แชร์

Rencana Besar

ผู้เขียน: Zhu Phi
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-23 23:21:07

Turnamen Tabib Dunia berakhir…bukan dengan ledakan sorak,

melainkan dengan keheningan yang merayap perlahan—seperti api unggun yang kehabisan kayu bakar.

Tidak ada klimaks yang diingat orang.

Tidak ada satu momen pamungkas yang membuat darah mendidih atau jantung berdebar. Segalanya telah berakhir jauh sebelum bendera terakhir diturunkan. Sejak hari ketika Jason berhadapan dengan Evan Gunawan, lalu kekacauan itu berlanjut pada duel brutalnya melawan Vardos dan Asher... segala pertandingan setelahnya terasa… kosong.

Tribun raksasa yang dulu bergemuruh kini bergaung oleh suara langkah kaki sendiri. Bangku-bangku kayu dan batu perlahan kehilangan penghuninya. Setiap hari, semakin banyak ruang kosong menganga di antara penonton.

Para bangsawan datang terlambat, kadang tidak datang sama sekali.

Beberapa sudah tak repot menyembunyikan kebosanan—datang hanya untuk menjaga citra, lalu pergi sebelum matahari tenggelam. Bahkan taruhan-taruhan liar yang dulu mengalir seperti sungai emas mengerin
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Rencana Besar

    Turnamen Tabib Dunia berakhir…bukan dengan ledakan sorak,melainkan dengan keheningan yang merayap perlahan—seperti api unggun yang kehabisan kayu bakar.Tidak ada klimaks yang diingat orang.Tidak ada satu momen pamungkas yang membuat darah mendidih atau jantung berdebar. Segalanya telah berakhir jauh sebelum bendera terakhir diturunkan. Sejak hari ketika Jason berhadapan dengan Evan Gunawan, lalu kekacauan itu berlanjut pada duel brutalnya melawan Vardos dan Asher... segala pertandingan setelahnya terasa… kosong.Tribun raksasa yang dulu bergemuruh kini bergaung oleh suara langkah kaki sendiri. Bangku-bangku kayu dan batu perlahan kehilangan penghuninya. Setiap hari, semakin banyak ruang kosong menganga di antara penonton.Para bangsawan datang terlambat, kadang tidak datang sama sekali.Beberapa sudah tak repot menyembunyikan kebosanan—datang hanya untuk menjaga citra, lalu pergi sebelum matahari tenggelam. Bahkan taruhan-taruhan liar yang dulu mengalir seperti sungai emas mengerin

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Game Over

    Pelatuk ditekan—keras.Tanpa hitungan. Tanpa napas.DUAR—!Ledakan pendek itu menghantam kubah arena seperti petir yang dipukul dari jarak satu langkah. Suaranya kering, kasar, dan memotong udara, membuat beberapa orang yang duduk terlalu dekat menutup telinga sambil menahan desis.Tubuh Vardos terlempar ke belakang, seolah palu raksasa yang tak terlihat menghantam kepalanya. Punggungnya menghantam lantai batu dengan keras dan brutal. Hening sesaat menyelimuti arena, menahan napas bersama.Darah tidak memercik. Tidak ada pecahan tengkorak.Namun jeritannya…“AARRGHH—!”Jeritan itu merobek udara.Vardos menggeliat seperti hewan terluka, kedua tangannya mencengkeram kepalanya seolah tengkoraknya sedang dipatahkan dari dalam. Matanya membelalak, tak fokus. Napasnya naik turun cepat, tersedak. Dengungan memekakkan memenuhi telinganya—seperti ribuan lebah mengamuk di balik tulang.Ia memuntahkan cairan merah gelap di sisi tubuhnya—bau besi dan asam menusuk hidung.Asher tersentak dan menje

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Tabib Agung Dewan Medis Pusat

    Seorang pria masuk, diiringi empat penjaga bersenjata lengkap. Jubahnya hitam keunguan. Lambang Dewan Medis Pusat tersemat di dadanya—simbol yang membuat seluruh tabib di arena membeku.“Tabib Agung…” bisik seseorang.Jason menoleh perlahan.Tatapan mereka bertemu.Udara di antara keduanya berubah—seperti dua pisau bedah yang diarahkan ke jantung yang sama.“Jason,” kata Tabib Agung, suaranya halus namun berbahaya.“Permainan ini melanggar Protokol Eksperimen Hidup tingkat tujuh.”Jason tersenyum tipis.“Dan kau baru datang sekarang?”Tabib Agung melirik Asher dan Vardos—berdarah, hancur, namun masih hidup.“Kau menjadikan tabib sebagai subjek hiburan,” katanya dingin.Jason mengangkat Aesculapius Null setengah inci.“Koreksi,” ucapnya.“Aku menjadikan mereka wadah pembalasan dendam dan taruhan... aku bertaruh dalam duel hidup-mati, jadia ku berhak menentukan hidup-mati mereka dengan cara yang aku suka.”Ia menatap Asher.“Dan aku… belum selesai. Jadi, kalian jangan ikut campur urusan

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Asher Atau Vardos

    Pelatuk bergerak.Hanya setengah milimeter.Setengah dari sehelai napas.Namun di mata Asher, gerakan kecil itu memecahkan dunia. Waktu tidak melambat—waktu retak, terbelah menjadi serpihan-sepihan kemungkinan yang berdiri berjajar, menunggu satu keputusan kecil yang bisa mengubah seluruh hidupnya.Ia menutup mata.Gelap menyergap, tapi gelap itu justru memunculkan ribuan cahaya kecil dari memorinya—cahaya yang menyakitkan.Ia melihat kliniknya di Sangkala dengan lantai putih yang selalu ia pel sendiri setiap pagi; tercium bau antiseptik yang membuat dadanya tenang.Ia mendengar kembali suara bayi pertama yang ia selamatkan—tangis kecil yang dulu membuatnya yakin dunia masih punya harapan.Lalu wajah ibunya muncul. Berdiri di ambang pintu, tersenyum sederhana, seolah berkata bahwa anaknya sudah mengambil jalan yang benar.Dan sumpah itu…Sumpah yang ia ucapkan bukan di depan dewa mana pun, melainkan di depan manusia sekarat yang tangannya ia genggam sampai napas terakhir.Aku tidak di

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Permainan Hidup dan Mati

    Jason menyodorkan sebuah pisau kepada Asher.“Pikir baik-baik keputusanmu! Kau bisa menghabisi Vardos dan pulang ke Sangkala dalam keadaan sehat dan bekerja di klinikmu lagi.”Asher menatap pisau itu.Pisau bedah pendek—bilahnya tipis, dingin, berkilau pucat di bawah cahaya obor arena. Jason menyodorkannya tanpa ekspresi, seolah memberikan alat operasi, bukan vonis kematian. Ujung jari Asher gemetar saat menyentuh gagangnya. Bau besi menyusup ke hidungnya, bercampur dengan keringat, darah, dan rasa takut yang menyesakkan paru-paru.Tangannya menutup gagang.Sorakan tribun meninggi. Beberapa tertawa. Beberapa berteriak menyebut nama—bukan nama Asher atau Vardos, melainkan taruhan.Asher mengangkat pisau itu perlahan. Nafasnya terputus-putus. Matanya merah, berair, kosong.“Aku… aku tidak mau…” suaranya nyaris hilang.Jason tidak berkata apa-apa.Tatapannya cukup.Asher melangkah setengah langkah ke arah Vardos—dan di detik yang sama—BRUK!Vardos menubruknya dengan seluruh sisa tenaga.

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Permainan Nyawa

    Asher mundur setengah langkah.Gerakan itu kecil.Hampir tidak berarti.Namun bagi siapa pun yang cukup peka, itu setara dengan jeritan.Ia takut.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—Asher, tabib yang selalu angkuh, selalu menang, selalu disanjung—merasakan ketakutan yang menggigit sampai ke dasar tulang. Bukan ketakutan akan racun, bukan ketakutan akan kekalahan.Ketakutan akan seorang manusia yang berdiri tepat di hadapannya.Jason.Aura emas gelap di sekitar lelaki itu bukan hanya tekanan…melainkan ancaman surgawi yang dibungkus ketenangan seorang dokter yang telah menyaksikan terlalu banyak kematian dalam satu malam operasi.Asher menelan ludah, tenggorokannya kering seperti terbakar dari dalam.“A-Apa maksudmu, Jason…?” suaranya pecah, serak, rapuh.Jason tidak menjawab.Ia hanya menatap—tatapan yang terasa seperti pisau bedah yang baru diasah, dingin dan mengiris tanpa belas kasihan.Bising arena seharusnya mengganggu, tetapi terasa jauh.Sorakan, cemoohan, taruhan, suara lang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status