Masuk"Mau kemana kamu?" Tanya Pak Wisnu ketika mereka bersimpangan di luar kelas tersebut.
"Pulang pak!" Sahutnya sambil nyengir memamerkan gigi putih gingsulnya. Manis sekali! Tapi sayangnya dosen killer tersebut tidak silau sama sekali dengan senyuman bak pangeran dari kayangan tersebut. "Lari keliling lapangan sepuluh kali!" Bentak pak Wisnu padanya. "Siap pak!" Ujarnya sambil mengayunkan tangan dan pinggulnya, berlagak joget slow motion. "Kenapa malah joget! Cepat lari!" Bentak dosen itu pada Jordy. "Ahhhh.. masih pemanasan pak, biar enggak keseleo!" Memasang wajah cerah, senyum riang. "Pak nitip tasnya boleh kan, bawain lagi ke dalam kelas!" Ujarnya sambil senyum-senyum, memutar topinya menghadap ke belakang kepala. "Ya sudah bawa sini! Cepat buruan!" Teriak pria itu lagi, karena tidak sabar melihat kelakuan pria arogan tersebut. Dengan santainya Jordy keluar dari gedung kampus. Tentunya dia enggan menerima hukuman. "Lebih baik pulang! Atau nongkrong! Ngapain capek-capek lari." Gumam Jordy sambil melajukan mobilnya keluar dari halaman kampus bercat jingga itu. Kampus untuk kalangan anak-anak dari keluarga elite. Jordy termasuk pria lumayan populer di kampus universitas negeri Yogyakarta. Jordy Wijaya merupakan putra semata wayang dari anggota dewan kepemerintahan asal Jakarta. Pria hidup serba tercukupi, namun dia bukan pria yang manja atau menggunakan nama orang tuanya. Pria itu hidup mandiri, bahkan biaya kuliah serta kebutuhan hidupnya di Jogja juga hasil keringatnya sendiri. Dia mengira kalau perlakuan Ajeng beberapa hari lalu adalah ungkapan perasaan cinta. Tapi gadis dengan wajah ayu tersebut ternyata hanya mempermainkan perasaanya karena dulunya Jordy selalu menindas Ajeng tanpa ampun di masa SMA. Dendam diam-diam di simpan baik di balik raut paras cantiknya. Mulai pria itu mengungkapkan perasaannya hari ini. Maka luka demi luka akan terus dia terima, demi cinta yang telah dia ikrarkan! *** Sepulang dari kampus pria tersebut segera kembali ke asrama. Jordy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dalam bayangannya masih teringat jelas saat beberapa waktu lalu Ajeng sempat duduk di dalam mobilnya. Gadis cantik dan anggun dalam pandangan matanya itu ternyata sengaja membuatnya perlahan-lahan luluh hanya untuk meninggalkan bekas luka dalam hatinya. "Aku kira kamu gadis penuh ketulusan Jeng! Tapi siapa sangka ucapan cintaku berakhir pupus dan mendapatkan penolakan setelah sekian lama kita besama-sama!" Keluh Jordy dengan wajah kesal serta geram. Tidak mudah menghapus perasaan cinta dari dalam hatinya, yang telah terlanjur dia tuangkan dalam sebuah kanvas penuh makna! Yaitu kanvas yang berwujud sosok gadis manis dari desa bernama Ajeng. Jordy Wijaya dengan wajah gusar mendengus berulang kali di dalam mobilnya. Pria itu sedang terluka karena penolakan yang baru saja dia terima. Rasa cinta yang tidak pernah sekalipun tercipta untuk seorang wanita dalam hatinya, setelah dia merasakannya beberapa minggu terakhir terpaksa dia cabut karena berujung dengan penolakan menyakitkan. "Drrrrttttt! Drrrtttt!" Getar ponsel dari dalam saku jaketnya menyita perhatian pria muda tersebut. "Siapa sih nelpon-nelpon! Sudah tahu lagi boring juga! Patah-patah nih hatiku!" Gerutunya seraya menerima panggilan telepon tanpa nama di layar ponselnya. "Halo?" Sahutnya pada penelpon di seberang. "Mas Jordy, ini saya Sugimo." Jelas si penelpon di seberang sana. "Pak Gimo? Yang menemukan rumah Ajeng di Jepara?" Tanya Jordy dengan wajah cerah. Selama ini dia memang menyuruh pembantu rumahnya itu agar pulang ke kampung halamannya hanya untuk menemukan alamat rumah Ajeng. Gadis desa asal Jepara. "Iya, iya Den. Ini aku, masa lupa sama suara Mamang?" Tanya pembantunya. "Ya enggak, masa Jojo lupa. Lah ini Mamang ganti nomor lagi?" Ujarnya seraya melajukan mobilnya kembali menyeberang perempatan lampu merah yang sudah berubah hijau beberapa detik yang lalu. "Iya, Den. Yang kemarin nomornya habis pulsanya." Lanjutnya pada Jordy. "Terus bagaimana hasilnya? Sudah ketemu belum?" Kejar Jordy dengan nada penasaran. "Ketemu dong Den. Terus ini Mamang mau ngapain di kampung? Kan alamatnya sudah Mamang dapatkan?" Tanyanya pada anak majikannya. "Sip! Santai-santai saja dulu di kampung Mang. Kirim alamat Ajeng ke sini ya Mang, Jordy tunggu!" Serunya dengan nada gembira. "Siap Den!" Jawab pia paruh baya tersebut dari seberang sana. Jordy telah sampai di asrama, pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia menatap alamat Ajeng yang tertera pada layar ponselnya. Dia tahu Ajeng sekarang pasti masih berada di kampus karena kuliah belum usai. Iseng-iseng dia mengirimkan alamat rumah tersebut pada nomor gadis yang menolaknya beberapa waktu lalu. Padahal niat awalnya.. Jordy sengaja meminta pelayan rumah untuk mencari alamat rumah Ajeng di kampung, sebenarnya karena ia ingin berkunjung ke sana suatu hari nanti. Namun dia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dari Ajeng. Jadi dia terpaksa menggunakan alamat Ajeng untuk menakut-nakuti gadis jelita itu. Tak butuh waktu lama selang beberapa menit kemudian dia segera mendapatkan balasan. "Kamu mau apa?!" Tanya gadis itu pada balasan pesan yang dikirimkan padanya. Jordy bisa membayangkan bagaimana pucatnya wajah Ajeng saat ini. Bagi Jordy itu sangat membuatnya terhibur, mesipun hatinya penuh duka lara saat ini gara-gara ditolak oleh Ajeng. Jordy sengaja tidak membalas pesan Ajeng. Dia ingin gadis itu yang mengejarnya esok hari. Atau mendatanginya di asrama pria yang dia tinggali saat ini! Meskipun dia tahu itu mustahil tejadi! Tapi dia tidak mau berhenti berharap pada keajaiban! "Jordyyyyyy! Balas!" Teriakan itu membuat pria muda itu membenamkan wajahnya pada bantal di atas tempat tidurnya. Setengah mati dia membayangkan seperti apa wajah Ajeng ketika gusar akibat kelakuannya. Lama-lama, gadis itu memberondongnya dengan chat yang tidak berujung. Tentu saja Ajeng takut kalau Jordy sampai membawa keluarganya. Bisa-bisa dia akan ditahan di kampung, dan tidak mendapatkan ijin untuk melanjutkan studinya di kota Jogjakarta. Ajeng mengira kalau balas dendamnya akan berjalan mulus hanya dengan menolak pria itu maka semuanya akan selesai. Namun tebakannya tidak benar. Jordy malah mengusik hidupnya, lebih buruknya lagi ternyata pria itu telah mendapatkan alamatnya di kampung. Ajeng semasa SMA mendapatkan beasiswa untuk perpindahan sekolah, gadis itu dulunya sempat tinggal di Jakarta karena beasiswa tersebut. Waku itulah awal neraka yang dia lalui. Ajeng Ardiyanti terpaksa menjadi pesuruh pria arogan dan sombong di sekolahnya yang baru. Diam-diam gadis itu bersumpah akan membalas tindakan Jordy terhadap dirinya semasa SMA. Jordy sendiri tidak tahu kalau sosok Ajeng yang terlihat jelita saat ini adalah gadis cupu dengan sebutan Jejeng yang dulunya sering sering dia bully. "Apa sih sayang?" Balas Jordy pada pesannya. Pria itu tertawa terpingkal-pingkal sambil mengetik balasan untuk gadis tersebut, pria itu sangat yakin kalau Ajeng marah besar karena dia telah mendapatkan alamat rumahnya. "Kamu itu maunya apa sih sebetulnya?" Tanyanya lagi melalui sebuah pesan. "Antar tasku ke sini. Aku lupa tadi tidak membawanya saat pulang ke asrama." Balasnya pada Ajeng melalui pesan pada ponselnya.“Dik! Kalau cuma buat nyimpan saja? Terus kapan-kapan diambil lagi? Gimana?”“Pasang CCTV saja Jo, aku jadi takut! Kamu nanti curiga sama aku!” omel Dika dengan nada agak kesal. Dia memang tidak pernah membawa wanita masuk ke galeri apalagi melakukan hubungan intim. Para cewek dan para wanita yang datang semuanya adalah pelanggan. Ada juga teman Jordy dan Dika semasa mereka duduk di bangku Kuliah dan SMA.“Apa iya? CCTV?”“Iya! Harus! Di depan pintu masuk, di dalam sini, di samping dekat pintu yang menghubungkan ke rumah kamu.” Ujarnya.Jordy setuju, dan dia segera meminta petugas untuk memasang kamera pengawas di sekitar galeri. Kamera akan dipasang pada keesokan harinya.“Ini tadi kamu ngomongin job, di kampus? Kampus mana?” Tanya Jordy pada Dika.“Kampus dekat sini, kita diminta bikin bayground untuk dinding pagar bagian dalam dan luar gedung. Ada juga dari gedung sekolah SMP, apa kota mau rombak besar-besaran? Kita jadi kebanjiran job begini.” Ujarnya pada Jordy.“Nggak tahu ini b
Jordy tidak menolak, Jordy langsung mengangkat tubuh Ajeng membawanya masuk ke dalam kamar tidur. Ajeng tersenyum senang, ranjang dalam kamar mulai bergerak saat pasangan itu memulai aktivitas mereka. Ajeng memilih menungging sambil memegangi sandaran ranjang, sementara Jordy menyodok Ajeng dari belakang sambil memainkan kedua puting Ajeng.“Aah, ah, Joo, oukh, ah, terus Jo, oukh, puaskan aku, ah. Emm, akh!” Ajeng mendesah nikmat. Suara berisik Ajeng memenuhi kamar mereka berdua.Puas bermain dengan posisi menungging Ajeng mengganti posisi dengan rebah telentang, Jordy tinggal di atas tubuh Ajeng dan mulai menyodok liang intim Ajeng yang basah.“Sudah Jo, akh, sudah, aku sudah keluar, selesaikan segera!” Pinta Ajeng padanya.Jordy setuju dan segera mengakhiri permainan panas mereka berdua. Ajeng tidur lebih dulu, nampaknya ajeng sangat kelelahan karena aktivitas panas yang mereka lakukan selama beberapa hari ini. Setelah memakai bajunya Jordy memutuskan untuk kembali ke galeri depan.
“Akhh, iya, Jo terus, sayang, oukhh, sampai kamu puas aahh, emhh Jo.” Ajeng meremas putingnya sendiri sambil mendongak nikmat. Tubuh telanjang Ajeng sangat sempurna di mata Jordy. Jordy melumat bibir Ajeng lalu mengeluarkan cairannya segera. Jordy menumpahkan semuanya di dalam liang intim Ajeng.“Jo, aku puas sekali, sayang..” ujarnya dengan senyum mesra. Jordy merebahkan tubuh basah Ajeng di atas kasur lalu menciumi bibirnya.Pukul sembilan Jordy baru bisa meninggalkan rumah. Pria itu segera pergi ke sekolah di mana dia mengajukan lamaran kerja untuk Ajeng. Bukan hal sulit untuk mendapatkannya. Ajeng sudah memiliki persyaratan yang cukup untuk bekerja di sana. Sekolah itu juga tidak jauh dari galeri Jordy, sekitar lima ratus meter. Ajeng juga setuju untuk mengisi kelas di sana.Jordy pulang ke rumah dengan kabar baik untuk Ajeng. Ajeng sedang membuat makanan di dapur. Ajeng memakai baju terusan sebatas bawah bokongnya. Gadis itu tidak memakai dalaman sama sekali. Jordy tadinya kaget
Jordy menekan lidahnya masuk ke dalam liang intim Ajeng, lalu memelintir kacang kecil di area intim Ajeng sampai cairan Ajeng meluber keluar. Jordy menjilatinya dan menyesapnya sampai habis.“Akhh, aawhh, aauhhh, Jo, eemhh, aahhh. Jo aah, ampun Jo.” Ajeng mengerjap nikmat cairannya semakin banyak yang keluar.“Slurrp, sluurp, oukh, Jeng, cairanmu banyak sekali,” serunya sambil menyesap liang intim Ajeng. Jordy menekan kacang kecil milik Ajeng sampai cairan wanita itu terus meleleh keluar dari selangkangan Ajeng yang mulus. Jordy bergairah dan semakin bersemangat untuk terus menyesap area intim Ajeng.“Joo, ampun, aakhh, Jooo, aku klimaks, oukhhh.” Ajeng meremas kedua putingnya sendiri sambil menatap lidah Jordy yang masih sibuk pada area intimnya. “Jo ayo sodok aku, sayang,” pintanya dengan penuh gairah.Jordy menuruti keinginan Ajeng, pria itu menyodok liang intim Ajeng dari sebelah meja makan, kedua paha Ajeng Jordy letakkan di atas kedua lengannya. Tubuh telanjang Ajeng mulai berge
Hari sudah sore, Ajeng turun dari lantai atas dan masuk ke dalam rumah. Jordy mengikutinya dari belakang, pria itu membawakan kerajang berisi jemuran masuk mengikuti Ajeng.“Taruh di sana saja, Jo.”Jordy tidak menyahut, pria itu meletakkannya di atas sofa, seperti kata Ajeng. Ajeng berjalan ke sofa dan mulai melipat baju dari dalam keranjang.“Kalau malam kamu lembur juga Jo?” Tanya Ajeng pada Jordy sambil menatap ke arah pria itu sekilas.Jordy nampak merapikan lukisan dari bawah dinding lalu meletakkanya ke ruangan lain. Ajeng tidak tahu kenapa Jordy memindahkannya.“Ya, kadang. Kalau banyak pesanan ya lembur.” Sahutnya sambil berjalan menuju ke arah Ajeng lalu duduk di sebelah Ajeng.“Kamu pasti lelah karena seharian bekerja. Sudah, kamu tidur saja Jo. Aku juga hanya melipat baju lalu pergi tidur setelah ini.”“Seharusnya kamu nggak perlu cucikan bajuku, kesannya aku menjadikanmu pelayan di rumah ini, Jeng. Aku nggak mau kamu terbebani seperti saat kita masih tinggal di bangku SMA
“Oukhh Jo, oukhh, Jo, puaskan aku lagi, ouhhh.”Ajeng dan Jordy kembali bergumul di atas ranjang. Dalam keadaan telanjang bulat mereka berdua mulai melepaskan gairah satu sama lain. Sekitar dua jam Ajeng dan Jordy bercinta di dalam kamar mereka.Puas bercinta dengan Ajeng, Jordy bangun dari atas ranjangnya lalu pergi keluar dari dalam kamarnya. Seharian Jordy menghabiskan waktu di galeri depan untuk menyelesaikan pekerjaannya.Dika juga sedang bekerja, ia mengukir senyum melihat Jordy datang dan memulai pekerjaannya.“Jo, banyak tuh kerjaan kamu. Masa iya semalam penuh masih kurang?” kelakar Dika lantaran melihat cupang merah pada leher Jordy kiri dan kanan. “Ganas banget pacar kamu, nggak ngira.”“Hus! Sudah! Diem! Nanti Ajeng marah-marah kalau dia dengar.” Jordy meminta Dika diam dan dia mulai mengerjakan kembali pekerjaannya. Pesanan tersebut merupakan pekerjaan yang dia jeda karena hendak pergi ke Bali. Kali ini Jordy membatalkannya karena Ajeng setuju untuk ikut bersama dengannya







