna sebelumnya bersikap sangat baik dan sekarang berubah menjadi sangat dingin. Erlangga bertanya-tanya di dalam hati mungkin saja dia sudah salah bicara tadi. Setelah memikirkannya cukup lama Erlangga masih tidak bisa menemukan di mana letak kesalahannya. Erlangga menatap sosok jelita yang kini duduk di kursi meja kerjanya dengan ekspresi sangat cuek. Keberadaannya saat ini sama sekali tidak dianggap. Erlangga mengepalkan tangannya lalu membungkuk tepat di depan meja kerja Mirna, dia menyentuh kedua sisi tepi meja kerja Mirna sambil menatap kedua matanya. Tadinya dia pikir Mirna terlalu lama duduk jadi dia ingin mengajaknya untuk pergi makan siang bersama. “Sebenarnya di mana ke

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 123 Hati yang membeku

    Setelah pergi dari kediaman Yusuf, Erlangga langsung menuju ke BNC. Di sana dia melihat Mirna sibuk di gedung sebelah, wanita itu mengurus beberapa hal dan duduk di kursi presdir dalam ruangan kerjanya.Erlangga menoleh ke arah Mohan. “Kamu periksa berkas mana saja yang harus dia tandatangani. Bawa ke sini dan aku akan pergi untuk mendapatkannya!” perintahnya.“Baik, Presdir!”Mirna sangat sibuk sekali, dia bahkan melewatkan sarapan dan lupa tidak meminum obat. Erlangga datang dengan berkas di tangan dan juga obat yang Mirna tinggalkan di atas meja rias. Mirna melihat jemari ramping Erlangga meletakkan berkas di mejanya. Ketika mendongak dan melihatnya, Erlangga menatapnya dengan tatapan mata begitu dalam seakan-akan tidak ada hal lain yang pria itu butuhkan kecuali melihatnya sekarang.“Aku butuh tanda tanganmu, dan juga kamu harus meminum obatmu untuk menjaga kondisimu.”Mirna menatapnya dengan tatapan mata sulit diartikan. Mirna baru membuka bibirnya untu

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 122 Cinta penuh siasat

    Erlangga sengaja langsung menuju ke kediaman Yusuf untuk mengembalikan surat itu pada ayahnya. Erlangga sangat marah dan emosinya sekarang sudah tidak bisa dia kontrol lagi. Sampai di kediaman Yusuf, Erlangga tidak ingin menunggu, pria itu langsung masuk ke dalam dan dia melihat ayahnya sedang duduk bersantai sambil memegang surat kabar di tangannya. Erlangga meletakkan surat itu di meja. Yusuf mengangkat wajahnya menatap Erlangga yang kedua bola matanya kini memerah karena amarah. “Kenapa kamu menentangku? Katakan padaku di mana letak kekurangan yang kamu lihat dari Yustina? Dia memiliki latar belakang keluarga yang baik, dia memiliki Papa dan Mama dengan status terhormat! Jika kamu bandingkan dengan istrimu yang sekarang, Mirna tidak ada apa-apanya!” Erlangga berkacak pinggang, dia menatap ayahnya dengan tatapan semakin marah. “Sejak kapan urusan rumah tanggaku bisa kamu campuri? Selama ini aku selalu menurutimu, aku

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 102 Tinggal bersamamu

    Mirna berjalan masuk ke dalam lalu membawakan air untuknya. Erlangga berdiri di tengah ruangan dan menatap ke sekelilingnya sebentar. Dalam genggaman tangannya sebuah ponsel menyala didekatkan pada telinga kanannya. “Bawa perlengkapanku ke sini! Ya, aku akan tinggal di sini selama beber

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 92 Aku ingin membuat bayi

    Erlangga tidak menanggapi permintaan maaf Mirna dengan serius, dia menoleh ke samping dan menatap ke dalam kedua matanya untuk mencari apakah ada sesuatu yang Mirna sembunyikan darinya. Mirna merasa cemas, dia sudah meminta maaf dan Erlangga masih tidak menanggapi. Ragu-ragu Mirna berjalan m

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 90 Tubuh Montok

    “Oukhh! Ooohhhh! Er, aku keluar, oukhhh!” Mirna memeluknya dengan paha dibuka lebar-lebar. “Aku sangat tidak sabar, Mirna, ooookhhhh! Aaaarrgggghh!” puas menyemburkan cairannya ke dalam lubang sempit Mirna, Erlangga kembali berpacu dengan gerakan lebih cepat.“Er, akh, ah, aku tahu aku s

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 77 Jatuh ke dalam pesonamu

    “Aku memang sibuk, tapi setelah menyelesaikan pekerjaan aku langsung pergi menemuimu.” Ujar Erlangga tanpa melepaskan pelukannya. “Ya,” jawab Mirna singkat.“Tapi kamu malah pergi ke kantor Tedja?”“Ah, itu, Tedja menelepon untuk membahas pekerjaan.” Jawabnya berbohong.Erlangga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status