LOGINPapa Monata sudah memperingatkan Monata sebelum Monata memutuskan untuk memaksa Erlangga menikah dengannya.
Papa Monata sudah lama mengenal Erlangga, di medan bisnis Erlangga bisa meraih julukan seorang Raja bukan tanpa alasan. Erlangga terkenal gigih meski dijatuhkan sedemikian rupa oleh lawan bisnisnya. Erlangga selalu bisa berdiri kembali dengan sempurna bahkan dengan hasil pekerjaan yang mencengangkan. Erlangga bukan tipe orang yang akan bertekuk lutut hanya karena sudah dikalahkan.Setelah Mirna tenang barulah dia melepaskan ciumannya. Erlangga membawanya pulang ke rumah. Dilihatnya Mirna masih muram. Ketika mereka berdua tiba di dalam kamar, Erlangga langsung menariknya ke ranjang untuk melakukan hubungan intim. Pada awalnya Mirna tidak bereaksi tapi semakin lama Erlangga berpacu di atasnya tubuh Mirna mulai merespon. Mirna mengangkat pahanya lalu membukanya lebih lebar dan cairannya keluar sangat banyak. “Aaaahhh, aaahh! Er,” “Mirna, aku tahu aku pasti berhasil memuaskanmu! Siapa bilang aku tertarik dengan wanita lain! Jika benar demikian mana mungkin aku begitu marah padamu saat kamu bersama Heru? Mirna kamu hanya akan melayaniku sampai kapan pun! Ah, ah, ah, Mirna aku hanya mencintaimu!” “Er,” Mirna memanggil namanya dengan mesra lalu memeluknya dengan manja. Sampai tengah malam Erlangga baru turun dari atas tubuh telanjang Mirna lalu dia menciumi bagian intimnya, Mirna merasa senang diperlakukan Erlangga
Hatinya terasa dicabik-cabik dan terasa sangat sakit, Mirna menyeka pipinya beberapa kali. Dia menghela napas berat, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dalam pesan barusan. “Sebenarnya kenapa bisa begini? Apakah hubunganku dengan Erlangga sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi? Setelah bertahun-tahun lamanya kita bersama dan aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Kenapa badai kembali datang dan berusaha menghancurkan masa depan keluarga kami?”Sampai di lokasi pameran Mirna tidak bisa menikmati acara itu. Heru diam-diam mengamatinya, dari ekspresi wajah Mirna hari ini dia bisa melihat wanita itu sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Heru tahu Jesika sudah berulah hari ini dan kali ini mungkin serangan yang dilakukannya lebih berat dari kemarin-kemarin. Heru tidak pernah melihat wajah Mirna bisa begitu kusut seperti sekarang. Wanita itu bahkan sama sekali tidak mengukir senyumnya sejak tiba di sana, keningnya terus berkerut dan alisnya hampir bertaut. A
Hubungan Mirna dengan Erlangga sudah membaik, mereka tidak bercerai bahkan semakin mesra setelah bertengkar. Erlangga mengajaknya untuk kembali pulang ke rumah. Mirna memeluknya dengan manja, sampai di rumah mereka kembali memadu cinta hingga berjam-jam lamanya di dalam kamar. Romansa panas itu tidak kunjung selesai sampai sehari penuh. Tubuh telanjang Mirna terus ditekan di atas ranjang, napas wanita itu terengah-engah sambil menatap Erlangga di atasnya yang kini berusaha untuk memberikan kepuasan untuk Mirna. “Mirna, sayangku, ah, ah, aku sangat mencintaimu, oukh!” “Er, berikan aku kepuasan sayang! Berikan aku sekali lagi, akh, akh,” Mirna memeluknya dengan mesra. Erlangga menciumi lehernya dan melumat kedua buah dadanya yang kencang dan kenyal. Dia sangat ingin menikmati tubuh Mirna, meski sudah berulang kali melakukannya dia merasa masih ingin melakukannya lagi. Puas melakukannya, petang hari Erlangga turun dari ranjang lalu perg
Erlangga merasa senang mendengarnya. Setidaknya Mirna bersedia bicara dan mengatakan isi dalam hatinya jadi dia akan mencari solusi untuk memperbaiki hubungannya dengan Mirna walau Mirna menyangka kedatangannya sama sekali tidak nyata.“Mirna, tidak ada wanita lain dalam hatiku. Hanya ada kamu dan selalu hanya kamu. Semua ini hanya kesalahpahaman.” Erlangga berusaha meyakinkannya lalu menyentuh kedua pipi Mirna.Mirna baru sadar dia tidak sedang bermimpi sekarang, Erlangga benar-benar datang untuknya. Erlangga mencium bibirnya dan raut wajahnya langsung berubah muram. “Kamu minum? Kenapa? Apakah bayi kita tidak boleh hidup hanya karena kamu marah padaku? Mirna, jika ini kesalahanku seharusnya akulah yang kamu pukul! Kenapa harus membuat bayi kita sakit!” keluhnya dengan wajah tertekan.Mirna melihat kedua bola mata Erlangga memerah. Mirna mendorongnya ke samping, Mirna bangun lalu memijit keningnya. Kepalanya masih terasa berat. Sebelumnya dia sangat tertekan dengan
Hatinya terasa sangat kacau sekali, Mirna tidak tahu kebenaran macam apa yang disembunyikan oleh Erlangga. Sejak Mirna pergi dari BNC, ponselnya terus berdering. Erlangga terus meneleponnya. Erlangga memiliki jadwal penting. Proyek akan segera dibuka dan dimulai. Jika rapat kali ini lancar maka malam nanti adalah pesta perayaan pembukaan proyek. Untuk membuka proyek dan memulai, Erlangga harus menggenggam tangan Mirna, memegang gunting bersama untuk memotong pita. Sekarang istrinya itu sedang kesal dan marah. Erlangga harus segera menenangkan hatinya karena semua yang dipikirkan Mirna sama sekali tidak benar. Mirna duduk di tepi ranjang, menatap gaunnya yang berantakan di dalam ruang ganti. Hatinya sangat terluka dan pikirnya Erlangga sungguh jatuh cinta dengan gadis kaya dan terkenal seperti Jesika. “Erlangga, apakah ini adalah dirimu yang sebenarnya? Jika ternyata kamu jatuh cinta pada wanita lain seharusnya kamu mengatakannya padaku! Agar aku berhenti dengan p
Mirna memegang gunting di tangannya, sambil memikirkan masalah itu dia memotong dahan dan daun yang sudah layu. Erlangga apa kamu mengusirnya dari kediaman ini hanya agar aku tidak tahu semua yang terjadi antara kamu dan dia? Apakah perasaanmu sudah berubah sekarang? Apakah karena aku sudah menua dan tidak cantik lagi jadi kamu menghibur diri dengan daun muda? Mirna menggunting pucuk bunga yang sudah kuncup dan hampir mekar, kedua bola matanya tergenang dengan air mata. Dia merasa sedih dan sakit hati tanpa alasan. “Aku sangat kesal dan marah! Sangat kesal sekali!” Mirna menggunting semua dahan dan bunga dalam pot hingga bunga itu hancur dan tinggal rantinya saja. Karena tidak ingin terus memikirkan masalah itu Mirna memutuskan untuk pergi ke perusahaan. Dia ingin tahu apa yang terjadi belakangan ini. Mirna mengenakan gaun merah muda tanpa lengan. Betisnya terlihat sangat cantik ketika dia mengenakan baju itu. Rambut panjangnya diatur menjadi bergelomba
“Aku memang sibuk, tapi setelah menyelesaikan pekerjaan aku langsung pergi menemuimu.” Ujar Erlangga tanpa melepaskan pelukannya. “Ya,” jawab Mirna singkat.“Tapi kamu malah pergi ke kantor Tedja?”“Ah, itu, Tedja menelepon untuk membahas pekerjaan.” Jawabnya berbohong.Erlangga
Ketika tiba di kantor Tedja Lesmana, Mirna diantarkan oleh seorang asisten dan langsung menuju ke ruangan Tedja. “Silakan, Bu Mirna!” Pintu ruangan dibuka, Mirna melihat Tedja duduk di kursi ruangan kerjanya dengan ekspresi tidak begitu baik. Mirna semakin yakin kalau Tedja i
Setelah meletakkan ponsel Mirna, Fardan melihat meja di kamar Mirna berantakan jadi dia segera merapikannya. Beberapa baju Mirna juga diletakkan sembarangan di kasur, Fardan mengambil baju-baju tersebut lalu dia masukkan ke dalam keranjang tempat menaruh pakaian kotor. Mirna baru saja selesa
Mohan mengiyakannya dari seberang sana, setelah itu Mirna menutup panggilan. Mirna menoleh ke samping, tangan kirinya dalam genggaman Erlangga dan Erlangga memeluk tangannya dengan sangat erat. Mirna duduk di samping sambil berusaha menariknya dari genggaman Erlangga tapi Erlangga teta







